mohon maaf ibu widaning, sebenarnya pendidikan bukan persoalan untuk transfer teknologi. persoalan justru terletak pada para teknokrat yang tidak bisa menyederhanakan bahasa ilmiah ke bahasa mereka.
tpi, sy mau konfirm dulu maksud dari transfer teknologi yang resisten. soalnya, mereka di sana sudah memakai traktor untuk di sawah datar. untuk sawah sengkedan, bisa memakai traktor atau kerbau. cara bertanam, mereka sudah memakai teknologi yang sederhana sehingga jarak masing2 benih terjaga. untuk penggunaan pupuk, mereka juga sudah paham tidak boleh berlebihan dan sesuai dengan takaran. kalau kelebihan, padi akan tumbuh 'loyo'. para petani itu sudah paham digembleng alam kapan harus bertanam dan kapan tidak boleh bertanam. bila memaksakan diri akan menghasilkan padi berkualitas rendah. ini bukan mitos, melainkan suatu kenyataan. mereka juga paham berapa kadar kandungan air biji beras dengan hanya merasakannya pada telapak tangan. dan, saya pernah menyaksikan sendiri ketika cara itu dibandingkan dengan tester (maaf kalau salah tulis), ternyata tidak meleset. tapi, alat tester itu justru membuat mereka terjerat dengan aksi penipuan karena alat tersebut bisa disetel sesuai dengan keinginan penggunanya. dengan cara menyetel kandungan air, petani dipaksa menjual beras dengan harga murah dengan alasan kandungan airnya sangat tinggi. mereka nggak bodoh. mereka juga membandingkan tester di pembeli dengan tester lain. tapi, jalur distribusi beras sudah mereka dikuasai pihak tertentu sehingga mereka mengalah. mungkin bisa share di mana resistennya itu. tnx --- On Thu, 6/17/10, [email protected] <[email protected]> wrote: > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: Re: [ekonomi-nasional] Ketika petani pas > To: [email protected] > Date: Thursday, June 17, 2010, 12:01 AM > Sebenarnya sudah banyak upaya untuk > memandirikan petani. Teknologi pembuatan bibit sampai > pengolahan hasil panen sudah tersedia. Sayangnya transfer > teknologinya sering terhambat oleh resistensi petani itu > sendiri. Ini berkait dengan minimnya pendidikan mereka. > Maka alangkah baiknya kalau putra2 desa yang saat ini ada > di kota-kota yang notabene berpendidikan lebih bagus > untuk pulang kampung membangun pertanian yang lebih > maju. > > * Original msg. * > From: > [email protected] > Sent: > 09:01:14 > 16-06-2010 > To: > [email protected] > Subject: > Re: [ekonomi-nasional] Ketika petani pasrah > > Petani itu miskin. > Sementara beras jika terlalu mahal bisa tidak terbeli oleh > rakyat. Bisa terjadi malapetaka kelaparan. > > Herannya dengan situasi sesulit itu masih tega kapitalis > bermain di pembibitan, pupuk, dan pestisida kimia dgn harga > yang tinggi. > > Untuk meminta mereka menurunkan harga sulit. Karena > orientasi mereka memang bisnis. > > Untuk itu perlu dicari cara agar para petani bisa > menghasilkan bibit sendiri, pupuk sendiri, dan pestisida > alami sendiri. Minimal koperasi petani. > > Menurut saya parpol yang peduli bisa menggunakan jaringan > dan pakar pertanian untuk memberdayakan petani dgn niat yang > ikhlas (jangan pakai pamrih politik). Toh nanti masyarakat > juga tahu jika mereka sungguh2 atau tidak. > > > === > > > -------------------------------------------------------------- > Ovi Mail: Available in 20 languages > http://mail.ovi.com > > > > ------------------------------------ > > Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? > Kirim email ke [email protected] > http://capresindonesia.wordpress.com > http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! > Groups Links > > > [email protected] > > >
