INDOPOS/ 18-11-2008

SAMPAI berlangsungnya pertemuan puncak 20 kepala negara yang 
menguasai 90 persen ekonomi dunia di Washington ini, Kongres Amerika 
Serikat masih belum berhasil mendatangkan Joseph Cassano, pimpinan 
unit usaha AIG di London, yang dianggap sebagai orang yang paling 
bersalah dalam krisis global ini. Tapi, pekan lalu Kongres sudah 
memanggil atasan Cassano, yakni mantan CEO perusahaan asuransi 
terbesar di dunia itu, Michael Sullivan. 

Dari pemanggilan Sullivan itu tergambar bahwa AIG memang sudah 
sangat bergantung pada unit usahanya yang dia beri wewenang luas di 
London itu. Bahkan, penghasilan Cassano sendiri sudah lebih besar 
daripada gaji CEO di kantor pusatnya di New York. Begitu 
bergantungnya kantor pusat pada unit usaha yang di London itu sampai-
sampai, ketika pada akhirnya Sullivan harus memberhentikan Cassano 
dari jabatan kepala unit pada 29 Februari lalu (saat AIG terbukti 
menderita kerugian USD 11 miliar atau sama dengan Rp 130-an 
triliun), Cassano masih mendapat pesangon USD 34 juta atau sekitar 
Rp 370 miliar! Tidak hanya itu, Sullivan masih mengangkatnya sebagai 
konsultan perusahaan dengan gaji sebulan USD 1 juta atau sekitar Rp 
12 miliar! 

Bayangkan, orang yang paling bersalah sedunia, ketika dipecat pun 
masih punya gaji bulanan yang besarnya cukup untuk menggaji presiden 
Indonesia selama 12 tahun! Bandingkan dengan gaji presiden Indonesia 
yang hanya Rp 59 juta/bulan, atau gaji menteri kita yang hanya Rp 19 
juta sebulan (yang kalah dengan gaji pimpinan redaksi Jawa Pos 
sekalipun). 

Padahal, menjadi presiden Indonesia pusingnya bukan main. Bukan saja 
tidak bisa lagi korupsi, membela besan pun tidak bisa lagi. Mau 
menaikkan gaji para menteri Indonesia pun selalu khawatir dianggap 
tidak peka pada keadaan rakyat. Padahal, sejak menjadi presiden 
empat tahun lalu, SBY belum pernah menaikkan gaji menteri-
menterinya. Apalagi, kalau harus membeli pesawat khusus 
kepresidenan. Dia tidak akan mau melakukannya saat ini. Karena itu, 
perjalanan ke summit ini pun harus dilakukan dengan cara mampir-
mampir karena pesawatnya tidak mampu menempuh jarak jauh. Bahkan, 
untuk menghadiri pertemuan puncak APEC di Peru minggu depan, masih 
harus mampir-mampir ke Meksiko, transit di Lima, mampir ke Brazil, 
dan baru ke Peru. 

Tapi, mampir di Meksiko dan Brazil masih bisa dimanfaatkan untuk 
menggalang langkah kelanjutan dari hasil pertemuan puncak di 
Washington. Untuk benar-benar bisa merumuskan kesepakatan yang 
konkret, menurut Presiden SBY, masih diperlukan tiga-empat kali 
summit lagi. Presiden mengingatkan kenyataan untuk mencapai 
kesepakatan yang disebut Bretton Wood dulu, juga diperlukan waktu 
tiga tahun. Bahkan, untuk membentuk ASEAN, diperlukan summit selama 
17 tahun! Itulah sebabnya, Presiden SBY selalu menekankan perlunya 
usaha mati-matian di dalam negeri sendiri. 

Bayangkan, orang sedunia harus pontang-panting gara-gara penciptaan 
sistem CDS. Yang pontang-panting orang miskin dengan gaji kecil, 
yang bikin pontang-panting tetap menikmati kekayaannya yang 
berlimpah. 

Jangan dibayangkan gaji Cassano ketika masih menjabat kepala unit. 
Saat itu, selama enam tahun, gaji Cassano Rp 300 miliar/tahun. 
Dengan demikian, kalau gaji dan bonusnya selama menjabat kepala unit 
itu ditotal, sudah mencapai Rp 4 triliun dengan kurs kemarin. Gaji 
Cassano memang didasarkan pada kinerja usahanya yang luar biasa. 
Karena itu, dia terus menciptakan cara-cara baru secara agresif agar 
penghasilannya sendiri juga terus membesar.

Rasanya orang seperti Cassano tidak akan terjerat peraturan. Dalam 
kaitan dengan CDS, dia tidak melanggar peraturan apa pun. Credit 
default swaps (CDS) yang dia lakukan selama enam tahun itu, 
sebenarnya cara Cassano untuk meraih semua itu dengan sangat cerdik. 
Tanpa menyangka kalau akibatnya sampai menyusahkan orang seluruh 
dunia. Betapa hebatnya orang yang saat diangkat menjabat kepala unit 
usianya baru 45 tahun itu.

Transaksi CDS yang dilakukan di unit usaha pimpinan Cassano mencapai 
USD 562 miliar. Tiap tahun pertumbuhan omzet dan laba AIG terus naik 
drastis. Nama AIG menjadi amat hebatnya. CEO-nya yang di New York 
terus memuji kenaikan laba kantor pusat yang praktis disumbangkan 
oleh unit usahanya itu. Pendapatan AIG yang pada 1999 masih USD 737 
juta, lima tahun kemudian menjadi USD 3,6 miliar. Tingkat labanya 
akan membuat siapa saja mengaguminya: 85 persen dari revenue. Inilah 
perusahaan jasa dengan tingkat laba tertinggi di dunia. Praktis inti 
bisnis AIG sudah berada di unit usahanya yang di London ini. Yakni, 
unit usaha yang disebut "unit usaha produk-produk keuangan" di bawah 
pimpinan Cassano. Itulah sebabnya, mengapa gaji Cassano terus 
dilipatgandakan. AIG memang terkenal royal memberi bonus kepada 
jajaran pimpinannya. Bonus tahunannya bisa mencapai 30 persen dari 
laba. Padahal, yang disebut laba itu masih berupa laba di buku. Yang 
jadi laba beneran atau tidak baru diketahui di tahun-tahun 
berikutnya. Sedangkan bonus tahunan yang diberikan adalah uang cash, 
yang dikeluarkan saat itu juga.

Saya juga biasa memberi bonus kepada pimpinan anak perusahaan 
berdasar kinerja. Baik di Jawa Pos Group maupun di PWU Group 
(perusahaan daerah Jatim). Tapi, saya selalu melihat laba tidak 
seperti itu. Khusus untuk pemberian bonus, saya selalu mendasarkan 
pada laba yang dikaitkan dengan piutang ragu-ragu (meskipun 
sebenarnya bisa tertagih), umur piutang, kas/setara kas, dan 
beberapa syarat lain lagi. Itu pun masih belum cukup. Harus dilihat 
juga tingkat persediaan bahan baku maupun bahan jadi. Sebab, kadang-
kadang, pimpinan perusahaan yang dirangsang dengan bonus 
suka "memainkan" persediaan. 

Bisa jadi sebuah perusahaan labanya kelihatan besar, tapi ternyata 
karena persediaan bahan jadinya sangat besar. Padahal, belum tentu 
bahan jadi itu bisa terjual semua. Sikap seperti ini mungkin dinilai 
pelit. Tapi, pengendalian seperti itu bukan saja bisa mengerem 
kerakusan, melainkan juga membuat perusahaan berjalan dengan keadaan 
apa adanya.

Cassano sendiri yang mulai bekerja di AIG pada 1987 dan mulai 
menjabat pimpinan unit ini sejak 2003 sebenarnya tidak terlalu 
salah. Dia berani memberikan jaminan CDS karena melihat yang 
meminjam uang (yang dijamin) itu adalah lembaga-lembaga keuangan 
terbesar di dunia dengan rating tertinggi, AAA. Logikanya: apalah 
risiko memberi jaminan kepada orang kaya. Masak orang kaya tidak 
bisa bayar utang! Suatu kali, Cassano memang sangat bangga 
mengumumkan siapa saja klien-klien yang dia beri jaminan itu. Tapi, 
kalau mau jujur, Cassano pasti akan merasa bahwa langkahnya itu 
suatu saat akan meledak. Risikonya terlalu besar.

Risiko itu akhirnya tiba juga. Akhir 2007, bank-bank Eropa yang 
meminjamkan uang ke lembaga keuangan AS dengan jaminan CDS dari AIG, 
mulai menagih ke AIG karena "gajah-gajah" di AS itu ternyata mulai 
tidak sanggup bayar utang. Total tagihan penjaminan yang masuk pun 
tidak kepalang tanggung: USD 11 miliar atau sama dengan Rp 100 
triliun lebih. Tentu AIG tidak siap dengan tagihan mendadak sebegitu 
besar. Akibatnya, rating AIG turun. Kepercayaan runtuh. Kerugian 
mulai menganga. Akhir 2007 unit usaha di bawah Cassano itu saja rugi 
USD 25 miliar.

Cassano pun diberhentikan. Tapi, hebatnya dia masih mendapat 
pesangon Rp 300 miliar! Bahkan, tak lama kemudian AIG masih 
mengangkatnya menjadi konsultan dengan bayaran Rp 12 miliar sebulan! 
Begini-beginilah yang membuat rakyat Amerika marah. Lalu tidak 
percaya lagi pada lembaga keuangan. Padahal, begitu terjadi 
ketidakpercayaan, di situlah bermula sebuah kepanikan. Dan kepanikan 
itulah yang memperparah krisis.

Kepanikan itu mencapai puncaknya ketika Lehman Brothers, perusahaan 
keuangan terbesar di dunia menyatakan diri bangkrut pertengahan 
September lalu. Habislah harapan. Orang langsung berpikiran begini: 
Lehman Brothers saja bangkrut, pasti yang lain-lain akan bangkrut. 
Kita jadi ingat Indonesia 10 tahun lalu. Puncak kepanikan kita waktu 
itu adalah juga ketika 16 bank ditutup (atas permintaan IMF). Orang-
orang waktu itu langsung berpikiran begini: bank-bank yang mana lagi 
yang akan ditutup berikutnya. 

Karena itu, para pembuat daftar penyebab krisis ini, nama CEO Lehman 
Brothers Richard Fuld juga dimasukkan sebagai pendosa terbesar nomor 
2, di bawah Cassano. Sedangkan pendosa terbesar nomor 3 adalah 
Christopher Cox, chairman Komisi Securities and Exchange di Amerika 
yang seharusnya mengawasi semua kebobrokan itu. 

Dari berbagai media di dunia ini, daftar itu memang panjang. Pendosa 
terbesar nomor 10 adalah, ini dia: rakyat Amerika Serikat. Yakni, 
dosa karena keborosannya, kerakusannya, dan kesenangannya 
menggunakan kartu kredit!

Cox, pendosa nomor 3 itu, selama ini juga dikenal sebagai 
orang "sakti". Waktu muda kecelakaan hebat di Hawaii sampai punggung 
dan kakinya patah. Dia harus enam bulan berjalan dengan tongkat dan 
dengan banyak baja di tubuhnya. Dia punya meja khusus yang 
memungkinkannya bisa bekerja sambil berdiri -karena ada dua baja di 
punggungnya. 

Dia juga diserang kanker aneh, tapi sembuh total. Adiknya, ketika 
kecil, meninggal tragis saat mau ke gereja. Waktu itu si adik 
berdiri di belakang mobil yang akan disetiri ayahnya ke gereja. Si 
ayah mengundurkan mobil tanpa tahu anaknya di belakang mobil. 
Terlindas. 

Cox kini diserang habis-habisan. "Kalau saya presiden AS sekarang, 
sudah saya pecat dia," kata McCain saat kampanye dulu. Cox masih 
bisa menghindar. Cox melihat serangan McCain itu hanya bahan 
kampanye. "Cara terbaik menghindari serangan berbau politik seperti 
itu tidak ada jalan lain kecuali menunduk," katanya seperti 
disiarkan pers. Kini Cox juga didengar keterangannya oleh DPR AS. 
Kita ingin melihat apakah dia masih sakti kali ini. Setidaknya dia 
masih selamat karena justru McCainlah yang gagal jadi presiden.

Yang jelas masih sakti adalah Cassano. Sampai saat ini belum ada 
media yang berhasil mewawancarai dia. Dia tinggal di rumah tiga 
lantai dekat department store terkenal di Harolds, London, dengan 
kebunnya yang tenang. Hidup Cassano!


Kirim email ke