Namo Buddhaya, Beyond Belief tidak baik, karena info di dalamnya tidak semua akurat, karena menampilkan ajaran-ajaran yang bahkan Kristen sendiri tidak menganutnya, tetapi diputar balik bahwa seolah-olah memang demikianlah ajaran K. Sebagai contoh adalah Yesus yang seolah-olah mengajarkan permusuhan (diistilah dengan pemisahan dalam Injil) antara seorang penganut Yesus dengan keluarganya. Padahal yang dimaksud adalah: bila seseorang yang dilahirkan di tengah keluarga yang memiliki kebiasaan buruk (merampok, berjudi, dan lain sebagainya), maka ia hendaknya tidak mengikuti kebiasaan buruk tersebut. Inilah yang dimaksud dengan "pemisahan" dalam Kitab Injil. Jadinya bukannya seseorang harus memusuhi keluarganya tanpa sebab setelah menjadi pengikut Yesus. Menurut hemat saya, buku Beyond Belief harus direvisi ulang. Harus dipisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Buddhisme tidak akan makin tersebar melalui penyebar-luasan sesuatu yang tidak benar (salah) mengenai agama lain. Sebagai langkah awal buku Beyond Belief tidak masalah. Hanya membahas kelemahan agama lain tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi, hal yang lebih penting adalah meningkatkan sumber daya internal Buddhis itu sendiri. Para pemuka Buddhis masih enggan menerbitkan Kitab-kitab Tripitaka dengan beribu alasan. Inilah yang memprihatinkan. Terjemahan sudah ada, tetapi sayangnya tidak ada yang bersedia menyebar-luaskannya. Kalau literatur suci Buddhis tersedia dengan lengkap apakah yang ditakutkan terhadap para penginjil? Umat Buddha berlomba membangun patung, vihara, dan pagoda seribu tingkat. Apakah benda-benda mati itu dapat membendung evangelisasi? Mengapa tidak membangun sekolah yang setaraf Petra, Santa Maria, Ciputra, dll? Mengapa antar sekte masih cakar-cakaran? Apabila Buddhisme tidak maju mengapa harus kita salahkan penginjil? Salahkan diri sendiri! Nah, sekarang mau diajak maju apa tidak.
Metta, Tan --- In [email protected], "ching ik/ djoni" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Shanzhai...Shanzai...(bagus, bagus...) > Itulah sebabnya dulu saya pernah mempermasalahkan buku Beyond > Belief, masih ingatkan ? :), tapi bro Tan memang benar, mendingan > sekarang kita memberi fokus yang lebih besar pada pendalaman Buddha > dharma itu sendiri demi menggodok diri kita menjadi lebih sadar, > lurus dan suci.. , maka siapa pun tidak akan dapat menggoyahkan kita > lagi. > > > Cg ik > > > > --- In [email protected], "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@> > wrote: > > > > Namo Buddhaya, > > > > Hendak menambahi sedikit, > > > > Saya sebenarnya tidak khawatir lagi terhadap kaum evangelis, > karena > > Buddha sendiri mengatakan bahwa yang akan menghancurkan agama > Buddha > > justru adalah umat Buddha sendiri. Hal ini ditegaskan dalam Sutra > > Kelenyapan Dharma. Ada beberapa metafora yang dicantumkan dalam > sutra > > di atas. Pertama-tama Sutra-sutra penting Buddhis akan lenyap. Ini > > melambangkan bahwa umat Buddha sudah mulai tidak mempedulikan > Dharma > > lagi. Sebagaimana yang kita lihat saat ini, kitab-kitab Tripitaka > > hanya dijadikan penghias lemari belaka. Umat Buddha lebih banyak > > terdorong untuk membangun proyek mercusuar belaka, ketimbang > mencetak > > Sutra-sutra Buddhis. Inilah yang perlu direformasi dalam diri umat > > Buddha. Jika umat Buddhis dapat menghargai literaturnya sendiri, > maka > > tidak peduli betapa gencarnya kaum evangelis menyerang kita, > > Buddhisme akan tetap berdiri dengan kokoh. > > Kedua, Sutra menyebutkan bahwa pada masa Akhir Dharma, orang- orang > > hanya akan membaca sutra bagian awal dan akhirnya saja. Ini > > melambangkan ketidak-acuhan umat Buddha terhadap Dharma. > > Dengan demikian, kita hendaknya mereformasi diri kita sendiri. > Bila > > SDM Buddhis cukup kuat, evangelis tidak akan berkutik. > > Dewasa ada trend yang salah. Banyak umat Buddhis yang menjadikan > buku > > Beyond Belief sebagai sarana menebar kebencian terhadap umat agama > > lain. Ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Jika buku itu malah > > menjadikan umat Buddha bangga berlebihan, maka ia telah menjadi > > semacam berhala. Tidak ada salahnya merasa bangga sebagai umat > > Buddha. Tetapi bangga berlebihan menurut pakar manajemen modern > > adalah pertanda kemacetan. Selain itu, ada beberapa bagian dalam > buku > > Beyond Belief yang salah. Saya baru-baru ini membaca kembali buku > > itu, ternyata di dalamnya terdapat kepercayaan yang justru umat K > > sendiri tidak meyakininya. Namun di dalamnya disebutkan bahwa > seolah- > > olah umat K memiliki keyakinan semacam itu. Dengan demikian, buku > itu > > menjadi tidak ilmiah lagi (tidak jujur) dan tidak bedanya dengan > > literatur K yang menjelek-jelekkan Buddhis. Menurut hemat saya, > bila > > hendak menyatakan segala sesuatu kita harus bertolak dari basis > > keilmiahan. Jadi buku-buku semacam itu harus direvisi. > > Sudah waktunya kita berpaling ke dalam. Janganlah kita menoleh ke > > luar terus. Masing2 sekte dalam Buddhisme masih cakar2an dan belum > > mau memperluas wawasan. Lalu mengapa kita menyalahkan K semata? > Cara- > > cara K memang ada yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam intern > > kita sendiri juga belum sepenuhnya beres. Padahal masalah intern > ini > > lebih penting dari ekstern. > > Dulu saya memang membenci kaum evangelis, tetapi makin banyak saya > > berpraktek nianfo, akhirnya saya sadar bahwa maju dan tidaknya > > Buddhis sesungguhnya berada di tangan umatnya sendiri. Kalau > lembaga- > > lembaga kita sendiri masih belum memadai atau belum ada, bagaimana > > kita menghendaki kemajuan? > > > > Marilah kita reformasi Buddhisme dari dalam. Janganlah kita > kambing- > > hitamkan umat agama lain semata. > > > > Demikianlah sedikit tanggapan dari saya. Mohon maaf kalau ada kata > > yang salah. > > > > Metta, > > > > Tan > > > > > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
