Bung AS,
Dari uraian anda tampaknya apa yang kita maksud adalah sama, namun
banyak kemungkinan yang bisa berbeda bila dilihat dari sudut pandang
yang bisa berbeda-beda bagi setiap person sesuai dengan latar belakang,
pengalaman dan titik pandang kita masing masing yang juga berbeda.
Saya coba melihat dari satu titik kebebasan itu dari sisi publik yang
memang sudah ada, namun ternyata kebebasan para pelaksana pemerintahan
khususnya di bidang kebijakan, aturan dan hukum pendukungnya sering
lambat untuk mengantisipasi dan mampu cepat atau mau menyelaraskan
dengan proses, hukum dan hal lain yang perlu disesuaikan untuk menerima
perubahan. Karena kita harus mau menyadari adanya kenyataan situasi
bhineka di republik ini. Semuanya ternyata masih sulit untuk bisa
dilaksanakan dengan cepat atas dasar kemauan , sehingga terkadang kita
harus main tabrak dan curi kesempatan unruk membuat kejutan, sebagaimana
fakta dari apa yang terjadi di Jembrana, sehingga dalam topik ini
disebut sebagai "tamparan dari Jembrana".
Semoga semua ini membuat Indonesia belajar menjadi semakin baik.
Selamat berjuang.
Wass.
Hari bukan heru. .
On 2/12/2010 8:10 AM, [email protected] wrote:
Mas Heru, maaf sebelumnya.
soal kebebasan saya sebagian tidak sependapat,
ada dua hal penting dalam fenomena Jembrana dan kebebasan,
Pertama, faktor budaya
Ke dua, faktor realita kebangsaan Indoensia yang berbhinneka
Fenomena Jembrana tidak mungkin terungkap kalau pers dan semangat
reformasi itu dengan segala ekses keterbukaannya itu ada.
Jelas teknologi digital berperan besar dalam perkembangan bangsa ini.
Dan, ini membanggakan. Namun, sidang Pansus terbuka itu juga sebuah
proses yang tidak perlu disikapi dengan negatif apalagi apriori. Lihat
pula sidang Antasari. Dalam dialog interaktif erlihat bahwa banyak
orang Batak yang merasa terganggu dengan perilaku RS di persidanga
Pansus. Jadi, biarkanlah omunikasi sosial antar etnis bangsa itu
terjadi untuk pada akhirnya akan terjadi sebuah nilai dominan bangsa
Indonesia. Seblum para petani diInggris menggunakan roda bulat, mereka
menggunakan roda persegi. Ketika dipakai dan roda itu akhirnya menjadi
bulat dan mereka mersakan manfaatnya maka mereka mendefinisikan bahwa
roda itu harus bulat.
Let's market taking care of it, demikian kata orang. Media yang
menyiarkan secara terbuka itu ternyata hidup dengan iklannya. Artinya,
ada rating dan masyarakat berminat untuk melihat. Dulu banyak kritik
terhadap sinteron yang katanya tidak mendidik, namun kini setelah
sidang terbuka Pansus menyedot pemirsa sinetron juga ada kritik.
Menurut orang Jawa, itu namanya "ngewuhké gatel" atau rasa gatal yang
membuat repot.
Bila saya cermati media interaktif dengan audience dari Sabang sampai
Merauke, tampak semangat mengindonesia itu terlihat sangat jelas.
Bangsa Indonesia itu bukan impian Soekarno dkk dan para aktifis 1928.
Namun bangsa Indonesia itu memang ada. Kalau enurut Central Limit
Theorem, semakin besar n maka apapun bentuk distribusi akan semakin
mendekati distribusi Gauss (agar tidak dikritik Mas Adi he... he..)
Tidak ada satupun yang bisa mendefinisikan bangsa Indonesia, sesuai
dengan semangat Soempah Pemoeda 1928. Silahkan saja menjadi CEO untu
memperkenalkan Indonesia. Menjadi Indonesia adalah berawal dari niat
dimana bangsa Indonesia yang dimulai dari niat itu sudah ada jauh
sebelum negara yang bernama Indonesia itu ada. Bayangkan !!! uni bukan?
Biarkanlah proses berbangsa dan bernegara ini berjalan sesuai dengan
dinamikanya dimana kooptasi informasi dan kebenaran tidak boleh
terjadi. Rakyat yang telah memilih terepresentasi pada wakil-wakilnya
dan konstitusi adalah pencerminananya. Rakyat melalui wakil-wakilnya
di lembaga perwakilan terrepresentasi melalui konstitusi dan
penyelenggraan negara harus berdasar konstitusi. Maka, DPR wajib
mengawasi penyelenggaraan negara sebagai representasi rakyat.
Kini pilar ke-empat demokrasi telah bekerja beriringan dengan hukum.
Sinar harapan demokrasi Indoensia yang lebih baik sedang menyingsing.
Tida perlu menala masa depan dengan parameter masa lalu kalau
parameter itu memang ternyata sudah tidak lagi signifikan.
Sesuai dengan fenomena Jimbaran, maka bagaimana rakyat semakin
mengenal para wakilnya adalah tantangan masyarakat digi-tchno.
hanya orang biasa
salam
On 2/11/2010 11:00 PM, hnoe...@indonet wrote:
Rekan2 Pengawal e-Gov,
Banyak hal yang bisa dilakukan dengan TI, termasuk mencegah korupsi
uang dan suara,
namun semuanya akan menghilangkan peran banyak pihak yang
bertahun-tahun menjadi tangan tanpa bayangan, mengatur hukum dan
citra publik, mengatur kehidupan hingga kematian seseorang, semuanya
sudah terlalu lama bisa diatur,
Yang jujur semakin banyak masuk penjara karena tidak tahu bagaimana
mentaati perintah atasan yang tidak mungkin dipenuhi dengan aturan
dan anggaran ada, sehingga anak buahnya mau tak mau harus berani ber
pat gulipat mengumpulkan dana taktis, yang dibukukan dan dicatat bagi
kepentingan tugas kenegaraan atau perintah atasan.
Akhirnya setelah jabatan selesai, dia harus berhadapan dengan penegak
hukum bukan penegak keadilan, pejabat penegak hukum yang harus
mentaati semua hukum meski harus dilakukan tanpa keadilian, karena
bila menegakkan keadilan bisa dianggap tidak melakukan tugas penegak
hukum.
Dari banyak kasus Jembrana, merupakan suatu contoh reformasi
birokrasi yang patut dipuji dan dihargai oleh masyarakat dan
pemerintah, Bukan hanya dengan penghargaan dan pujian, tapi dengan
upaya nyata dari para pejabat perancang hukum dan perundangan, dari
para wakil rakyat, untuk melengkapi segala kemungkinan yang bisa
terjadi dengan penyesuaian dan perubahan hukum dan undang2 yang
berlaku, agar semua upaya Jembrana bisa disebar luaskan untuk menjadi
contoh nyata dalam membangun negeri..
Hanya mereka yang anti reformasi dan perbaikan di republik ini yang
berani bersiteguh untuk tidak bersedia merubah hukum yang ada, dengan
segala alasan yang dibuat atau desakan politis.
Hanya mereka yang ingin republik ini hancur berkeping dan tidak
pernah bisa maju, yang tidak bersedia untuk melakukan perubahan untuk
jadi lebih baik atau memaksakan kehendak untuk ide sentralistikm yang
belum tentu sesuai dengan kondisi, keadaan dan kemampuan daerah.
Dari apa yang dilakukan oleh teman2 di Jembrana, tampak sekali,
kerjasama proffesional TI dan pejabat pemerintahan Daerah (eksekutif,
yudikatif dan Legislatif) berupa penggunaan IT dengan cara yang
sedehana dan realistis justru lebih bisa membuahkan hasil karya yang
tepat guna, effisien dan sesuai dengan kondisi, keadaan dan kemampuan
daerah.
Sudah saatnya kita harus berubah, menyesuaikan diri dengan kenyataan,
tidak hanya bermain citra publik dan persingan bebas yang menuju
pembodohan masyarakat saja.
Kita bersama kembangkan apa yang dilakukan Jembrana, mulai dari
semangat pada diri kitam untuk ditularkan secara nasional dan
mendapat dukungan nyata dari para profesional, pelaksana pemerintahan
baik Pejabat DPR, Eksekutif dan Yudikatif. untuk bersama menghapus
egosentris yang selama ini banyak diciptakan untuk kepentingan
pribadi dan kelompok, dan mengalihkan dengan kebersamaan pikiran,
membebaskan diri dari pamrih yang sangat personal, untuk bisa
membangun negeri.
Rawe2 Rantas Malang2Putung,
Ayo kita maju, hindari persaingan dan kebebasan tanpa batas, untuk
bersatu bersama ber gotong royong membuat solusi seperti Jembrana,
untuk membangun negeri.
Semoga Indonesia Raya ku yang lama menghilang segera timbul dan
berjaya kembali.
Wassalam,
Hari
On 2/11/2010 8:00 PM, [email protected] wrote:
_e-voting, sebuah tamparan dari Bali
_Melihat e-voting di Jembrana Bali dan kesederhanaan
penuturna dari Bupati Bali dan staf IT yang telihat,
terbayang bagaimana kesajahaan itu membuahkan
hasil yang ternilai.
Bayangkan, lompatan tak terhingga, sebuha quantum leap
bagi masyarakat pedesaan yang bahwakan pegang compi
saja belum pernah namun didisain sebuah sistem yang
memungkinkan siapa saja bisa melakukan proses voting
secara elektronik secara sederhana. Bahkan dilakukan oleh
orang-orang tua yang belum tentu bisa membaca dan
menulis.
Proses e-voting sederhana sekali, yaitu hanya terjadi dua
tahap, yaitu verifikasi data dan voting dengan touch screen
pada foto yang dipilih.
Di verifikasi data, ini smartnya, KTP tinggal diletakkan diatas
scanner da kemudian layar akan menjelaskan foto dan nama
pemilih. Proses verifikasi ini saya yakin juga didata buka hanya
untuk mengetahui keabsahan calon pemilih, juga untuk mendeteksi
pengguinaan KTP yang tidak dikeluarkan atau dididsain oleh
Kabupaten Jembrana untuk tujuan e-voting dengan menggunakan
mungkin bar-code.
Ini tentu saja bukan hanya akan membuat perkembangan bisa
diikuti secara real time, tetapi juga verifikasi pemilih yang berhak.
Hal ini dimungkinkan oleh wireless comunication system antara
pusat-pusat informasi diseluruh kabupaten Jembrana untuk
berkomunikasi data. Disain program saya yakin telah
meperhitungkan satu KTP satu suara sehingga kehawatiran KTP
atau pemilh double pasti tidak dimungkinkan tanpa proses yang
sulit karena tidak mungkin seorang pemilih yang telah memilih
di sebua tempat kemudian pergi ke tampat lain untuk memilih lagi.
Petugas yang mengawasi dari jauh proses verifikasi yang dilakukan
sendiri oleh pemilih pasti tahu atau system pasti sudah di disain
untuk memberi tahu.
Disain touch screen sungguh sebuah inovasi techno-sosial yang luar
biasa. Sangat efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah
IT devide bagi masyarakat Jembrana yang sebagian lanjut usia,
tidak berpendidikan, sudah lanjut usia, namun berhak atas pemilihan.
Teknologi touch screen dengan foto dan KTP scanner sungguh sebuah
disain system yang pantas diacungi jempol. Apalagi, pemilu kemarin
kita baru saja disuguhi tontonan tidak mutu dengan amburadulnya
DPT dan DPS. Bahkan , berita menyesakkan dada, pilkada di Jatim
pun, yang pemilu lalu bermasalah dengan DPT hingga Kapoldanya
dipanggil ke Mabes seperti penjelasan Deni Indrayana staf khusus
Presiden dalam acara debat di TV One, masih bermasalah dengan
DPS. Seakan tidak berkaca kepada pengalaman masa lalau dan
tidak ada proses pembelajaran kepada pengalaman.
Kabupaten Jembrana dengan segala kesederhaan dan kerendahan
hatinya, termasuk keterbatasan anggarannya, mampu membuat
sebuah terobosan luar biasa bagi kemajuan negeri yang layak
diangkat di tingkat dunia. Seakan menyindir pemilu yang
menghabiskan dana puluhan trilyun namun IT nya tampak segan
untuk unjuk diri.
Apa yang terjadi dengan kabupaten Jembrana seakan menampar
realita bernegara. e-voting tidak diakui karena peraturan mengatur
pemilu yang sah adalah di coblos atau di conrtreng.......;
gedubraaakak !!!
Indonesiana !!! segala hal bisa terjadi
Maka, jangan pernah berpikir atau melihat daerah hanya dari Jakarta.
Lihatlah pula kiprah para BUPATI BUKAN BIASA di Kick Andy dan
bandingkan dengan keangkuhan serta kejumawaaan para penguasa
negeri seakan merekalh yang paling ............ hingga sebuah kemajuan
peradaban pun tidak diakui dan harus melalui Judicial Review.
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG -www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2681 - Release Date: 02/11/10
14:35:00
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG -www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2681 - Release Date: 02/11/10
14:35:00
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2682 - Release Date: 02/11/10
23:09:00