MASA DEPAN UANG
BUDI DARMAWAN
Penulis Dosen Miftahul Ulum Tanjung Pinang.Kepri & Pengamat Ekonomi
Syariah.
Bermastautin di Penyengat, Tanjung Pinang. Kepulauan Riau
Kekuatan nilai tukar dinar dan dirham yang berbahan baku emas dan
perak, menjadi alasan utama bagi sebagian pengamat ekonomi syariah
khususnya di Indonesia untuk menggunakannya sebagai mata uang resmi
suatu negara. Hal ini bisa jadi bermula dari kegagalan mata uang
negara setempat (rupiah indonesia) yang senantiasa gonjang ganjing
menghadapi dollar Amerika. Diharapkan penggunaan "logam mulia" yang
bernilai intrinsik jelas lebih berharga dari sekedar kertas yang
dihiasi huruf dan gambar berwarna saja, bisa membantu menjaga
kestabilan ekonomi dan mengatur laju inflasi. Melalui tulisan ini,
penulis mencoba menawarkan sebuah pilihan baru "masa depan uang" .
Benarkah masa depan uang kembali ke masa lampau, selayaknya gaya baju
dan tatanan rambut yang kembali ke mode era-70 an ? Ataukah ini hanya
sisa romantisme kejayaan Islam masa lalu yang berusaha dibangkitkan?
Ataukah kita memiliki pilihan yang lain ?
Fungsi Uang
Ditinjau dari fungsinya, setidaknya uang memiliki tiga fungsi besar.
Pertama digunakan sebagai alat tukar menukar barang dan jasa (medium
exchange), maksudnya barang dan jasa yang ada di pasaran bisa kita
beli jika kita memiliki selembar alat pembayaran yang sah yang disebut
dengan uang. Fungsi berikutnya, uang merupakan alat satuan hitung
(unit of account), artinya barang dan jasa yang bernilai ekonomi
tersebut dinyatakan harganya dalam satuan hitung. Misalnya Rp. 1000,-
(Seribu Rupiah). Dengan cara seperti ini penjual dapat dengan mudah
menawarkan produknya kepasaran dan pembelipun lebih leluasa untuk
membelinya. Fungsi yang berikutnya, uang adalah sebagai alat
penyimpan kekayaan (store of wealth), maksudnya seseorang bisa
mengetahui total kekayaan yang dia miliki saat ini, apakah sepuluh
juta, seratus juta dan seterusnya.
Masa Depan Uang
Ditinjau dari fungsinya dan melihat kecendrungan yang ada akhir-akhir
ini, maka dimasa depan bisa diperkirakan uang sudah tidak akan
dijumpai lagi dalam bentuk seperti kita lihat sekarang ini. Uang
kertas dan logam , entah dia terbuat dari bahan apakah itu kertas ,
emas , perak ataupun bentuk lainnya sekalipun yang berwujud materi
akan tergeser dan digantikan oleh : Uang Elektronik . Fenomena kearah
itu sudah terlihat saat ini, lihat saja kartu debit dan kartu kredit
sudah bukan merupakan hal yang aneh lagi . Orang lain bersedia
menyerahkan barang yang dimilikinya dengan hanya menggesekkan kartu
khusus saja pada suatu media elektronik. Artinya, uang elektroniklah
menjadi alat pembayaran pada saat itu. Deretan angka saldo rekening
telah menjadi alat pembayaran yang sah !.
Jika saja pemakaiannya diperluas, dan seluruh aktifitas ekonomi
masyarakat menggunakan sistem ini, bisa diprekdisikan uang dalam
bentuk harfiah saat ini sudah tidak lagi dibutuhkan. Untuk membeli
bensin di SPBU ataupun minyak tanah di warung tetangga kita cukup
menggesekkan kartu kita ke mesin ATM (Automatic Transfer Machine) yang
tersedia di berbagai lokasi pasar, otomatis saldo sipembeli berpindah
ke saldo sipenjual. Begitu juga jika membayar gaji pegawai, bayar
tukang parkir, atau meminjam uang ke Bank sekalipun. bahkan jika saat
itu ada pengemis di depan anda, cukup dengan menggesek kartu Anda
sudah bisa berinfak, begitu praktis dan mudahnya !.
Alat Pendukung
Untuk mendukung sistem ini, perbankan mestilah dalam kondisi yang
terintegrasi. Tingkat keakuratan dan kecepatan perpindahan data
mestilah terjaga, sehingga tidak muncul kasus salah rekening . Selain
itu, Otoritas Bank Sentral mestilah mengawasi (tentu saja lebih mudah)
mana rekening-rekening yang dicurigai berasal dari bisnis-bisnis
illegal dan melanggar hokum. Infrastruktur mesin ATM (Automatic
Transfer Machine) mestilah disebar seluas-luasnya untuk memudahkan
masyarakat dalam beraktifitas bisnis.
Selain itu, merubah kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa memegang
uang, tentu merupakan persoalan tersendiri nantinya. Peralihan dari
memegang uang kepada memegang kartu jelas bukanlah langkah mudah untuk
merubahnya dan butuh waktu dan proses, karenanya seluruh ide
membutuhkan waktu yang lama sehingga bisa mengkristal menjadi
kebiasaan di tengah masyakat.
Dampak Ekonomi
Jika ini terkristalisasi dalam perjalanan kita di masa depan, maka
hampir bisa diprekdisikan nyaris keseluruhan teori mengenai uang akan
terkoreksi dengan sendirinya. Baik itu teori Inflasi-Deflasi, teori
David Ricardo tentang harga barang dan uang, teori Adolf Wagner
tentang hubungan uang beredar dengan nilai uang, teori Kuantitasnya
Irving Fisher dan berbagai teori-teori besar lainnya. Sebuah peradaban
dan tatanan baru ekonomi akan terbentuk. Pasar uang dan pasar modal
akan tercoreng moreng yang akan menjadi bentuk baru yang mungkin
selama ini tidak pernah kita kira sebelumnya .
Setidaknya, akan muncul teori Inflasi baru, bahwa Inflasi tidak lagi
akibat ketidak seimbangan barang dan jasa dengan jumah uang
beredar,tetapi akibat ketidak seimbangan antara barang dan jasa dengan
saldo rekening penabung produktif . Atau bisa jadi teori teori
lainya. Namun yang tentunya perubahan besar akan terjadi.
Akan sangat sempurna, jika seluruh negara serentak menggunakannya .
Sehingga perubahan peradaban bisa berjalan menyeluruh dan cepat.
Walaupun, tidak tertutup kemungkinan jika ada satu atau dua negara
yang lebih dahulu siap melaksanakannya, maka dia tetap bisa saja
berjalan. Karena saat ini saja dalam melakukan kegiatan bisnis ke luar
negeri, masyarakat juga sudah biasa hanya menggunakan uang elektronik
bukan uang kertas dan logam .
Mata Uang
Setiap negara bisa saja tetap menggunakan mata uangnya yang lama,
lengkap dengan satuan kursnya. Namun seiring dengan pengintegrasian
siste perbankan, maka kesatuan mata uang jelas merupakan prasyarat
berikutnya . Hal ini tentu saja tidak akan merugikan negara maju
seperti Amerika dan Jerman, karena tingkat produktifitas penduduknya
akan "dibayar lebih mahal" yang tentunya dalam uang elektronik
dibandingkan penduduk negara lain yang penduduknya kurang produktif.
Karena itu, mestilah ada bank Internasional yang mengawasi
rekening-rekening masyarakat di seluruh dunia, sehingga jangan sampai
penduduk negara yang tidak produktif ditransfer dana dalam jumah besar
melebihi penduduk negara lain yang lebih produktif. Atau bisa jadi
menimbulkan Teori Inflasi Moderen sebagaimana yang diungkapkan diatas,
potensi membeli masyarakat menggelembung secara tidak wajar sehingga
barang dan jasa menjadi tidak bernilai.
Perjalanan Uang ke masa depan sepertinya akan menjumpai momentumnya
tidak lama lagi. Namun "tidak lama lagi" itu bisa jadi 10, 20 atau
mungkin saja 50 tahun lagi, salah satunya tergantung dari seberapa
banyak ekonom yang mendorong ide ini menjadi sebuah kenyataan. Sudah
jamaknya penggunaan kartu debet kartu kredit dan transfer via kartu
ATM adalah bertanda semakin dekatnya perubahan itu. Saatnya ekonom
memilih ! . Wujudkan sebuah impian peradaban baru atau terjebak
romatisme masa lalu, kembali ke dinar dan dirham, padahal kita tau
bahwa Amerika, Jerman dan IMF adalah tiga besar penguasa cadangan emas
dan perak di seluruh dunia. Sedangkan Emas dan Perak adalah bahan baku
utama dari dinar dan dirham ! Saatnya Ekonom Memilih
Wallahualam