Bravo Bro Yamin!! Itulah yang dinamakan "Kesadaran Etika Otonom", lawannya adalah "Kepatuhan Etika Heteronom". Demikian kata Emanuel Kant, seorang filsuf dari tradisi Smith (Samawi).
Otonom, artinya bisa menentukan sendiri tindakan apa yang sepatutnya, sebaiknya dan sepantasnya saya lakukan pada situasi tertentu, dengan pertimbangan-pertimbangan yang sepenuhnya dilakukan diri sendiri, tahu dan mengerti alasan mengapa tindakan tsb harus dilakukan serta sadar akan kemungkinan dari akibat tindakan yang dilakukan tsb. Heteronom, artinya melakukan sebuah tindakan pada situasi tertentu melulu berdasarkan apa yang dikatakan (diajarkan) oleh orang lain, tanpa mengerti mengapa tindakan itu harus dilakukan, dan juga tidak sadar kemungkinan-kemungkinan akibat tindakan yang dilakukan itu (Pokoknya, begitulah diajarkan Bhante !!) Sebenarnya, pemikiran dan ide-ide tentang Etika dari barat banyak yang berasal dan secara inplisit terkandung dalam ajaran Timur (termasuk Buddhisme). Hanya sayangnya para ulama kita banyak yang tidak sanggup menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Jadinya, banyak manusia-manusia munafik seperti saya yang memutuskan untuk berdana kepada Sangha (bukan kepada Gembel jorok dan dekil) karena demikianlah diajarka oleh Bhante Pannavaro dalam kotbah-kotbah beliau, bahwa objek berdana yang paling baik dan menghasilkan pahala paling besar adalah anggota Sangha. Berarti saya masih sangat sangat heteronom dalam beretika, dan Anda sudah mencapai otonomitas dalam kesadaran etika. Bravo, ternyata masih ada umat Buddha yang sadar dan mau menghayati dan mengamalkan kembali makna asali dari agamanya sendiri. !!! Saya salut dan akan berusaha belajar dari Anda!! Salam, Erik ------------------------------------------------------------------------\ ----------------------------------------------- In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bro Erik, Benar sih apa yang Anda utarakan.. memang itulah yang terjadi "pada masa dulu" Benar juga apa yang Anda katakan, itu kata ulama dari agama lain,... dan kata dari ulama agama kita... tapi apa kata diri kita sendiri ? terlepas dari kata-kata dan wejangan para ulama ? Buddhism tidak memaksa kita hanya mendengarkan kata-kata dari para ulama... Buddhism mengajak kita menjadi kritis... tidak dogmatis.. dan tidak menerima begitu saja metta yamin ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Home is just a click away. Make Yahoo! your home page now. http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
