Ass..
Itulah yang harus dipikirkan oleh pejuang ekonomi Islam. Mungkin kita harus 
banyak belajar dari Muhammad Yunus.. Seorang yang berjuang dengan setulus hati 
mengangkat derajat kaum miskin. Dia mengenyampingkan segala ketidakmungkinan 
menjadi mungkin apabila dilakukan dengan komitmen mau berkorban dan ketulusan 
hati untuk memberi yang terbaik bagi kaum miskin. Tapi sangat sedikit diantara 
kita yang memiliki sikap mau berkorban dan setulus hati seperti sikap yang 
dimiliki oleh Muhammad Yunus.. Kita  masih takut untuk menyalurkan pembiayaan 
kepada orang yang memang berhak mendapatkan pembiayaan dengan alasan matematika 
logika kita secara risiko bisnis itu membahayakan. Padahal kita punya Allah 
yang akan siap menolong kesulitan kita kalau memang itu kita lakukan dengan 
tulus. Kita masih enggan untuk melakukan pembinaan kepada nasabah. Kita masih 
enggan berkorban untuk mau terjun berkubang tanah lumpur  ke petani untuk 
melihat bagaimana pembiayaan syariah yang terbaik yang bisa
 kita bisa berikan kepada mereka. Padahal kaum inilah yang seharusnya kita 
angkat derajatnya.  Kita masih menganggap nasabah kita masih sebagai obyek 
bisnis, bukan saudara-saudara kita yang berhak ditolong untuk mengangkat 
derajatnya.   Kenapa Rasulullah harus bersusah payah hijrah ke madinah sampai 
harus berjalan berjuta-juta mil.. karena di situlah letak arti dakwah,, bahwa 
dakwah butuh orang-orang yang siap menderita berjuang untuk umatnya.. Disitulah 
letak makna ketulusan hati Rasulullah untuk mau berkorban demi umatnya. Apa 
hasilnya 23 tahun mampu menbangun peradaban Islam. 
Mari kita mengasah ketulusan hati kita kembali untuk mau berjuang dan berkorban 
menegakkan ekonomi syariah demi kepentingan ekonomi umat kaum miskin yang 
sebagian besarnya adalah umat Islam. Kalau hal tsb mampu kita lakukan, dunia 
umumnya dan khususnya umat Islam Indonesia akan melihat bahwa ekonomi syariah 
memang yang terbaik untuk umat. Dan tidak ada alasan lain lagi bagi umat Islam 
untuk tidak menggunakan lembaga ekonomi syariah dalam transaksi ekonominya. 
Wass. 

----- Original Message ----
From: Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 7, 2007 6:03:17 PM
Subject: {ekonomi-syariah} Hanya 1,71 Juta Umat Islam Pakai Bank Syariah

 
Hanya 1,71 Juta Umat Islam Pakai Bank Syariah                             
Senin, 07 Mei 2007 
 
Dari 176,88 juta umat Islam di Indonesia. hanya sekitar 1,71 juta saja yang 
memakai bank syariah dalam transaksi dan investasi. Masih banyak pemakai 
konvensional
 
Hidayatullah. com--Hanya 1,71 juta dari 176,88 juta umat Islam di Indonesia 
yang memakai bank syariah dalam transaksi dan investasi, sedangkan mayoritas 
umat Islam tetap memakai bank konvensional.
 
"Ada sekitar 88 persen dari 201 juta penduduk Indonesia atau sekitar 176,88 
juta orang beragama Islam, namun hanya sekitar 1,6 persen dari 88 persen atau 
sekitar 1,71 penduduk menjadi nasabah Bank Syariah," ujar Dr A Subarjo 
Joyosumarto dari Lembaga Perkembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Jakarta di 
Surabaya, Ahad, 6 Mei 2007.
 
Ia mengemukakan hal itu dalam Seminar dan Kuliah Gabungan Program Doktor Ilmu 
Ekonomi Islam Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga 
menghadirkan Prof Dr H Mubiar Purwasasmita (ITB) dan Dr Hasanuddeen Abdul Aziz 
(International Islamic University Malaysia atau IIUM di Institute of Islamic 
Banking and Finance Malaysia).
 
Menurut dia, ada beberapa sebab mengapa jumlah nasabah di Bank Syariah 
Indonesia masih cukup rendah, diantaranya karena untuk Negara dengan sistem 
politik yang sekuler, maka keseluruhan perangkat sistem politik dan ekonomi 
adalah perangkat kapitalis.
 
"Dalam situasi seperti itu, perbankan Syariah dikembangkan dengan cara dual 
banking system, yaitu bank-bank Syariah dikembangkan dalam kerangka perangkat 
system ekonomi kapitalis, seperti di Malaysia, Indonesia, Mesir, Singapura," 
tegasnya.
 
Cepat atau lambatnya pengembangan bank Syariah, katanya, sangat tergantung 
kepada besar kecilnya dukungan pemerintah, bahkan pertumbuhan nasabahnya tidak 
secepat bank konvensional.
 
"Sekitar tahun 2000-an, Bank BCA meluncurkan program Tahapan dengan target 
sekitar Rp2 miliar per-tahun, namun sekarang jumlah uang nasabah yang terkumpul 
per-tahunnya sudah mencapai Rp2 miliar, bahkan kini melampaui Rp4 Miliar 
per-tahun," ungkapnya.
 
Ketika ditanyakan caranya, katanya, salah seorang direktur pemasarannya 
mengatakan hanya dengan melakukan jemput bola kepada nasabah yaitu mendatangi 
calon nasabah ketika gajian yakni setiap tanggal 1 per bulannya.
 
"Hasilnya dengan strategi tersebut kini sudah melampaui target. Mungkin bank 
syariah juga menerapkan marketing seperti itu," paparnya.
 
Ia menambahkan perbankan Syariah di Indonesia dimulai tahun 1992 dengan 
diresmikan berdirinya Bank Mualamat. Kini sudah terdapat sekitar tiga Bank Umum 
Syariah, 92 Bank Perkreditan Rakyat Syariah, 19 Bank Umum yang membuka Unit 
Syariah di samping cara konvensional, dan 29 Asuransi Takaful.
 
"Kini, pangsa pasar bank Syariah secara keseluruhan sekitar 1,7 persen pada 
tahun 2006 dan diharapkan akan meningkat menjadi 5 persen pada tahun 2008," 
katanya.[ant/ www.hidayatullah .com]
 
Source : http://hidayatullah .com/index. php?option= 
com_content&task=view&id=4665&Itemid=1
 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke