From: Indrajaya Wiguna
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, January 13, 2006
7:56 AM
To: Asalta Mandiri Agung; David
Natasaputra; Esther Natasaputra; Helen Wiguna; Indrijanti Wiguna; Linda Yakhin;
Lina Huang; LISA 600FY; Wiguna Indra Jatikusuma
Subject: Fw: [Automotive-Club] Fw:
Formalin di Makanan Tak Berbahaya-Diurai jd CO2
mungkin berguna sebagai bahan pertimbangan......
mengenai kebenarannya saya tidak tahu.....
belum coba link ke website nya
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, January
11, 2006 11:35 AM
Subject: [Automotive-Club]
Fw: Formalin di Makanan Tak Berbahaya-Diurai jd CO2
Bener
ga ya ?
Setelah baca artikel di bawah, mestinya segera
disahkan saja sebagai
bahan pengawet makanan yang legal.
http://www..jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar
<http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar>
<http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar
<http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=113148&c=85>
&id=113148&c=85 >
&id=113148&c=85
RADAR JOGJA
Minggu, 08
Jan 2006
Formalin di Makanan Tak Berbahaya
Diurai Jadi CO2 dalam Waktu 1,5 Menit
JOGJA - Kandungan formalin pada bahan makanan
ternyata tidak akan
menimbulkan efek negatif bagi manusia. Termasuk
kandungan formalin yang
terdapat pada mie basah, ikan segar, tahu, dan
ikan asin. Berdasarkan
penelitian WHO, kandungan formalin yang
membahayakan sebesar 6 gram.
Padahal rata-rata kandungan formalin yang terdapat
pada mie basah 20
mg/kg mie. Selain itu, formalin yang masuk ke
tubuh manusia akan diurai
dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2.
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma
(USD) Dr Yuswanto
menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan
pihaknya pada tahun
2002, kandungan formalin pada mie basah di pasar
Jogja sekitar 20 mg/kg
mie. Kadar itu belum secara signifikan menimbulkan
toksifikasi bagi
tubuh manusia.
"Penelitian WHO menyebutkan kadar formalin
baru akan menimbulkan
toksifikasi atau pengaruh negatif jika mencapai 6
gram," jelas Yuswanto
saat dihubungi Radar Jogja, kemarin. Menurut
Yuswanto, sebenarnya proses
alam juga menghasilkan zat formalin yang
selanjutnya terserap oleh
sayur-sayuran, buah dan daging hewan.
Dikatakan, buah-buahan dan sayuran juga mengandung
zat formalin sebagai
hasil proses biologis alami. "Alam ini
sebenarnya menghasilkan zat
formalin yang diserap oleh tumbuhan dan hewan.
Daging sapi mengandung
formalin kira-kira 30 mg, dan kerang laut
mengandung formalin 100 mg per
kg. Tapi itu formalin yang dihasilkan dari proses
alami," katanya.
Bahkan, lanjut Yuswanto, para peternak sengaja
membubuhkan formalin
dalam makanan ternaknya. Makanan ternak diberi
kandungan formalin
sebesar 660 mg per kg. Tujuannya untuk membunuh
bakteri. "Keberadaan
formalin tidak mengakibatkan keracunan hewan
ternak," tambahnya.
Akan tetapi, kata Yuswanto, kandungan formalin
baru akan menimbulkan
bahaya jika dihirup oleh alat pernapasan. Jika
hanya dicerna alat
pencernaan, tidak akan menimbulkan risiko negatif.
"Pemakaian formalin
hanya merugikan kalangan peternak. Ketika mereka
menghirup formalin
lewat alat pernapasan, berpotensi menimbulkan
kanker paru-paru."
Yuswanto menyimpulkan, ada kesalahan informasi di
masyarakat tentang
bahaya formalin di mie basah, ikan segar, dan ikan
asin. Sebenarnya,
ketika formalin masuk melalui alat pencernaan,
tidak akan berpengaruh
negatif.
Kondisi itu akan berbeda jika secara terus menerus
formalin masuk
melalui alat pernafasan, maka dikhawatirkan akan
menyebabkan kanker
paru-paru. "Perokok juga berpotensi menghirup
formalin dari setiap
batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap
hari menghisap 20 batang
rokok, sama saja setiap hari menghirup 10 mg
formalin," tambah Yuswanto.
Kenapa formalin di makanan tidak berbahaya? Kata
Yuswanto, proses
metabolisme formalin yang masuk ke tubuh manusia
sangat cepat. Tubuh
manusia akan mengubah formalin menjadi Co2 dan air
seni dalam waktu 1,5
menit.
"Secara alami, setiap liter darah manusia
mengandung formalin 3
mililiter. Sedangkan formalin yang masuk bersama
makanan akan
didegradasi menjadi CO2 dan dibuang melalui alat
pernapasan. Jadi, meski
formalin dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup
lama, tidak akan
terjadi proses akumulasi dan menyebabkan
toksifikasi."
Yuswanto menegaskan, informasi yang berkembang di
masyarakat salah
kaprah. Sebab, baru dalam dosis besar yakni sekitar
6 gram, formalin
akan memunculkan efek negatif bagi tubuh manusia.
"Lagi-lagi yang dirugikan masyarakat kecil.
Penjual mie basah, tahu, dan
ikan asin dirugikan. Seharusnya, kita berpegang
pada hasil penelitian
yang akurat. Pemerintah harus segera mengambil
sikap atas kekacauan ini.
Kasihan pedagang kecil," tambah Yuswanto.
(lai)
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|