Sdr. Chingik yang budiman,

Dengan adanya globalisasi maka hubungan antara Barat dan Timur akan 
semakin dekat. Begitu pula halnya dengan agama. Oleh karena itu 
menurut saya diskusi atau debat agama adalah sesuatu yang wajar. Bila 
Anda sepakat bahwa semua adalah bagian dari dharmadatu, maka tentunya 
Anda juga bisa menganggap bahwa debat atau diskusi agama adalah 
bagian dari dharmadatu juga bukan?
Pada kesempatan kali ini, saya hendak menanggapi mengenai masalah 
makhluk adikuasa. Mengatakan bahwa makhluk tersebut tidak adikuasa 
tidaklah sama dengan menghina atau tidak menghormati makhluk 
tersebut. Sebagai contoh, bayangkan bahwa Anda adalah seorang guru. 
Jika ternyata murid Anda tidak layak mendapatkan nilai 10 dan hanya 
berhak menilai 4, maka apakah tindakan Anda memberikan nilai 4 itu 
sama dengan menghina murid tersebut? Menurut saya membabarkan apa 
yang ada dalam Buddhadharma tidaklah sama dengan merendahkan para 
dewa. Kita tetap menghormati para dewa, hanya saja dengan porsi yang 
benar. Bila memasuki kuil Hindu saya biasa beranjali pada patung2 
dewa yang ada di sana, bila memasuki gereja saya akan beranjali pada 
gambar Yesus, dan begitu pula bila memasuki tempat-tempat ibadah 
lainnya. Tidak ada yang salah dengan itu, saya menghormati para dewa 
tetapi tidak berlindung pada mereka. 
Saya pikir tidak ada umat Buddhis yang terlalu arogan terhadap para 
dewa, biasanya umat Kristen yang arogan, semua dianggap iblis. 
Meskipun demikian tidak benar bila kita melakukan sinkretisme. Saya 
menghormat dewa-dewa dari agama lain, tetapi tetap dalam porsinya 
masing-masing.
Memberikan kritik pada agama lain, tetapi didasari argumen yang 
rasional tidaklah dapat disalahkan, karena Sang Buddha sendiri juga 
berdebat (misalnya dengan 6 guru aliran sesat: Nigantha Nataputta, 
Ajita Kesambali, Makkhali Gosaliputta, dll.) Bahkan dalam Damamuka 
nidana Sutra, Sang Buddha sempat "adu kesaktian" dengan mereka. Kita 
melihat dalam Upali Sutta, Sang Buddha juga berdebat dengan Upali. 
Banyak orang yang menentang debat agama yang rasional sebagai tidak 
toleran, tetapi mereka lupa bahwa dengan melakukan penentangan itu, 
mereka juga tidak toleran. Bila toleransi diartikan menerima 
semuanya, maka mereka telah melanggar prinsip yang diucapkannya 
sendiri. Bila mereka sanggup menerima semuanya, maka mereka juga 
harus sanggup menerima orang yang gemar melakukan kritik terhadap 
agama lain. Tidakkah demikian. Adanya penentangan menunjukkan bahwa 
seseorang masih berada dalam lingkup dualitas. Tetapi tidak masalah 
bukan? Buddhisme toh tidak mengancam umatnya agar cepat-cepat masuk 
nibanna.
Demikian saya kira cukup sekian dulu.

salam metta,

Tan

--- In [email protected], "ching ik/ djoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Pembahasan yang cukup padat dan jelas.  Di sini saya akan 
> menambahkan sedikit. Berhubung saya masih terkungkung dalam 3 racun 
> keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin maka tidak tertutup 
> kemungkinan pendapat saya bisa salah. Oleh karena sebelumnya saya 
> minta maaf dan mohon petunjuk atas kesalahan-kesalahan tersebut.
> 
> Dalam perkembangan sejarah agama Buddha, jika kita perhatikan 
> tulisan2 para sesepuh di jaman dahulu, boleh dikatakan bahwa 
> pembahasan mengenai Tuhan dalam ruang lingkup Buddhisme hampir 
tidak 
> ada (meskipun ada, tidak dalam porsi yang signifikan).  Dengan kata 
> lain bahwa persoalan mengenai Tuhan tidaklah pernah menjadi sebuah 
> hal yang dianggap signifikan untuk dipersoalkan apalagi dibahas 
atau 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke