Mas Toto,
Saya setuju dengan pendapat Anda.
Stiglitz menyebut hal itu sebagai Greedy Decade. Dalam
bukunya yang lain, informasi asimetri dipakai untuk
memenuhi nafsu serakah. Kajian teoritis menyebutnya
sebagai moral hazard.
Di kalangan akademisi yang berlatar belakang non
muslim, melihat kondisi sekarang sebagai blejar
sejarah tapi tidak mencerna dan memetik manfaatnya.
Kasus Citi Bank dan Goldman Sach membuktikan hal itu.
Tapi para penyanjung mekanisme pasar, disebut Stiglitz
sebagai fundamentalis pasar, tetap berkeyakinan akan
teori mereka. Padahal sudah hampir empat abad
pemikiran ekonomi pasar telah membuktikan
kegagalannya.
Kalau saya mengutip kajian ekonom Barat (Inggris dan
AS), itu karena orang Indonesia bermental terjajah.
Saya sendiri lebih suka mengkaji pendapat Kaharuddin
Yunus yang pada era perjuangan dan mempertahankan
kemerdekaan sudah menulis buku2 teks tentang ekonomi
kebersamaan, bukan melulu ekonomi persaingan.
Bukan hanya buku2 Moh Hatta yang dilarang di baca FEUI
atau buku2 Soekarno yang susah ditemukan di FISIP UI,
buku2 Kaharuddin Yunus juga sudah susah.
Inilah bangsa kita. Sejak dari pemikirannya sudah
terjajah. Dan ini buah brainwash yang sudah dijalankan
sejak Desember 1949.
Salam
--- Toto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ikut urung rembuk,
> Saya tidak akan menyoroti lebih jauh dari sisi teori
> yang rekan - rekan
> dapatkan dari bangku kuliah, karena saya hanya
> seorang yang tidak pernah
> mengenal dosen mengajarkan kita seperti apa.
>
> Hari ini, saya hanya bisa bersabar dengan situasi
> ini. Karena orang - orang
> yang punyak pengetahuan lebih dari saya pun hari ini
> sudah buntu menghadapi
> situasi sekarang, orang - orang yang di berikan
> kekuasaan ditangannya sudah
> tidak punyak ketajaman untuk memotong rantai
> keterpurukan ini.
>
> Kenapa saya bisa bersabar ?,
> Yah karena sang nabi, idola saya sudah mewanti -
> wanti penyebab kejadian
> seperti ini sebelumnya. Dan hari ini semuanya telah
> kita langgar baik oleh
> kita yang mengaku sebagai orang yang mengikuti
> risalah/aturan hidup yang
> telah ditetapkan oleh rasul ( muslim ) terlebih lagi
> oleh kaum lain.
>
> Beberapa hal yang saya ketahui dengan segala
> keterbatasan wawasan yang saya
> miliki. :
> - Suatu saat rasul melarang orang untuk memotong
> jalur distribusi dari
> produsen kepasar : lalu saya melihat prakter calo,
> praktek tengkulak yang
> menyandera para petani kita untuk hidup lebih layak,
> mereka mempermaikan
> harga beli seenaknya saja tanpa memikirkan
> keberlangsungan proses produksi
> itu sendiri. Ditingkat internasional kita melihat
> bursa komoditi adalah
> sebuah praktek tengkulak berdasi, mereka seenaknya
> memainkan harga, menahan
> stok, bahkan memanifulasi situasi. Jadilah komoditi
> yang diperjual belikan
> ini sebagai budak nafsu, bukan lagi untuk memenuhi
> kebutuhan hidup (
> filosofi revolusi industri ) tapi sudah kearah
> pemuasan nafsu syahwat, dalam
> kacamata saya mungkin suatu saat kejahatan seperti
> difilm - film super hero
> akan muncul, dimana sipenjahat tidak lagi berfikir
> untuk menjadi kaya tapi
> bagaimana menguasai dunia dalam genggamannya.
> - Suatu saat rasulullah mengajarkan bahwa semua
> potensi alam yang tuhan
> berikan yang menguasai hajat hidup orang banyak
> harus dikuasai oleh negara (
> tentunya dengan pengurus negara yang sudah bisa
> mengendalikan hawa nafsunya
> bukan yang sekarang, bukan yang suka korupsi bukan
> ). Nah jelas dengan
> alasan negara tidak mampu mendanai exploitasinya
> dijualah kepada para
> penjahat ekonomi ( tentunya karena mereka dapat
> bagian juga ) akibatnya kita
> lihat hawa nafsu berlomba - lomba untuk menguasainya
> bagaimana tidak secara
> hitungan marketing produk seperti ini mempunyai
> potensi market yang sangat
> tinggi karena semua membutuhkannya. Akibatnya yang
> dipakai adalah hukum
> suplai & demand bukan lagi maslahat & madharat. Dan
> kita rasakan hari ini
> akibatnya.
> - Suatu saat rasulullah mengajarkan bahwa mata uang
> yang haq adalah mata
> uang yang terbuat dari emas dan perak, dengan sumber
> alam emas dan perak
> yang terbatas kemudian secara tidak langsung kita
> dibatasi untuk melakukan
> bisnis secara ugal - ugalan, kita diarahkan untuk
> bermuaamalah dalam konteks
> memenuhi kebutuhan real, bukan kebutuhan yang
> diciptakan ( meminjam istilah
> orang - orang marketing ), atau bukan untuk memenuhi
> apa saja yang
> diinginkan. Hari ini uang itu sudah tidak populer
> karena membuat uang dari
> emas dan perak lebih mahal tinimbang membuatnya dari
> kertas maka kemudian
> uang hanya memiliki nilai nominal tanpa memiliki
> nilai kekayaan. Karena
> mudahnya siapapun jadi lebih mudah memilikinya,
> lebih mudah membuatnya yang
> akhirnya mendorong perilaku bisnis jor - joran.
> - suatu saat rasulullah menharamkan uang diperjual
> belikan, karena hakekat
> uang adalah alat yang sah untuk menjembatani nilai
> kekayaan suatu barang
> terhadap barang lain. Tapi kenyataannya kemudian
> justru uanglah yang menjadi
> alat barter, uanglah yang ditentukan nilainya oleh
> barang lain. Akibatnya
> adalah mata uang kita hancur semakin tidak memiliki
> harga
> Kita tidak wajib menentukan nilai uang kita dengan
> dolar, kita wajib
> menentukan nilai uang kita terhadap emas dan perak.
> - suatu saat rasul melarang kita berusaha dibidang
> yang mengandung unsur
> keharaman, karena itu menghasilkan keuntungan yang
> tidak berkah.
> Tapi hari ini kita semua mengakui dalam hati kecil
> bahwa kita berada diarea
> itu. Maka wajarlah karena ketidak berkahan ini kita
> mengalami banyak
> kesulitan dalam hidup. Termasuk masalah yang kita
> perbincangkan ini.
>
> Terimakasih, ini hanya sebuah pelipur lara dari
> orang kecil yang jauh dari
> kemampuan menyelasaikan masalah ini baik dengan ilmu
> pengetahuan popular (
> kampusan ) atau dengan kekuasaan yang tajam.
>
> Salam,
>
> Toto Hadi Prayitno
>
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ