TANTANGAN PEMBIAYAAN KONSUMTIF
Jika kita perhatikan, ada yang berubah dalam komposisi pembiayaan atau kredit
perbankan pada dua dekade belakangan ini. Pada dekade sebelum 1990-an,
komposisi kredit perbankan sebagian besar adalah untuk pembiayaan sektor
produktif, baik itu sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan,
serta sektor produktif lainnya. Dengan demikian yang menjadi debitur perbankan,
saat itu, kebanyakan adalah petani, pengusaha, ataupun pedagang .
Namun seiring perubahan gaya perekonomian, porsi mereka dalam mendapatkan
pembiayaan dari bank semakin berkurang dari hari ke hari. Di lain sisi, satu
profesi, yaitu pekerja yang selama ini sangat jarang menjadi debitur perbankan
mulai menjadi obyek penyaluran kredit bank-bank dalam pembiayaan yang bersifat
konsumtif.
Dari catatan perbankan Indonesia tahun 2005, terlihat bahwa 29,95% dari Rp
695,65 trilyun outstanding kredit perbankan di Indonesia merupakan kredit
konsumtif langsung kepada nasabah perbankan. Di samping itu, terdapat pula
10,44% merupakan kredit yang diberikan kepada sektor jasa dunia usaha, yang
isinya sebagian besar merupakan kredit kepada multi finance, koperasi simpan
pinjam dan institusi lainnya yang meneruskan pembiayaan konsumtif kepada
customernya. Dengan demikan, sebenarnya, lebih dari 40% outstanding kredit
yang diberikan perbankan Indonesia disalurkan kepada kredit konsumtif, yang
hampir seluruhnya, dinikmati oleh kaum pekerja. Jika dibandingkan dengan
profesi pedagang, profesi pekerja sangat besar mendapatkan fasilitas kredit
dari bank. Pemberian kredit bank kepada sektor perdagangan (termasuk hotel dan
restoran) hanya 19,53% dari total outstanding kredit perbankan Indonesia
tahun 2005. Sektor pertanian mendapatkan jauh lebih kecil lagi, yaitu hanya
5,34%. Sektor industri, yang seharusnya menjadi penopang PDB di era ekonomi
modern saat ini, hanya mendapatkan 24,62% saja dari total outstanding kredit.
Berdasarkan data di atas, dapat kita lihat, bahwa yang mendorong pertumbuhan
kredit perbankan saat ini adalah sektor konsumtif, bukan sektor produktif.
Dengan demikian, pada saat ini, jauh lebih banyak profesi pekerja (pegawai)
yang menjadi debitur perbankan dibandingkan profesi pedagang ataupun pengusaha
apalagi jika dibandingkan dengan profesi petani. Hal serupa juga terjadi di
Amerika, sebagaimana yang disampaikan Joseph E. Stiglitz dalam bukunya The
Roaring Nineties: A New History of the Worlds Most Prosperous Decade (2003),
bahwa kini, rata-rata orang Amerika bukan petani yang berutang tetapi pegawai
yang berhutang.
Sering kita dengar, dari para pelaku perbankan, bahwa pinjaman konsumtif
merupakan pendorong pertumbuhan kredit perbankan yang aman. Mereka membuktikan
dari kecilnya angka NPL (Non Performing Loan) sektor ini, yakni 2,26% saja,
jauh lebih kecil dibandingkan dengan NPL total kredit yang diberikan (7,56%),
apalagi dibandingkan dengan NPL sektor industri yang mencapai 15,61%. Apakah
keyakinan para pelaku perbankan tersebut benar adanya, dapat kita resapi dari
bahasan Stiglitz pada bukunya di atas, meskipun ia tidak secara khusus membahas
permasalahan tersebut.
Seorang pekerja dalam sebuah roda perekonomian sangat tergantung dengan
sebuah produktivitas. Ketika perekonomian sedang menggunakan sumber dayanya
secara maksimal, peningkatan produktivitas memungkinkan naiknya PDB, upah, dan
memperbaiki standar hidup. Sebaliknya, ketika perekonomian mengalami resesi,
semuanya akan berbalik arah dengan turunnya PDB, upah, serta memburuknya
kualitas hidup masyarakat, termasuk profesi pekerja. Apabila resesi yang
terjadi karena permintaan yang terbatas, misalnya output hanya naik 1 persen
sedangkan kapasitas produksi 3 persen lebih output, maka pekerja yang
diperlukan menjadi lebih sedikit, sehingga akan berdampak kepada peningkatan
pengangguran.
Peningkatan laju pertumbuhan produktivitas, dalam jangka pendek, bisa jadi
menghasilkan tingkat output yang lebih rendah. Akan tetapi, angka pengangguran
yang tinggi akan menjadi penyebab penekan upah pekerja. Situasi dunia kerja
menjadi tidak menentu yang akan berakibat tertekannya konsumsi, atau paling
tidak laju pertumbuhan konsumsi akan menurun. Namun, karena kapasitas produksi
berlebih, kenaikan laba yang disebabkan oleh penurunan upah dan penurunan suku
bunga, tidak otomatis mendorong peningkatan investasi. Akibat pertumbuhan
konsumsi yang menurun atau melambat, maka output secara keseluruhan akan
berkurang. Akhirnya semakin sedikit pekerja yang dibutuhkan.
Era Ekonomi Baru setelah tahun 1990 yang sangat menekankan teknologi tinggi
dan kemudahan komunikasi informasi, turut merubah pola perusahaan dalam
mempertahankan pekerjanya. Dahulu, perusahaan akan mempertahankan para
pekerjanya di tengah resesi, walaupun mereka tidak terlalu diperlukan.
Sekarang, seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang
menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan
laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu
mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat
perusahaan bermasalah, saat ini, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan
lemah hati dan rendah pikiran. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang
berbunyi pecat pegawai anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka selalu
bisa disewa lagi nanti saat diperlukan.
Munculnya era ekonomi baru beserta budaya baru yang ditimbulkannya, akan
sangat berpengaruh terhadap pinjaman konsumtif yang diberikan bank kepada
nasabahnya, yang hampir seluruhnya, merupakan pekerja. Kerentanan kondisi
pekerja yang ada saat ini akan membuat pekerja mudah sekali kehilangan
pekerjaannya. Pada saat seseorang kehilangan pekerjaan, hal utama yang akan
dipenuhi adalah kebutuhan pokok mereka dalam mempertahankan kehidupannya. Dari
sisi psikologi, pada saat seseorang mempunyai sumber daya yang terbatas, maka
pemenuhan kewajiban (hutang) akan menjadi urutan pemenuhan yang terakhir.
Dengan demikian, risiko yang akan ditanggung oleh sebuah bank yang mempunyai
portfolio pembiayaan konsumtif yang besar turut menjadi besar setiap siklus
resesi terjadi pada roda perekonomian.
Permasalahan penting lainnya yang membayangi portfolio pinjaman konsumtif
yang besar adalah terjadinya kondisi suku bunga tinggi. Menurut Stiliglitz,
suku bunga tinggi sangat tidak baik bagi para pekerja (pegawai upahan), dan
mereka akan rugi pada tiga hitungan, yaitu:
Tingginya suku bunga dapat menimbulkan naiknya angka pengangguran;
Tingginya pengangguran meletakkan tekanan terhadap besaran upah;
Akibat hutang yang dimiliki pekerja, suku bunga tinggi membuat makin
berkurangnya kemampuan mereka mengeluarkan uang untuk kebutuhan lainnya.
Bila dikaji lebih lanjut, sistem bunga pada sebuah pembiayaan mempunyai
pengaruh yang tidak baik bukan saja pada saat suku bunga tinggi, melainkan juga
pada saat suku bunga rendah. Menurut Umer Chapra (1985), sistem bunga akan
merugikan penghimpunan modal, baik suku bunga tersebut tinggi maupun rendah.
Suku bunga yang tinggi akan menghukum pengusaha sehingga akan:
- menghambat investasi dan formasi modal;
- menimbulkan penurunan dalam produktivitas dan kesempatan kerja;
- menyebabkan laju pertumbuhan yang rendah.
Suku bunga yang rendah akan menghukum para penabung yang akan:
- menimbulkan ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan;
- mengurangi rasio tabungan kotor;
- merangsang pengeluaran konsumtif yang menimbulkan tekanan
inflasioner;
- mendorong investasi yang tidak produktif dan spekulatif;
- menciptakan kelangkaan modal dan menurunnya kualitas investasi.
Bagi seorang pekerja yang sangat tergantung kepada perusahaan pada era
ekonomi baru dengan budaya perusahaan yang berbeda dengan masa lalu, kondisi
suku bunga yang tinggi maupun rendah mempunyai dampak yang signifikan dalam
pemanfaatan dana yang mereka peroleh maupun miliki dari hasil pekerjaan mereka.
Dari paparan singkat di atas, dapat disimpulkan, pendapat sebagian pelaku
perbankan yang menyatakan bahwa pembiayaan konsumtif merupakan portfolio yang
menguntungkan dan aman pada saat ini, sebenarnya kurang tepat. Sebaliknya,
pelaku perbankan harus sadar bahwa terlalu besar mengelolah portfolio
pembiayaan konsumtif merupakan sebuah api dalam sekam, yang tiba-tiba akan
dapat menghabiskan semua yang ada pada saat yang tidak dapat diduga sebelumnya.
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.