Rekan2 Pengawal e-Gov,
Banyak hal yang bisa dilakukan dengan TI, termasuk mencegah korupsi uang
dan suara,
namun semuanya akan menghilangkan peran banyak pihak yang bertahun-tahun
menjadi tangan tanpa bayangan, mengatur hukum dan citra publik, mengatur
kehidupan hingga kematian seseorang, semuanya sudah terlalu lama bisa
diatur,
Yang jujur semakin banyak masuk penjara karena tidak tahu bagaimana
mentaati perintah atasan yang tidak mungkin dipenuhi dengan aturan dan
anggaran ada, sehingga anak buahnya mau tak mau harus berani ber pat
gulipat mengumpulkan dana taktis, yang dibukukan dan dicatat bagi
kepentingan tugas kenegaraan atau perintah atasan.
Akhirnya setelah jabatan selesai, dia harus berhadapan dengan penegak
hukum bukan penegak keadilan, pejabat penegak hukum yang harus mentaati
semua hukum meski harus dilakukan tanpa keadilian, karena bila
menegakkan keadilan bisa dianggap tidak melakukan tugas penegak hukum.
Dari banyak kasus Jembrana, merupakan suatu contoh reformasi birokrasi
yang patut dipuji dan dihargai oleh masyarakat dan pemerintah, Bukan
hanya dengan penghargaan dan pujian, tapi dengan upaya nyata dari para
pejabat perancang hukum dan perundangan, dari para wakil rakyat, untuk
melengkapi segala kemungkinan yang bisa terjadi dengan penyesuaian dan
perubahan hukum dan undang2 yang berlaku, agar semua upaya Jembrana bisa
disebar luaskan untuk menjadi contoh nyata dalam membangun negeri..
Hanya mereka yang anti reformasi dan perbaikan di republik ini yang
berani bersiteguh untuk tidak bersedia merubah hukum yang ada, dengan
segala alasan yang dibuat atau desakan politis.
Hanya mereka yang ingin republik ini hancur berkeping dan tidak pernah
bisa maju, yang tidak bersedia untuk melakukan perubahan untuk jadi
lebih baik atau memaksakan kehendak untuk ide sentralistikm yang belum
tentu sesuai dengan kondisi, keadaan dan kemampuan daerah.
Dari apa yang dilakukan oleh teman2 di Jembrana, tampak sekali,
kerjasama proffesional TI dan pejabat pemerintahan Daerah (eksekutif,
yudikatif dan Legislatif) berupa penggunaan IT dengan cara yang sedehana
dan realistis justru lebih bisa membuahkan hasil karya yang tepat guna,
effisien dan sesuai dengan kondisi, keadaan dan kemampuan daerah.
Sudah saatnya kita harus berubah, menyesuaikan diri dengan kenyataan,
tidak hanya bermain citra publik dan persingan bebas yang menuju
pembodohan masyarakat saja.
Kita bersama kembangkan apa yang dilakukan Jembrana, mulai dari semangat
pada diri kitam untuk ditularkan secara nasional dan mendapat dukungan
nyata dari para profesional, pelaksana pemerintahan baik Pejabat DPR,
Eksekutif dan Yudikatif. untuk bersama menghapus egosentris yang selama
ini banyak diciptakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, dan
mengalihkan dengan kebersamaan pikiran, membebaskan diri dari pamrih
yang sangat personal, untuk bisa membangun negeri.
Rawe2 Rantas Malang2Putung,
Ayo kita maju, hindari persaingan dan kebebasan tanpa batas, untuk
bersatu bersama ber gotong royong membuat solusi seperti Jembrana, untuk
membangun negeri.
Semoga Indonesia Raya ku yang lama menghilang segera timbul dan berjaya
kembali.
Wassalam,
Hari
On 2/11/2010 8:00 PM, [email protected] wrote:
_e-voting, sebuah tamparan dari Bali
_Melihat e-voting di Jembrana Bali dan kesederhanaan
penuturna dari Bupati Bali dan staf IT yang telihat,
terbayang bagaimana kesajahaan itu membuahkan
hasil yang ternilai.
Bayangkan, lompatan tak terhingga, sebuha quantum leap
bagi masyarakat pedesaan yang bahwakan pegang compi
saja belum pernah namun didisain sebuah sistem yang
memungkinkan siapa saja bisa melakukan proses voting
secara elektronik secara sederhana. Bahkan dilakukan oleh
orang-orang tua yang belum tentu bisa membaca dan
menulis.
Proses e-voting sederhana sekali, yaitu hanya terjadi dua
tahap, yaitu verifikasi data dan voting dengan touch screen
pada foto yang dipilih.
Di verifikasi data, ini smartnya, KTP tinggal diletakkan diatas
scanner da kemudian layar akan menjelaskan foto dan nama
pemilih. Proses verifikasi ini saya yakin juga didata buka hanya
untuk mengetahui keabsahan calon pemilih, juga untuk mendeteksi
pengguinaan KTP yang tidak dikeluarkan atau dididsain oleh
Kabupaten Jembrana untuk tujuan e-voting dengan menggunakan
mungkin bar-code.
Ini tentu saja bukan hanya akan membuat perkembangan bisa
diikuti secara real time, tetapi juga verifikasi pemilih yang berhak.
Hal ini dimungkinkan oleh wireless comunication system antara
pusat-pusat informasi diseluruh kabupaten Jembrana untuk
berkomunikasi data. Disain program saya yakin telah
meperhitungkan satu KTP satu suara sehingga kehawatiran KTP
atau pemilh double pasti tidak dimungkinkan tanpa proses yang
sulit karena tidak mungkin seorang pemilih yang telah memilih
di sebua tempat kemudian pergi ke tampat lain untuk memilih lagi.
Petugas yang mengawasi dari jauh proses verifikasi yang dilakukan
sendiri oleh pemilih pasti tahu atau system pasti sudah di disain
untuk memberi tahu.
Disain touch screen sungguh sebuah inovasi techno-sosial yang luar
biasa. Sangat efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah
IT devide bagi masyarakat Jembrana yang sebagian lanjut usia,
tidak berpendidikan, sudah lanjut usia, namun berhak atas pemilihan.
Teknologi touch screen dengan foto dan KTP scanner sungguh sebuah
disain system yang pantas diacungi jempol. Apalagi, pemilu kemarin
kita baru saja disuguhi tontonan tidak mutu dengan amburadulnya
DPT dan DPS. Bahkan , berita menyesakkan dada, pilkada di Jatim
pun, yang pemilu lalu bermasalah dengan DPT hingga Kapoldanya
dipanggil ke Mabes seperti penjelasan Deni Indrayana staf khusus
Presiden dalam acara debat di TV One, masih bermasalah dengan
DPS. Seakan tidak berkaca kepada pengalaman masa lalau dan
tidak ada proses pembelajaran kepada pengalaman.
Kabupaten Jembrana dengan segala kesederhaan dan kerendahan
hatinya, termasuk keterbatasan anggarannya, mampu membuat
sebuah terobosan luar biasa bagi kemajuan negeri yang layak
diangkat di tingkat dunia. Seakan menyindir pemilu yang
menghabiskan dana puluhan trilyun namun IT nya tampak segan
untuk unjuk diri.
Apa yang terjadi dengan kabupaten Jembrana seakan menampar
realita bernegara. e-voting tidak diakui karena peraturan mengatur
pemilu yang sah adalah di coblos atau di conrtreng.......;
gedubraaakak !!!
Indonesiana !!! segala hal bisa terjadi
Maka, jangan pernah berpikir atau melihat daerah hanya dari Jakarta.
Lihatlah pula kiprah para BUPATI BUKAN BIASA di Kick Andy dan
bandingkan dengan keangkuhan serta kejumawaaan para penguasa
negeri seakan merekalh yang paling ............ hingga sebuah kemajuan
peradaban pun tidak diakui dan harus melalui Judicial Review.
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2681 - Release Date: 02/11/10
14:35:00