Ass. Wr. Wb.

Mungkin ini isu lama bagi temen-temen di milis ini.
Artikel ini setelah diedit redaksi telah dipublikasi
di Majalah Hidayatullah edisi Nov 2006. Gagasan
Artikel ini banyak berhutang budi kepada penggiat
ekonomi Islam yang pernah membahas isu ini. Mungkin
masih ada yang berminat baca ...

Wass. wr. Wb.


Masa Depan Pasar Bersama Dunia Islam
Oleh Abdul Aziz Setiawan

Ide untuk membangun kesepakatan perdagangan bebas
multilateral (free trade agreements) di kalangan
negara Islam sudah lama diserukan. Ide ini juga
mengemuka lagi dalam pertemuan World Islamic Economic
Forum (WIEF/Forum Ekonomi Islam Dunia) yang digelar
akhir tahun lalu, dimana Perdana Menteri Pakistan,
Shaukat Aziz mengajak negara Islam untuk segera
membentuk pasar bersama dan mengembangkan ekonomi
umat. Kerja sama tersebut tentunya diharapkan akan
dapat meningkatkan perdagangan dan investasi sehingga
nantinya bisa meningkatkan perekonomian dan
kesejahteraan di Dunia Islam.

Kita bersyukur, negara-negara anggota OKI yang bertemu
dalam WIEF tersebut akhirnya sepakat membentuk pasar
bersama dan akan berusaha meningkatkan kerjasama
ekonomi bagi Dunia Islam, terutama untuk mengurangi
kemiskinan. Kesepakatan tersebut dicapai setelah tiga
hari menggelar pertemuan di Petaling Jaya, Kuala
Lumpur. Dalam deklarasi bersama tersebut, setiap
pemerintahan negara Islam diminta memfasilitasi
pertemuan perdagangan dan bisnis sebagai follow-up.
Adapun rencana perdagangan bebas akan diwujudkan
secara bertahap dimulai di tingkat sub-regional,
regional hingga semua negara Islam menjalin
perdagangan bebas. Investasi dan pembangunan
infrastruktur seperti jalan raya, telekomunikasi dan
listrik di negara Islam juga disebut dalam deklarasi
bersama tersebut. Juga, kerja sama untuk pendidikan
dan pelatihan bagi pengusaha Muslim dan pengusaha
Muslimah serta pengembangan bidang teknologi
informasi. 

Ini adalah deklarasi yang menggembirakan, meski untuk
menuju kearah realisasi kerjasama yang ideal masih ada
beberapa hal yang harus diselesaikan. Sebagaimana
disampaikan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad
Badawi yang kini juga menjabat sebagai ketua OKI, yang
meminta upaya sungguh-sungguh perealisasian rencana
kerja sama tersebut, ”jangan hanya retorika saja.”
Kekhawatiran Badawi ini sangat beralasan, karena
sampai saat ini negara Islam lebih suka menjalin kerja
sama dengan bukan negara anggota OKI. Hal ini yang
kemudian mengakibatkan performa kerjasama anggota OKI,
terutama dalam bidang ekonomi menjadi buruk dan tidak
menghasilkan output yang optimal untuk menghasilkan
kesejahteraan bersama bagi Dunia Islam.

Potensi Melimpah dan Ironi

Umat Islam hari ini sesungguhnya memiliki potensi yang
sangat besar jika mau bersatu. Dengan memiliki visi
bersama dan semangat kerjasama yang tinggi diharapkan
dunia Islam akan dapat menjadi kekuatan penyeimbang
baru dalam percaturan ekonomi internasional, yang
sekarang didominasi oleh AS, Uni Eropa, Jepang dan
Cina. Umat Islam hari ini memiliki jumlah SDI sekitar
19 persen dari total penduduk dunia. Dari segi sumber
daya alam, dunia Islam juga amat potensial, dimana
Timur Tengah saja menguasai 66 persen cadangan minyak
dunia, secara total dunia Islam menguasai 77 persen.
Ini cukup untuk kebutuhan 75 tahun mendatang. Selain
itu 90 persen cadangan hidro karbon dunia berada di
Dunia Islam.

Sayangnya potensi yang besar ini tidak diikuti dengan
kinerja ekonomi yang membaik. Dimana GDP negara Islam
baru sekitar 8 persen atau 1,7 triliun dolar AS
dibanding ekonomin global. Selain itu total
perdagangan di negara Islam hanya 7-8 persen dari
perdagangan internasional. Sementara, angka
perdagangan bilateral hanya 13 persen dari total
perdagangan negara Islam. Hal inilah kemudian yang
juga menyebabkan berbagai persoalan ekonomi yang
menjangkiti dunia Islam terutama kemiskinan, 
pengangguran, dan kesenjangan pendapatan.
Kenyataan ini menunjukan fenomena ironis dan anomali
yang menyimpang dari konsep pembangunan yang telah
diletakan oleh pemikir ekonomi Islam terdahulu. 

Sebagaimana sudah diingatkan oleh Ibnu Khaldun (w.
808/1406) kekayaan sumberdaya yang melimpah cenderung
memerangkap bangsa-bangsa untuk bergantung dan tidak
produktif. Dalam pemikiran Ibnu Khaldun, bahwa
kekayaan dan pembangunan sebuah bangsa tidak bisa
hanya bergantung pada keberadaan “tambang emas dan
perak” (kekayaan sumberdaya). Kekayaan dan pembangunan
sebuah bangsa sangat ditentukan oleh aktivitas ekonomi
yang mencakup keluasan jumlah dan pembagian tenaga
kerja, luasnya pasar, kecukupan tunjangan dan
fasilitas yang disediakan oleh negara, serta riset dan
teknologi yang pada gilirannya tergantung pada
investasi dari hasil tabungan atau surplus yang
dihasilkan setelah memenuhi kebutuhan masyarakat.
Semakin banyak aktivitas ekonomi yang dilakukan maka
pendapatan negara akan semakin besar. Pendapatan yang
besar akan memberikan kontribusi terhadap tingkat
tabungan yang lebih tinggi dan investasi yang  lebih
besar untuk riset dan teknologi dan dengan demikian
akan ada kontribusi yang lebih besar di dalam
pembangunan dan kesejahteraan sebuah bangsa. 

Tantangan Menuju Pasar Bersama

Untuk membentuk pasar bersama dan meningkatkan
kerjasama ekonomi bagi Dunia Islam ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan agar kerjasama tersebut
menjadi efektif dan memperkuat implementasinya.

Pertama, pembangunan kawasana dapat mulai dijalankan
secara bertahap. Pembentukan kawasan bebas perdagangan
bisa dirintis dari sub-sub regional seperti di Timur
Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara
sehingga nanti akan memudahkan tahapan integrasi
berikutnya. Hubungan perdagangan ini diharapkan saling
menguntungkan dan mengoptimalkan keunggulan sumberdaya
dan produksi masing-masing. Tentu saja keberpihakan
sangat penting dalam mengutamakan produk dan jasa dari
anggota pakta perdagangan ini. Surplus keuangan dan
komoditas, harus dikelola secara profesional di
kalangan negara Islam untuk kesejahteraan bersama,
bukan hanya untuk segelintir elit penguasa dan
pengusaha. Ibnu Khaldun telah pula mengingatkan
tentang hal ini bahwa kekayaan tidak akan berkembang
bila tabungan ditimbun dan ditumpuk oleh sekelompok
elit masyarakat. Kekayaan akan tumbuh dan bertambah di
saat kekayaan tersebut dihabiskan untuk kesejahteraan
masyarakat, memenuhi hak-hak masyarakat, serta
mengurangi penderitaan masyarakat.

Kedua, perdagangan dan investasi di dunia Islam
membutuhkan keberpihakan aliran dana-dana Islam yang
dimiliki investor muslim. Salah satu kenyataan hari
ini menunjukan, dana-dana surplus milik investor
muslim terutama dari negeri-negeri petro dolar yang
besar hari ini belum mengalir ke Dunia Islam. Sebagai
contoh bukti, konfirmasi negara terbanyak berinvestasi
di Indonesia misalnya adalah Singapura senilai 509,4
miliar dollar AS, Perancis 224,3 miliar dollar AS,
Korea Selatan (173,4 miliar dollar AS), Belanda (163,9
miliar dollar AS), Jepang (133,6 miliar dollar AS),
Inggris (69,5 miliar dollar AS). Lalu dimana dana-dana
Timur Tengah yang disimpan di bank Amerika yang telah
ditarik keluar dari AS pasca peristiwa 9/11 lalu ?
Dana yang ditarik investor Arab dari Amerika
diperkirakan mencapai 1,4 triliun dolar AS (sekitar Rp
12.600 triliun). Ada khabar yang mengecewakan bahwa
dana tersebut ternyata malah mengalir kewilayah Cina,
Vietnam dan Korea sebagai pusat pertumbuhan ekonomi
baru.

Ketiga, untuk mendukung pasar bersama ini tentunya
dibutuhkan mata uang bersama. Negara anggota OKI sudah
saatnya menggunakan mata uang bersama dalam bentuk
dinar emas. Ini seperti yang dilakukan negara-negara
Eropa dengan Euro-nya. Seharusnya negara-negara OKI
bisa mewujudkan hal itu, negara-negara Eropa yang
ratusan tahun saling berperang saja bisa mewujudkan
hal ini, apalagi dunia Islam yang banyak memiliki
kesamaan. Tiap-tiap negara OKI bisa memiliki mata uang
dinar sendiri, misal dinar Saudi, dinar Iran, dan
dinar Indonesia yang nilainya sama dan berlaku di
seluruh dunia. Dengan konversi dari ketergantungan
dolar AS ke dinar emas akan mengurangi kebutuhan akan
dolar AS sehingga bisa mengamankan nilai tukar mata
uang negara-negara OKI. Selama ini salah satu penyebab
keterpurukan ekonomi Dunia Islam juga diakibatkan
melemahnya nilai tukar mata uang masing-masing
terhadap dolar AS karena permintaan dolar yang makin
tinggi. Dalam sistem ekonomi global ini, siapa yang
bisa menguasai mata uang dialah yang akan menguasai
ekonomi. Akhirnya penguasa ekonomi adalah juga
penguasa dunia, inilah yang dilakukan Amerika saat ini
dengan menjadikan dan menguasai dolar sebagai mata
uang dunia.

Berikutnya, yang keempat dunia Islam perlu segera 
membangun sistem keuangan Islam yang terintegrasi.
Baik perbankan, pasar modal dan institusi keuangan
syariah lainnya. Kita membutuhkan penguatan pendanaan
dan peran Islamic Development Bank (IDB), sebagai
World Bank-nya Dunia Islam. Selain itu kita juga
membutuhkan Dana Moneter Islam Internasional (semacam
IMF), yang skema pembiayaanya bebas bunga. Dengan
demikian integrasi sistem perekonomian akan semakin
kokoh. 

Selanjutnya yang kelima dan sangat mendesak, Dunia
Islam harus mampu keluar dari perangkap konsep negara
bangsa (nation state). Batas-batas nation state selama
ini telah memisah-misahkan dunia Islam semakin jauh
dari kerbersamaan dan medorong egoisme yang tinggi
bagi kepentingan masing-masing negara. Selain itu
kebanyakan negara-negara Islam juga masih menghadapi
permasalahan konflik kepentingan masing-masing elit
penguasa untuk menangguk keuntungan dan keberlanjutan
kekuasaan di negara masing-masing. Sehingga
mengakibatkan terlantarnya agenda-agenda pengingkatan
pembangunan Dunia Islam dan peningkatan kesejahteraan
umat secara keseluruhan. Apabila tantangan tersebut
bisa dilalui, Insya Allah pasar bersama Dunia Islam
akan lebih efektif dan membawa kemaslahatan bagi umat,
dan lebih penting lagi tidak sekedar menjadi retorika.
Wallahu a'lam bi al-shawab.

A Aziz Setiawan. Peneliti pada Pusat Penelitian STEI
SEBI dan Analis pada International Institute of
Islamic Finance (IIIF). 


 
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link

$200,000 mortgage for $660/ mo - 
30/15 yr fixed, reduce debt - 
http://yahoo.ratemarketplace.com

Kirim email ke