Ikut urung rembuk,
Saya tidak akan menyoroti lebih jauh dari sisi teori yang rekan - rekan
dapatkan dari bangku kuliah, karena saya hanya seorang yang tidak pernah
mengenal dosen mengajarkan kita seperti apa.

Hari ini, saya hanya bisa bersabar dengan situasi ini. Karena orang - orang
yang punyak pengetahuan lebih dari saya pun hari ini sudah buntu menghadapi
situasi sekarang, orang - orang yang di berikan kekuasaan ditangannya sudah
tidak punyak ketajaman untuk memotong rantai keterpurukan ini.

Kenapa saya bisa bersabar ?, 
Yah karena sang nabi, idola saya sudah mewanti - wanti penyebab kejadian
seperti ini sebelumnya. Dan hari ini semuanya telah kita langgar baik oleh
kita yang mengaku sebagai orang yang mengikuti risalah/aturan hidup yang
telah ditetapkan oleh rasul ( muslim ) terlebih lagi oleh kaum lain.

Beberapa hal yang saya ketahui dengan segala keterbatasan wawasan yang saya
miliki. :
- Suatu saat rasul melarang orang untuk memotong jalur distribusi dari
produsen kepasar : lalu saya melihat prakter calo, praktek tengkulak yang
menyandera para petani kita untuk hidup lebih layak, mereka mempermaikan
harga beli seenaknya saja tanpa memikirkan keberlangsungan proses produksi
itu sendiri. Ditingkat internasional kita melihat bursa komoditi adalah
sebuah praktek tengkulak berdasi, mereka seenaknya memainkan harga, menahan
stok, bahkan memanifulasi situasi. Jadilah komoditi yang diperjual belikan
ini sebagai budak nafsu, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup (
filosofi revolusi industri ) tapi sudah kearah pemuasan nafsu syahwat, dalam
kacamata saya mungkin suatu saat kejahatan seperti difilm - film super hero
akan muncul, dimana sipenjahat tidak lagi berfikir untuk menjadi kaya tapi
bagaimana menguasai dunia dalam genggamannya.
- Suatu saat rasulullah mengajarkan bahwa semua potensi alam yang tuhan
berikan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara (
tentunya dengan pengurus negara yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya
bukan yang sekarang, bukan yang suka korupsi bukan ). Nah jelas dengan
alasan negara tidak mampu mendanai exploitasinya dijualah kepada para
penjahat ekonomi ( tentunya karena mereka dapat bagian juga ) akibatnya kita
lihat hawa nafsu berlomba - lomba untuk menguasainya bagaimana tidak secara
hitungan marketing produk seperti ini mempunyai potensi market yang sangat
tinggi karena semua membutuhkannya. Akibatnya yang dipakai adalah hukum
suplai & demand bukan lagi maslahat & madharat. Dan kita rasakan hari ini
akibatnya.
- Suatu saat rasulullah mengajarkan bahwa mata uang yang haq adalah mata
uang yang terbuat dari emas dan perak, dengan sumber alam emas dan perak
yang terbatas kemudian  secara tidak langsung kita dibatasi untuk melakukan
bisnis secara ugal - ugalan, kita diarahkan untuk bermuaamalah dalam konteks
memenuhi kebutuhan real, bukan kebutuhan yang diciptakan ( meminjam istilah
orang - orang marketing ), atau bukan untuk memenuhi apa saja yang
diinginkan. Hari ini uang itu sudah tidak populer karena membuat uang dari
emas dan perak lebih mahal tinimbang membuatnya dari kertas  maka kemudian
uang hanya memiliki nilai nominal tanpa memiliki nilai kekayaan. Karena
mudahnya siapapun jadi lebih mudah memilikinya, lebih mudah membuatnya yang
akhirnya mendorong perilaku bisnis jor - joran. 
- suatu saat rasulullah menharamkan uang diperjual belikan, karena hakekat
uang adalah alat yang sah untuk menjembatani nilai kekayaan suatu barang
terhadap barang lain. Tapi kenyataannya kemudian justru uanglah yang menjadi
alat barter, uanglah yang ditentukan nilainya oleh barang lain. Akibatnya
adalah mata uang kita hancur semakin tidak memiliki harga 
Kita tidak wajib menentukan nilai uang kita dengan dolar, kita wajib
menentukan nilai uang kita terhadap emas dan perak.
- suatu saat rasul melarang kita berusaha dibidang yang mengandung unsur
keharaman, karena itu menghasilkan keuntungan yang  tidak berkah.
Tapi hari ini kita semua mengakui dalam hati kecil bahwa kita berada diarea
itu. Maka wajarlah karena ketidak berkahan ini kita mengalami banyak
kesulitan dalam hidup. Termasuk masalah yang kita perbincangkan ini.

Terimakasih, ini hanya sebuah pelipur lara dari orang kecil yang jauh dari
kemampuan menyelasaikan masalah ini baik dengan ilmu pengetahuan popular (
kampusan ) atau dengan kekuasaan yang tajam.

Salam,

Toto Hadi Prayitno

Kirim email ke