TANGGAPAN TERHADAP TIGA TOPIK SEKALIGUS Sdr. Chingik yang budiman,
Saya gabungan saja pembahasan tiga topik ini menjadi satu. Agar lebih enak membacanya. Perlu saya tekankan dahulu bahwa sebuah diskusi yang baik pada akhirnya hanya akan menjadi semacam sharing pandangan saja, bahwa demikianlah pendapat saya mengenai masalah A, B, C, D, dan lain sebagainya. Tidak ada yang benar dan salah di sini. Kita saling menghormati pandangan masing-masing. Tentu saja seseorang memegang suatu pandangan atas dasar alasan atau pemahamannya sendiri-sendiri yang dia anggap benar. Begitu pula halnya dengan Sdr. Chingik, pasti Anda pasti juga memiliki pandangan sendiri yang Anda anggap benar dan baik, sebaliknya saya juga memiliki pandangan dan pengertian saya sendiri. Tentu saja saya tidak mengharuskan atau memaksa setiap orang menerima pandangan saya, kendati saya merasa bahwa tentu saja pandangan saya itulah yang benar (kalau tidak benar, untuk apa saya menganutnya? Saya adalah orang yang munafik dan bodoh kalau menganut suatu pandangan yang menurut saya tidak benar, bukan?) Baiklah mari kita mulai diskusi tiga topik ini. Topik I MASALAH TRANSEDEN O, rupanya itu yang Anda maksud dengan transenden. Kalau pendapat saya, bila seorang penganut agama samawi dapat mencapai pemahaman "Tuhan" yang transenden, seperti Emha Ainun Najib dan lain sebagainya, maka itu berarti mereka tidak berbeda lagi dengan umat Buddha. "Tuhan" menurut pengertian mereka sudah dapat disamakan dengan Hakekat Kebuddhaan atau Buddhata. "Tuhan" semacam itu dapat disepadankan dengan asankhatadhamma. Berati bahwa dengan mereka tidak ada masalah lagi, dan saya saya yakin orang yang sudah merealisasi "Tuhan" semacam itu tidak akan berusaha memasukkan orang lain ke agamanya. Sebagaimana halnya umat Buddha yang tidak berusaha memBuddhiskan orang lain, karena tidak ada seorangpun yang dapat memBuddhiskan orang lain. Begitu pula halnya, realisasi "Tuhan" sebagai sesuatu yang absolut adalah suatu realisasi individual. Tidak ada orang yang dapat membuat orang merealisasi hal yang sama dengan dirinya. Ini adalah realisasi yang juga dialami oleh Al Halaj atau mungkin St. Frasiscus Xaverius. Tidak ada masalah dengan hal ini. Tentu saja saya setuju bahwa jika dihadapkan dengan kebenaran seperti ini, Beyond Belief bukanlah sesuatu yang tepat. Beyond Belief tentu saja bukan ditujukan bagi orang-orang seperti Al Halaj atau St. Fransiscus Xaverius. Paling-paling mereka akan membacanya dengan tersenyum dan sesudah itu berlalu. TETAPI..... tahukah Anda bahwa sangat sedikit sekali penganut samawi yang sudah sampai ke tingkatan ini? Meski mereka mengatakan bahwa "Tuhan" adalah sesuatu yang ultimit, transenden, dan lain-lain, namun "Tuhan" yang ada dalam benak mereka adalah masih "Tuhan" bentukan pikiran mereka sendiri, yang mendamba kenyamanan dan keamanan diri (zona kenikmatan). Meski mereka dapat menjawab dalam pengertian absolut, tetapi jika mereka masih gemar mengkonversi orang lain ke agamanya sendiri, maka "Tuhan" mereka adalah "Tuhan" yang terbentuk karena lobha, dosa, moha. Nah, konsepsi Beyond Belief sebenarnya masih bergerak dalam tataran ini. Sehingga dalam hal ini Beyond Belief masih dapat dikatakan sebagai sesuatu yang TEPAT. Jika seseorang masih berkata: "Percayalah pada Tuhanku.... kalau tidak kamu masuk neraka!" jelas sekali bahwa "Tuhan" yang ada dalam benak mereka adalah bukan "Tuhan" yang menurut Anda transenden itu. "Tuhan" transenden jelas tidak akan memiliki rasa "benci" dan "memihak" lagi. Wong namanya juga transenden. Anda paham maksud saya? Justru saya melihat bahwa Beyond Belief ini dapat dipakai sebagai sarana untuk membantu seseorang memahami bahwa "Tuhan" yang sejati adalah "Tuhan" yang transenden. Ini pendapat saya. Kalau Anda masih belum dapat melihatnya ya tidak apa-apa. Mengenai ayat kitab-kitab suci. Mungkin memang benar bahwa kitab suci memiliki makna bertingkat. Tetapi coba jelaskan, jika ada ayat yang mengatakan, "Mahadewa memerintahkan untuk membunuh bangsa X hingga seakar-akarnya, kecuali menyisakan gadis-gadis yang masih perawan untuk bebas dinikahi pria-pria bangsa Y (bangsa pilihan mahadewa)..." atau "Bunuhlah dan kejarlah orang-orang yang tidak percaya pada mahadewa." Nah, otak saya yang masih bodoh masih belum bisa mengerti apa makna ayat di atas ditinjau dari sudut pandang "transenden," seperti yang saudara katakan itu. Bagaimanakan pendapat saudara mengenai hal ini? Sebenarnya banyak sekali ayat-ayat semacam ini. Kita tidak cukup mengatakan, O ayatnya harus dimaknai secara transenden! Tetapi kalau memang benar dapat diartikan secara transenden, coba jelaskan apa maknanya secara transenden. Mari kita kupas habis-habisan. Bedanya dengan sutra Buddhis. Kalau dalam ajaran Buddhis jelas tidak ada kata "bunuhlah", "bantailah", atau gorenglah" dan sejenisnya. Apapun pemaknaannya, artinya tidak akan berlawanan dengan humanisme. Atau mungkin Sdr. Chingik bisa menunjukkan ayat dalam Sutra yang isinya dapat ditafsirkan berlawanan dengan humanisme. Ayo, kita langsung saja masuk ke studi kasus. Dijamin pasti lebih menarik. Kalau Anda dapat memberikan argumen yang dapat diterima oleh logika saya, maka saya tentu akan menyetujui pandangan Anda. Sebagai tambahan: menurut pandangan saya, transenden dan tidak transendennya Tuhan tidak ada hubungannya teks-teks kitab suci. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ TOPIK II Mengenai Master Chingkung Saya kira sudah jelas dan kalau ada yang masih perlu didiskusikan saya kira ada baiknya digabung saja dengan topik III. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ TOPIK III Sutra dan membahas kesalahan bhikshu Mengenai memfitnah atau menghina bhikshu tentu saja ini tidak berlaku bagi saya, karena saya tidak bermaksud memfitnah atau menghina seorang bhikshu-pun. Sekedar informasi, Silva penulis Beyond Belief itu adalah seorang bhikkhu dari Australia. Nah, jika Anda tidak merasa memfitnah atau menghina seorang bhikkhu dengan mempertanyakan atau mengkritik Beyond Belief, begitu pula halnya saya tidak merasa memfitnah atau menghina Beliau. Bagaimanapun juga sebagaimana yang sudah saya nyatakan dalam diskusi-diskusi sebelumnya, pendapat tiap orang tidak sama. Saya juga berhak menyatakan pendapat saya, apa yang akan saya lakukan bila saya adalah Master Chingkung dan ini tidak dapat dianggap sebagai fitnahan atau penghinaan. Ibaratnya begini. Anda punya teman yang tidak naik kelas. Usut punya usut, ternyata kawan Anda itu sebelum ujian, bermain video game sepanjang hari dan tidak belajar. Anda tentu boleh berkata, "Kalau saya jadi kami saya tidak akan bermain video game sepanjang hari." Nah, ini tidak sama dengan memfitnah atau menghina kawan Anda itu bukan? Kalau saya misalnya adalah seorang tua yang memiliki 100 anak dan saya saat itu memiliki 100 potong roti, maka saya akan memastikan terlebih dahulu bahwa 100 anak saya itu kebagian roti yang saya miliki. Tidak mungkin saya akan memberikan roti itu pada anak orang lain yang jelas-jelas sudah punya orang tua dan rotinya sendiri. Begitu pula kalau saya menjadi Master Chingkung, saya akan bertanya dahulu pada diri saya sendiri, "Anak-anakku (maksudnya umat Buddha), apa yang masih kurang ya? Apakah mereka sudah punya "roti" semua (roti ini multi arti, bisa sekolah, fasilitas, dan lain sebagainya). Apakah mereka sudah punya ini, apakah mereka sudah punya itu... dan lain sebagainya." Nah, kalau anak-anak kita sudah kenyang dan masih ada roti sisa, baru boleh diberikan pada anak orang lain. Tetapi kalau anak kita saja masih gembel dan lapar, terus roti yang ada diberikan begitu saja pada orang lain, maka saya sebagai salah satu anaknya tentu akan tersinggung dong, "Wah, yang benar aja. Khan saya masih lapar." Daripada rotinya untuk anak orang lain, bukankah lebih baik dipakai buat bangun sekolah bagi anak-anaknya, agar anak-anaknya tidak menumpang sekolah di agama lain. Kalau masih ada sisa roti, bukankah dananya dipakai untuk pengadaan kitab suci Tripitaka, supaya saya sebagai peneliti Buddhis bisa memperoleh Tripitaka setidaknya dengan harga murah. Supaya para dharmaduta kita yang di desa-desa bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik.... dan seterusnya.... dan seterusnya! Sekali lagi ini pemikiran saya, kalau seandainya saya adalah Master Chingkung! Dan belum tentu ini benar. Bisa saja saya yang salah. Jelas saya tidak merasa ini menghina Beliau. Mengenai kitab-kitab yang saudara sebutkan. Adakah terjemahannya dalam bahasa Inggris, karena sudah pernah saya katakan bahwa saya tidak paham Mandarin? Jika Anda sudah menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, saya mempersilakan Anda untuk mempostingnya di milis tripitaka_indonesiana. Anda telah ikut mendukung kelestarian Buddhadharma. Saya tidak tahu apakah apa yang tercantum dalam kitab-kitab itu mendukung legitimasi bhiksu atau tidak. Saya belum membacanya, jadi saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal ini. Tetapi, jelas saya tidak akan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain. Menurut saya kalau bicara masalah perdamaian antar agama, umat Buddha sedari dulu juga sudah cukup mengusahakannya. Kita sangat menghormati lingkungan sekitar, pendirian vihara juga sudah sesuai prosedur dan perizinan, dll...dll. Bicara mengenai kesalahan, jelas sekali bahwa suatu kesalahan harus "disadari." Sepengetahuan saya dalam Abhidhamma ada empat hal supaya kamma dapat membuahkan sesuatu: a. Ada pelaku b. Ada korban c. Ada motivasi d. Ada perampungan tindakan Jadi tidak mungkin sesuatu mendapatkan balasan buruk kalau tidak ada motivasi buruk (akusalacitta) yang melatar belakanginya. Meski dalam Mahayana nampaknya ada pandangan bahwa kesalahan yang tidak disadari dapat membuahkan hasil (seperti kisah Mahakasyapa yang tanpa sengaja memotong seekor kutu), tetapi nampaknya ajaran ini tidak dapat diterima mentah-mentah. Saya harus pelajari dahulu Sutranya secara lengkap baru bisa mengetahui konteksnya. Bukankah suatu ajaran tidak bisa diterima sepotong-sepotong? Begitu pula halnya dengan masalah vegetarian dan non-vegetarianisme. Keduanya harus dimakna secara kontekstual dan penuh bukannya sepotong-sepotong sebagaimana yang sudah saya ulas dalam buku saya berjudul Ehipassiko Theravada Mahayana: Studi banding Doktrin Buddhisme Aliran Selatan dan Utara. Sebagai tambahan, agar tidak terjadi kesalah-pahaman perlu saya ungkapkan pandangan saya bahwa di dalam berbuat kebajikan... sekali lagi berbuat kebajikan kita janganlah membeda-bedakan agama. Tetapi kapasitas berbuat kebajikan di sini adalah sebagai sesama manusia (kisah yang bagus mengenai hal ini terdapat dalam kitab Injil yakni perumpamaan mengenai Orang Samaria yang Baik Hati). Kalau Anda berbuat secara kemanusiaan, jangan lihat agamnya. Anggaplah mereka sebagai sesama manusia. Sedangkan pemberian yang kita bicarakan ini tidak dapat dianggap sebagai pemberian kemanusiaan, karena diberikan pada institusi keagamaan. Kalau pemberian itu diberikan pada korban bencana tsunami di Aceh, maka saya tidak akan berkomentar apa-apa. Tetapi di sini kasusnya lain, pemberian yang diberikan oleh Master itu dalam kapasitasnya sebagai seorang Bapak bagi umat Buddha, padahal sekali lagi anaknya masih sangat kekurangan. Ini yang menjadi pertanyaan saya dan sekali lagi saya tidak merasa bahwa ini merupakan suatu penjelek-jelekkan terhadap pribadi seorang bhikshu. Ini adalah pendapat pribadi saya saja. Memang benar bahwa menjelek-jelekkan seorang bhikshu suci bukanlah tindakan yang bajik, jangankan menghina bhikshu suci, menghina semua orang itu suatu tindakan yang tindak baik (terlepas dari akibatnya masuk neraka atau apa). Kita juga tidak akan senang kalau ada orang yang menghina kita. Namun menurut pandangan saya sesuatu baru dikatakan menghina, kalau kasusnya berikut ini. Misalnya ada bhikshu suci yang kakinya pincang, lalu Anda menghina dia, "Pincang! Pincang!" Nah, itu baru yang namanya menghina. Tetapi mempertanyakan apa yang dilakukan seorang bhikshu tidaklah dapat dikatakan penghinaan, sebagaimana halnya Anda mempertanyakan buku Beyond Belief yang notabena juga ditulis seorang bhikkhu dari Australia. Apakah menurut Anda sendiri tindakan Anda itu merupakan penghinaan bagi bhikkhu Savatthi Dhammika, bhikkhu scholar yang luar biasa? Meskipun saya sangat menghormati Bhante Dhammika, tetapi saya tidak melihat bahwa pandangan Anda terhadap buku Beyond Belief merupakan penghinaan terhadap Beliau. Memang benar bahwa mencari-cari kesalahan itu bukan sesuatu yang baik. Kita juga tidak senang bila kesalahan kita dicari-cari, jadi bukan hanya pada bhikshu saja kita hendaknya tidak mencari-cari kesalahan, melainkan pada sesama manusia. Nah, bila kita hendaknya tidak mencari-cari kesalahan orang lain, bukankah mencari-cari kesalahan sebuah buku berjudul Beyond Belief yang notabene juga karangan seorang bhikkhu adalah tidak dibenarkan pula? Atau mungkin Anda berpandangan bahwa seorang bhikkhu Theravada (Bhante Dhammika - pengarang Beyond Belief) lebih rendah dari bhikshu Mahayana, sehingga Beliau merupakan pengecualian dan boleh dikritik dalam hal pandangannya sebagaimana yang termaktub dalam buku Beyond Belief? Semoga saja tidak, karena sebagai seorang Mahayanis saya juga mempelajari Theravada. Mahayana ataukah Theravada adalah sama berharganya, sehingga kita hendaknya tidak sektarian. Apakah benar kita harus melindungi dan menyokong bhikkhu/ bhikshu pelanggar sila? Saya kok tidak yakin. Bila melanggar sila ia seharusnya bukan bhikkhu atau bhikshu lagi, terutama bila telah melanggar aturan parajika. Justru saya curiga bahwa ini merupakan legitimasi bagi gelar kebhikkhuan. Seolah-olah "right or wrong" seorang bhikkhu/ bhikshu harus tetap dijunjung. Tentu saja saya menolak pandangan ini. Jika Anda mempelajari sejarah Tripitaka sebagaimana yang dianut oleh para Buddhologi Barat seperti David J. Kalupahana, Hans Wolfgang Schumann, Peter dela Santina, atau Kogen Mizuno, jelas sekali bahwa Tipitaka maupun Tripitaka mengalam proses evolusi. Kanon Pali saja tidak langsung jadi dalam bentuknya yang seperti sekarang, apalagi kanon Mahayana. Kalau Anda mau bukti, silakan lihat Sutra Penerangan Sempurna (Yuanjuejing) yang di dalamnya mengandung kata "akupunktur." Jelas sekali bangsa India tidak pernah mengenal teknik pengobatan khas bangsa Tionghua ini. Selain itu coba lihat Brahmajala Sutra Mahayana (Fanwangjing), yang jelas sekali menyebutkan bahwa seorang Bodhisattva hendaknya tidak berjualan peti mati. Nah, bangsa India tidak pernah mengubur mayat dengan peti mati. Jadi kedua sutra di atas jelas-jelas dikarang di Tiongkok. Selama proses penyusunannya yang panjang itu, sangat mungkin sekali beberapa ide baru telah dimasukkan ke dalamnya, demi menyokong hal-hal tertentu; sebagaimana yang diungkapkan oleh Sdr. Pelayan Buddha. Tetapi ini semua adalah pandangan saya yang saya share ke Anda dan saya tidak mengatakan bahwa pandangan ini pasti benar; karena kebenaran 100 % jelas tidak ada. Kalau memarahi dalam arti memaki-maki bhikshu jelas saya tidak setuju dan sangat menentang hal itu. Jangan cakravartin, rakyat biasa saja juga tidak layak melakukannya. Selain pada bhikshu, kita juga tidak selayaknya memaki-maki orang lain. Tetapi kita tetap harus bersifat kritis, dalam artian sebagai umat kita boleh saja mempertanyakan makna tindakan "Bapak-bapak" kita di atas sana. Jika tidak boleh mempertanyakan, bukankah itu sama dengan monarki absolut? Bukankah Buddhisme akan menjadi "kerajaan absolut para bhikshu." Tentu saja, saya mengetahui bahwa Buddhisme memiliki apa yang dinamakan vinaya. Namun, terkadang Sangha sendiri tidak mengetahui secara pasti tindakan anggotanya. Jika tidak ada umat yang melaporkannya maka belum tentu mereka tahu. Nah, pertanyaan saya, apakah melaporkan itu sama dengan menjelek-jelekkan? Tentu tidak, bukan? Agar tidak terjadi salah paham, perlu saya utarakan bahwa saya tidak mengatakan Master Chingkung melanggar sila. Sam sekali tidak. Saya hanya berandai- andai, apakah yang akan saya lakukan bila saya adalah Master Chingkung yang memiliki uang sebanyak itu. Apakah yang akan saya lakukan dengan uang itu bila saya adalah Beliau. Apakah itu sama dengan mengatakan bahwa Beliau melanggar sila? Tentu tidak bukan. Tiap orang khan boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri dan sekali lagi pendapat saya ini bukan yang paling benar. Orang lain juga boleh berandai-andai, kalau dia yang menjadi sang mahaguru, maka apa yang akan dilakukannya. Kalau Anda merasa bahwa tindakan Master Chingkung sudah yang paling tepat ya silakan saja. Saya sangat menghormati pandangan itu. Mengenai indikasi karangan orang belakangan, ya memang itu sangat relatif. Jika Anda mengatakan bukan karangan orang belakangan ya tidak masalah. Itu adalah pendapat Anda. Para ahli Buddhologi sendiri juga pandangannya masih berbeda-beda. Tidak masalah. Justru penghormatan terhadap berbagai sudut pandang itu merupakan latihan praktek Dharma. Setidaknya itu pandangan saya. Silakan saja beda pendapat. Lebih jauh lagi mengenai kritik. Suatu kritik harus ada juga dasarnya dan bukan hanya asal kritik, harus ada alasan yang jelas. Jujur saja, di kalangan umat Buddha sendiri sering dijumpai kritik yang asal bunyi. Banyak yang hanya mau mengkritik, tetapi waktu ditanya alasan atau baiknya bagaimana, tidak dapat memberikan pandangan logis yang masuk akal. Kritikan hanya didasari oleh kemarahan dan kebencian serta tidak membawa wawasan baru. Sedangkan kritikan atau pendapat saya bukankah selalu saya sertai argumen-argumen yang menurut saya logis? Maaf, saya sebut "menurut saya" karena barangkali bagi orang lain ini tidak logis. Tetapi tidak mengapa. Saya juga tidak keberatan bila argumen saya disebut tidak logis. Bukankah telah saya sebutkan pada awal diskusi bahwa banyak kepala akan banyak pendapat? Selain itu bagi saya tujuan diskusi adalah share pandangan masing-masing. Jadi tidak ada yang benar atau salah. Orang yang asal mengkritik saya setuju dengan Anda, memang dia sudah selayaknya masuk neraka. Mempertanyakan kesalahan seorang bhikshu pada bhiksu senior. Pertanyaan saya, bila seniornya sendiri yang berbuat kesalahan, kalu kita harus pertanyakan pada siapa lagi? Apakah mungkin kita selalu mempertanyakan pada seniornya? Lalu menurut Anda untuk apa bertanya pada seniornya, jika menurut Anda kita seyogianya tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan seorang bhikshu? Logikanya, jika tidak "mempertanyakan" atau "mencari-cari" kesalahan seorang bhikshu, maka seorang bhikshu akan selalu tampak "suci- murni," bukan? Nah, kalau semua bhikkhu/ bhikshu sudah "suci-murni," untuk apa lagi kita lapor pada "atasan"nya. Apa lagi yang mau dilaporkan? Baik saya kira sekian dahulu, karena sudah cukup panjang. Semoga Anda jangan bosan membacanya. Metta, Tan ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
