Pipa Gas Senoro, Sebuah Bencana Ekologi dan Ancaman Bagi Pemukiman Warga, Terkait Penggelaran Pipa Produksi JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi

Rencana eksploitasi Gas Senoro dan penggelaran pipa produksinya di Kecamatan Kintom, Toili, dan Batui, oleh JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, adalah sebuah proyek ekstraktif yang sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan, kerugian sosial-ekonomi masyarakat hingga ancaman bencana ekologi sektor tambang, bahkan pemindahan paksa terhadap pemukiman warga sekitar sangat berpeluang menimbulkan dampak langsung bagi warga.

Saat ini, berdasarkan Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi seluas 198 Km², membutuhkan pembebasan lahan sekitar ± 220,3 Ha masing-masing untuk tapak proyek, fasilitas produksi, dan jalur pipa (right of way). Rencana ini sesungguhnya merupakan sebuah proyek yang melegitimasi penghancuran lingkungan dan sumber-sumber kehidupan bagi warga sekitar. Hal ini teridentifikasi,

Pertama, bahwa untuk pengembangan lapangan gas Senoro Pertamina-Medco membutuhkan lahan seluas ± 220,3 Ha (seluruhnya areal kepemilikan masyarakat). Berdasarkan Perpres No. 36/2005 tentang pembebasan tanah untuk kepentingan umum serta klaim tanah negara, maka pembebasan lahan secara sepihak (intimidasi) dipastikan akan terjadi untuk merampas hak kepemilikan masyarakat terhadap lahannya.

Kedua, Penggelaran Pipa Produksi di 3 sumur bor hasil eksplorasi Pertamina–Medco dibagi dalam 2  Alternatif: masuk dalam kawasan SM Bangkiriang, dan melalui laut sepanjang 3,5 km. Kemudian pemasangan pipa Kondensat (khusus pengapalan) dari Senoro - Nonong harus melewati areal pemukiman warga sepanjang ± 15 Km. Sama halnya pemasangan transmisi pipa produksi Senoro - Kintom yang berjarak ± 40 Km juga akan melalui areal pemukiman masyarakat (Kec. Toili, Batui dan Kintom). Secara keseluruhan pemasangan pipa ini akan ditanam pada kedalaman ± 2 m di atas permukaan dan lebar 25 meter. Pekerjaan teknis ini memperlihatkan bahwa baik penggelaran maupun pemasangan pipa, nantinya sama-sama berpeluang memberikan ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem darat (kawasan Hutan) dan laut termasuk menghilangkan akses masyarakat terhadap keberlanjutan sumber daya alamnya (lihat dampak PT. Lapindo Berantas).

Selain itu, untuk mempertahankan produksi Gas Senoro, Pertamina-Medco akan memproduksi 21 titik sumur. Pada tahap awal, sumur yang akan diproduksi sejumlah 9 lubang (3 sumur bor yang siap dieksploitasi) sisanya rampung pada tahun 2008. Tahun 2012 (3 sumur), tahun 2019 (5 sumur) dan Tahun 2021 sebanyak 4 titik yang hingga saat ini belum diketahui pasti kedalaman masing-masing sumur. Pada perjalanannya, 3 sumur bor yang siap dieksploitasi telah menyisakan Lumpur (Water Based Mud) atau dasar lumpur air dan Limbah Serbuk Bor (sama dengan lumpur Porong, Sidoarjo), di mana masing-masing sumur akan memproduksi Limbah Serbuk Bor sebesar 5.400 m³ belum termasuk re-entry (kerja ulang). Dapat dibayangkan, jika keseluruhan sumur telah rampung dikerjakan, maka lumpur dan limbah serbuk bor yang diproduksi mencapai 226.800 m³ berpotensi merusak kondisi lingkungan hidup. Hal ini belum termasuk kebocoran pada pipa gas dan pipa produksinya yang mungkin terjadi.

Ditambahkan pula, bahwa dalam proses pengeboran di 1 sumur bor dan re-entrynya, media air yang terpakai mencapai 140 m³/sumur, sehingga secara keseluruhan air yang akan terproduksi di 21 sumur bor mencapai 2.940 m³. Sumber air akan diambil dari Sungai Toili dan Sungai Sinorang. Sementara itu, untuk Uji Hidrolistik pipa pada saat selesai pemasangan dari Senoro-Kintom 40 Km dan Senoro-Nonong (Kondensat) 15 Km, media air yang terpakai mencapai 11.760 m³. Lamanya pengisian dan pengeluaran masing-masing 5 hari dengan debet (pengisian/pengeluaran) adalah sekitar 3,5 liter/detik.  Sumber air untuk Senoro-Kintom berasal dari Sungai Sinorang, S. Kayowa, S. Batui, S. Lamo, S. Tangkiang dan S. Masolang. Sedangkan untuk Senoro-Nonong air berasal dari Sungai Sinorang. Selanjutnya, pada tahap operasi air terproduksi berkisar 91 BWPD (Barrels Water per Day) dan pada puncaknya mencapai 7.934 BWPD. Dapat dipastikan, sungai yang sejauh ini dikonsumsi masyarakat di tiga wilayah kecamatan akan terkontaminasi logam-logam berat (serbuk bor) dan bahan kimia lainnya pada saat pengoperasian. Sungai yang selama ini dijadikan tanda akhir pada saat pengeboran. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Seperti diketahui, eksploitasi gas Senoro oleh Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi saat ini tengah memasuki tahapan konstruksi (eksplorasi) dan direncanakan selesai pada tahun 2035.  Rencana operasi produksi gas akan mencapai kapasitas sebesar 260 MMSCFD millions of square feet per day) yang berasal dari 21 sumur bor. Dengan rincian produksi dan pemanfaatan gas adalah 230 MMSCFD, gas yang memenuhi spesifikasi sale gas akan dikirim ke Kecamatan Kintom, 10 MMSCFD untuk keperluan sendiri (own use), dan kondensat sebesar 10.000 BCPD (side product) dikirim melalui pengapalan (pelsus Nonong sekitar Cluster/LNG 4).

Berkaca pada fakta kasus PT. Lapindo Berantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, harusnya pemerintah lebih hati-hati dalam mendorong kebijakan investasi di bidang pertambangan. Perangkat aturan, pengawasan, dan keterbukaan informasi serta keterlibatan masyarakat harus lebih dimaksimalkan. Sehingga kasus yang sama tidak terulang di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Teridentifikasi kebocoran gas Porong Sidoarjo, dengan kedalaman sumur mencapai 9.297 kaki atau sekitar 2.800 m dengan intensitas semburan lumpur panas berkisar 40.000 m³ dengan ketinggian 1 hingga 2 m. Pecahnya pipa gas ini menggenangi sekitar 80 Ha (infrastruktur sosial, ekonomi, dan lahan pertanian warga), sehingga memaksa 4.000 warga (desa Siring, Renokenongo dan Jatirejo) harus mengungsi ke pasar dan Balai desa terdekat. Lumpur juga telah mencemari Sungai Sanggarsewu yang merupakan satu-satunya sumber pengairan bagi sawah dan tambak seluas 45 Ha yang tidak luput dari genangan lumpur. Selain itu, gas berwarna putih yang keluar bersama lumpur mengandung zat kimia yang teridentifikasi antara lain: gas Hidrogen Sulfida (H2S), Amoniak (NH3), Nitrit, Nitrat, dan Fenol (C6H5OH) sehingga mengancam keberadaan ekosistem sekitarnya (Investigasi WALHI Jatim, 31 mei 2006).

Jika dihitung analisis costnya, maka yang wajib ditanggung oleh PT. Lapindo Berantas adalah biaya akibat dampak langsung atau tidak dari pencemaran lingkungan hidup (damage cost), biaya upaya menghindari pencemaran (avoidance cost), biaya menjaga dan mengurangi tingkat pencemaran (abatement cost) dan biaya sumber daya untuk penelitian pengelolaan dan pemantauan pencemaran (transaction cost) termasuk kerugian yang dialami oleh masyarakat, industri, dan pemerintah.

Tanggal Buat: 19 Aug 2006 | Tanggal Update: 19 Aug 2006
__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke