Umur saya sekarang 42 tahun. Seumuran saya ini belum pernah menginjakkan kaki di luar negeri. Saya mengenyam pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi di seputaran Jawa Tengah dan Yogyakarta. Saya merasakan era kepemimpinan Suharto sampai SBY sekarang ini. Ayah saya seorang tentara angkatan udara. Saya belum pernah aktif di salah satu partai politik. Saya bukan simpatisan salah satu partai politik. Yang saya rasakan di waktu saya kecil sampai bangku perguruan tinggi, adalah bentuk ketenteraman, kemakmuran, ketenangan dan seterusnya. Sekali lagi, itu menurut ukuran saya. Harga bahan makan pokok terjangkau, ke rumah sakit kami bisa bayar, orang tua bisa membiayai kami untuk pendidikan, dan seterusnya. Dan itu di jaman kepemimpinan Pak Suharto. Walau bagaimanapun saya bisa bekerja dan berkeluarga, membiayai anak sekarang ini (walau setengah mati, karena sekarang ini jaman susah, semua mahal) karena perjalanan di masa lalu. Jadi walau bagaimanapun saya sangat menghargai pemimpin negara ini di masa lalu yang lebih bisa membuat kondisi negara ini tenteram, aman, kondusif dst. Daripada kondisi saat ini yg lebih tidak menentu, harga barang susah terjangkau, pikiran tidak tenang selalu merasa was-was, dst.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: [email protected] Date: Sun, 25 Apr 2010 09:36:59 To: <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-nasional] Re: [Indonesia-Rising] Riwayat Suharto mau difilmkan Suharto adalah presiden Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun melalui pertumpahan darah yang menghilangkan ribuan atau puluhan ribu atau ratusan ribu atau bahkan jutaan manusia tak berdosa sepanjang tahun 65. Berbagai kelompok masyarakat yang merasa bahwa revolusi memang perlu berdarah dan memimpikan Indonesia baru yang terbebas dari komunisme dan menggantikan konflik2 politik dengan stabilitas, keamanan dan kesejahteraan rakyat berharap banyak pada sosok Suharto. Suharto perlahan tapi pasti, melakukan konsolidasi politik dan ekonomi. Melalui demokrasi Pancasila, Suharto memfusikan puluhan partai2 yg ada kedalam 2 partai serta membuat "partai" baru Golkar. Konsolidasi politik kedua adalah memberikan penugasan pada tentara (AD) untuk mengontrol demokrasi yg berlangsung. Angkatan darat mendapat privilege untuk membangun doktrin bahwa mereka adalah di atas semua golongan, menghimpun intelektual2 dan mantan aktifis anti komunis, menempatkan orang2nya di semua lini birokrasi dan DPR. Konsolidasi ekonomi dimulai dengan menghimpun ekonom2 dalam seminar di Sesko AD thn 1966, untuk membuat perencanaan pembangunan. Pembangunan Ekonomi di arahkan pada pro Amerika dan barat, sebagai konsekwensi nya Indonesia menjalankan propaganda "Politik, No!, Pembangunan, Yes!". Selama 32 tahun Indonesia menyerahkan kedaulatan ekonomi pada barat, dengan melakukan modernisasi (westernisasi) di segala bidang. Kebanggaan rakyat akan produk lokal seperti lemon dan sarsaparilla berangsur2 berubah menjadi Cocacola, tambang2 skala kecil berubah jadi tambang raksasa (freeport, Newmont, Exxon, dll), perempuan2 desa mulai melepaskan selendangnya menggantikan dengan rambut gaya salon, dan bahkan nama2 anakpun mulai berubah, dari Pono jadi Frenky, Seno menjadi Sony, Melati menjadi Jasmine, yeni menjadi Jeanne dll. Jika ada pemuda bernama Ahmad pastilah pemuda kampung yang belum masuk dalam modernisasi. 32 tahun Suharto berkuasa berbagai infrastruktur dibangun, baik fisik maupun sosial. Pembangunan ini bukan bermaksud memperkuat human capital dan social capital, jauh panggang dari api. Infrastruktur dibangun untuk memperbaiki pelayan Indonesia terhadap kepentingan Eksploitasi asing atas sumberdaya alam dan buruh murah kita. Memang benar terjadi ketika Suharto dipenghujuang kekuasaannya, Indonesia yang ada dihuni mayoritas rakyat miskin dan pengangguran, minyak dan gas serta emas dan batubara yang sudah di kontrol asing, hutan2 yang sudah rusak, ikan2 yg sudah hampir habis dll, sementara yang tersisa segelintir pengusaha raksasa dan birokrat koruptor yg sangat kaya raya, konflik sosial yg dalam dan luas, serta hutang luar negeri yg besar. Apa yang kita banggakan dari Suharto??? Hillary Clinton (2007) dalam "seeing is beleiving" melukiskan peranan TV dalam membentuk kesadaran manusia, di mana kita melihat TV sejak kanak2. Kebenaran yang ada dibentuk dari "kebenaran" TV. Suaharto akan tetap jadi pahlawan karena hampir semua media kita dikontrol oleh mereka yang berterimakasih pada Suharto. Alhasil, kita tidak punya pembeda (alfurqon) mana penjahat dan mana pahlawan. Wass, Syahganda nainggolan Phd Student of Soc Welfare Study, UI Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Sigit Yulianto <[email protected]> Date: Sun, 25 Apr 2010 13:16:37 To: <[email protected]> Subject: Re: [ekonomi-nasional] Re: [Indonesia-Rising] Riwayat Suharto mau difilmkan Bagaimanapun juga, NKRI bs bertahan sampai hari ini krn soekarno ada, krn soeharto ada, krn habibi ada, krn gus dur ada, krn megawati ada, dan krn SBY ada. Bagi pendukung msg2, semua keputusan yg mrk ambil adalah benar, bagi yg tdk mendukung, mk semua keputusan menjadi salah. Lalu, apakah perlu kita menghujat masa lalu yg mungkin kita ikut andil itu terjadi? Lalu apakah perlu kita membandingkan kelebihan pemimpin masa lalu dg kekurangan pemimpin masa kini?.. Apakah tidak lebih baik kita memberi masukan kesalahan pemimpin masa kini untuk diperbaiki kedepan? Memang, kadang sikap berlebihan pendukung salah satu pemimpin dg membuat sesuatu seolah pemimpin itu seperti malaikat tanpa cela, adalah tidak fair dan naif. Karena tdk sesuai dengan fakta dan kenyataan. Tetapi apabila yg disampaikan itu berimbang antara sisi positif dan negatifnya, mnrt saya perlu didukung, krn bs dijadikan pembelajaran. Mereka semua telah berbuat untuk NKRI, jadi hargailah secara proporsional, kebaikan dan kekurangannya. On 4/25/10, [email protected] <[email protected]> wrote: > Itu namanye usahe bung, kebanyakan produser kan mau cari untung dari film yg > diproduksinya, dia bilang" memang gue pikirin apa si tokoh pahlawan atau > pengkhianat". Menurut saya memang cocok Suharto dijuluki bapak pembangunan, > karena banyak ide untuk membangun shg ada alasan untuk cari utangan dan > selanjutnya proyek pembangunannya dijadikan bancakan anak2nya dan kroni2nya. > > Sent from my BlackBerryŽ > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -----Original Message----- > From: Abbas Amin <[email protected]> > Date: Sat, 24 Apr 2010 19:40:26 > To: <[email protected]> > Subject: [Indonesia-Rising] Riwayat Suharto mau difilmkan > > Saya membaca pembukaannya, dan disini tetap Suharto dianggap sebagai Bapak > Pambangunan. Tapi masih untung tak disebutkan Bapak Pembangunan NKRI. > Mungkin yang dimaksud adalah bapak pembangunan generasi Korup ? > Bapak Pembangunan rekauasa; itu lebih cocok. > > Yang mau memfilmkan kisah suharto ini, tentu adalah pendukung suharto; > pasti. > > Kenapa bisa terjadi demikian ? Karena Korupsi tak bisa diberantas di NKRI. > Saat mau diadili Suharto selalu pura2 sakit, akhirnya tak kunjung terbuka > kasusnya. > Maka jadilah tak terbukti Suharto bersalah apa2. > Hanya saja, bukti utama adalah HUTANG yang ditinggalkannya, untuk seluruh > rakyat > Indonesia. > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ------------------------------------ > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > Kirim email ke [email protected] > http://capresindonesia.wordpress.com > http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links > > > > -- Sent from my mobile device ============================= Sigit Yulianto Email: [email protected] ------------------------------------ Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [email protected] http://capresindonesia.wordpress.com http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed]
