Saya kok masih yakin kalau faktor pendidikan petani yang rendah itu berpengaruh 
pada kemampuan   menyerap teknologi baru. 
Memang sekarang mereka sudah pakai traktor. Tetapi apa pengoperasiannya sudah 
benar?

 
---------- kalau sempurna, memang sy akui mrk tdk bisa mengoperasikannya secara 
sempurna. Tp, setidaknya sdh menuju kebenaran krn mrk setidaknya paham kalau 
traktor bocor ga dipake krn bisa tjd pencemaran... 


Faktanya saya sering melihat pengolahan sawah terlambat. Air irigasi sudah 
melimpah ruah traktor belum juga turun. Ini saja sudah menunjukkan adanya 
masalah. 
Soal tanam. 

---------- kalo telat hrs dicari kenapa telat. Bapak tua yg sy wwcarai itu ga 
punya duit. Dulu mrk bisa pinjam ke kud, skrg pinjam sm rentenir. Lbh baik 
keringin padi dulu, terus dijual. Dan, uangnya baru buat modal bajak sawah. 
Skrg zaman cash and carry. Ada uang kerja, ga uang diem dulu.  


Sekarang ini tanam padi masih secara manual. Padahal tenaga tanam sangat minim. 
Akibatnya jadwal tanam sering molor, tidak bisa tanam serempak. Makanya siklus 
hama tak bisa diputus. 

------- industrialisasi sektor pertanian hrsnya didukung pemerintah. Mustahil 
berhasil tanpa dukungan pemerintah. Perusahaan2 besar sj minta dukungan 
pemerintah lewat insentif pajak dan segala berbau pajak. 

Jadwal tanam yg molor shg siklus hama ga bisa punah dipahami benar oleh petani. 
Saat ini, sy sdg mencoba menanam beras merah. Waktu sy paksa petani utk tanam 
sesuai keinginan sy mrk ga mau. Lbh baik menunggu musim tanam berikutnya dg 
alasan utk memangkas hama. Nah???


 Lalu kenapa petani  tak pakai mesin penanam saja?  Dsb dsb . . .
Saya berasumsi andai petani kita lebih pintar , banyak masalah yang bisa 
diatasi sendiri tanpa banyak mengeluh, apalagi melihat ke belakang di jaman 
orba.   

----- masalahnya, brp persen lulusan IPB atau sarjana pertanian yg mau menjadi 
petani. Begitu petani itu meninggal, sawahnya diwariskan. Tdk semua Ahli waris 
punya niat jd petani, melainkan beragam. Apalagi kalo diantaranya sdh jd 
penggede, mana mau berkubang di lumpur. Ada lintah. Ada cacing. Jijik...

Skrg sy sdg mencoba mjd petani utk areal seluas 600 meter per segi. Produksinya 
baru cukup utk menutp konsumsi pribadi. Beras merah yg sy tanam. 




Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 17 Jun 2010 16:02:44 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [ekonomi-nasional] Ketika petani pas

Saya kok masih yakin kalau faktor pendidikan petani yang rendah itu berpengaruh 
pada kemampuan   menyerap teknologi baru. 
Memang sekarang mereka sudah pakai traktor. Tetapi apa pengoperasiannya sudah 
benar? Faktanya saya sering melihat pengolahan sawah terlambat. Air irigasi 
sudah melimpah ruah traktor belum juga turun. Ini saja sudah menunjukkan adanya 
masalah. 
Soal tanam. Sekarang ini tanam padi masih secara manual. Padahal tenaga tanam 
sangat minim. Akibatnya jadwal tanam sering molor, tidak bisa tanam serempak. 
Makanya siklus hama tak bisa diputus.  Lalu kenapa petani  tak pakai mesin 
penanam saja?  Dsb dsb . . .
Saya berasumsi andai petani kita lebih pintar , banyak masalah yang bisa 
diatasi sendiri tanpa banyak mengeluh, apalagi melihat ke belakang di jaman 
orba.   

* Original msg. *
From:
[email protected]
Sent:
13:08:09
17-06-2010
To:
[email protected]
Subject:
Re: [ekonomi-nasional] Ketika petani pas

mohon maaf ibu widaning, 

sebenarnya pendidikan bukan persoalan untuk transfer teknologi. persoalan 
justru terletak pada para teknokrat yang tidak bisa menyederhanakan bahasa 
ilmiah ke bahasa mereka. 

tpi, sy mau konfirm dulu maksud dari transfer teknologi yang resisten. soalnya, 
mereka di sana sudah memakai traktor untuk di sawah datar. untuk sawah 
sengkedan, bisa memakai traktor atau kerbau. 

cara bertanam, mereka sudah memakai teknologi yang sederhana sehingga jarak 
masing2 benih terjaga. untuk penggunaan pupuk, mereka juga sudah paham tidak 
boleh berlebihan dan sesuai dengan takaran. kalau kelebihan, padi akan tumbuh 
'loyo'. 

para petani itu sudah paham digembleng alam kapan harus bertanam dan kapan 
tidak boleh bertanam. bila memaksakan diri akan menghasilkan padi berkualitas 
rendah. ini bukan mitos, melainkan suatu kenyataan.  

mereka juga paham berapa kadar kandungan air biji beras dengan hanya 
merasakannya pada telapak tangan. dan, saya pernah menyaksikan sendiri ketika 
cara itu dibandingkan dengan tester (maaf kalau salah tulis), ternyata tidak 
meleset. tapi, alat tester itu justru membuat mereka terjerat dengan aksi 
penipuan karena alat tersebut bisa disetel sesuai dengan keinginan penggunanya. 
dengan cara menyetel kandungan air, petani dipaksa menjual beras dengan harga 
murah dengan alasan kandungan airnya sangat tinggi. 

mereka nggak bodoh. mereka juga membandingkan tester di pembeli dengan tester 
lain. tapi, jalur distribusi beras sudah mereka dikuasai pihak tertentu 
sehingga mereka mengalah. 

mungkin bisa share di mana resistennya itu. tnx








 

--------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Get mail on your mobile or the web
http://mail.ovi.com



------------------------------------

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [email protected]
http://capresindonesia.wordpress.com
http://infoindonesia.wordpress.comYahoo! Groups Links



Kirim email ke