Nusantara Rabu, 14 Februari 2007 Nasib Petani Produsen Gabah yang Tak Mampu Membeli Beras
Samsudin (35) sudah mulai lelah menanti datangnya truk Bulog yang mengangkut beras operasi pasar ke penggilingan padi Inti Murni milik Hanan Tohid pada Selasa (13/2). Warga Bakung Lor, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu sudah hampir dua jam menunggu. Ia harus meninggalkan pekerjaannya di sawah agar bisa mendapatkan beras operasi pasar (OP) yang harganya Rp 3.700. Jauh lebih murah dibandingkan dengan harga beras di pasaran yang kini mencapai Rp 6.000 per kg. Samsudin tak sendirian. Di sampingnya ada Toyib (45) dan Sali (70). Mereka juga sudah datang sejak pukul 09.30 untuk mengantre beras Bulog. Semakin siang, antrean makin panjang. Banyak juga ibu-ibu yang membawa serta anak-anak mereka. Ketika OP akhirnya dibuka, ratusan orang itu berebut mendapatkan lima kg beras dalam plastik hitam sehingga petugas pun kewalahan. Beras murah kini menjadi barang berharga bagi warga daerah lumbung padi ini. Meski berprofesi sebagai petani dan buruh tani yang setiap tahun dua kali panen, mereka toh harus antre untuk mendapat beras. Bulan-bulan ini memang merupakan bulan paceklik bagi mereka. Setelah masa tanam tertunda dua bulan lebih, sawah yang sudah ditanami kemudian terkena hama penggerek batang akibat banjir yang melanda pantai utara Jawa Barat pada awal Februari lalu. Harga beras di pasar yang mencapai Rp 6.000 per kg sungguh tak bisa mereka mengerti. Pasalnya, ketika panen pada bulan September dan Oktober lalu, gabah kering panen hanya mereka jual sekitar Rp 2.700 per kg, sementara beras masih berkisar Rp 3.500. Menyimpan gabah dan menjualnya sewaktu mahal, kata Samsudin, tidaklah mungkin dilakukan petani kecil seperti dirinya. Sebab, setelah panen ia harus membayar kembali modal tanam untuk 0,75 hektar lahan sewaannya, sekitar Rp 1,2 juta. Padahal, sekali panen, ia hanya mampu menghasilkan 2 ton gabah kering giling. Jika harga gabah kering giling Rp 2.700 per kg, berarti hasil panen sekitar Rp 5,4 juta. Saling berebut Hingga jarum jam menunjukkan pukul 13.00, warga masih mengerumuni dan berebut beras murah Bulog. Samsudin yang sudah menenteng sekantong tas hitam berisi beras pun langsung mengambil sepeda kayuhnya. Rekan-rekannya yang lain, seperti Toyib dan Sali, masih berdesakan mengantre beras. Samsudin lalu memancal pedal sepeda meninggalkan penggilingan padi milik Hanan Tohid yang halamannya penuh dengan tumpukan gabah dan beras kualitas super. Samsudin memang tak akan mampu membeli beras super yang tertumpuk di tempat penggilingan padi Hanan Tohid meski sebagai petani ia mampu menghasilkan beras kualitas super yang kini berharga Rp 7.000 per kg, Samsudin dan petani lainnya tak akan bisa menikmati harga itu karena kondisi memaksa mereka menjual gabah dengan harga standar, tak lama setelah panen. Samsudin dan kawan-kawan seperti ayam yang kelaparan di lumbung padi. Ia hanya mampu membeli beras operasi pasar, yang warnanya sudah kekuningan dan berbutir pecah-pecah, untuk menyambung hidup keluarganya. Sementara beras yang mereka hasilkan hanya bisa dijangkau orang kaya di Jakarta.... (Siwi Yunita Cahyaningrum) ____________________________________________________________________________________ Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. http://smallbusiness.yahoo.com/r-index
