Rekan-rekan yang terkasih dalam Dharma,

Saya diberitahu bahwa hingga saat ini murid-murid SMU masih 
melakukan percobaan membedah berbagai hewan2 seperti kodok, kelinci, 
dan lain sebagainya. Menurut saya percobaan ini sangat biadab dan 
bertentangan dengan Buddhadharma. Meskipun demikian, saya tetap 
mencari-cari juga alasan-alasan ilmiah bagi praktikum kejam semacam 
ini. Adakah manfaatnya bagi ilmu pengetahuan? Mungkin orang yang 
mendukung praktikum kejam ini akan mengatakan "ya." Tetapi benarkah 
begitu? Kita akan mengkritisi "manfaat bagi ilmu pengetahuan ini." 
Jika tujuannya untuk mencari tahu anatomi katak atau burung, maka 
ini bukan satu-satunya cara. Anatomi ini seharusnya dapat 
digambarkan dengan sebuah alat peraga tiga dimensi, sebagaimana 
halnya anatomi tubuh manusia, yang sudah ada patung tiga dimensinya. 
Selain itu, anatomi kodok dan lain sebagainya seharusnya telah lama 
diketahui manusia sehingga tidak perlu terus menerus membedah kodok 
dari tahun ke tahun. Mencoba sesuatu yang sudah diketahui sebenarnya 
adalah suatu pemborosan. Jika ingin mengetahui anatomi kodok, dan 
lain sebagainya seharusnya cukup dengan melihat gambarnya.
Barangkali ada yang memprotes bahwa ini dilakukan untuk meningkatkan 
jiwa ilmuwan seorang anak. Tetapi benarkah demikian? Apakah semangat 
eksprimental hanya dapat ditingkatkan dengan cara semacam itu? Tidak 
dapatkah bila obyek pengamatannya diganti tumbuh-tumbuhan? Kendati 
setiap tahun dan setiap sekolah mengadakan eksperimen semacam itu, 
hingga saat ini bangsa Indonesia masih belum dapat menjadi bangsa 
ilmuwan yang sejajar dengan Jepang atau Jerman.
Malahan menurut saya, eksperimen semacam itu justru tidak 
menyadarkan siswa untuk menghargai segala bentuk kehidupan. 
Kebuddhaan hadir dalam diri setiap makhluk, termasuk kodok yang 
sering kita pandang hina. Manusia yang merasa dirinya sebagai 
penguasa alam sering bertindak sewenang-wenang terhadap semua 
makhluk. Pernahkah manusia merenung, bagaimana jika ada makhluk 
alien yang jauh lebih sempurna dari manusia dan memperlakukan kita 
seperti kita memperlakukan kodok dan burung itu? Jelas tidak ada 
seorangpun yang bisa menerima hal tersebut. Ini nampak nyata dalam 
film-film Independence Day, War of Worlds, dan lain sebagainya. 
Makhluk alien yang jauh lebih sempurna teknologinya hendak 
menginvasi bumi dan manusia berjuang sekuat tenaga untuk melawannya. 
Nah, dapatkah manusia membayangkan bagaimana perasaan kodok itu? 
Jika mereka sanggup mengembangkan suatu peradaban untuk melawan 
manusia, tentu mereka sudah melakukannya.
Percobaan itu adalah sesuatu yang bodoh dan jelas anti ilmu 
pengetahuan. Barangkali ada yang berkilah bahwa percobaan itu 
melatih siswa untuk menjadi ahli bedah. Pandangan ini juga sangat 
tidak tepat, karena bedah-membedah jauh lebih rumit. Kegiatan ini 
lebih cocok untuk mempersiapkan siswa menjadi "koki ahli memasak 
swiekee atau sate kelinci." Jelas tidak ada hubungannya dengan 
kedokteran.
Pada zaman saya masih SMA, siswa diizinkan memilih antara praktikum 
Biologi (bedah membedah) dan Fisika. Tentu saja saya waktu itu 
memilih fisika. Meskipun masih belum beragama Buddha, saya sudah 
merasa kalau tindakah itu kejam dan berbau sadistik yang pekat.
Marilah kita berjuang untuk menghentikan eksperimen kejam ini.

Metta,

Tan






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke