Jadi sekarang apa yang diharapkan dari sepakbola Inggris????
Gw rasa gak lebih dari sekedar sebuah kompetisi yang hingar bingar, jual
beli pemain yang harganya tinggi banget gak sesuai kapabilitas dan lain2 hal
yang hubungannya sama bisnis (duit).
Kalo ada pendapat yang bilang bahwa kompetisi gak ada hubungannya sama
prestasi timnas, buat gw itu sih pendapat yg totally bullshit. Ini keluar
dari penggemar klub Inggris yang sebenernya frustasi sama prestasi timnasnya
(dalam hati gemar juga sama timnas Inggris, tapi gak mau ngaku karena ya
frustasi itu tadi).

Kenapa gw bilang gitu? Karena main di timnas dalam occasion apapun gw yakini
adalah obsesi terbesar seorang pemain bola manapun. Bahkan sekarang banyak
pemain bola yang rela ganti kewarganegaraan karena mereka pingin merasakan
atmosfir main di timnas, selain karena motivasi uang dan gak kepakai di
negara nenek moyang. Ini bukan perkara gampang karena ganti WN berhubungan
dengan kehidupan seseorang sampai akhir hayat dia loh.

Kembali ke Inggris.
Gw liat bagaimana banyak pemain top Inggris yang memang berebut masuk
timnas. Seorang David Beckham rela terbang ribuan kilo buat comeback ke
timnas, dan kemaren dia rela duduk desak2an di bench demi timnas.
Kalo Phil Neville bilang dia lebih baik jaga kondisi buat tempat di klub,
lah memangnya dia masih cukup pantas apa di timnas? Ini cuma contoh ungkapan
frustasi dari seseorang yang sebenarnya masih pingin masuk timnas tapi gak
terpakai lagi.

Saran gw sih sederhana.
Inggris harus lebih sadar lagi bahwa mereka harus lebih meningkatkan
pembinaan pemainnya baik teknis maupun mental. Mau bikin kompetisi heboh sih
boleh aja, tapi kesian juga rakyat Inggris yang keluar uang cuma buat nonton
klub tanpa dapat imbalan setimpal dari prestasi timnasnya.
Belajar banyaklah dari kompetisi negara lain. Bagus marketing dan
administrasi gak cukup di sepakbola modern yang dinamis.

Ciaoooooooo


On 11/22/07, Firdauf Achmad Dhewata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Inggris Memang Tak Pantas Lolos
> Andi Abdullah Sururi - detikcom
>
> Jakarta, Sudah ditolong orang lain, Inggris masih gagal pula. Akan
> lebih memalukan kalau dinihari tadi Steven Gerrard dkk sampai
> ditolong juga oleh Andorra. Jadi, Inggris memang tak pantas lolos.
>
> Terdaftar di Grup E babak kualifikasi Euro 2008, dari reputasinya,
> saingan Inggris hanya Kroasia dan Rusia. Tapi dari reputasi itu pula
> Inggris semestinya lebih baik daripada dua negara dari Eropa Timur
> itu.
>
> Banyak embel-embel yang membuat posisi Inggris di belantikan
> sepakbola dunia selalu ada di kelas atas. Mereka tim juara dunia
> (satu kali, 1966), punya kompetisi liga yang disebut-sebut terbaik
> di dunia, sampai klaim kebanggaan sebagai ibu yang melahirkan
> sepakbola.
>
> Jadi, jika Frank Lampard kk mengalahkan Andorra, Macedonia, Estonia,
> bahkan Kroasia dan Rusia, hal tersebut semestinya bukanlah hal
> istimewa. Faktanya, Rusia mampu menundukkan mereka pula di Moskow (2-
> 1, 17 Oktober 2007), dan Kroasia bahkan dua kali mempecundangi "Tiga
> Singa" (2-0 di Zagreb, dan 3-2 di London).
>
> Jangankan Rusia dan Kroasia, pasukan Steve McClaren malahan bisa
> ditahan imbang tanpa gol oleh Israel dan Macedonia (!). Jadi, jelas
> bahwa Inggris tidak kompetitif untuk mencari satu tempat di putaran
> final Piala Eropa tahun depan di Austria-Swiss.
>
> Karena tak mampu membuka jalannya sendiri, tak heran kalau Inggris
> sampai mengandalkan orang lain untuk mengais harapan. Akhir pekan
> lalu semua orang di Kerajaan Ratu Elizabeth II berdoa agar Israel
> dapat menghentikan Rusia dan Guus Hiddink-nya.
>
> Doa tersebut terkabul. Israel menang di menit-menit akhir. Saking
> girangnya, seorang kaya raya di Inggris siap mengirimi sang pencetak
> gol kemenangan Israel, Omer Golan, sebuah mobil mewah -- tapi yang
> bersangkutan menolak.
>
> Setelah pertolongan tersebut Inggris kembali harus mengurus dirinya
> sendiri. Sayang, mereka seperti lantas jumawa. Pers-pers setempat
> belum apa-apa sudah mengklaim Inggris akan lolos, salah satunya
> karena Kroasia dipercaya takkan terlalu serius karena sudah
> mengantongi tiket tersebut.
>
> Tapi yang terjadi kemudian adalah sebuah petaka dan ironi. Di
> kandang kebesarannya, di stadion yang terkenal keramat yang telah
> dipugar pula menjadi salah satu yang termewah dan termegah di dunia,
> Wembley, Inggris takluk 2-3.
>
> Alih-alih mendominasi permainan, Inggris malah tertinggal dua gol
> lebih dulu dalam kurun waktu enam menit di babak pertama. Ups! Maka
> anak-anak McClaren mulai kalang kabut.
>
> Untuk sesaat mereka sempat berhasil. Tendangan penalti Lampard dan
> gol spektakuler Peter Crouch memanjangkan lagi nafas Inggris.
> Sialnya, kemampuan mencetak dua gol balasan tersebut tidak
> dilengkapi dengan upaya memperbaiki buruknya lini belakang mereka
> sejak menit pertama.
>
> Akibatnya, di menit 77 Kroasia kembali mengoyak gawang Scott Carson
> dan kembali memimpin 3-2. Inggris pun sekarat lagi karena
> pertandingan tidak tersisa banyak dan jauh di sana Rusia sudah
> unggul 1-0 atas Andorra.
>
> Barangkali ketika sampai menit 90 Inggris belum bisa lagi menjebol
> gawang Kroasia, sebagian fans mereka berdoa lagi supaya Andorra
> memberi kejutan dengan mencetak gol balasan ke jala Rusia. Jika
> pertandingan itu seri, maka Inggris-lah yang lolos karena menang
> head-to-head atas Rusia.
>
> "Untunglah", skenario "murahan" macam itu tidak terjadi. Sungguh,
> takkan lebih memalukan apabila Inggris lolos ke Austria-Swiss hanya
> karena mendapat bantuan dua kali dari tim medioker Israel dan salah
> satu tim terlemah di Eropa, Andorra.
>
> Tak terbayangkan jika hari ini koran-koran Inggris memasang headline-
> nya besar-besar, "Thank God We Have Israel and Andorra!" Karena
> jalannya demikian, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Inggris
> memang tak pantas lolos.
>
> 
>



-- 
=NYOPIR JANGAN NGANTUK=
=NGANTUK JANGAN NYOPIR=


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke