Ketika orang memfitnah saya, apa yang seharusnya saya lakukan?
Kesabaran adalah jalan untuk mengurangi kejahatan
Lakukan contoh yang baik untuk anak dan cucu
Ikuti kelemahlembutan, dan bukan kekerasan

----------------

Kita tidak seharusnya sedih ketika difitnah orang lain. Kadang-kadang itu
tidak terlalu melukai kita, suatu pukulan yang segera berakhir -- seperti
awan yang berlalu ketika matahari akan bersinar. Kita perlu memperlakukan
orang lain dengan ketulusan dan secara jujur, dengan cara demikian
memberi
contoh yang baik untuk generasi muda. Lebih dari itu, kita perlu
mengikuti
kelembutan, bukan kekerasan.

Kita seharusnya melakukan sesuatu yang masuk akal pada saat seseorang
memfitnah kita. Ketika fitnahan itu muncul, kita memperoleh pukulan yang
segera berakhir. Ini tidak benar. Pada kenyataannya, jika kita dapat
bersikap sabar dan tidak memperhitungkannya, jika kita menahan diri dari
keinginan untuk balas dendam, pada waktunya orang-orang akan mengetahui
kebenaran. Lalu fitnahan itu tidak hanya tidak akan melukai kita tetapi
akan
menjadi sebuah kesempatan untuk menemukan kebaikan.

Seperti Sutra 42 bagian mengungkapkan, "Memfitnah orang itu bagaikan
meniupkan debu ke angin, tidak hanya hal itu tidak akan melukai orang,
tetapi debu tersebut pada akhirnya kembali kepada dirinya sendiri.
Memfitnah
orang adalah juga seperti meludah ke atas langit, yang saat itu juga
jatuh
tepat di wajah kita." Oleh karena itu, kita tidak seharusnya terganggu
oleh
omong kosong dan fitnahan dari orang lain. Malah sebaliknya, kita
seharusnya
memiliki sikap toleransi, sabar dan memaafkan. Kekuatan yang paling besar
di
dunia ini bukan datang dari kepala maupun senjata. Tetapi berasal dari
sikap
toleransi di bawah tekanan penghinaan. Menurut Buddhadharma, kebaikan
yang
diperoleh dari latihan Sila adalah tidak sebesar kebaikan yan didapatkan
dari mempraktekkan toleransi. Jadi di sini kamu dapat melihat kekuatan
dari
toleransi.

Dalam berlatih, hal pertama yang diperlukan untuk dipelajari adalah
toleransi. Kita harus menjadi toleran dalam berbicara dan tidak
seharusnya
berteriak kepada orang lain untuk alasan yang tidak jelas. Kita harus
dapat
menunjukkan toleransi pada sikap kita dan tidak seharusnya wajah kita
menampakkan kemarahan. Kita harus bisa bertoleran menyangkut pikiran kita
dan benar-benar memaafkan perbuatan buruk yang telah dilakukan orang lain
kepada kita. Jika kita dapat melakukan ini, kita telah membuat sebuah
contoh
yang baik dan tak ternilai untuk generasi muda.

Ada sebuah cerita di dalam Sutra 100 Perumpamaan. Suatu hari seorang ayah
meminta anaknya pergi ke pasar membeli makanan dan minuman untuk menjamu
para tamunya. Setelah beberapa lama, anak tersebut belum juga kembali ke
rumah. Ayahnya mulai khawatir dan pergi mencari anaknya. Dia menemukan
anaknya berdiri di pinggir jalan sedang beradu pandang dengan orang
asing.
Sang ayah merasa heran dan menanyakan kepada anaknya kenapa dia beradu
pandang dengan orang tersebut. Sang anak memberitahu ayahnya, bahwa orang
asing tersebut tidak mau menepi untuk membiarkannya lewat, keduanya lalu
memutuskan untuk saling beradu pandang. Yang menyerah terlebih dahulu
harus
membiarkan yang menang lewat lebih dulu. Sang ayah sangat marah dan
berkata
kepada anaknya untuk pulang ke rumah dan meletakkan barang-barang
belanjaan
sedangkan dia mengambil alih posisi anaknya dan mau membuktikan siapa
yang
akan menang.

Apakah dengan tidak melangkah lebih dahulu berarti kemenangan? Apakah ini
membuat kita sungguh-sungguh bahagia? Jika kita mau melakukan contoh yang
baik bagi generasi yang lebih muda, kita seharusnya dapat bersikap
toleran,
sabar dan memaafkan. Anak-anak kita akan mendapat keuntungan besar dari
sikap seperti itu.***


---------
sumber: Suara Bodhidharma, edisi 07/4/II/2002; Ven.Master Hsing Yun,
"Cloud
and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press,
USA, 2000.


Kirim email ke