Ass.wr.wb.
Teman-teman, di awal tahun 2008 yok kita refleksi. Mari kita dukung pencapaian 
target 5% bank syariah, walaupun dalam setahun ini terasa sulit mewujudkanya, 
namun itu kita jadikan sebagai pemicu.Karena tugas ini bukan hanya kewajiban BI 
atau bank-bank syariah. Ini tangung jawab kita semua. 
Mari kita jadikan tahun 2008 sebagai tahun perbankan dan ekonomi syariah. Kita 
sampaikan informasi pencerahan dan pencerdasan tentang ekonomi syariah kepada 
segenap lapisan masyarakat. Berikut sebuah tulisan tentang gagasan  tersebut 
yang dikutip dari Tulisan Bang Agustianto.

2008 : TAHUN EDUKASI PERBANKAN SYARIAH
 
Oleh : Agustianto
 
Data membuktikan, bahwa market share perbankan syariah saat ini masih sekitar  
1,7 % persen (sekitar Rp 31 triliun) dari total asset perbankan secara 
nasional. Angka ini menunjukkan konstribusi perbankan syariah terhadap 
perekonomian Indonesia masih kecil. Bank Indonesia melalui blue print perbankan 
syariah telah menargetkan share bank syariah sebesar 5.2 persen pada desember 
2008. Bertenggernya market share perbankan syariah sejak belasan tahun di atas 
satu koma, karena program sosialisasi yang dilakukan masih sangat minim    
(belum optimal). Artinya, sosialisasi perbankan syariah masih sangat kurang. 
Masyarakat luas di berbagai segmen masih terlalu banyak belum mengerti sistem, 
konsep, filosofi, produk, keuntungan dan keunggulan bank syariah. Karena 
minimnya pengetahuan masyarakat tentang perbankan syariah, maka tahun 2008 
hendaknya kita jadikan sebagai tahun edukasi perbankan syariah. Bank Indonesia 
sudah akan memulainya dengan menggelar Festival
 Ekonomi Syariah 2008, mulai tgl 16 sd 20 Januari 2008 di Jakarta Convention 
Centre.
Minimnya program edukasi perbankan syariah diakui oleh Bank Indonesia. Menurut 
buku “Outlook Perbankan Syariah 2008” yang  disampaikan oleh Bank Indonesia 
pada acara seminar akhir tahun perbankan syariah di Bank Indonesia, bahwa 
kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kelembagaan maupun ragam 
produk dan jasa yang ditawarkan perbankan syariah dikarenakan kurang 
intensifnya kegiatan edukasi (sosialisasi) yang dilakukan. Selain kurangnya 
sosialisasi itu, metode sosialisasi yang ada belum tepat dan belum baik, 
sehingga hasilnya masih jauh dari apa yang diharapkan. 
Minimnya gerakan sosialisasi tersebut terlihat dari upaya yang dilakukan oleh 
Bank Indonesia. Menurut laporan akhir tahun Bank Indonesia 2006, kegiatan 
sosialisasi oleh Bank Indonesia sepanjang tahun 2006 hanyalah 51 kali. Hal itu 
tidak jauh berbeda dengan tahun 2007.  Sebuah upaya yang sangat minim mengingat 
besarnya jumlah penduduk Indonesia. Idealnya dalam setahun bisa dilakukan 
minimal 5 juta kali sosialisasi dalam setahun, bukan 51 kali. Oleh karena, 
program sosialisasi perlu dilaksanakan lebih ekstra di tahun 2008, baik oleh 
bank Indonesia, bank-bank syariah, akademisi dan masyarakat ekonomi syariah 
secara umum.
Bentuk sosialisasi perbankan syariah sangat beragam dan luas, seperti melalui 
media massa cetak atau elektronik, kegiatan pameran, buletin, majalah, buku, 
lembaga pendidikan, dan sebagainya. Tulisan ini, ingin menyuguhkan sebuah 
strategi jitu dan paling ampuh dalam mencapai target market share perbankan 
syariah 5%, 10% bahkan 40 %.
Prof.Dr.M.A.Mannan, pakar ekonomi Islam, dalam buku Ekonomi Islam, sejak tahun 
1970 telah mengingatkan pentingnya upaya edukasi masyarakat tentang keunggulan 
sistem syariah dan keburukan dampak sistem ribawi. Dalam hal ini keseriusan 
Bank Indonesia perlu dipertanyakan, karena selama ini Bank Indonesia tidak 
memberikan perhatian yang berarti bagi  upaya sosialisasi bank syariah, karena 
hanya sosilisasi sebanyak 51 kali dalam setahun. Betul, Bank Indonesia telah 
mendorong secara signifikan dari aspek  regulasi seperti office channeling dan 
peraturan lainnya yang mendukung berkembangnya perbankan syariah.. Namun dari 
segi edukasi yang meluas, masih jauh panggang dari api.  
Harus diakui bahwa hampir satu juta masjid dan mushalla di Indonesia, sepi dari 
dakwah ekonomi syariah, padahal di situ berkumpul puluhan bahkan seratusan juta 
umat Islam, khususnya pada momentum khutbah jumat. Kesalahan besar Bank 
Indonesia atau juga bank-bank syariah ialah mereka  mengatakan bahwa pasar 
tersebut bersifat segmented dan sudah jenuh, sehingga market share masih 1.7 % 
(baca Outlook Perbabkan suyariah 2008, hal, 15). Justru ceruk pasar jamaah 
masjid itulah yang masih terbuka luas yang belum digarap bank-bank syariah dan 
belum diperhatikan Bank Indonesia.  Pasar inilah yang harus menjadi perioritas. 
Di masjid berkumpul para pengusaha, hartawan, para presiden direktur, pejabat 
penting, tokoh masyarakat dan sebagainya. Jangan dianggap jamaah yang shalat 
jumat di masjid-masjid adalah  masyarakat biasa atau tukang ojek. Tidak. 
Sekali-kali tidak. Ceruk pasar lainnya adalah masjid ta’lim, kelompok bimbingan 
jamaah haji, pesantren dan sebagainya. 
5 juta kali sosialisasi  
 Sebagaimana disebut di atas, bahwa idealnya sosialisasi perbankan syariah 
dilakukan sebanyak 5 juta kali dalam setahun. Asumsinya, jumlah masjid di 
Indonesia sekitar 600.000 buah. Jika dalam setahun hanya 1 kali sosialisasi di 
tiap masjid, maka dibutuhkan 600.000 kali sosialisasi. Ingat di masjid-masid 
tidak cukup hanya sekali sosialisasi., minal 3 atau 4 kali sosialisasi, agar 
pemahaman jamaah benar-benar mendalam, bukan sekedar kulit. Maka jika di setiap 
masjid hanya dilakukan 4 kali sosialisasi, maka dibutuhkan 2,4 juta kali 
sosialisasi. Belum termasuk sosialisasi terhadap 600.000 ustaz/ulamanya sebagai 
guru ekonomi syariah yang akan menyampaikan dakwah ekonomi Islam.  Untuk 
mentraining para ulama minimal dibutuhkan 6.000 kali sosialisasi, dengan asumsi 
setiap sosialiasi dihadiri 100 peserta dan  setiap sosialisasi memakan waktu 3 
hari. 
Sosialisasi juga mutlak dilakukan berkali-kali dalam setahun kepada majlis 
ta’lim ibu-ibu yang tersebar di seluruh Indonesia. Ingat, hampir di setiap desa 
dan kelurahan terdapat majlis ta’lim ibu-ibu, jumlahnya ratusan ribu majlis 
ta’lim ibu-ibu. Jika sosialisasi keada majlis ta’lim ibu dilakukan hanya 4 
kali, maka paling tidak dibutuhkan 3.000.000 kali sosialisasi dengan asumsi di 
Indonesia ada 750 ribu kelompok majlis ta’lim.
Belum lagi sosialisasi terhadap pesantren yang jumlahnya mencapai 15.000. buah 
yang tersebar di Indonesia. Jika dalam setahun hanya dilakukan 1 kali kegiatan 
sosialisasi, maka dibutuhkan 15.000 kali sosialisasi. Sosialisasi juga harus 
dilakukan kepada seluruh seluruh Perguruan Tinggi, tidak saja kepada fakultas 
ekonomi dan fakultas syariah tetapi juga ke seluruh civitas akademika, biro 
rektor dan sebagainya. Jumlahnya secara keseluruhan  juga tidak kurang dari 
15.000.-... Sekolah SMU juga perlu mendapat perhatian untuk sosialisasi yang 
jumlahnya lebih dari 70.000 sekolah.  Demikian pula kepada seluruh sekolah 
Madrasah Aliyah (MAN/MAS), Tsnawiyah, . Jumlahnya lebih dari 40.000 sekolah. 
Demikian pula kepada aparat pemerintah di setiap kecamatan, kabupaten kota, 
para pegawai di dinas-dinas pemerintah, DPRD, instansi departemen di tingkat 
propinsi dan kabupaten kota. Belum lagi kelompok KBIH (Kelompok Bimbingan 
Ibadah Haji).  Bahkan tidak mustahil sosialisasi
 kepada sekolah SD dan TK, agar bank syariah lebih dkenal sejak awal. 
Berdasarkan kebutuhan akan sosialisassi tersebut, maka tidak aneh jika saat ini 
dibutuhkan 5 juta kali sosialisasi oleh para ahli dan atau ustaz yang terlatih. 
Iklan di televisi, radio memang dibutuhkan, namun sosialisasinya melahirkan 
market yang mengambang (floating), tidak mendalam dan siginifikan mencerdaskan 
umat Islam yang mendengarnya. Maka di samping iklan media massa seperti itu, 
sangat diperlukan pula edukasi langsung kepada masyarakat dengan metode dan 
materi yang tepat. Perlu menjadi catatan, bahwa  Bank Indonenia tidak boleh 
merasa bahwa sosialisasi yang dilakukannya sudah terlalu banyak. Ini kesalahan 
yang sangat fatal. Sosialisasi yang dilakukan Bank Indonesia bagaikan setetes 
air di tengah sungai yang besar, hampir tidak berpengaruh bagi masyarakat 
secara signifikan, maka tidak aneh jika sejak beberapa tahun terakhir market 
share bank shariah masih kecil.  Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara 
yang luas. Penduduknya lebih dari 200
 juta. Maka edukasi bank syariah mustahil dilakukan sendirian oleh Bank 
Indonesia dan PKES yang dibentuknya, ditambah promosi bank-bank syariah. 
Upaya-upaya promosi dan sosialisasi itu masih sangat kecil dan terbatas. 
Ratusan juta (sebagian besar) umat Islam Indonesia belum mengerti tentang 
sistem perbankan syariah. Puluhan ribu ulama yang berkhutbah di mesjid belum 
menyampaikan materi ekonomi syariah secara rasional, ilmiah, bernash agama dan 
meyakinkan umat. Hal ini karena para ulama/ ustas belum mengerti ilmu perbankan 
syariah. Ratusan ribu mesjid masih sepi dari topik ekonomi ekonomi syariah, 
karena para ustaznya tidak mengerti (bahkan tidak yakin) pada keunggulan bank 
syariah. Malah masih terlalu banyak ulama yang berpandangan dangkal bahkan 
miring tentang perbankan syariah. Seandainya para ustaz/ulama telah dicerdaskan 
dengan ilmu muamalah yang ilmiah (’aqliyah) dalam bidang perbankan, niscaya 
market share perbankan syariah tidak seperti saat ini, bahkan akan tercipta 
customer yang rasional, bermoral dan loyal. Jika sosialisasi sudah tepat dan 
benar dilakukan, hampir dipastikan tak ada
 jamaah masjid yang mendukung bank-bank konvesional yang memakai bunga. Jamaah 
masjid di Indonesia lebih dari 100 juta umat. Kini nasabah bank syariah masih 2 
jutaan.  Itu berarti hampir seluruh jamaah masjid yang berhubungan dengan 
perbankan masih menggunakan bank-bank ribawi.  
IAEI siap dan sanggup untuk melakukan perubahan paradigma ulama tentang 
perbankan serta mentraining ulama berdasarkan pendekatan integratif, ilmu-ilmu 
syariah dan ekonomi. Ilmu-ilmu syariah dakam hal ini bukan hanya fiqh muamalah, 
tetapi perangkat ilmu-ilmu alat yang sering menjadi andalan para ulama, seperti 
ilmu tafsir, hadits, ushul fiqh, qawaid fiqh, falsafah tasyri’, falsafah hukum 
Islam. Kesemuanya digabungkan dengan ilmu-ilmu modern, ilmu ekonomi moneter, 
perbankan dan ilmu ekonomi makro.
 
Pendekatan Komprehensif
Selama ini pendekatan sosialisasi belum utuh dan integratif, masih parsial dan 
tidak tuntas, sehingga virus keraguan para ulama dan masyarakat tentang 
perbankan syariah tidak hilang. Senjata sosialisasi yang ada selama ini belum 
ampuh menaklukkan ilmu para ulama, akademisi dan tokoh agama.  Maka diperlukan 
modul dan materi yang telah terbukti ampuh berhasil merubah paradigma ulama dan 
myakinkan mereka secara rasional, ilmiah, tajam dan disertai pendekatan 
ilmu-ilmu syariah itu sendiri.
 Jika personil Bank Indonesia atau pun bank syariah yang berasal dari 
pendidikan umum memberikan sosialisasi kepada para ulama pesantren, maka ulama 
bisa saja menolak berdasarkan ilmu ushul fiqh atau disiplin ilmu syariah 
lainnya. Para ulama menggangap bahwa para bankir dari Bank Indonesia dan bank 
syariah  tidak ahli dalam tafsir ayat-ayat al-quran, hadits, ilmu ushul fiqh, 
tarikh tastri’ dan sebagainya. Karena itu, pendekatan kepada ulama haruslah 
melalui pendekatan ilmu-ilmu syariah sendiri ditambah ilmu-ilmu moneter dan 
perbankan secara utuh.
Sebaliknya jika ulama pesantren yang melakukan sosialisasi, juga tidak cukup 
karena pendekatannya sering dengan ideom halal haram, penggunaan dalil naqli an 
sich dan kering dari teori-teori rasional yang ilmiah atau tidak ada informasi 
ilmiah yang dilekatkan kepada syariah. 
            Sosialisasi kepada umat, bukan melulu pendekatan religius normatif 
(emosional) dan karena lebel syariah, tetapi lebih dari itu, sebuah materi yang 
berwawasan ilmiah, rasional dan obyektif. Jadi, gerakan edukasi dan pencerdasan 
secara rasional tentang perbankan syariah sangat dibutuhkan, bukan hanya 
mengandalkan kepatuhan (loyal) pada syariah. Masyarakat yang loyal syariah 
terbatas paling sekitar 10-15 %. Masyarakat harus dididik, bahwa menabung di 
bank syariah, bukan saja karena berlabel syariah, tetapi lebih dari itu, sistem 
ini dipastikan akan membawa rahmat dan  keadilan bagi ekonomi masyarakat, 
negara dan dunia, tentunya juga secara individu  menguntungkan. Dalam edukasi, 
masyarakat betul-betul dicerdaskan, masyarakat diajak agar tidak berpikir 
sempit, tetapi rasional, obyektif, berpikir untuk kepentingan jangka panjang.
Karena informasi keilmuan yang terbatas, masyarakat masih banyak yang 
menyamakan bank syariah dan bank konvensional secara mikro dan sempit. 
Masyarakat (publik) masih banyak yang belum mengerti betapa sistem bunga, 
membawa dampak yang sangat mengerikan bagi keterpurukan ekonomi dunia dan 
negara-negara bangsa. Karena itu sistem syariah harus dibangun secara bertahap, 
terprogram dan terukur dengan target-target yang realistis.
Jika masyarakat masih menganggap sama bank syariah dengan bank konvensional, 
itu berarti, masyarakat belum faham tentang ilmu moneter syariah, dan ekonomi 
makro syariah tentang interest, dampak bunga  terhadap inflasi, produktitas, 
unemployment, juga belum faham tentang prinsip, filosofi, konsep dan 
operasional bank syari’ah. 
Menggunakan pendekatan rasional sempit melalui iklan yang floating (mengambang) 
hanya menciptakan custumer yang rapuh dan mudah berpindah-pindah. Maka perlu 
menggunakan pendekatan rasional komprehensif, yaitu pendekatan yang 
menggabungkan antara pendekatan rasional, moral dan spiritual.
Pendekatan rasional adalah meliputi pelayanan yang memuaskan, tingkat bagi 
hasil dan margin yang bersaing, kemudahan akses dan fasilitas. Pendekatan moral 
adalah penjelasan rasional tentang dampak sistem ribawi bagi ekonomi negara, 
bangsa dan masyarakat secara agregat, bahkan ekonomi dunia. Maka secara moral, 
tanpa memandang agama, semua orang akan terpanggil untuk meninggalkan sistem 
riba.
Pendekatan spiritual adalah pendekatan emosional keagaaman karena sistem dan 
label syariah. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang taat menjalankan agama, 
atau masyarakat yang loyal kepada aplikasi syariah.  Upaya membangun pasar 
spiritual yang loyal masih perlu dilakukan, agar sharenya terus meningkat. 
Semakin gencar sosialisasi membangun pasar spiritual, maka semakin tumbuh dan 
meningkat asset bank-bank syariah.
Jika Bank Indonesia dan bank-bank syariah bekerjasama dengan IAEI (Ikatan Ahli 
Ekonomi Islam) dan para akademisi serta ulama secara serius  dalam mengedukasi 
masyarakat, maka akan terjadi kemajuan yang luar biasa, tidak saja loncatan 
hebat dalam market share bank syariah, tetapi juga terbangun kecerdasan umat 
dalam memilih lembaga perbankan secara ilmiah dan istiqamah.
 
Penutup
            Mengingatnya minimnya gerakan sosialisasi bank syariah dan kecilnya 
market sharenya (1, 7%), maka tahun 2008 hendaknya dijadikan sebagai tahun 
edukasi ekonomi syariah. Jika gerakan edukasi dan sosialisasi dilakukan secara 
optimal dan tepat, maka market share bank syariah 5,2 persen, bisa dicapai 
dengan cepat dengan basis nasabah yang istiqamah, bermoral dan rasional, tidak 
mudah berpindah-pindah ke bank konvensional karena kenaikan suku bunga 
perbankan konvensional. Upaya Bank Indonesia mendesak bank-bank konvensional 
yang membuka office channeling agar menempelkan logo (spanduk) adanya layanan 
syariah di kantor bank konvensional, sangat bagus, namun masyarakat harus 
dicerdaskan mengapa harus memilih bank syariah. Kita tidak ingin terjadinya 
pemilihan ke bank syariah karena ikut-ikutan, tanpa dasar ilmu pengetahuan,  
atau karena emosional saja. Nasabah seperti ini mudah kecewa dan menyebarkan 
kekecewaaannya kepada orang lain, sehingga
 menimbulkan citra buruk bagi  bank-bank syariah. Padahal kekecewaaanya 
tersebut seringkali karena salah faham atau kurang mengerti tentang perbankan 
syariah. Insya Allah kita sangat siap membantu pencerdasan masyarakat tentang 
perbankan syariah tersebut, dan di beberapa daerah telah telah dibuktikan 
secara faktual keberhasilannya. 
 
(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia, Dosen Pascasarjana 
Ekonomi dan Keuangan Islam  UI, Pascasarjana Islamic Economics and Finance 
Universitas Trisakti, Pascasarjana Bisnis dan Keuangan Islam Universitas 
Paramadina dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Konsentrasi Perbankan Syariah).)


      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke