TANGGAPAN TERHADAP TIGA TOPIK SEKALIGUS

Sdr. Chingik yang budiman,

Saya gabungan saja pembahasan tiga topik ini menjadi satu. Agar lebih 
enak membacanya. Perlu saya tekankan dahulu bahwa sebuah diskusi yang 
baik pada akhirnya hanya akan menjadi semacam sharing pandangan saja, 
bahwa demikianlah pendapat saya mengenai masalah A, B, C, D, dan lain 
sebagainya. Tidak ada yang benar dan salah di sini. Kita saling 
menghormati pandangan masing-masing. Tentu saja seseorang memegang 
suatu pandangan atas dasar alasan atau pemahamannya sendiri-sendiri 
yang dia anggap benar. Begitu pula halnya dengan Sdr. Chingik, pasti 
Anda pasti juga memiliki pandangan sendiri yang Anda anggap benar dan 
baik, sebaliknya saya juga memiliki pandangan dan pengertian saya 
sendiri. Tentu saja saya tidak mengharuskan atau memaksa setiap orang 
menerima pandangan saya, kendati saya merasa bahwa tentu saja 
pandangan saya itulah yang benar (kalau tidak benar, untuk apa saya 
menganutnya? Saya adalah orang yang munafik dan bodoh kalau menganut 
suatu pandangan yang menurut saya tidak benar, bukan?) Baiklah mari 
kita mulai diskusi tiga topik ini.

Topik I MASALAH TRANSEDEN

O, rupanya itu yang Anda maksud dengan transenden. Kalau pendapat 
saya, bila seorang penganut agama samawi dapat mencapai 
pemahaman "Tuhan" yang transenden, seperti Emha Ainun Najib dan lain 
sebagainya, maka itu berarti mereka tidak berbeda lagi dengan umat 
Buddha. "Tuhan" menurut pengertian mereka sudah dapat disamakan 
dengan Hakekat Kebuddhaan atau Buddhata. "Tuhan" semacam itu dapat 
disepadankan dengan asankhatadhamma. Berati bahwa dengan mereka tidak 
ada masalah lagi, dan saya saya yakin orang yang sudah 
merealisasi "Tuhan" semacam itu tidak akan berusaha memasukkan orang 
lain ke agamanya. Sebagaimana halnya umat Buddha yang tidak berusaha 
memBuddhiskan orang lain, karena tidak ada seorangpun yang dapat 
memBuddhiskan orang lain. Begitu pula halnya, realisasi "Tuhan" 
sebagai sesuatu yang absolut adalah suatu realisasi individual. Tidak 
ada orang yang dapat membuat orang merealisasi hal yang sama dengan 
dirinya. Ini adalah realisasi yang juga dialami oleh Al Halaj atau 
mungkin St. Frasiscus Xaverius. Tidak ada masalah dengan hal ini. 
Tentu saja saya setuju bahwa jika dihadapkan dengan kebenaran seperti 
ini, Beyond Belief bukanlah sesuatu yang tepat. Beyond Belief tentu 
saja bukan ditujukan bagi orang-orang seperti Al Halaj atau St. 
Fransiscus Xaverius. Paling-paling mereka akan membacanya dengan 
tersenyum dan sesudah itu berlalu.

TETAPI..... tahukah Anda bahwa sangat sedikit sekali penganut samawi 
yang sudah sampai ke tingkatan ini? Meski mereka mengatakan 
bahwa "Tuhan" adalah sesuatu yang ultimit, transenden, dan lain-lain, 
namun "Tuhan" yang ada dalam benak mereka adalah masih "Tuhan" 
bentukan pikiran mereka sendiri, yang mendamba kenyamanan dan 
keamanan diri (zona kenikmatan). Meski mereka dapat menjawab dalam 
pengertian absolut, tetapi jika mereka masih gemar mengkonversi orang 
lain ke agamanya sendiri, maka "Tuhan" mereka adalah "Tuhan" yang 
terbentuk karena lobha, dosa, moha. Nah, konsepsi Beyond Belief 
sebenarnya masih bergerak dalam tataran ini. Sehingga dalam hal ini 
Beyond Belief masih dapat dikatakan sebagai sesuatu yang TEPAT. Jika 
seseorang masih berkata: "Percayalah pada Tuhanku.... kalau tidak 
kamu masuk neraka!" jelas sekali bahwa "Tuhan" yang ada dalam benak 
mereka adalah bukan "Tuhan" yang menurut Anda transenden itu. "Tuhan" 
transenden jelas tidak akan memiliki rasa "benci" dan "memihak" lagi. 
Wong namanya juga transenden. Anda paham maksud saya?
Justru saya melihat bahwa Beyond Belief ini dapat dipakai sebagai 
sarana untuk membantu seseorang memahami bahwa "Tuhan" yang sejati 
adalah "Tuhan" yang transenden. Ini pendapat saya. Kalau Anda masih 
belum dapat melihatnya ya tidak apa-apa.

Mengenai ayat kitab-kitab suci. Mungkin memang benar bahwa kitab suci 
memiliki makna bertingkat. Tetapi coba jelaskan, jika ada ayat yang 
mengatakan, "Mahadewa memerintahkan untuk membunuh bangsa X hingga 
seakar-akarnya, kecuali menyisakan gadis-gadis yang masih perawan 
untuk bebas dinikahi pria-pria bangsa Y (bangsa pilihan mahadewa)..." 
atau "Bunuhlah dan kejarlah orang-orang yang tidak percaya pada 
mahadewa." Nah, otak saya yang masih bodoh masih belum bisa mengerti 
apa makna ayat di atas ditinjau dari sudut pandang "transenden," 
seperti yang saudara katakan itu. Bagaimanakan pendapat saudara 
mengenai hal ini? Sebenarnya banyak sekali ayat-ayat semacam ini. 
Kita tidak cukup mengatakan, O ayatnya harus dimaknai secara 
transenden! Tetapi kalau memang benar dapat diartikan secara 
transenden, coba jelaskan apa maknanya secara transenden. Mari kita 
kupas habis-habisan. Bedanya dengan sutra Buddhis. Kalau dalam ajaran 
Buddhis jelas tidak ada kata "bunuhlah", "bantailah", atau gorenglah" 
dan sejenisnya. Apapun pemaknaannya, artinya tidak akan berlawanan 
dengan humanisme. Atau mungkin Sdr. Chingik bisa menunjukkan ayat 
dalam Sutra yang isinya dapat ditafsirkan berlawanan dengan 
humanisme. Ayo, kita langsung saja masuk ke studi kasus. Dijamin 
pasti lebih menarik. Kalau Anda dapat memberikan argumen yang dapat 
diterima oleh logika saya, maka saya tentu akan menyetujui pandangan 
Anda.

Sebagai tambahan: menurut pandangan saya, transenden dan tidak 
transendennya Tuhan tidak ada hubungannya teks-teks kitab suci. 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

TOPIK II Mengenai Master Chingkung

Saya kira sudah jelas dan kalau ada yang masih perlu didiskusikan 
saya kira ada baiknya digabung saja dengan topik III.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

TOPIK III Sutra dan membahas kesalahan bhikshu

Mengenai memfitnah atau menghina bhikshu tentu saja ini tidak berlaku 
bagi saya, karena saya tidak bermaksud memfitnah atau menghina 
seorang bhikshu-pun. Sekedar informasi, Silva penulis Beyond Belief 
itu adalah seorang bhikkhu dari Australia. Nah, jika Anda tidak 
merasa memfitnah atau menghina seorang bhikkhu dengan mempertanyakan 
atau mengkritik Beyond Belief, begitu pula halnya saya tidak merasa 
memfitnah atau menghina Beliau. Bagaimanapun juga sebagaimana yang 
sudah saya nyatakan dalam diskusi-diskusi sebelumnya, pendapat tiap 
orang tidak sama. Saya juga berhak menyatakan pendapat saya, apa yang 
akan saya lakukan bila saya adalah Master Chingkung dan ini tidak 
dapat dianggap sebagai fitnahan atau penghinaan. Ibaratnya begini. 
Anda punya teman yang tidak naik kelas. Usut punya usut, ternyata 
kawan Anda itu sebelum ujian, bermain video game sepanjang hari dan 
tidak belajar. Anda tentu boleh berkata, "Kalau saya jadi kami saya 
tidak akan bermain video game sepanjang hari." Nah, ini tidak sama 
dengan memfitnah atau menghina kawan Anda itu bukan?

Kalau saya misalnya adalah seorang tua yang memiliki 100 anak dan 
saya saat itu memiliki 100 potong roti, maka saya akan memastikan 
terlebih dahulu bahwa 100 anak saya itu kebagian roti yang saya 
miliki. Tidak mungkin saya akan memberikan roti itu pada anak orang 
lain yang jelas-jelas sudah punya orang tua dan rotinya sendiri. 
Begitu pula kalau saya menjadi Master Chingkung, saya akan bertanya 
dahulu pada diri saya sendiri, "Anak-anakku (maksudnya umat Buddha), 
apa yang masih kurang ya? Apakah mereka sudah punya "roti" semua 
(roti ini multi arti, bisa sekolah, fasilitas, dan lain sebagainya). 
Apakah mereka sudah punya ini, apakah mereka sudah punya itu... dan 
lain sebagainya." Nah, kalau anak-anak kita sudah kenyang dan masih 
ada roti sisa, baru boleh diberikan pada anak orang lain. Tetapi 
kalau anak kita saja masih gembel dan lapar, terus roti yang ada 
diberikan begitu saja pada orang lain, maka saya sebagai salah satu 
anaknya tentu akan tersinggung dong, "Wah, yang benar aja. Khan saya 
masih lapar." Daripada rotinya untuk anak orang lain, bukankah lebih 
baik dipakai buat bangun sekolah bagi anak-anaknya, agar anak-anaknya 
tidak menumpang sekolah di agama lain. Kalau masih ada sisa roti, 
bukankah dananya dipakai untuk pengadaan kitab suci Tripitaka, supaya 
saya sebagai peneliti Buddhis bisa memperoleh Tripitaka setidaknya 
dengan harga murah. Supaya para dharmaduta kita yang di desa-desa 
bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik.... dan seterusnya.... dan 
seterusnya! Sekali lagi ini pemikiran saya, kalau seandainya saya 
adalah Master Chingkung! Dan belum tentu ini benar. Bisa saja saya 
yang salah. Jelas saya tidak merasa ini menghina Beliau.

Mengenai kitab-kitab yang saudara sebutkan. Adakah terjemahannya 
dalam bahasa Inggris, karena sudah pernah saya katakan bahwa saya 
tidak paham Mandarin? Jika Anda sudah menterjemahkannya ke dalam 
bahasa Indonesia, saya mempersilakan Anda untuk mempostingnya di 
milis tripitaka_indonesiana. Anda telah ikut mendukung kelestarian 
Buddhadharma.

Saya tidak tahu apakah apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu 
mendukung legitimasi bhiksu atau tidak. Saya belum membacanya, jadi 
saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal ini. Tetapi, jelas 
saya tidak akan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. 

Menurut saya kalau bicara masalah perdamaian antar agama, umat Buddha 
sedari dulu juga sudah cukup mengusahakannya. Kita sangat menghormati 
lingkungan sekitar, pendirian vihara juga sudah sesuai prosedur dan 
perizinan, dll...dll.

Bicara mengenai kesalahan, jelas sekali bahwa suatu kesalahan 
harus "disadari." Sepengetahuan saya dalam Abhidhamma ada empat hal 
supaya kamma dapat membuahkan sesuatu:

a. Ada pelaku
b. Ada korban
c. Ada motivasi
d. Ada perampungan tindakan

Jadi tidak mungkin sesuatu mendapatkan balasan buruk kalau tidak ada 
motivasi buruk (akusalacitta) yang melatar belakanginya. Meski dalam 
Mahayana nampaknya ada pandangan bahwa kesalahan yang tidak disadari 
dapat membuahkan hasil (seperti kisah Mahakasyapa yang tanpa sengaja 
memotong seekor kutu), tetapi nampaknya ajaran ini tidak dapat 
diterima mentah-mentah. Saya harus pelajari dahulu Sutranya secara 
lengkap baru bisa mengetahui konteksnya. Bukankah suatu ajaran tidak 
bisa diterima sepotong-sepotong? Begitu pula halnya dengan masalah 
vegetarian dan non-vegetarianisme. Keduanya harus dimakna secara 
kontekstual dan penuh – bukannya sepotong-sepotong – sebagaimana yang 
sudah saya ulas dalam buku saya berjudul Ehipassiko Theravada – 
Mahayana: Studi banding Doktrin Buddhisme Aliran Selatan dan Utara.

Sebagai tambahan, agar tidak terjadi kesalah-pahaman perlu saya 
ungkapkan pandangan saya bahwa di dalam berbuat kebajikan... sekali 
lagi berbuat kebajikan kita janganlah membeda-bedakan agama. Tetapi 
kapasitas berbuat kebajikan di sini adalah sebagai sesama manusia 
(kisah yang bagus mengenai hal ini terdapat dalam kitab Injil yakni 
perumpamaan mengenai Orang Samaria yang Baik Hati). Kalau Anda 
berbuat secara kemanusiaan, jangan lihat agamnya. Anggaplah mereka 
sebagai sesama manusia. Sedangkan pemberian yang kita bicarakan ini 
tidak dapat dianggap sebagai pemberian kemanusiaan, karena diberikan 
pada institusi keagamaan. Kalau pemberian itu diberikan pada korban 
bencana tsunami di Aceh, maka saya tidak akan berkomentar apa-apa. 
Tetapi di sini kasusnya lain, pemberian yang diberikan oleh Master 
itu dalam kapasitasnya sebagai seorang Bapak bagi umat Buddha, 
padahal sekali lagi anaknya masih sangat kekurangan. Ini yang menjadi 
pertanyaan saya dan sekali lagi saya tidak merasa bahwa ini merupakan 
suatu penjelek-jelekkan terhadap pribadi seorang bhikshu. Ini adalah 
pendapat pribadi saya saja.

Memang benar bahwa menjelek-jelekkan seorang bhikshu suci bukanlah 
tindakan yang bajik, jangankan menghina bhikshu suci, menghina semua 
orang itu suatu tindakan yang tindak baik (terlepas dari akibatnya 
masuk neraka atau apa). Kita juga tidak akan senang kalau ada orang 
yang menghina kita. Namun menurut pandangan saya sesuatu baru 
dikatakan menghina, kalau kasusnya berikut ini. Misalnya ada bhikshu 
suci yang kakinya pincang, lalu Anda menghina dia, "Pincang! 
Pincang!" Nah, itu baru yang namanya menghina. Tetapi mempertanyakan 
apa yang dilakukan seorang bhikshu tidaklah dapat dikatakan 
penghinaan, sebagaimana halnya Anda mempertanyakan buku Beyond Belief 
yang notabena juga ditulis seorang bhikkhu dari Australia. Apakah 
menurut Anda sendiri tindakan Anda itu merupakan penghinaan bagi 
bhikkhu Savatthi Dhammika, bhikkhu scholar yang luar biasa? Meskipun 
saya sangat menghormati Bhante Dhammika, tetapi saya tidak melihat 
bahwa pandangan Anda terhadap buku Beyond Belief merupakan penghinaan 
terhadap Beliau.

Memang benar bahwa mencari-cari kesalahan itu bukan sesuatu yang 
baik. Kita juga tidak senang bila kesalahan kita dicari-cari, jadi 
bukan hanya pada bhikshu saja kita hendaknya tidak mencari-cari 
kesalahan, melainkan pada sesama manusia. Nah, bila kita hendaknya 
tidak mencari-cari kesalahan orang lain, bukankah mencari-cari 
kesalahan sebuah buku berjudul Beyond Belief yang notabene juga 
karangan seorang bhikkhu adalah tidak dibenarkan pula? Atau mungkin 
Anda berpandangan bahwa seorang bhikkhu Theravada (Bhante Dhammika - 
pengarang Beyond Belief) lebih rendah dari bhikshu Mahayana, sehingga 
Beliau merupakan pengecualian dan boleh dikritik dalam hal 
pandangannya sebagaimana yang termaktub dalam buku Beyond Belief? 
Semoga saja tidak, karena sebagai seorang Mahayanis saya juga 
mempelajari Theravada. Mahayana ataukah Theravada adalah sama 
berharganya, sehingga kita hendaknya tidak sektarian.

Apakah benar kita harus melindungi dan menyokong bhikkhu/ bhikshu 
pelanggar sila? Saya kok tidak yakin. Bila melanggar sila ia 
seharusnya bukan bhikkhu atau bhikshu lagi, terutama bila telah 
melanggar aturan parajika. Justru saya curiga bahwa ini merupakan 
legitimasi bagi gelar kebhikkhuan. Seolah-olah "right or wrong" 
seorang bhikkhu/ bhikshu harus tetap dijunjung. Tentu saja saya 
menolak pandangan ini. Jika Anda mempelajari sejarah Tripitaka 
sebagaimana yang dianut oleh para Buddhologi Barat seperti David J. 
Kalupahana, Hans Wolfgang Schumann, Peter dela Santina, atau Kogen 
Mizuno, jelas sekali bahwa Tipitaka maupun Tripitaka mengalam proses 
evolusi. Kanon Pali saja tidak langsung jadi dalam bentuknya yang 
seperti sekarang, apalagi kanon Mahayana. Kalau Anda mau bukti, 
silakan lihat Sutra Penerangan Sempurna (Yuanjuejing) yang di 
dalamnya mengandung kata "akupunktur." Jelas sekali bangsa India 
tidak pernah mengenal teknik pengobatan khas bangsa Tionghua ini. 
Selain itu coba lihat Brahmajala Sutra – Mahayana (Fanwangjing), yang 
jelas sekali menyebutkan bahwa seorang Bodhisattva hendaknya tidak 
berjualan peti mati. Nah, bangsa India tidak pernah mengubur mayat 
dengan peti mati. Jadi kedua sutra di atas jelas-jelas dikarang di 
Tiongkok. Selama proses penyusunannya yang panjang itu, sangat 
mungkin sekali beberapa ide baru telah dimasukkan ke dalamnya, demi 
menyokong hal-hal tertentu; sebagaimana yang diungkapkan oleh Sdr. 
Pelayan Buddha. Tetapi ini semua adalah pandangan saya yang saya 
share ke Anda dan saya tidak mengatakan bahwa pandangan ini pasti 
benar; karena kebenaran 100 % jelas tidak ada.

Kalau memarahi dalam arti memaki-maki bhikshu jelas saya tidak setuju 
dan sangat menentang hal itu. Jangan cakravartin, rakyat biasa saja 
juga tidak layak melakukannya. Selain pada bhikshu, kita juga tidak 
selayaknya memaki-maki orang lain. Tetapi kita tetap harus bersifat 
kritis, dalam artian sebagai umat kita boleh saja mempertanyakan 
makna tindakan "Bapak-bapak" kita di atas sana. Jika tidak boleh 
mempertanyakan, bukankah itu sama dengan monarki absolut? Bukankah 
Buddhisme akan menjadi "kerajaan absolut para bhikshu." Tentu saja, 
saya mengetahui bahwa Buddhisme memiliki apa yang dinamakan vinaya. 
Namun, terkadang Sangha sendiri tidak mengetahui secara pasti 
tindakan anggotanya. Jika tidak ada umat yang melaporkannya maka 
belum tentu mereka tahu. Nah, pertanyaan saya, apakah melaporkan itu 
sama dengan menjelek-jelekkan? Tentu tidak, bukan? Agar tidak terjadi 
salah paham, perlu saya utarakan bahwa saya tidak mengatakan Master 
Chingkung melanggar sila. Sam sekali tidak. Saya hanya berandai-
andai, apakah yang akan saya lakukan bila saya adalah Master 
Chingkung yang memiliki uang sebanyak itu. Apakah yang akan saya 
lakukan dengan uang itu bila saya adalah Beliau. Apakah itu sama 
dengan mengatakan bahwa Beliau melanggar sila? Tentu tidak bukan. 
Tiap orang khan boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri dan sekali 
lagi pendapat saya ini bukan yang paling benar. Orang lain juga boleh 
berandai-andai, kalau dia yang menjadi sang mahaguru, maka apa yang 
akan dilakukannya. Kalau Anda merasa bahwa tindakan Master Chingkung 
sudah yang paling tepat ya silakan saja. Saya sangat menghormati 
pandangan itu.

Mengenai indikasi karangan orang belakangan, ya memang itu sangat 
relatif. Jika Anda mengatakan bukan karangan orang belakangan ya 
tidak masalah. Itu adalah pendapat Anda. Para ahli Buddhologi sendiri 
juga pandangannya masih berbeda-beda. Tidak masalah. Justru 
penghormatan terhadap berbagai sudut pandang itu merupakan latihan 
praktek Dharma. Setidaknya itu pandangan saya. Silakan saja beda 
pendapat.

Lebih jauh lagi mengenai kritik. Suatu kritik harus ada juga dasarnya 
dan bukan hanya asal kritik, harus ada alasan yang jelas. Jujur saja, 
di kalangan umat Buddha sendiri sering dijumpai kritik yang asal 
bunyi. Banyak yang hanya mau mengkritik, tetapi waktu ditanya alasan 
atau baiknya bagaimana, tidak dapat memberikan pandangan logis yang 
masuk akal. Kritikan hanya didasari oleh kemarahan dan kebencian 
serta tidak membawa wawasan baru. Sedangkan kritikan atau pendapat 
saya bukankah selalu saya sertai argumen-argumen yang menurut saya 
logis? Maaf, saya sebut "menurut saya" karena barangkali bagi orang 
lain ini tidak logis. Tetapi tidak mengapa. Saya juga tidak keberatan 
bila argumen saya disebut tidak logis. Bukankah telah saya sebutkan 
pada awal diskusi bahwa banyak kepala akan banyak pendapat? Selain 
itu bagi saya tujuan diskusi adalah share pandangan masing-masing. 
Jadi tidak ada yang benar atau salah. Orang yang asal mengkritik saya 
setuju dengan Anda, memang dia sudah selayaknya masuk neraka.

Mempertanyakan kesalahan seorang bhikshu pada bhiksu senior. 
Pertanyaan saya, bila seniornya sendiri yang berbuat kesalahan, kalu 
kita harus pertanyakan pada siapa lagi? Apakah mungkin kita selalu 
mempertanyakan pada seniornya? Lalu menurut Anda untuk apa bertanya 
pada seniornya, jika menurut Anda kita seyogianya 
tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan seorang bhikshu? 
Logikanya, jika tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan 
seorang bhikshu, maka seorang bhikshu akan selalu tampak "suci-
murni," bukan? Nah, kalau semua bhikkhu/ bhikshu sudah "suci-murni," 
untuk apa lagi kita lapor pada "atasan"nya. Apa lagi yang mau 
dilaporkan?

Baik saya kira sekian dahulu, karena sudah cukup panjang. Semoga Anda 
jangan bosan membacanya.

Metta,

Tan






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke