Pengalaman yang sangat memberikan pencerahan dan penuh hikmah....
terima kasih, ustadz nasirwan.
wass.
On 3/27/07, Nasirwan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Abdullah Alkautsar (& anggota Milist) yg kami muliakan,
>
>
>
> Terkait dg email bapak dibawah ini, kami ingin berbagi 'kisah nyata' yg
> favorit kami sampaikan bila kebetulan menyampaikan materi pd diskusi2
> perbankan syariah bagi khalayak awam. Semoga ada 'ibroh' dr situ.
>
>
>
> Kisah pertama:
>
> dulu sewaktu kami berdinas di Ambon terlibat dlm proyek pengembangan
> usaha kecil (PPUK) BI sering berinteraksi dgn pejabat perkreditan bank.
> Terkadang menginventarisasi kisah-kisah sukses pembiayaan bank kepd
> mitra usahanya. Suatu waktu kami berkunjung ke Dobo-Kepulauan Aru yg
> memiliki pelabuhan ikan yg berkembang baik, namun prostitusi juga subur
> disana. Salah satu pejabat perkreditan bank setempat dg bangganya
> bercerita ttg kisah suksesnya membiayai pembangunan komplek lokalisasi P
> dikawasan tsb. Dr sisi analisa 5Cs nasabah yah lebih kurang oke-lah, yg
> penting agunan berupa tanah bersertifikat SHM & agunan tambahan lebih dr
> cukup mencover seluruh kewajiban nasabah. & kredit berjalan lancar
> hingga seluruhnya terbayar berikut bunganya hingga tuntas.
>
>
>
> Saya tercenung. Pertanyaan yg muncul dibenak adalah apakah kita
> berkeinginan usaha bank beroperasi bebas nilai - dimana nilai agama?
> Memang bila kita membolak-balik ketentuan perbankan tak ada dasar hukum
> yg melarang bank melakukan pembiayaan serupa itu, atau membiayai
> perusahaan minuman cap Johny si Pejalan, atau membiayai perusahaan
> semacam PT. Majalah Playboy Indonesia. Dlm pandangan orang
> kebanyakan, perbankan adalah kegiatan bisnis & maaf anda jangan
> bawa-bawa nilai & norma agama utk mengatur bisnis perbankan!
>
>
>
> Perbankan syariah dibangun atas dasar keinginan orang-orang utk
> menjalankan kegiatan keuangan dg mematuhi norma & nilai-nilai agama
> Islam (syariah). Nilai2 syariah coba diadopsi & diterapkan dlm seluruh
> aspek operasinya, baik itu proses-output-maupun cara interaksi para
> pihak. Ini didukung dg regulasi, pengawasan & penanaman kultur &
> perilaku pelaku ekonom tsb baik disisi pengelola maupun nasabah.
> Minimal tidak bertentangan dg norma & kaidah syariah. Memang yg
> terlihat menonjol adalah masalah riba dank ke-halalan investasi.
> Memang ini yg paling gampang diamati & diraskan perbedaaannya. Tapi
> hakikinya adalah kita ingin membangun sesuatu yg tidak dg pendekatan
> sekular. Makanya ketika bapak mengemukakan ada mie ayam syariah, kami
> sambil tersenyum, yes, indeed, it is!! Apapun usaha kita seharusnya
> menampatkan aturan Allah diatas segala2nya. Bank memang agak unik dr pd
> aktivitas muamalah spt jual mie ayam. Masalah menghindr riba adalah
> pangkal awalnya, krn praktek perbankan konvensional yg lama dikenal
> menggunakan instrumen bunga dinilai memiliki kesamaan sifatnya dg
> praktek riba yg dijelaskan dlm Al-Quran & hadist. Yg lain adalah
> masalah kegiatan yg mirip maysir (perjudian) dlm pengelolaan aset
> keuangan bank, contoh yg khas dlm hal ini adalah aktivitas margin
> trading valas. & masalah jaminan kehalalan investasi - baik objek (spt
> kisah diatas) maupun prosesnya.
>
>
>
> Kisah Kedua:
>
> Sewaktu kami diundang utk pelaksanaan ToT di IAIN Jambi bbrp tahun lalu,
> pd kesempatan makan siang & berbincang2- salah seorang dosen yg pernah
> mengenyam pendidikan di Timur Tengah berkisah satu cerita lucu yg
> didengarnya dr dosennya yg orang Lebanon. Hal yg paling mengesankan di
> Lebanon adalah 10 dr wanita yg kita jumpai disana - ada 20 yg cantik,
> krn katanya bahkan bayangannya pun cantik. (Alhamdulillah, kami
> berkesempatan membuktikan itu ketika sempat dinas bbrp hari di
> Beirut..he..he) Kisah itu menuturkan bhw akibat perang saudara yg
> berkepanjangan di Lebanon banyak wanita menjadi janda muda & kehidupan
> ekonomi relatif susah. Banyak wanita melakukan apa saja utk menyambung
> hidup. Suatu saat di Beirut datang berkunjung delegasi pemerintah Iran
> yg melakukan perjalanan dinas utk bbrp pekan. Orang Iran sebagian
> bermazhab syiah- sedang orang Lebanon umumnya bermazhab sunni. Krn lama
> meninggalkan istri si pejabat Iran butuh sentuhan 'kalbu'. Mazhab syiah
> dikenal menghalalkan nikah muthah (kawin kontrak). Datanglah ia menemui
> seorang wanita "P" (kita tahu apa kepanjangannya) Lebabon yg cantik yg
> bermazhab sunni. "Maukah engkau nikah muthah denganku?" kata pejabat
> Iran itu kepd wanita P Lebanon. Apa jawaban wanita P Lebanon itu.
> Dengan sangat emosional dia berkata : "Laa (tidak) demi Allah ya syaikh,
> saya tidak akan pernah melakukan itu, haram itu, syaikh!"
>
>
>
> Berkaca dr kisah kedua ini, terkait dg pengembangan perbankan syariah di
> Indonesia - banyak diantara kita yg bersikap mirip dg si wanita P
> Lebanon ini. Meperdebatkan & memperjuangkan eksistensi & pembenaran
> operasi bank berbasis bunga & mati-matian menampik & dg keras menentang
> eksistensi perbankan syariah. Bank syariah sesuatu yg tak boleh wujud
> krn dia 'penjual agama' (the paddler of religion) katanya.
>
>
>
> Suatu saat saya pernah mendengar seorang kiyai bertutur: 'ketika saya
> wafat & menghadap 'Sang Kebenaran yg Mutlak' maka kalaulah mendapatkan
> kenyataan bhw bunga bank itu tidak sama dg riba, agaknya tidaklah saya
> menjadi orang yg merugi krn telah menggunakan jasa bank syariah didunia
> krn dunia hanya fana-akhirat adalah lebih dr itu; tapi bila sebaliknya
> yg merupakan kebenaran adalah bhw bunga bank yg saya makan adalah sama
> dg riba maka itu suatu penyesalan yg tak bisa disesali - hidup hanya
> sekali & kita diberikan kebebasan memilih'
>
>
>
> Bila kita baca pd berbagai release kebijakan pemerintah, pengembangan
> perbankan syariah nasional tidaklah semata2 menggunakan argumentasi dan
> pendekatan keagamaan. Kalau kita membaca cetak biru pengembangan
> perbankan syariah nasional (lihat di webiste BI) memang satu alasan
> pengembangan bank syariah nasional adalah untuk mengoptimalksan
> mobilisasi sumber pendanaan pembangunan utk atau meminimalisir
> 'Saving-Investment Gap' - mendorong intermediasi dana. Yaitu dengan
> "memenuhi kebutuhan" masyarakat yg menginginkan tersedianya jasa bank
> syariah. Bila ada masyarakat yg menyimpan uangnya dibawah bantal krn
> tidak tersedia jasa keuangan/ perbankan yg sesuai dg kebutuhannya, maka
> ada kerugian bagi perekonomian disana. Otoritas perbankan wajib
> memenuhi itu, krn keberadaannya kan memang sbg pelayan publik. Apalagi
> UU sdh mengatur dan mengamanahkan itu.
>
> Apa yg menjadi mission dlm pengembangan perbankan syariah adalah
> menciptakan bank syariah yg sehat, efisien & berdaya saing (baik dr sisi
> kualitas layanan jasanya maupun dr aspek kemanfaatan ekonomisnya) serta
> konsisten menjalankan norma & kaidah syariah. Menjadi obsesi kita
> kedepan bhw jasa yg diberikan perbankan syariah nasional mutunya
> sebanding dg bank konvensional. Dr sisi keuntungan ekonomis juga tak
> kalah bersaing. Return investasi yg tinggi, & 'ongkos' penggunaan
> jasanya murah. Itu bukan tidak mungkin, riset empiris ttg X-Effeciency
> bank syariah telah banyak dilakukan dg kasus di manca negara yg
> mendukung pernyataan ini. Kita berangan2 bhw dg pengembangan perbankan
> syariah bisa mendukung terciptanya good governance yg ditopang oleh
> nilai moral & rasa takut kepd Yang Tak terlihat ('ihsan'). Ketika
> mengembangkan bank syariah kita juga memikirkan bagaimana bank syariah
> bisa secara optimal turut membantu memobilisasi dana zakat, infak &
> waqaf utk disalurkan bagi pengentasan kemiskinan & pemberdayaan usaha
> mikro. Bank syariah kita yg jumlahnya sedikit itu setiap tahun
> menghimpun dana zakat lebih dr 12 milyar, yg dikutip dr zakat bagi hasil
> yg dibayar nasabah, infaq & sadaqah yg disetor nasabah baik melalui
> kemudahan bersedekah melalui ATM/Internet banking, zakat yg dibayar dr
> keuntungan bank dll. Kita sangat terobsesi utk menggarap pola lingkage
> program yg memadukan sumber dana sosial (zisw - sbg jaring pengaman
> sosial) dg program pemberdayaan usaha mikro.
>
>
>
> Tak dipungkiri realitas lapangan yg terkadang kita lihat adalah
> ketidaksempurnaan, portofolio pembiayaan bank syariah masih didominasi
> oleh pembiayaan berbasis jual beli (murabaha) dr pd pola pembiayaan
> utama bank syariah (mudharabah/musyarakah), tingkat return bank syariah
> terkadang belum kompetitif krn efesiensi operasinya masih belum optimal
> - IT-nya masih belum secanggih bank besar, kualitas layanannya masih
> terus perlu dibenahi. Terkait dg pertanyaan pd email dibawah kok bank
> syariah baru saja beroperasi sdh berbagi hasil. Ini pertanyaan yg
> kritis walaupun terkesan mengada2 Apa yg sering disarnkan kpd bank
> syariah baru adalah sebelum memobilisasi dana masyarakat cari dulu
> nasabah pembiayaan yg baik, yg difinance dr dana pemilik. Kemudian
> setelah dana masyarakat (DPK) terkumpul ya pembiayaan tsb di-switching
> dg DPK. Uang itu ibarat air ketika tercampur dan masuk kedalam kolam
> maka dia akan tak terlihat sekat sumbernya. Banyak teknikalities
> perbankan yg terkadang sulit utk ditangkap masyarakat banyak.
>
>
>
> Bertransaksi dg bank syariah kok lebih mahal! Terkait lebih mahal ini
> saya ingat anekdote tukang becak yg nyetir becaknya ngebut membuat cemas
> penumpangnya, & ketika diprotes si abang becak bilang, "rek, mbayar
> seribu saja minta slamet...." persepsi umum yg sering muncul adalah
> tuntutan agar jasa bank syariah harus lebih murah. Lha logikanya si
> bank harus menggaji anggota DPS, harus mengikuti prosedur perolehan
> fatwa DSN dulu sebelum me-launching produk, harus mendidik pegawainya
> agar bukan saja mengerti banking tapi juga mengerti syariah, harus
> berpromosi ekstra krn masyarakat banyak belum ngerti syariah....lha, mau
> halal & toyib kok maunya murah. Tapi, jelas seluruh stake holders
> perbankan syariah akan mendorong pencapaian efiensi operasi tinggi agar
> berdaya saing secara ekonomis. Istiqomah menjalankan prinsip syariah,
> ini sudah pasti krn ini amanahnya nasabah yg perlu dijaga, kalo dr sisi
> bankir syariah sikap yg pas adalah tidak hanya mengedepankan ayat2 sbg
> alat marketing, tapi lebih mengedepankan aspek
> manfaat-profesionalitas-mutu layanan & efesiensi ekonomis.
>
>
>
> Demikian alkisah, nothing personal, kami mohon maaf bila ada yg tidak
> berkenan.
>
>
>
> NSW- Slipi-JKB, 26/03/07: 20:03
>
>
>
>
>
> ________________________________
>
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Abdullah Al-Kautsar
> Sent: Thursday, March 22, 2007 5:04 PM
> To: Kajian Ekonomi Islami
> Subject: [Kajian Ekonomi Islami] Re: Sekedar Urun Rembug
>
>
>
> [email protected]
>
> From:
>
> "Abdullah Al-Kautsar" <[EMAIL PROTECTED]> Add to Address
> Book<http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/pim/el/abook_add_1.gif> Add
> to Address Book Add Mobile Alert
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/ShowLetter?MsgId=3422_14306668_630291_
> 4428_11372_0_14537_34786_2789575429&Idx=15&YY=1885&y5beta=yes&y5beta=yes
> &inc=25&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b&box=Inbox>
>
> Date:
>
> Wed, 21 Mar 2007 22:28:04 +0700
>
> Subject:
>
> Re: {ekonomi-syariah} Re: [Kajian Ekonomi Islami] Sekedar urun rembug
>
> Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh,
>
>
>
> Hakekat itu apa sih mas ?
>
>
>
> Bunga itu apa sih mas ?
>
> Bunga sama Interest itu bedanya apa sih mas ?
>
> Apa bunga sama dg riba mas ?
>
> Bagi hasil itu apa sih mas ?
>
> Hasil usaha itu apa sih mas ?
>
> Kenapa kalo saya beli motor secara kredit dr bank syariah bisa beda
> besar cicilannya utk jangka waktu 2 tahun dg 3 tahun ?
>
> (katanya jual beli, tapi kok berhubungan dg waktu ya .... ? trus apa iya
> utk barang yg sama harganya boleh beda-beda, tergantung lama waktu
> nyicilnya ... ?)
>
> Kenapa bank syariah di awal beroperasinya sudah bisa memberikan "bagi
> hasil" sementara asetnya-pun belum ada ?
>
> (apanya yg mau dibagi, lha biaya awal pendiriannya bank syariah aja
> belum nutup, aset belum ada....)
>
>
>
> Ekonomi syariah itu apa sih mas ?
>
> Bank syariah itu apa sih mas ?
>
> Asuransi syariah itu apa sih mas ?
>
> Mie ayam syariah itu ada nggak sih mas ? (hehehe udah ada belum ya ...
> ?, tapi mungkin nggak lama lagi akan ada ...)
>
> Supermarket atau toko kelontong syariah udah pernah denger belum mas ?
>
>
>
> Syariah sendiri artinya apa sih mas ?
>
>
>
> Apa syariah cuma sekedar "tempelan" atau "ikutan" yg "wajib" ada supaya
> melariskan dagangan kita mas ?
>
>
>
> Wah ngeri saya membayangkan begitu banyak pertanyaan serupa pertanyaan
> di atas.
>
>
>
> Apa kita nggak boleh berniaga ? Mencari keuntungan ? Menggapai yg lebih
> baik ?
>
>
>
> Nggak perlu dijawab, saya cuma melontarkan sedikit utk jadi bahan
> renungan terutama saya sendiri.
>
> Supaya saya lebih meningkatkan usaha utk mencari kebenaran &
> mengamalkannya.
>
> Supaya saya nggak mudah tertipu oleh dunia.
>
>
>
> Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
>
> Abdullah Al-Kautsar
>
>
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
>
> From: irfan beik
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/[EMAIL PROTECTED]>
>
> To: ekonomi-islami@ yahoogroups. com
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/[EMAIL PROTECTED]
> com>
>
> Cc: MES eksyar
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/[EMAIL PROTECTED]
> .com>
>
> Sent: Saturday, March 17, 2007 11:00 AM
>
> Subject: {ekonomi-syariah} Re: [Kajian Ekonomi Islami] Sekedar
> urun rembug
>
>
>
> Mungkin sekedar urun rembug..
>
> Yg jelas, status hukum bunga bank sama dg riba sudah final..MUI
> pun dah ada fatwanya..
>
> Hakekat BUNGA & BAGI HASIL adalah berbeda..Memang yg seringkali
> jadi permasalahn adalah pd prakkteknya kita sering menjumpai fakta bhw
> hampir ga ada bedanya antara bank konvensional dg bank syariah..Tapi hal
> tersebut tidak lantas mengubah status bunga bank menjadi halal, atau
> menyamakan bunga bank dg bagi hasil..
>
> Satu hal yg perlu kita sadr adalah kita perlu memahami logika
> fiqh..karena secara matematis terkadang tidak ada bedanya antara,
> misalnya, murabahah dg simple interest rate..Misal apa bedanya 10%
> profit marjin pd murabahah dg 10% bunga pd pinjaman bank konvensional?
> Secara matematis sama, tetapi secara fiqh berbeda.. Yg satu halal yg
> laen haram..Perbedaannya adalah pd kasus yg pertama, yg terjadi adalah
> transaksi jual beli sedangkan kasus yg kedua adalah pinjaman..Dlm
> Islam, yg namanya pinjaman, ga boleh kita men"charge" tambahan,
> berapapun besar kecilnya..
>
> Kemudian, kalau kita cermati, semua jenis akad dlm perbankan
> syariah PASTI terkait dg sektor riil..Tidak ada yg tidak terkait dg
> sektor riil..Berbeda dg bank konvensional. .
>
> Persoalannya adalah, struktur bank syariah yg ada sekarang ini
> mengikuti struktur bank komersial, yg lebih banyak berorientasi pd
> pembiayaan jangka pendek..Padahal, akad2 syariah itu orientasinya adalah
> investasi di sektor riil..Makanya, dg struktur spt sekarang, yg
> digandrungi oleh bank syariah adalah pembiayaan2 yg bersifat fixed
> return, spt murabahah, ijarah, dll.. Prosentase musyarakah & mudarabah
> belum sebesar yg fixed return financing..Padahal musyarakah & mudarabah
> inilah yg merupakan representasi konsep bagi hasil yg sebenarnya.. Meski
> demikian, murabahah cs ini tetap merupakan investasi di sektor karena
> mensyaratkan kejelasan barang/obyek yg diperjualbelikan, meskipun
> menurut saya pribadi ini adalah investasi yg paling minimal..
>
> Cara perhitungan pembiayaan2 jenis ini pun mirip dg perhitungan
> interest rate..
>
> Lalu, yg sering dikeluhkan masyarakat, kenapa pembiayaan bank
> syariah ini selalu lebih mahal? Tentu saja utk kasus Indonesia perlu ada
> kajian tersendiri.. Tapi yg paling gampang adalah dg melihat size
> banknya..Misalkan, ada bank konvensional (yg sering ngadain acara undian
> hehe..) dg asset 60 trilyun, biaya operasionalnya 600 M (data 2 thn yg
> lalu kalo ga salah..kalo salah, mohon dimaafkan).. tentu saja prosentase
> biayanya hanya 1% dr asset. Dia dikenal masyarakat sebagai bank yg
> layanannya luar biasa baiknya..Artinya, kalau bank syariah pengen
> bersaing dg bank konvensional tsb, dia mesti punya at least 600 M utk
> biaya operasional. .Tentu saja 600 M ini akan terasa berat utk suatu
> bank syariah yg asetnya belum mencapai 10T..Ini hanya logika sederhana
> saya saja (mohon maaf kalau salah...)
>
> Makanya, kalau kita pengen bank syariah bisa bersaing dg bank
> konvensional, asetnya harus kita perbesar..caranya? Paling minimal kita
> nabung di bank syariahlah.. .Tentu saja kita sih pengen pemerintah juga
> ikut dukung, kalangan dunia usaha muslim juga ikut dukung..Tapi nunggu
> mereka takut kelamaan..makanya kita semua WAJIB mindahin semua rekening
> yg di bank konvensional ke bank syariah...
>
> Yg jelas, bunga & bagi hasil berbeda...Kayak (mohon maaf)
> melakukan hubungan suami istri, yg satu pake akad nikah yg lain ga pake
> akad nikah..Perbuatannya sama, tapi akadnya beda..Status hukumnya juga
> laen..Yg satu halal, yg laen adalah zina..
>
> Mudah2an kita berharap ke depan bank syariah bisa lebih
> baik..Halal saja tidak cukup, karena kehalalan itu baru bagian kecil dr
> ajaran Islam..masih banyak ajaran islam yg lain, spt bekerja harus
> amanah, itqan, dll..
>
> Wallahu 'alam..Mohon maaf kalo kepanjangan
>
> Wassalaam
> Irfan Syauqi beik
>
> Amri [EMAIL PROTECTED] com
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=%22Amri+Munthe%22%40yahoo.c
> om> , UNEXPECTED_DATA_ AFTER_ADDRESS@ .SYNTAX-ERROR. wrote:
> Re: Pegawai Bank & Riba Posted by: "Amri Munthe"
> [EMAIL PROTECTED] or.id
> <http://us.f371.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=amri%40jica-hrdlg.or.id>
>
>
>
>
>
> *
>