Namo Buddhaya,

Hendak menambahi sedikit,

Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis, karena 
Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama Buddha 
justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam Sutra 
Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam sutra 
di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap. Ini 
melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan Dharma 
lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab Tripitaka 
hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak 
terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang mencetak 
Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri umat 
Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri, maka 
tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita, 
Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh.
Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang-orang 
hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini 
melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma. 
Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri. Bila 
SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik. 
Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan buku 
Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat agama 
lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah 
menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi 
semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat 
Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern 
adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam buku 
Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali buku 
itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat K 
sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa seolah-
olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian, buku itu 
menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan 
literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya, bila 
hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis 
keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi.
Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh ke 
luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan belum 
mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata? Cara-
cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam intern 
kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern ini 
lebih penting dari ekstern.
Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak saya 
berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya 
Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau lembaga-
lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada, bagaimana 
kita menghendaki kemajuan?

Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita kambing-
hitamkan umat agama lain semata.

Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada kata 
yang salah.

Metta,

Tan


--- In [email protected], "Yudi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Kalyanadhammo Say No To The Evangelist        
> Injil Markus 
> Ven. Dhammika 
> 
> Kuala Lumpur, Malaysia - Sekitar enam bulan yang lalu terdapat 
ketukan
> di pintu dan sewaktu di buka saya menemukan dua orang penyebar injil
> disana. Saya mengetahui bahwa mereka adalah penyebar Injil dari 
senyuman
> bersahabat yang dibuat-buat diwajah mereka, yang dimiliki oleh 
setiap
> penginjil sewaktu mereka mencoba untuk mengkristenkan seseorang. 
> Ini adalah yang ketiga kalinya dalam sebulan para penyebar injil ini
> mengetuk pintu saya dan menganggu saya jadi saya memutuskan untuk
> memberikan mereka pelajaran. "Selamat Pagi" kata mereka. "Selamat 
Pagi"
> saya menjawabnya.
> "Apakah kamu pernah mendengar tentang Tuhan Yesus Kristus?" mereka
> bertanya."Saya mengetahui sedikit tentang dia tetapi saya adalah 
seorang
> Buddhis. Saya tidak tertarik untuk mengetahui lebih banyak" saya
> berkata. Tetapi seperti para pengijil lainnya mereka tidak 
mengacuhkan
> harapan saya dan terus meneruskan membicarakan tentang kepercayaan
> mereka.
> Jadi saya berkata "Saya merasa anda tidak berhak berbicara kepada 
saya
> tentang Yesus" Mereka sangat keheranan dan bertanya, "Mengapa 
Tidak?"
> "Karena" saya berkata "kamu tidak mempunyai keyakinan". "Keyakinan 
kami
> terhadap Yesus sekuat batu karang" mereka menambahkan. "Saya tidak
> merasa demikian" saya berkata sambil tersenyum.
> "Mohon buka Alkitab Anda dan bacakan Injil Markus Pasal 16 ayat 16, 
17
> dan 18" saya berkata dan ketika mereka sedang membalik-balikkan 
halaman
> Alkitab saya denga cepat kebelakang dan kembali lagi. Salah satu 
dari
> mereka menemukan bagian itu dan saya memintanya untuk membacakannya
> dengan lantang. "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,
> tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan
> menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-etan 
demi
> nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi
> mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun
> maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan
> tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Langsung
> dikutip langsung dari Alkitab Perjanjian Baru Injil Markus Pasal 16 
ayat
> 16-18, penerbit Lembaga Alkitab Indonesia untuk The Gideons
> International) 
> ketika beliau menyelesaikannya, saya berkata "pada bagian itu Yesus
> berkata bahwa apabila kamu mempunyai keyakinan yang sebenarnya maka 
kamu
> dapat minum racun dan tidak mati." Saya mengeluarkan 
sebotol "Lankem"
> dari belakang punggung saya dan menyodorkannya, "Ini terdapat 
sedikit
> racun. Tunjukkanlah kepada saya keyakinan kamu dan saya akan
> mendengarkan apapun yang akan kamu katakan tentang Yesus"
> Kamu seharusnya meliha mimik wajah mereka! Mereka tidak tahu apa 
yang
> harus dikatakan. "Apa masalahnya?" saya bertanya. "Apakah keyakinan 
kamu
> tidak cukup kuat?" Mereka terdiam sejenak dan kemudian salah satu 
dari
> mereka berkata "Alkitab juga mengatakan bahwa kita tidak boleh 
mencoba
> Tuhan". "Saya tidak mencoba Tuhan" saya berkata. "Saya mencoba anda.
> Kamu suka untuk bersaksi untuk Yesus dan ini merupakan kesempaatanmu
> yang besar". Akhirnya satu dari mereka berkata,"Kami akan pergi dan
> menjumpai Pastor kami untuk menanyakan hal ini dan kembali untuk
> menjumpaimu. "Saya akan menunggumu saya berkata sewaktu mereka pergi
> dengan terburu-buru. Tentu mereka tidak pernah kembali lagi.
> Disini sedikit saran. Simpan salinan refrensi dari Alkitab dan 
sediakan
> sebotol Lankem dan setiap kali para penginjil datang ke pntumu untuk
> menganggumu berikan mereka ujian ini.         
> 
> 
> mettacittena,
> -yud-
>








** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke