Era “Ekonomi Baru” setelah tahun 1990 yang sangat menekankan teknologi tinggi 
dan kemudahan komunikasi informasi, turut merubah pola perusahaan dalam 
mempertahankan pekerjanya. Dahulu, perusahaan akan mempertahankan para 
pekerjanya di tengah resesi, walaupun mereka tidak terlalu diperlukan. 
Sekarang, seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang 
menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan 
laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu 
mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat 
perusahaan bermasalah, saat ini, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan 
lemah hati dan rendah pikiran. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang 
berbunyi “pecat pegawai anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka selalu 
bisa disewa lagi nanti saat diperlukan”.
   
  Munculnya era ekonomi baru beserta budaya baru yang ditimbulkannya, akan 
sangat berpengaruh terhadap pinjaman konsumtif yang diberikan bank kepada 
nasabahnya, yang hampir seluruhnya, merupakan pekerja. Kerentanan kondisi 
pekerja yang ada saat ini akan membuat pekerja mudah sekali kehilangan 
pekerjaannya. Pada saat seseorang kehilangan pekerjaan, hal utama yang akan 
dipenuhi adalah kebutuhan pokok mereka dalam mempertahankan kehidupannya. Dari 
sisi psikologi, pada saat seseorang mempunyai sumber daya yang terbatas, maka 
pemenuhan kewajiban (hutang) akan menjadi urutan pemenuhan yang terakhir. 
Dengan demikian, risiko yang akan ditanggung oleh sebuah bank yang mempunyai 
portfolio pembiayaan konsumtif yang besar turut menjadi besar setiap siklus 
resesi terjadi pada roda perekonomian.
   
  Permasalahan penting lainnya yang membayangi portfolio pinjaman konsumtif 
yang besar adalah terjadinya kondisi suku bunga tinggi. Menurut Stiliglitz, 
suku bunga tinggi sangat tidak baik bagi para pekerja (pegawai upahan), dan 
mereka akan rugi pada tiga hitungan, yaitu:
    
   Tingginya suku bunga dapat menimbulkan naiknya angka pengangguran;  
   Tingginya pengangguran meletakkan tekanan terhadap besaran upah;  
   Akibat hutang yang dimiliki pekerja, suku bunga tinggi membuat makin 
berkurangnya kemampuan mereka mengeluarkan uang untuk kebutuhan lainnya.
   Penulis: MERZA GAMAL ([EMAIL PROTECTED])

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke