Jauh sebelum reshuffle terjadi...ketika dulu para senior2 praktisi syariah 
dipercaya negara menjabat sebagai pejabat ini dan itu. Ada rasa senang karena 
industri ini telah diakui negara (canda: berarti bisa titip-titip CV neh..). 
Namun Jauh dilubuk hati saya terjadi semacam ketakutan.
  Jangan2...ketika rezim berganti, mereka akan dihabisi satu persatu oleh 
pecinta ekonomi ribawi. Syukur kalo cuma dilengserkan...kalo harus berurusan 
sama gedung bundar, urusan malah lebih gawat. Akibatnya industri ini menjadi 
tidak dipercaya karena menghasilkan pejabat-pejabat bermasalah. Saya mengambil 
contoh para menteri dan pejabat BUMN jaman megawati yang banyak menghuni hotel 
prodeo.
   
  Pikir Saya, kerja di BUMN sangat-sangat berbau politik yang penuh fitnah, 
ghibah dan intrik...rasanya nuansa ini tidak cocok dengan senior-senior saya 
yang bermental wali. Waktu itu Saya hanya berharap agar senior2 saya ini ketika 
menjabat dibekali :
  1. Perjanjian Kerja yg jelas dengan pemegang saham BUMN tersebut 
(negara/meneg BUMN) menyangkut jaminan perlindungan hukum baik ketika masih 
menjabat maupun setelah menjabat. Sehingga bila terjadi kasus dikemudian hari, 
maka BUMN akan menanggung biaya hukum (pengacara, pengadilan, dll). Perjanjian 
Kerja model kaya gini, memang lagi ngetrend dikalangan Direksi Perseroan.
  2. Segudang team PR yang tangguh, sehingga mampu mempublikasikan keberhasilan 
mereka ke masyarakat. 
   
  Rezim belum berganti... tapi satu persatu para senior saya mulai rontok 
ditengah jalan. Yang parahnya, bukan memiliki PR yang baik, justru menimbulkan 
ketegangan baru di antara para senior Saya ini. Praktisi ek.syariah vs praktisi 
media (admirer Eksyar) seperti Mas Guntoro ini. Mas Gun, punya segepok bukti 
penyimpangan dari senior praktisi eksyar tapi tdk bisa dikomunikasikan ke 
teman-teman eksyar.
   
  Kalaulah saya berimajiner, menanyakan "ada apa?" pada mereka berdua. 
Barangkali jawabnya begini :
  Praktisi Eksyar "Itu Fitnah, Saya ini pejabat terhormat. Kalau berani, 
Laporkan saja ke KPK. Jangan cuma fitnah kemana-mana".
  Praktisi Media "Saya punya bukti. Saya bisa tulis di koran Kalau saya buka 
semua, bisa rontok tok tok".
  Lalu Saya jadi bertanya lagi "dari pertempuran ego senior-senior saya ini, 
umat dapat apa dong?"   
   
  Soal ego, Saya jadi ingat cerita psikolog kondang, Deddy Corbuzier :
  Seorang jenderal panglima angkatan perang sedang berada diatas kapal perang 
dilaut yang berkabut. Lebih kurang 100 meter didepan, dilihatnya sebuah cahaya 
terang seperti kapal lain yang mendekat. Sebenarnya kapal sang jenderal dapat 
saja menghindar dengan mudah dari cahaya di depannya. Tapi ego sang Jenderal 
malah menginstruksikan agar kapal lain segera menyingkir.
  "Hai kamu segera menyingkir dan berputar 20 derajat ke kanan. Kami mau lewat" 
demikian instruksi sang Jenderal. Namun secara tak terduga dijawab oleh sang 
pemilik cahaya
  "Tidak bisa. Kalianlah yang segera menyingkir 20 derajat ke kanan. SEGERA".
  Dengan angkuhnya sang jenderal menjawab :
  "Hai bodoh. Saya ini panglima angkatan perang. Saya berada di kapal perang 
yang memiliki puluhan peluru kendali. Bila dalam 1 menit anda tidak berputar, 
maka kami akan menabrakkan kapal ini ke anda".   
  Lalu dijawab oleh si pemilik cahaya "Baik..saya akan segera menyingkir. Tapi 
tolong beritahu Saya bagaimana caranya mercusuar berputar 20 derajat ke kanan."
   
  Oh well...kadang mengenyampingkan ego dapat menghasilkan keadaan yang lebih 
baik.
   
  Kalaulah boleh berharap dengan para senior Saya ini. Rasanya tidak ada 
masalah yang tidak dapat diselesaikan. Masalahnya hanya pada komunikasi dari 
para senior saya yang berbeda pendapat. 
   
  Soal beda pendapat, jadi pengen cerita lagi :
  Seorang pakar ekonomi Syariah A sedang mengadu ke ulama ternama. "Pak Kyai, 
tahu enggak...masa si pakar B mengatakan model transaksi yang saya buat, tidak 
sesuai syariah. Kayanya dia tdk mengerti ekonomi syariah deh.......". Sang 
Ulama yang mendengar curhat sang pakar hanya diam mendengarkan saja sambil 
terus menuangkan teh ke dalam cangkir yang telah penuh. Akibatnya air teh 
berceceran kemana-mana. Sang Pakar yang melihat kejadian tersebut langsung 
menegur sang Kyai. "Pak Kyai..hati-hati dong. Airnya tumpah kemana-mana."
  Lalu sang Ulama mengatakan " Nah seperti juga teh ini. Kamu baru bisa 
menikmati teh yang baru kalau cangkir yang ada telah kosong. Begitu juga 
pikiran manusia, dia baru bisa menerima hal baru setelah mengkosongkan 
pikirannya untuk siap mendengar hal baru. Barangkali nantinya tdk setuju, 
tetapi tetap harus dihargai sebagai masukan."
   
  Untuk para Senior Saya...selamat bersilahturahim. 
Saya yakin Indonesia akan lebih baik ditangan kalian....
   
  Luki
  (Melbourne)
  
guntoro soewarno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Menjelang reshuffle kabinet, Kader ekonomi Syariah kita yang juga 
menteri BUMN menjadi 'musuh bersama' nyaris semua lapirsan masyarakat. Mereka 
yang secara tegas meminta agar Sugi --sapaan akrab Sugiharto-- didepak adalah 
enam fraksi di DPR RI. PPP sejak awal malah 'tidak memandang-- Sugi untuk tetap 
dipertahankan. Alasannya,'' Tidak berperan sedikitpun buat PPP.''

Di pasar uang, Sugi bahkan menjadi catatan negatif. Seorang analis menyatakan, 
jika Meneg BUMN di ganti, bukan barang baru dan pasar tidak akan terpengaruh 
sedikitpun. Karena Sugi memang 'dimusuhi' pasar. Seorang investor kepada saya 
menyatakan jauh-jauh hari bahwa Sugi bakal ditip Ex dari kabinet.

Ini tentu, pukulan untuk kedua kalinya, bagi Komunitas Penggiat Ekonomi 
Syariah, terhadap kader-kadernya. Sebelumnya Iwan Pontjowinoto, dipaksa lengser 
oleh gerakan segelintir karyawan yang didukung oleh nyaris semua Direksi dan 
Komisaris saat itu.

Tentu kita prihatin. kenapa hal ini terjadi pada kader-kader TERBAIK???? 
aktivis ekonomi syariah.

Pertanyaannya, apakah Sugi dan Iwan Pontjo seorang PECUNDANG SEJATI? sehingga 
harus menjadi musuh bersama dalam satu rangkaian proses politik di Indonesia? 
Saya lebih cenderung jawabannya TIDAK.

Sejauh yang saya amati, prestasi keduanya sebenarnya GEMILANG. Kinerja BUMN dan 
Jamsostek nyaris naik secara signifikan. keduanya bahkan punya latar belakang 
profesional yang menjanjikan.

Lalu di mana masalahnya? Sepanjang yang saya amati, kelemahan keduanya,''SUKA 
MEMBUAT LUBANG KUBURAN BUAT DIRI SENDIRI.''

Penjelasan saya begini;

1. Sejak awal, saat Iwan dan Sugi menjabat sebagai presdir Jamsostek dan Meneg 
BUMN, secara cepat 'menjaga jarak' dengan kawan-kawan setia pendukungnya. Dalam 
satu pertemuan dengan Adi Sasono, beberapa saat setelah Sugi diangkat menjadi 
Meneg BUMN, Sugi menyatakan akan 'membersihkan' BUMN dari kawan-kawan dekatnya. 
Saat itu AS pun sempat berang. Dan menasehati agar tidak melakukan itu. karena, 
kata AS, kalau anda dikuyo-kuyo, siapa yang akan membela?" Sayang saya datang 
terlambat dalam pertemuan itu. kawan dari CIDES yang hadir dalam pertemuan 
itu,"berang, menanggapi sikap Sugi.

Iwan Pontjo, sama saja. Nyaris, ketika dia menjabt sebagai Dirut Jamsostek, 
secara signifikan jabatan yang dia emban tidak bersungsi bagi kawan-kawan 
'idiologis.' Bahkan, cerita kawan dekat saya yang pernah ikut tender di 
Jamsostek, sikap Iwan sangat menyedihkan.

Apakah sikap ini salah? Dalam batas-batas tertentu, sudah pasti tidak. Tapi 
dalam kultur politik Indonesia, langkah keduanya menciptakan musuh-musuh baru 
yang tidak perlu.

2. Sugi sejak awal juga menegaskan, akan menseterilkan BUMN dari politik. Dan 
Mensterilkan BUMN jadi sapi perahan para politisi.

Tujuan ini tentu sangat mulai, dipandang dari sudut profesionalisme. Tapi dari 
sudut pandang politik, jelas sikap ini tidak 'cerdas.' Mudah memicu ketegangan 
demi ketegangan yang tidak perlu, sehingga mengganggu konsentrasi kerja.

3. Sugi juga salah memilih orang kepercayaan di sekelilingnya. Pertama 
diangkatnya TA. semula semua pihak berbesar hati, karena setidaknya ada 'jalur 
khusus' ketika kita sesama gerakan punya kepentingan dengan sang menteri. Dalam 
perkembangannya, TA lebih berfungsi sebagai PALANG PINTU bagi kawan-kawan 
seidiologi. Sementara TA menjadi JALAN TOL bagi pengusaha yang punya 
kepentingan bisnis dengan BUMN. Sikap TA sudah pasti mengandung segudang 
'kepentingan' pribadi.

Kedua diangkatnya AR, sebagai salah satu staf Ahli. Sebagaimana TA, AR ternyata 
mempunyai fungsi yang sama dengan TA, sama dan sebangun. Menjadi palang pintu 
bagi kawan-kawan dekat AR. Ada suasana disharmoni baik sesama kawan, sesama 
geng UI, bahkan sesama eselon I di kemneterian BUMN.

Sangking kesalnya, salah seorang geng UI menyodorkan segepok bukti bagaimana 
AR, ternyata mengaduk-aduk bisnis bantalan rel KA dalam skala yang begitu 
besar. Bukti yang sampai ke meja saya tidak hanya menyangkut soal besaran 
transaksi bisnisnya. Tapi juga berbagai transfer fee dalam bentuk bukti faktual.

Salah seorang kawab karib AR juga murka besar, ketika dia dipromosikan untuk 
menjadi satu direktur keuangan di BUMN bergengsi, kemudian oleh AR di delete 
untuk dialihkan menjadi direktur keuangan RS Fatmawati.

Lalu Hikmah apa yang bisa kita ambil?

Ilustrasi di bawah ini adalah satu contoh yang mesti kita renungkan. 

Ketika seorang Yahudi menjabat satu jabatan politik tertentu di manapun di 
belahan dunia ini, maka yang dia lakukan pertama kali adalah membesarkan bisnis 
sesama jaringan Yahudi. Ada kebersamaan sesama ummat. 

Ketika seorang keturunakn China menjabat satu kekuasaan, maka kroni-kroni China 
itu, baik secara bisnis, politik, sosial, dibesarkan oleh pejabat itu.

begitupun ketika seorang Kristen menjabat menteri, maka semua yayasan-yayasan 
kristen mendapat pasokan dana secara terbatas.

Problem kita mungkin soal pengalaman. Mungkin lho... jadi ketika kawan yang 
kita bela-belain agar menjabat sesuatu, lebih suka SEGERA MELUPAKAN KAWAN 
SEIRING dan Giat MENCIPTAKAN BANYAK MUSUH DAN DISHARMONI, ketimbang MELAKUKAN 
PEMBERDAYAAN UMMAT dalam Bisnis, politik, sosial dan Budaya.

Rasanya, Kita mesti belajar banyak sama Yahudi, China dan Kristen. Sehingga, 
ketika kader-kader terbaik kita menjabat benar-benar menjadi Rahmatan lil 
'Alamin.

Maafkan daku, kalau ada yang tidak berkenan.
Sejujurnya saya berdoa, mas Sugi tidak diganti.

Salam Mandiri dan Bermartabat

Guntoro Soewarno
Editor Media Indonesia

CATATAN: Dalam batas-batas tertentu Bank Syariah Mandiri (BSM) sedang melakukan 
apa yang telah dilakukan Sugi dan Iwan Pontjo.
  __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

         


       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke