On Fri, 2010-01-08 at 11:31 +0700, James F. Tomasouw wrote: > Kang, Kota Surabaya sudah terlebih dahulu membuat distro SURYA, utk > dipergunakan di seluruh kantor pemerintahan kota Surabaya Menurut pemikiran saya, hal-hal semacam ini berpotensi menjadi faktor melemahkan kekuatan opensource bagi user awam dibanding kompetitornya. Bagi para jagoan, bikin distro sungguh memberi kepuasan diri. Sebagai ilustrasi, di internal UGM saja ada distro Ugos (UGM go Opensource). Ajaibnya, para fanatikus Linux di Fakultas Ilmu Budaya (dulu sastra) mengeluarkan distro Bugos (Budaya go opensource). Dibutuhkan resource yang lumayan besar untuk mengemas suatu distro.
Ada banyak distro dikembangkan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu yang tertua adalah DD (Debian Depok) dari UI. Sekarang saya baru tahu ada juga Distro yang dikembangan tim TIK pemerintah daerah. Ini pemborosan resource. Tidak akan ada suatu perguruan tinggi menggunakan produk dengan brand name perguruan tinggi lain; tidak akan ada pemda menggunakan produk dengan brandname pemda lain. Kalau ada yang tanya UGM pakai apa, saya jawab RedHat/CentOS di server dan Ubuntu di PC. Ugos, Bugos, Kuliax dsb adalah sarana teman-teman mengasah ketrampilan dan pemahaman yang mendalam tentang suatu distro. Tentu akan menjadi suatu prestasi luar biasa kalau distro yang dikembangan sendiri tersebut bisa mendapat tempat yang luas di masyarakat. Wassalamualaikum, Bambang Prastowo
