Kejahatan Korporatokrasi

Sahabat2 ingat John Perkins, penulis buku Confession of An Economics
Hit Man(2004)? Buku baru berjudul A Game As Old As Empire: The Secret
World of Economics Hit Men and the Web of Global Coruption (2007) oleh
Steven Hiatt menjelaskan petualangan  ekonom pembunuh bayaran.

EHM bekerja untuk korporatokrasi, jaringan kerjasama antara MNC
(Multi-national Corporations) dengan lembaga international (Worl Bank/
IMF, elite negara maju dan penguasa negara ke tiga. Ikon
korporatokrasi yang nyata saat ini adalah Wapres Amerika Serikat Dick
Cheney. Ia mantan CEO Haliburton, kontraktor terbesar di dunia dan
sampai saat ini menjadi penasihat bisnis MNC itu. Cheney penganjur
serbuan ke Irak yang dipalsukan lewat senjata pemusnah massal. Kini
Hilburton bersama MNC lainnya menikmati keuntungan dari ladang minyak
Irak.

 Menurut Empire, penyingkiran pemimpin dibenarkan korporatokrasi,
termasuk pembunuhan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeq (1951-1953)
yang menasionalisasi industri pertambangan. Menurut Perkins, EHM juga
mengatur terjadinya kecelakaan yang menewaskan Presiden Ekuador Jaime
Roldos dan Presiden Panama Omar Torrijos.

Korporatokrasi dimulai saat World Bank/IMF menyalurkan pinjaman untuk
pembangunan megaproyek di negara miskin atas rekomendasi fiktif buatan
EHM. Kredit cair jika dengan syarat tender-tender pembangunan
dihadiahkan kepada MNC/mitra lokal atas restu korporatokrasi.

Maka, negara miskin itu terjebak utang luar negeri ratusan milyar
dollar AS yang takkan bisa dilunasi sampai tujuh turunan sekalipun.
Sebaliknya, profit MNC/mitra lokal naik setiap tahun lamanya proyek
dikerjakan. Derita negara itu belum usai. Ia bukan Cuma gagal
mensejahterkan rakyat, tetapi juga tidak mampu membayar utang sehingga
pada akhirnya ditekan korporatokrasi untuk menjual kekayaan alamnya,
misalnya ladang minya.

Empire di Indonesia salah satunya,  PLTU Piton I dan II yang nilai
proyek 3,7 miliar dollar AS. Megaproyek ini tak bermanfaat sebab harga
listrik yang dihasilkan 60 persen lebih mahal dibandingkan di Filipina
atau 20 kali lebih mahal dibandingkan di AS. Dana pembangunan Paiton
ngutang dari ECA (export credit agencies)  dari Negara-negara maju.
Korupsi dimulai ketika 15,75 persen saham megaproyek itu disetor
kepada kroni dan keluarga penguasa Orde Baru. Kontrak-kontrak Paiton,
mulai dari pembebasan lahan secara paksa sampai monopoli supali
batubara, dihadiahkan tanpa tender kepada MNC/mitra local. Setelah pak
Harto lengser ing keprabon, baru ketahuan nilai proyek itu inflasi 72
persen.

Pemerintah coba menegosiasi ulang Paiton dengan argument  megaproyek
itu hasil dari KKN. Alhasil, kita selama 30 tahun harus mambayar ganti
rugi 8,6 persen sen dollar AS per KWh padahal kemampuan kita cuma 2
sen. Supaya manut, eksekutif
ECA itu mengancam akan meminta G-7 menyatakan Indonesia ngemplang yang
tak layak mendapat kredit lagi dari World Bank/IMF. Lagi-lagi kita
manut. Empire mengungkapkan bagaimana industri minyak kita diperdayai
korporatokrasi melalui perjanjian PSA (profit sharing agreement).
Perjanjian ini bertujuan menhindari nasionalisasi seperti yang
dilakukan PM Mosaddeq dan Presiden Bolivia Evo Morales belum lama ini.

PSA seolah-olah menempatkan kita sebagai pemilih sah lading minyak,
sementara MNC sebagai "Kontraktor" saja. Namun, pada praktiknya MNC
mengontrol pengembangan ladang yang mendatangkan profit berlipat ganda
mirip seperti praktik kolonialisme. Perjanjian ini ibarat pernikahan
ideal antara kontrak bagi hasil yang secara politis seolah penting
bagi kita sebagai majikan dengan system kontrak berbasis
konsesi/lisensi yang mendatangkan profit maksimal. Pemerintah seakan
memegang kendali, padahal MNC-lah yang mempunyai kedaulatan nasional.

"Klausul stabilisasi " dalam perjanjian PSA mengatakan UU kita tak
berlaku bagi setiap kegiatan MNC dalam rangka memetik profit. UU tak
bisa jadi rujukan jika sengketa terjadi yang berlaku hukum
internasional yang tak mengenal istilah kepentingan atau UU nasioanal.

"Cerita sukses PSA" yang dijual ECA bernama Dan Witt yang bekerja
untuk ECA di AS, ITIC (International Tax and Investment Center). Witt
atas nama British Petroleum, Chevron, Texaco, Total, dan Eni Spa
"menggarap" Irak. IMF menyalurkan kredit untuk Irak sambil menetapkan
syarat, termasuk mengurangi subsidi yang membuat harga BBM meroket.
Syarat lain, parlemen harus mengesahkan UU Perminyakan akhir 2006 dan
IMF wajib disertakan dalam proses perumusannya.

Witt yang bermodalkan best practices (senjata gombal Worl Bank dan
IMF) menjadi negosiator antara para pejabat Irak yang korup, IMF dan
MNC. Semua untung kecuali rakyat Irak. Tidaklah sulit mencerna kita
menjadi korban korporatokrasi. Pertanyaannya, apakah kita masih
peduli?

Lihatlah pemimpin kita yang mematut-matut diri. Anggota DPR ngga
percaya diri dan ngga mau kalah dengan Tukul Arwana.

Semoga opini diatas membuka kita, bahwa kejahatan korporatokrasi sudah
sangat mengurita tidak hanya di Indonesias tercinta bahkan dunia.

wassalam
Purwadi

Kirim email ke