Assalamualaikum Wr. Wb.
SELAMAT TAHUN BARI 2008
Berkaitan dengan tahun edukasi ekonomi syariah, adakah data survey di
tahun 2007 atau paling tidak 2006 yang menyatakan bahwa pemahaman
masyarakat tentang ekonomi syariah masih dibawah standar yang
ditetapkan oleh pihak yang berwenang, meskipun dari hasil Data
membuktikan, bahwa *market share *perbankan syariah saat ini masih
sekitar  1,7 % persen (sekitar Rp 31 triliun) dari total asset
perbankan secara nasional. Barangkali ada faktor-2 yang lain yang
perlu dikaji, seperti pengembangan dari kantor cabang syariah yang ada
di daerah masih sedikit dll.
untuk lebih menyakinkan bahwa pemahaman dari masyarakat yang
berpendapat bahwa sistem bunga bank tidak sejalan/ bertentangan dengan
ajaran agama = ...... %, itu harus ada respondennya, baik di
kalimantan, sumatra, jawa, sulawesi dll, sehingga kita mengetahui
berapa persen dari penduduk Indonesia yang merespon terhadap perbankan
syariah.
Data responden kalau bisa juga di bagi menjadi beberapa kelompok, ada
kelompok akademisi, perkantoran (pemerintah, bumn, abri termasuk
kepolisian), swasta dll. 
pembagian tersebut diperlukan, karena ada dari akademisi univ Islam
yang tidak mengetahui apa itu perbankan syariah (informasi dari bank
syariah sendiri).
demikian sedikit informasi, barangkali ada yang menambahi.

Wassalam
muhammad
 

--- In [email protected], "Syahrudin Udin"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wassalamulaikum,
> Ya sangat SETUJU. kita seluruh umat Islam dan umat yang cinta pada
keadilan,
> tranparansi, kejujuran, tentu setuju dengan gerakan jihad untuk 5%
bagi bank
> Islam , bahkan itu terlalu kecil. MASYA SIH UMAT ISLAM 90% markernya
cuma
> 5%. Kalau gitu umat Islam bagaikan buih di atas lautan.
> Jadi karena saat ini market share masih 1 koma, belum dua koma, maka
tahun
> 2008 harus kita jadikan momentum penting untuk mencapai target, karena
> masanya 1 tahun lagi.
> Tingkatkan profesionalisme, pelayanan, teknologi, tapi jangan lupa
Hidupkan
> syiar dan dakwah ekonomi Islam di lapisan masyarakat luas, seperti di
> masjid-masjid, pesantren, dll/
> Ayo bank syariah tumbuhkan militansi dlm menegakkan syariah, Selamatkan
> ekonomi Indonesia dengan ekonomi ilahiyah.
> Sekian.
> 
> 
> Pada tanggal 17/12/07, Fitra Pratama Fitra <[EMAIL PROTECTED]>
> menulis:
> >
> >    Ass.wr.wb.
> > Teman-teman, di awal tahun 2008 yok kita refleksi. Mari kita dukung
> > pencapaian target 5% bank syariah, walaupun dalam setahun ini
terasa sulit
> > mewujudkanya, namun itu kita jadikan sebagai pemicu.Karena tugas
ini bukan
> > hanya kewajiban BI atau bank-bank syariah. Ini tangung jawab kita
semua.
> > Mari kita jadikan tahun 2008 sebagai tahun perbankan dan ekonomi
syariah.
> > Kita sampaikan informasi pencerahan dan pencerdasan tentang
ekonomi syariah
> > kepada segenap lapisan masyarakat. Berikut sebuah tulisan tentang
gagasan
> >  tersebut yang dikutip dari Tulisan Bang Agustianto.
> >    2008 : TAHUN EDUKASI PERBANKAN SYARIAH
> >
> >
> > Oleh : Agustianto
> >
> >
> > Data membuktikan, bahwa *market share *perbankan syariah saat ini
masih
> > sekitar  1,7 % persen (sekitar Rp 31 triliun) dari total asset
perbankan
> > secara nasional. Angka ini menunjukkan konstribusi perbankan syariah
> > terhadap perekonomian Indonesia masih kecil. Bank Indonesia
melalui *blue
> > print* perbankan syariah telah menargetkan *share* bank syariah
sebesar
> > 5..2 persen pada desember 2008. Bertenggernya *market share* perbankan
> > syariah sejak belasan tahun di atas satu koma, karena program
sosialisasi
> > yang dilakukan masih sangat minim    (belum optimal). Artinya,
sosialisasi
> > perbankan syariah masih sangat kurang. Masyarakat luas di berbagai
segmen
> > masih terlalu banyak belum mengerti sistem, konsep, filosofi, produk,
> > keuntungan dan keunggulan bank syariah. Karena minimnya pengetahuan
> > masyarakat tentang perbankan syariah, maka tahun 2008 hendaknya
kita jadikan
> > sebagai tahun edukasi perbankan syariah. Bank Indonesia sudah akan
> > memulainya dengan menggelar Festival Ekonomi Syariah 2008, mulai
tgl 16 sd
> > 20 Januari 2008 di Jakarta Convention Centre. Minimnya program edukasi
> > perbankan syariah diakui oleh Bank Indonesia. Menurut buku *"Outlook
> > Perbankan Syariah 2008"* yang  disampaikan oleh Bank Indonesia
pada acara
> > seminar akhir tahun perbankan syariah di Bank Indonesia, bahwa
kurangnya
> > pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kelembagaan maupun
ragam produk
> > dan jasa yang ditawarkan perbankan syariah dikarenakan kurang
intensifnya
> > kegiatan edukasi (sosialisasi) yang dilakukan. Selain kurangnya
sosialisasi
> > itu, metode sosialisasi yang ada belum tepat dan belum baik, sehingga
> > hasilnya masih jauh dari apa yang diharapkan.
> >
> > Minimnya gerakan sosialisasi tersebut terlihat dari upaya yang
dilakukan
> > oleh Bank Indonesia. Menurut laporan akhir tahun Bank Indonesia 2006,
> > kegiatan sosialisasi oleh Bank Indonesia sepanjang tahun 2006
hanyalah 51
> > kali. Hal itu tidak jauh berbeda dengan tahun 2007.  Sebuah upaya yang
> > sangat minim mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia.
Idealnya dalam
> > setahun bisa dilakukan minimal 5 juta kali sosialisasi dalam
setahun, bukan
> > 51 kali. Oleh karena, program sosialisasi perlu dilaksanakan lebih
ekstra di
> > tahun 2008, baik oleh bank Indonesia, bank-bank syariah, akademisi dan
> > masyarakat ekonomi syariah secara umum.
> >
> > Bentuk sosialisasi perbankan syariah sangat beragam dan luas, seperti
> > melalui media massa cetak atau elektronik, kegiatan pameran, buletin,
> > majalah, buku, lembaga pendidikan, dan sebagainya. Tulisan ini, ingin
> > menyuguhkan sebuah strategi jitu dan paling ampuh dalam mencapai
target
> > market share perbankan syariah 5%, 10% bahkan 40 %.
> >
> > Prof.Dr.M.A.Mannan, pakar ekonomi Islam, dalam buku Ekonomi Islam,
sejak
> > tahun 1970 telah mengingatkan pentingnya upaya edukasi masyarakat
tentang
> > keunggulan sistem syariah dan keburukan dampak sistem ribawi.
Dalam hal ini
> > keseriusan Bank Indonesia perlu dipertanyakan, karena selama ini Bank
> > Indonesia tidak memberikan perhatian yang berarti bagi  upaya
sosialisasi
> > bank syariah, karena hanya sosilisasi sebanyak 51 kali dalam
setahun. Betul,
> > Bank Indonesia telah mendorong secara signifikan dari aspek  regulasi
> > seperti office channeling dan peraturan lainnya yang mendukung
berkembangnya
> > perbankan syariah. Namun dari segi edukasi yang meluas, masih jauh
panggang
> > dari api.
> >
> > Harus diakui bahwa hampir satu juta masjid dan mushalla di
Indonesia, sepi
> > dari dakwah ekonomi syariah, padahal di situ berkumpul puluhan bahkan
> > seratusan juta umat Islam, khususnya pada momentum khutbah jumat.
Kesalahan
> > besar Bank Indonesia atau juga bank-bank syariah ialah mereka 
mengatakan
> > bahwa pasar tersebut bersifat segmented dan sudah jenuh, sehingga
market
> > share masih 1.7 % (baca Outlook Perbabkan suyariah 2008, hal, 15).
Justru
> > ceruk pasar jamaah masjid itulah yang masih terbuka luas yang
belum digarap
> > bank-bank syariah dan belum diperhatikan Bank Indonesia.  Pasar inilah
> > yang harus menjadi perioritas.
> >
> > Di masjid berkumpul para pengusaha, hartawan, para presiden direktur,
> > pejabat penting, tokoh masyarakat dan sebagainya. Jangan dianggap
jamaah
> > yang shalat jumat di masjid-masjid adalah  masyarakat biasa atau
tukang
> > ojek. Tidak. Sekali-kali tidak. Ceruk pasar lainnya adalah masjid
ta'lim,
> > kelompok bimbingan jamaah haji, pesantren dan sebagainya.
> >
> > *5 juta kali sosialisasi  *
> >
> >  Sebagaimana disebut di atas, bahwa idealnya sosialisasi perbankan
syariah
> > dilakukan sebanyak 5 juta kali dalam setahun. Asumsinya, jumlah
masjid di
> > Indonesia sekitar 600.000 buah. Jika dalam setahun hanya 1 kali
> > sosialisasi di tiap masjid, maka dibutuhkan 600.000 kali sosialisasi.
> > Ingat di masjid-masid tidak cukup hanya sekali sosialisasi., minal
3 atau 4
> > kali sosialisasi, agar pemahaman jamaah benar-benar mendalam,
bukan sekedar
> > kulit. Maka jika di setiap masjid hanya dilakukan 4 kali
sosialisasi, maka
> > dibutuhkan 2,4 juta kali sosialisasi. Belum termasuk sosialisasi
terhadap
> > 600.000 ustaz/ulamanya sebagai guru ekonomi syariah yang akan
menyampaikan
> > dakwah ekonomi Islam.  Untuk mentraining para ulama minimal dibutuhkan
> > 6.000 kali sosialisasi, dengan asumsi setiap sosialiasi dihadiri 100
> > peserta dan  setiap sosialisasi memakan waktu 3 hari.
> >
> > Sosialisasi juga mutlak dilakukan berkali-kali dalam setahun
kepada majlis
> > ta'lim ibu-ibu yang tersebar di seluruh Indonesia. Ingat, hampir
di setiap
> > desa dan kelurahan terdapat majlis ta'lim ibu-ibu, jumlahnya
ratusan ribu
> > majlis ta'lim ibu-ibu. Jika sosialisasi keada majlis ta'lim ibu
dilakukan
> > hanya 4 kali, maka paling tidak dibutuhkan 3.000.000 kali sosialisasi
> > dengan asumsi di Indonesia ada 750 ribu kelompok majlis ta'lim.
> >
> > Belum lagi sosialisasi terhadap pesantren yang jumlahnya mencapai
15.000.
> > buah yang tersebar di Indonesia. Jika dalam setahun hanya
dilakukan 1 kali
> > kegiatan sosialisasi, maka dibutuhkan 15.000 kali sosialisasi.
Sosialisasi
> > juga harus dilakukan kepada seluruh seluruh Perguruan Tinggi,
tidak saja
> > kepada fakultas ekonomi dan fakultas syariah tetapi juga ke
seluruh civitas
> > akademika, biro rektor dan sebagainya. Jumlahnya secara
keseluruhan  juga
> > tidak kurang dari 15.000.-.. Sekolah SMU juga perlu mendapat perhatian
> > untuk sosialisasi yang jumlahnya lebih dari 70.000 sekolah. 
Demikian pula
> > kepada seluruh sekolah Madrasah Aliyah (MAN/MAS), Tsnawiyah, .
Jumlahnya
> > lebih dari 40.000 sekolah. Demikian pula kepada aparat pemerintah di
> > setiap kecamatan, kabupaten kota, para pegawai di dinas-dinas
pemerintah,
> > DPRD, instansi departemen di tingkat propinsi dan kabupaten kota.
Belum lagi
> > kelompok KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji).  Bahkan tidak mustahil
> > sosialisasi kepada sekolah SD dan TK, agar bank syariah lebih
dkenal sejak
> > awal.
> >
> > Berdasarkan kebutuhan akan sosialisassi tersebut, maka tidak aneh jika
> > saat ini dibutuhkan 5 juta kali sosialisasi oleh para ahli dan
atau ustaz
> > yang terlatih. Iklan di televisi, radio memang dibutuhkan, namun
> > sosialisasinya melahirkan market yang mengambang *(floating)*, tidak
> > mendalam dan siginifikan mencerdaskan umat Islam yang
mendengarnya. Maka di
> > samping iklan media massa seperti itu, sangat diperlukan pula edukasi
> > langsung kepada masyarakat dengan metode dan materi yang tepat. Perlu
> > menjadi catatan, bahwa  Bank Indonenia tidak boleh merasa bahwa
> > sosialisasi yang dilakukannya sudah terlalu banyak. Ini kesalahan yang
> > sangat fatal. Sosialisasi yang dilakukan Bank Indonesia bagaikan
setetes air
> > di tengah sungai yang besar, hampir tidak berpengaruh bagi
masyarakat secara
> > signifikan, maka tidak aneh jika sejak beberapa tahun terakhir *market
> > share* bank shariah masih kecil.  Indonesia adalah bangsa yang
besar dan
> > negara yang luas. Penduduknya lebih dari 200 juta. Maka edukasi
bank syariah
> > mustahil dilakukan sendirian oleh Bank Indonesia dan PKES yang
dibentuknya,
> > ditambah promosi bank-bank syariah.* *
> >
> > Upaya-upaya promosi dan sosialisasi itu masih sangat kecil dan
terbatas.
> > Ratusan juta (sebagian besar) umat Islam Indonesia belum mengerti
tentang
> > sistem perbankan syariah. Puluhan ribu ulama yang berkhutbah di
mesjid belum
> > menyampaikan materi ekonomi syariah secara rasional, ilmiah,
bernash agama
> > dan meyakinkan umat. Hal ini karena para ulama/ ustas belum
mengerti ilmu
> > perbankan syariah.. Ratusan ribu mesjid masih sepi dari topik ekonomi
> > ekonomi syariah, karena para ustaznya tidak mengerti (bahkan tidak
yakin)
> > pada keunggulan bank syariah. Malah masih terlalu banyak ulama yang
> > berpandangan dangkal bahkan miring tentang perbankan syariah.
Seandainya
> > para ustaz/ulama telah dicerdaskan dengan ilmu muamalah yang ilmiah
> > ('aqliyah) dalam bidang perbankan, niscaya market share perbankan
syariah
> > tidak seperti saat ini, bahkan akan tercipta customer yang rasional,
> > bermoral dan loyal. Jika sosialisasi sudah tepat dan benar
dilakukan, hampir
> > dipastikan tak ada jamaah masjid yang mendukung bank-bank
konvesional yang
> > memakai bunga. Jamaah masjid di Indonesia lebih dari 100 juta
umat. Kini
> > nasabah bank syariah masih 2 jutaan.  Itu berarti hampir seluruh
jamaah
> > masjid yang berhubungan dengan perbankan masih menggunakan
bank-bank ribawi.
> >
> > IAEI siap dan sanggup untuk melakukan perubahan paradigma ulama
tentang
> > perbankan serta mentraining ulama berdasarkan pendekatan integratif,
> > ilmu-ilmu syariah dan ekonomi. Ilmu-ilmu syariah dakam hal ini
bukan hanya
> > fiqh muamalah, tetapi perangkat ilmu-ilmu alat yang sering menjadi
andalan
> > para ulama, seperti ilmu tafsir, hadits, ushul fiqh, qawaid fiqh,
falsafah
> > tasyri', falsafah hukum Islam. Kesemuanya digabungkan dengan ilmu-ilmu
> > modern, ilmu ekonomi moneter, perbankan dan ilmu ekonomi makro.
> >
> > * *
> >
> > *Pendekatan Komprehensif*
> >
> > Selama ini pendekatan sosialisasi belum utuh dan integratif, masih
parsial
> > dan tidak tuntas, sehingga virus keraguan para ulama dan
masyarakat tentang
> > perbankan syariah tidak hilang. Senjata sosialisasi yang ada
selama ini
> > belum ampuh menaklukkan ilmu para ulama, akademisi dan tokoh
agama.  Maka
> > diperlukan modul dan materi yang telah terbukti ampuh berhasil merubah
> > paradigma ulama dan myakinkan mereka secara rasional, ilmiah,
tajam dan
> > disertai pendekatan ilmu-ilmu syariah itu sendiri.
> >
> >  Jika personil Bank Indonesia atau pun bank syariah yang berasal dari
> > pendidikan umum memberikan sosialisasi kepada para ulama
pesantren, maka
> > ulama bisa saja menolak berdasarkan ilmu ushul fiqh atau disiplin ilmu
> > syariah lainnya. Para ulama menggangap bahwa para bankir dari Bank
Indonesia
> > dan bank syariah  tidak ahli dalam tafsir ayat-ayat al-quran,
hadits, ilmu
> > ushul fiqh, tarikh tastri' dan sebagainya. Karena itu, pendekatan
kepada
> > ulama haruslah melalui pendekatan ilmu-ilmu syariah sendiri ditambah
> > ilmu-ilmu moneter dan perbankan secara utuh.
> >
> > Sebaliknya jika ulama pesantren yang melakukan sosialisasi, juga tidak
> > cukup karena pendekatannya sering dengan ideom halal haram,
penggunaan dalil
> > naqli an sich dan kering dari teori-teori rasional yang ilmiah
atau tidak
> > ada informasi ilmiah yang dilekatkan kepada syariah.
> >
> >             Sosialisasi kepada umat, bukan melulu pendekatan religius
> > normatif (emosional) dan karena lebel syariah, tetapi lebih dari
itu, sebuah
> > materi yang berwawasan ilmiah, rasional dan obyektif. Jadi,
gerakan edukasi
> > dan pencerdasan secara rasional tentang perbankan syariah sangat
dibutuhkan,
> > bukan hanya mengandalkan kepatuhan (loyal) pada syariah.
Masyarakat yang
> > loyal syariah terbatas paling sekitar 10-15 %. Masyarakat harus
dididik,
> > bahwa menabung di bank syariah, bukan saja karena berlabel
syariah, tetapi
> > lebih dari itu, sistem ini dipastikan akan membawa rahmat dan 
keadilan
> > bagi ekonomi masyarakat, negara dan dunia, tentunya juga secara
individu  menguntungkan.
> > Dalam edukasi, masyarakat betul-betul dicerdaskan, masyarakat
diajak agar
> > tidak berpikir sempit, tetapi rasional, obyektif, berpikir untuk
kepentingan
> > jangka panjang.
> >
> > Karena informasi keilmuan yang terbatas, masyarakat masih banyak yang
> > menyamakan bank syariah dan bank konvensional secara mikro dan sempit.
> > Masyarakat (publik) masih banyak yang belum mengerti betapa sistem
bunga,
> > membawa dampak yang sangat mengerikan bagi keterpurukan ekonomi
dunia dan
> > negara-negara bangsa. Karena itu sistem syariah harus dibangun secara
> > bertahap, terprogram dan terukur dengan target-target yang realistis.
> >
> > Jika masyarakat masih menganggap sama bank syariah dengan bank
> > konvensional, itu berarti, masyarakat belum faham tentang ilmu moneter
> > syariah, dan ekonomi makro syariah tentang interest, dampak bunga
 terhadap
> > inflasi, produktitas, *unemployment*, juga belum faham tentang
prinsip,
> > filosofi, konsep dan operasional bank syari'ah.
> >
> > Menggunakan pendekatan rasional sempit melalui iklan yang*
floating *(mengambang)
> > hanya menciptakan *custumer* yang rapuh dan mudah
berpindah-pindah. Maka
> > perlu menggunakan pendekatan rasional komprehensif, yaitu
pendekatan yang
> > menggabungkan antara pendekatan rasional, moral dan spiritual.
> >
> > Pendekatan rasional adalah meliputi pelayanan yang memuaskan,
tingkat bagi
> > hasil dan margin yang bersaing, kemudahan akses dan fasilitas.
Pendekatan
> > moral adalah penjelasan rasional tentang dampak sistem ribawi bagi
ekonomi
> > negara, bangsa dan masyarakat secara agregat, bahkan ekonomi
dunia. Maka
> > secara moral, tanpa memandang agama, semua orang akan terpanggil untuk
> > meninggalkan sistem riba.
> >
> > Pendekatan spiritual adalah pendekatan emosional keagaaman karena
sistem
> > dan label syariah. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang taat
menjalankan
> > agama, atau masyarakat yang loyal kepada aplikasi syariah.  Upaya
> > membangun pasar spiritual yang loyal masih perlu dilakukan, agar
*share*nya
> > terus meningkat. Semakin gencar sosialisasi membangun pasar
spiritual, maka
> > semakin tumbuh dan meningkat asset bank-bank syariah.**
> > Jika Bank Indonesia dan bank-bank syariah bekerjasama dengan IAEI
(Ikatan
> > Ahli Ekonomi Islam) dan para akademisi serta ulama secara serius 
dalam
> > mengedukasi masyarakat, maka akan terjadi kemajuan yang luar
biasa, tidak
> > saja loncatan hebat dalam *market share* bank syariah, tetapi juga
> > terbangun kecerdasan umat dalam memilih lembaga perbankan secara
ilmiah dan
> > istiqamah.   Penutup
> >
> >             Mengingatnya minimnya gerakan sosialisasi bank syariah dan
> > kecilnya market sharenya (1, 7%), maka tahun 2008 hendaknya dijadikan
> > sebagai tahun edukasi ekonomi syariah. Jika gerakan edukasi dan
sosialisasi
> > dilakukan secara optimal dan tepat, maka *market share* bank
syariah 5,2
> > persen, bisa dicapai dengan cepat dengan basis nasabah yang istiqamah,
> > bermoral dan rasional, tidak mudah berpindah-pindah ke bank
konvensional
> > karena kenaikan suku bunga perbankan konvensional. Upaya Bank
Indonesia
> > mendesak bank-bank konvensional yang membuka office channeling agar
> > menempelkan logo (spanduk) adanya layanan syariah di kantor bank
> > konvensional, sangat bagus, namun masyarakat harus dicerdaskan
mengapa harus
> > memilih bank syariah. Kita tidak ingin terjadinya pemilihan ke
bank syariah
> > karena ikut-ikutan, tanpa dasar ilmu pengetahuan,  atau karena
emosional
> > saja. Nasabah seperti ini mudah kecewa dan menyebarkan
kekecewaaannya kepada
> > orang lain, sehingga menimbulkan citra buruk bagi  bank-bank syariah.
> > Padahal kekecewaaanya tersebut seringkali karena salah faham atau
kurang
> > mengerti tentang perbankan syariah. Insya Allah kita sangat siap
membantu
> > pencerdasan masyarakat tentang perbankan syariah tersebut, dan di
beberapa
> > daerah telah telah dibuktikan secara faktual keberhasilannya.
> >
> >
> >
> > *(Penulis adalah Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia, Dosen
> > Pascasarjana Ekonomi dan Keuangan Islam  UI, Pascasarjana Islamic
> > Economics and Finance Universitas Trisakti, Pascasarjana Bisnis
dan Keuangan
> > Islam Universitas Paramadina dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
> > (Konsentrasi Perbankan Syariah).)*
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ------------------------------
> > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.
Try it
> >
now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ+>
> >
> > 
> >
>


Kirim email ke