Namo Buddhaya, Shanzhai...Shanzai...(bagus, bagus...) Itulah sebabnya dulu saya pernah mempermasalahkan buku Beyond Belief, masih ingatkan ? :), tapi bro Tan memang benar, mendingan sekarang kita memberi fokus yang lebih besar pada pendalaman Buddha dharma itu sendiri demi menggodok diri kita menjadi lebih sadar, lurus dan suci.. , maka siapa pun tidak akan dapat menggoyahkan kita lagi.
Cg ik --- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Hendak menambahi sedikit, > > Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis, karena > Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama Buddha > justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam Sutra > Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam sutra > di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap. Ini > melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan Dharma > lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab Tripitaka > hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak > terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang mencetak > Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri umat > Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri, maka > tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita, > Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh. > Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang-orang > hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini > melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma. > Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri. Bila > SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik. > Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan buku > Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat agama > lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah > menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi > semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat > Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern > adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam buku > Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali buku > itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat K > sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa seolah- > olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian, buku itu > menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan > literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya, bila > hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis > keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi. > Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh ke > luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan belum > mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata? Cara- > cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam intern > kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern ini > lebih penting dari ekstern. > Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak saya > berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya > Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau lembaga- > lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada, bagaimana > kita menghendaki kemajuan? > > Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita kambing- > hitamkan umat agama lain semata. > > Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada kata > yang salah. > > Metta, > > Tan > > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
