Kawan Lukita, salam.
Aku sungguh rindu, mendengar ceritamu soal Melbourne, ketimbang diskusi soal
catatan kecil yang saya tulis beberapa waktu lalu....
Tapi sudi, izinkan saya memberi catatan --masih kecil neh--, soal catatan
kecil kawan Lukita. Ada hal prinsip yang mengganjal, terutama soal ego. Saya
lebih suka menyebutnya 'Ego'.
Kawan, kritik saya soal para senior saya di MES, begitu juga di ICMI
--sesungguhnya yang saya tulis adalah gejala lama, ketika para pejuang ICMI
yang selalu mengatasnamakan Islam, tapi dalam cara 'berIslam' tidak tercermin
sedikitpun Akhlak mulia yang 'membumi'. Tidak lebih dan tidak bukan, memburu
kekuasaan. Aspek Keihlasan dan ketulusan, nyaris tidak punya nyawa---
sesungguhnya tidak lebih dari saling mengingatkan.
Saya melakukan itu, karena saya teramat mencintai senior-senior saya. Kalau
saya membenci mereka, sudah pasti saya akan diam. Saling mengingatkan dalam
terminologi Islam, pada hal-hal tertentu mestinya wajib hukumnya.
MES adalah institusi muda, yang membawa misi begitu suci, bahkan teramat suci.
Simbol-simbol Islam selalu paling depan bahkan dikedepankan. senior-senior
saya, karena aktifitasnya di MES, sudah menikmati beberapa jabatan strategis.
Untuk kepentingan jangka panjang perjuangan, tentu ini sangat menguntungkan.
Meski pada akhirnya, nyaris 'memalukan.' (Maaf..beribu maaf)...
Bagi saya, mengedepankan ego saya pribadi tidaklah penting. Karena siapalah
diri saya ini? Cuma, saya menjadi gundah...ketika alur perjuangan kita sudah
mulai bergeser, dari menegakkan ekonomi syariah.. menjadi perburuan urusan
kebendaan duniawi.
Motif kemudian bercabang. Ibarat anak panah, ia melesat dan membagi arah. Yang
lebih prihatin, yang lebih berkembang adalah saling melemahkan,
curiga-mencurigai, haus kekuasaan, susah menerima masukkan.
Embrio ekonomi syariah, yang begitu muda, kalau ditopang oleh model perjuangan
yang tidak saling menguatkan, apalagi nyaris tanpa kontrol, tanpa kritik dan
koreksi, lebih suka saling mengadu --kebetulsan saya sering menerima pengaduan
dari banyak pihak---, tentu membahayakan.
Langkah kecil saya ini semoga bisa mengembalikan rel yang mulai
bengkok-bengkok. Tugas saya memang mengkritik, melalui tulisan. karena itulah
yang saya bisa. Komitmen saya untuk mengambil jalan yang sama di jalur ini,
tidak akan berubah. Media Indonesia juga tidak akan berubah sikap untuk tetap
mendukung pemberitaan soal ekonomi syariah.
Makanya, ajakan saya sebenarnya sederhana saja,''Mari letakkan kejujuran dan
ketulusan sebagai landasan utama memperjuangkan ekonomi syariah.'' Bagi
orang-orang tertentu, ajakan saya pasti terlalu naif, tapi biarlah Allah saja
yang menilainya.
Sepenuh jiwa dan raga, kepada senior-senior saya di MES saya mohon di maafkan,
sekiranya tulisan saya terlalu kurang ajar.
Salam
gs
Lukita T Prakasa Lukita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jauh sebelum reshuffle terjadi...ketika dulu para senior2 praktisi syariah
dipercaya negara menjabat sebagai pejabat ini dan itu. Ada rasa senang karena
industri ini telah diakui negara (canda: berarti bisa titip-titip CV neh..).
Namun Jauh dilubuk hati saya terjadi semacam ketakutan.
Jangan2...ketika rezim berganti, mereka akan dihabisi satu persatu oleh
pecinta ekonomi ribawi. Syukur kalo cuma dilengserkan...kalo harus berurusan
sama gedung bundar, urusan malah lebih gawat. Akibatnya industri ini menjadi
tidak dipercaya karena menghasilkan pejabat-pejabat bermasalah. Saya mengambil
contoh para menteri dan pejabat BUMN jaman megawati yang banyak menghuni hotel
prodeo.
Pikir Saya, kerja di BUMN sangat-sangat berbau politik yang penuh fitnah,
ghibah dan intrik...rasanya nuansa ini tidak cocok dengan senior-senior saya
yang bermental wali. Waktu itu Saya hanya berharap agar senior2 saya ini ketika
menjabat dibekali :
1. Perjanjian Kerja yg jelas dengan pemegang saham BUMN tersebut
(negara/meneg BUMN) menyangkut jaminan perlindungan hukum baik ketika masih
menjabat maupun setelah menjabat. Sehingga bila terjadi kasus dikemudian hari,
maka BUMN akan menanggung biaya hukum (pengacara, pengadilan, dll). Perjanjian
Kerja model kaya gini, memang lagi ngetrend dikalangan Direksi Perseroan.
2. Segudang team PR yang tangguh, sehingga mampu mempublikasikan keberhasilan
mereka ke masyarakat.
Rezim belum berganti... tapi satu persatu para senior saya mulai rontok
ditengah jalan. Yang parahnya, bukan memiliki PR yang baik, justru menimbulkan
ketegangan baru di antara para senior Saya ini. Praktisi ek.syariah vs praktisi
media (admirer Eksyar) seperti Mas Guntoro ini. Mas Gun, punya segepok bukti
penyimpangan dari senior praktisi eksyar tapi tdk bisa dikomunikasikan ke
teman-teman eksyar.
Kalaulah saya berimajiner, menanyakan "ada apa?" pada mereka berdua.
Barangkali jawabnya begini :
Praktisi Eksyar "Itu Fitnah, Saya ini pejabat terhormat. Kalau berani,
Laporkan saja ke KPK. Jangan cuma fitnah kemana-mana".
Praktisi Media "Saya punya bukti. Saya bisa tulis di koran Kalau saya buka
semua, bisa rontok tok tok".
Lalu Saya jadi bertanya lagi "dari pertempuran ego senior-senior saya ini,
umat dapat apa dong?"
Soal ego, Saya jadi ingat cerita psikolog kondang, Deddy Corbuzier :
Seorang jenderal panglima angkatan perang sedang berada diatas kapal perang
dilaut yang berkabut. Lebih kurang 100 meter didepan, dilihatnya sebuah cahaya
terang seperti kapal lain yang mendekat. Sebenarnya kapal sang jenderal dapat
saja menghindar dengan mudah dari cahaya di depannya. Tapi ego sang Jenderal
malah menginstruksikan agar kapal lain segera menyingkir.
"Hai kamu segera menyingkir dan berputar 20 derajat ke kanan. Kami mau lewat"
demikian instruksi sang Jenderal. Namun secara tak terduga dijawab oleh sang
pemilik cahaya
"Tidak bisa. Kalianlah yang segera menyingkir 20 derajat ke kanan. SEGERA".
Dengan angkuhnya sang jenderal menjawab :
"Hai bodoh. Saya ini panglima angkatan perang. Saya berada di kapal perang
yang memiliki puluhan peluru kendali. Bila dalam 1 menit anda tidak berputar,
maka kami akan menabrakkan kapal ini ke anda".
Lalu dijawab oleh si pemilik cahaya "Baik..saya akan segera menyingkir. Tapi
tolong beritahu Saya bagaimana caranya mercusuar berputar 20 derajat ke kanan."
Oh well...kadang mengenyampingkan ego dapat menghasilkan keadaan yang lebih
baik.
Kalaulah boleh berharap dengan para senior Saya ini. Rasanya tidak ada
masalah yang tidak dapat diselesaikan. Masalahnya hanya pada komunikasi dari
para senior saya yang berbeda pendapat.
Soal beda pendapat, jadi pengen cerita lagi :
Seorang pakar ekonomi Syariah A sedang mengadu ke ulama ternama. "Pak Kyai,
tahu enggak...masa si pakar B mengatakan model transaksi yang saya buat, tidak
sesuai syariah. Kayanya dia tdk mengerti ekonomi syariah deh.......". Sang
Ulama yang mendengar curhat sang pakar hanya diam mendengarkan saja sambil
terus menuangkan teh ke dalam cangkir yang telah penuh. Akibatnya air teh
berceceran kemana-mana. Sang Pakar yang melihat kejadian tersebut langsung
menegur sang Kyai. "Pak Kyai..hati-hati dong. Airnya tumpah kemana-mana."
Lalu sang Ulama mengatakan " Nah seperti juga teh ini. Kamu baru bisa
menikmati teh yang baru kalau cangkir yang ada telah kosong. Begitu juga
pikiran manusia, dia baru bisa menerima hal baru setelah mengkosongkan
pikirannya untuk siap mendengar hal baru. Barangkali nantinya tdk setuju,
tetapi tetap harus dihargai sebagai masukan."
Untuk para Senior Saya...selamat bersilahturahim.
Saya yakin Indonesia akan lebih baik ditangan kalian....
Luki
(Melbourne)
guntoro soewarno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menjelang reshuffle kabinet, Kader ekonomi Syariah kita yang juga menteri
BUMN menjadi 'musuh bersama' nyaris semua lapirsan masyarakat. Mereka yang
secara tegas meminta agar Sugi --sapaan akrab Sugiharto-- didepak adalah enam
fraksi di DPR RI. PPP sejak awal malah 'tidak memandang-- Sugi untuk tetap
dipertahankan. Alasannya,'' Tidak berperan sedikitpun buat PPP.''
Di pasar uang, Sugi bahkan menjadi catatan negatif. Seorang analis menyatakan,
jika Meneg BUMN di ganti, bukan barang baru dan pasar tidak akan terpengaruh
sedikitpun. Karena Sugi memang 'dimusuhi' pasar. Seorang investor kepada saya
menyatakan jauh-jauh hari bahwa Sugi bakal ditip Ex dari kabinet.
Ini tentu, pukulan untuk kedua kalinya, bagi Komunitas Penggiat Ekonomi
Syariah, terhadap kader-kadernya. Sebelumnya Iwan Pontjowinoto, dipaksa lengser
oleh gerakan segelintir karyawan yang didukung oleh nyaris semua Direksi dan
Komisaris saat itu.
Tentu kita prihatin. kenapa hal ini terjadi pada kader-kader TERBAIK????
aktivis ekonomi syariah.
Pertanyaannya, apakah Sugi dan Iwan Pontjo seorang PECUNDANG SEJATI? sehingga
harus menjadi musuh bersama dalam satu rangkaian proses politik di Indonesia?
Saya lebih cenderung jawabannya TIDAK.
Sejauh yang saya amati, prestasi keduanya sebenarnya GEMILANG. Kinerja BUMN dan
Jamsostek nyaris naik secara signifikan. keduanya bahkan punya latar belakang
profesional yang menjanjikan.
Lalu di mana masalahnya? Sepanjang yang saya amati, kelemahan keduanya,''SUKA
MEMBUAT LUBANG KUBURAN BUAT DIRI SENDIRI.''
Penjelasan saya begini;
1. Sejak awal, saat Iwan dan Sugi menjabat sebagai presdir Jamsostek dan Meneg
BUMN, secara cepat 'menjaga jarak' dengan kawan-kawan setia pendukungnya. Dalam
satu pertemuan dengan Adi Sasono, beberapa saat setelah Sugi diangkat menjadi
Meneg BUMN, Sugi menyatakan akan 'membersihkan' BUMN dari kawan-kawan dekatnya.
Saat itu AS pun sempat berang. Dan menasehati agar tidak melakukan itu. karena,
kata AS, kalau anda dikuyo-kuyo, siapa yang akan membela?" Sayang saya datang
terlambat dalam pertemuan itu. kawan dari CIDES yang hadir dalam pertemuan
itu,"berang, menanggapi sikap Sugi.
Iwan Pontjo, sama saja. Nyaris, ketika dia menjabt sebagai Dirut Jamsostek,
secara signifikan jabatan yang dia emban tidak bersungsi bagi kawan-kawan
'idiologis.' Bahkan, cerita kawan dekat saya yang pernah ikut tender di
Jamsostek, sikap Iwan sangat menyedihkan.
Apakah sikap ini salah? Dalam batas-batas tertentu, sudah pasti tidak. Tapi
dalam kultur politik Indonesia, langkah keduanya menciptakan musuh-musuh baru
yang tidak perlu.
2. Sugi sejak awal juga menegaskan, akan menseterilkan BUMN dari politik. Dan
Mensterilkan BUMN jadi sapi perahan para politisi.
Tujuan ini tentu sangat mulai, dipandang dari sudut profesionalisme. Tapi dari
sudut pandang politik, jelas sikap ini tidak 'cerdas.' Mudah memicu ketegangan
demi ketegangan yang tidak perlu, sehingga mengganggu konsentrasi kerja.
3. Sugi juga salah memilih orang kepercayaan di sekelilingnya. Pertama
diangkatnya TA. semula semua pihak berbesar hati, karena setidaknya ada 'jalur
khusus' ketika kita sesama gerakan punya kepentingan dengan sang menteri. Dalam
perkembangannya, TA lebih berfungsi sebagai PALANG PINTU bagi kawan-kawan
seidiologi. Sementara TA menjadi JALAN TOL bagi pengusaha yang punya
kepentingan bisnis dengan BUMN. Sikap TA sudah pasti mengandung segudang
'kepentingan' pribadi.
Kedua diangkatnya AR, sebagai salah satu staf Ahli. Sebagaimana TA, AR ternyata
mempunyai fungsi yang sama dengan TA, sama dan sebangun. Menjadi palang pintu
bagi kawan-kawan dekat AR. Ada suasana disharmoni baik sesama kawan, sesama
geng UI, bahkan sesama eselon I di kemneterian BUMN.
Sangking kesalnya, salah seorang geng UI menyodorkan segepok bukti bagaimana
AR, ternyata mengaduk-aduk bisnis bantalan rel KA dalam skala yang begitu
besar. Bukti yang sampai ke meja saya tidak hanya menyangkut soal besaran
transaksi bisnisnya. Tapi juga berbagai transfer fee dalam bentuk bukti faktual.
Salah seorang kawab karib AR juga murka besar, ketika dia dipromosikan untuk
menjadi satu direktur keuangan di BUMN bergengsi, kemudian oleh AR di delete
untuk dialihkan menjadi direktur keuangan RS Fatmawati.
Lalu Hikmah apa yang bisa kita ambil?
Ilustrasi di bawah ini adalah satu contoh yang mesti kita renungkan.
Ketika seorang Yahudi menjabat satu jabatan politik tertentu di manapun di
belahan dunia ini, maka yang dia lakukan pertama kali adalah membesarkan bisnis
sesama jaringan Yahudi. Ada kebersamaan sesama ummat.
Ketika seorang keturunakn China menjabat satu kekuasaan, maka kroni-kroni China
itu, baik secara bisnis, politik, sosial, dibesarkan oleh pejabat itu.
begitupun ketika seorang Kristen menjabat menteri, maka semua yayasan-yayasan
kristen mendapat pasokan dana secara terbatas.
Problem kita mungkin soal pengalaman. Mungkin lho... jadi ketika kawan yang
kita bela-belain agar menjabat sesuatu, lebih suka SEGERA MELUPAKAN KAWAN
SEIRING dan Giat MENCIPTAKAN BANYAK MUSUH DAN DISHARMONI, ketimbang MELAKUKAN
PEMBERDAYAAN UMMAT dalam Bisnis, politik, sosial dan Budaya.
Rasanya, Kita mesti belajar banyak sama Yahudi, China dan Kristen. Sehingga,
ketika kader-kader terbaik kita menjabat benar-benar menjadi Rahmatan lil
'Alamin.
Maafkan daku, kalau ada yang tidak berkenan.
Sejujurnya saya berdoa, mas Sugi tidak diganti.
Salam Mandiri dan Bermartabat
Guntoro Soewarno
Editor Media Indonesia
CATATAN: Dalam batas-batas tertentu Bank Syariah Mandiri (BSM) sedang melakukan
apa yang telah dilakukan Sugi dan Iwan Pontjo.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check out new cars at Yahoo! Autos.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.