Menjelang reshuffle kabinet, Kader ekonomi Syariah kita yang juga menteri BUMN
menjadi 'musuh bersama' nyaris semua lapirsan masyarakat. Mereka yang secara
tegas meminta agar Sugi --sapaan akrab Sugiharto-- didepak adalah enam fraksi
di DPR RI. PPP sejak awal malah 'tidak memandang-- Sugi untuk tetap
dipertahankan. Alasannya,'' Tidak berperan sedikitpun buat PPP.''
Di pasar uang, Sugi bahkan menjadi catatan negatif. Seorang analis menyatakan,
jika Meneg BUMN di ganti, bukan barang baru dan pasar tidak akan terpengaruh
sedikitpun. Karena Sugi memang 'dimusuhi' pasar. Seorang investor kepada saya
menyatakan jauh-jauh hari bahwa Sugi bakal ditip Ex dari kabinet.
Ini tentu, pukulan untuk kedua kalinya, bagi Komunitas Penggiat Ekonomi
Syariah, terhadap kader-kadernya. Sebelumnya Iwan Pontjowinoto, dipaksa lengser
oleh gerakan segelintir karyawan yang didukung oleh nyaris semua Direksi dan
Komisaris saat itu.
Tentu kita prihatin. kenapa hal ini terjadi pada kader-kader TERBAIK????
aktivis ekonomi syariah.
Pertanyaannya, apakah Sugi dan Iwan Pontjo seorang PECUNDANG SEJATI? sehingga
harus menjadi musuh bersama dalam satu rangkaian proses politik di Indonesia?
Saya lebih cenderung jawabannya TIDAK.
Sejauh yang saya amati, prestasi keduanya sebenarnya GEMILANG. Kinerja BUMN
dan Jamsostek nyaris naik secara signifikan. keduanya bahkan punya latar
belakang profesional yang menjanjikan.
Lalu di mana masalahnya? Sepanjang yang saya amati, kelemahan keduanya,''SUKA
MEMBUAT LUBANG KUBURAN BUAT DIRI SENDIRI.''
Penjelasan saya begini;
1. Sejak awal, saat Iwan dan Sugi menjabat sebagai presdir Jamsostek dan Meneg
BUMN, secara cepat 'menjaga jarak' dengan kawan-kawan setia pendukungnya. Dalam
satu pertemuan dengan Adi Sasono, beberapa saat setelah Sugi diangkat menjadi
Meneg BUMN, Sugi menyatakan akan 'membersihkan' BUMN dari kawan-kawan dekatnya.
Saat itu AS pun sempat berang. Dan menasehati agar tidak melakukan itu. karena,
kata AS, kalau anda dikuyo-kuyo, siapa yang akan membela?" Sayang saya datang
terlambat dalam pertemuan itu. kawan dari CIDES yang hadir dalam pertemuan
itu,"berang, menanggapi sikap Sugi.
Iwan Pontjo, sama saja. Nyaris, ketika dia menjabt sebagai Dirut Jamsostek,
secara signifikan jabatan yang dia emban tidak bersungsi bagi kawan-kawan
'idiologis.' Bahkan, cerita kawan dekat saya yang pernah ikut tender di
Jamsostek, sikap Iwan sangat menyedihkan.
Apakah sikap ini salah? Dalam batas-batas tertentu, sudah pasti tidak. Tapi
dalam kultur politik Indonesia, langkah keduanya menciptakan musuh-musuh baru
yang tidak perlu.
2. Sugi sejak awal juga menegaskan, akan menseterilkan BUMN dari politik. Dan
Mensterilkan BUMN jadi sapi perahan para politisi.
Tujuan ini tentu sangat mulai, dipandang dari sudut profesionalisme. Tapi dari
sudut pandang politik, jelas sikap ini tidak 'cerdas.' Mudah memicu ketegangan
demi ketegangan yang tidak perlu, sehingga mengganggu konsentrasi kerja.
3. Sugi juga salah memilih orang kepercayaan di sekelilingnya. Pertama
diangkatnya TA. semula semua pihak berbesar hati, karena setidaknya ada 'jalur
khusus' ketika kita sesama gerakan punya kepentingan dengan sang menteri. Dalam
perkembangannya, TA lebih berfungsi sebagai PALANG PINTU bagi kawan-kawan
seidiologi. Sementara TA menjadi JALAN TOL bagi pengusaha yang punya
kepentingan bisnis dengan BUMN. Sikap TA sudah pasti mengandung segudang
'kepentingan' pribadi.
Kedua diangkatnya AR, sebagai salah satu staf Ahli. Sebagaimana TA, AR
ternyata mempunyai fungsi yang sama dengan TA, sama dan sebangun. Menjadi
palang pintu bagi kawan-kawan dekat AR. Ada suasana disharmoni baik sesama
kawan, sesama geng UI, bahkan sesama eselon I di kemneterian BUMN.
Sangking kesalnya, salah seorang geng UI menyodorkan segepok bukti bagaimana
AR, ternyata mengaduk-aduk bisnis bantalan rel KA dalam skala yang begitu
besar. Bukti yang sampai ke meja saya tidak hanya menyangkut soal besaran
transaksi bisnisnya. Tapi juga berbagai transfer fee dalam bentuk bukti faktual.
Salah seorang kawab karib AR juga murka besar, ketika dia dipromosikan untuk
menjadi satu direktur keuangan di BUMN bergengsi, kemudian oleh AR di delete
untuk dialihkan menjadi direktur keuangan RS Fatmawati.
Lalu Hikmah apa yang bisa kita ambil?
Ilustrasi di bawah ini adalah satu contoh yang mesti kita renungkan.
Ketika seorang Yahudi menjabat satu jabatan politik tertentu di manapun di
belahan dunia ini, maka yang dia lakukan pertama kali adalah membesarkan bisnis
sesama jaringan Yahudi. Ada kebersamaan sesama ummat.
Ketika seorang keturunakn China menjabat satu kekuasaan, maka kroni-kroni
China itu, baik secara bisnis, politik, sosial, dibesarkan oleh pejabat itu.
begitupun ketika seorang Kristen menjabat menteri, maka semua yayasan-yayasan
kristen mendapat pasokan dana secara terbatas.
Problem kita mungkin soal pengalaman. Mungkin lho... jadi ketika kawan yang
kita bela-belain agar menjabat sesuatu, lebih suka SEGERA MELUPAKAN KAWAN
SEIRING dan Giat MENCIPTAKAN BANYAK MUSUH DAN DISHARMONI, ketimbang MELAKUKAN
PEMBERDAYAAN UMMAT dalam Bisnis, politik, sosial dan Budaya.
Rasanya, Kita mesti belajar banyak sama Yahudi, China dan Kristen. Sehingga,
ketika kader-kader terbaik kita menjabat benar-benar menjadi Rahmatan lil
'Alamin.
Maafkan daku, kalau ada yang tidak berkenan.
Sejujurnya saya berdoa, mas Sugi tidak diganti.
Salam Mandiri dan Bermartabat
Guntoro Soewarno
Editor Media Indonesia
CATATAN: Dalam batas-batas tertentu Bank Syariah Mandiri (BSM) sedang
melakukan apa yang telah dilakukan Sugi dan Iwan Pontjo.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com