Kompas, Rabu, 07 Maret 2007
"Jugun Ianfu"
Lagi, Berbagai Negara Berang pada Abe
Beijing, Kompas - Komentar Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pekan lalu masih
terus menimbulkan protes di berbagai negara. China, Selasa (6/3), mendesak
Jepang bertanggung jawab atas perbuatannya. Taiwan mengajukan protes. Sementara
perempuan-perempuan Filipina menyebut Abe "pembohong".
China mengecam penculikan perempuan-perempuan Asia oleh militer Jepang untuk
bekerja di rumah-rumah bordil sebagai budak seks selama Perang Dunia II. Negara
Tirai Bambu ini mendesak Tokyo bertanggung jawab atas tindakannya pada masa
lalu.
Menteri Luar Negeri China Li Zhaoxing mengatakan, penggunaan apa yang disebut
jugun ianfu atau "perempuan penghibur" adalah "salah satu kejahatan serius yang
dilakukan militer Jepang selama Perang Dunia II".
"Ini merupakan sebuah fakta sejarah," kata Li dalam sebuah konferensi pers pada
Kongres Rakyat Nasional China. Pemerintah Jepang "harus menghadapi bagian
sejarah, mengambil tanggung jawab, dan dengan serius mengkaji serta menangani
isu ini dengan sepantasnya," katanya.
Pernyataan Li itu merupakan reaksi resmi China pertama atas komentar PM Abe
pekan lalu yang menyangkal tanggung jawab negaranya karena memaksa
perempuan-perempuan Asia ke bordil-bordil militer bagi pasukan Jepang selama
perang. Abe mengatakan, "Tak ada fakta yang membuktikan ada paksaan."
Cendekiawan dan politisi terkemuka Jepang secara rutin menyangkal keterlibatan
langsung militer atau penggunaan kekerasan dalam mengumpulkan para perempuan
itu, dengan mempersalahkan kontraktor-kontraktor swasta kalau ada penyiksaan.
Pernyataan Abe menimbulkan keberangan internasional dan menyangkal bukti dalam
dokumen-dokumen Jepang yang ditemukan tahun 1992. Dokumen itu, menurut para
sejarawan, memperlihatkan militer bekerja sama dengan para kontraktor untuk
mendapatkan sekitar 200.000 perempuan—sebagian besar dari Korea dan China—untuk
dipasok ke rumah bordil.
Pernyataan itu juga menimbulkan keraguan mengenai permintaan maaf Pemerintah
Jepang tahun 1993 kepada para budak seks yang dikeluarkan Kepala Sekretaris
Kabinet waktu itu, Yohei Kono.
Pernyataan Kono juga mengakui bahwa banyak perempuan dipaksa melakukan
prostitusi dan bahwa pemerintah militer terlibat dalam beberapa kasus.
Bulan lalu, anggota Kongres AS, Michael Honda, mengajukan sebuah usulan
resolusi tak mengikat yang mengimbau Jepang untuk meminta maaf dengan jelas
atas tragedi yang dialami ribuan perempuan Asia itu.
Hari Senin, Abe tetap pada sikapnya bahwa Tokyo tak perlu mengeluarkan
permintaan maaf lagi, dengan mengatakan kepada parlemen Jepang bahwa kesaksian
yang didengar DPR AS tidak memberikan bukti kuat adanya penyiksaan.
"Kami tidak akan meminta maaf, bahkan kalau resolusi itu disetujui," kata Abe
kepada parlemen Jepang.
Saksi hidup marah besar
Pemerintah Taiwan hari Selasa mengajukan protes kepada Tokyo atas pernyataan
Abe itu. "Pemerintah menyesalkan pernyataan itu dan mengajukan sebuah protes
keras kepada Jepang," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Taiwan.
Tokyo didesak mengambil tanggung jawab atas perbudakan seks itu, yang telah
menyebabkan trauma pada ribuan perempuan Asia, baik secara fisik maupun secara
psikologis.
Di Manila, sekitar 20 perempuan lanjut usia Filipina menyebut PM Jepang
"seorang pembohong".
"Kami adalah korban dan saksi hidup," kata Virginia Villarma (78). "Bagaimana
kami bisa menjadi pelacur waktu itu ketika kami masih begitu muda dan tak
berdosa.... Kami katakan kepada Abe bahwa apa yang dia katakan salah. Dia
seorang pembohong."
Para perempuan itu melakukan protes di luar Kedubes Jepang di Manila bersama
sekitar 20 kerabat dan pendukung dari Lila Pilipina, sebuah organisasi budak
seks semasa perang dan aktivis hak-hak perempuan.
Di Indonesia, Jaringan Anti Penjajahan Jepang, sebuah gabungan berbagai
organisasi seperti INFID, Jaringan Advokasi Jugun Ianfu dan Kalyanamitra, hari
Rabu ini mengadakan aksi damai "menuntut tanggung jawab Pemerintah Jepang untuk
mengakhiri kejahatan kemanusiaan". Aksi itu dimulai dari Bundaran Hotel
Indonesia menuju Kedubes Jepang. (AP/AFP/DI)
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.