sama aja seperti PLN yang memberi bonus kepada management nya padahal
PLN masih dalam kondisi merugi :P

On 11/18/08, A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Perusahaan-perusahaan yang memperoleh dana publik
> seperti Bank, Asuransi, Sekuritas, dan Emiten harus
> diawasi pemerintah agar tidak merugikan masyarakat.
> Jangan sampai ratusan trilyun uang masyarakat beralih
> tangan jadi deviden pemegang saham utama, gaji dan
> bonus luar biasa besar untuk para eksekutifnya, atau
> kredit macet orang yang terafiliasi dengan perusahaan
> tersebut, kemudian jika terjadi masalah pemerintah
> harus mengeluarkan ratusan trilyun rupiah untuk
> menalanginya. Perlu aturan/regulasi untuk mencegah hal
> ini.
>
> Alan Greenspan ketika "diinterogasi" oleh Kongres
> AS akibat Krisis Keuangan yang ditimbulkan oleh
> kacaunya lembaga Perbankan AS mengaku bahwa selama ini
> dia menganggap para Bankir akan bertanggung-jawab
> dengan uang yang dikelolanya sehingga dilakukan
> berbagai deregulasi. Alan menganggap para Bankir
> seperti "Malaikat" yang tidak perlu dikontrol
> penuh sehingga akhirnya justru menimbulkan kerugian
> sementara mereka menikmati gaji dan bonus yang luar
> biasa besar (mencapai puluhan juta dollar/tahun).
>
> Di Indonesia juga ada Dirut Bank Swasta yang gajinya
> milyaran rupiah/tahun. Alasannya wajar dong gajinya
> sebesar itu karena dana yang dikelola besar dan
> perusahaannya juga besar.
>
> Padahal uang gaji dan bonus yang di luar kewajaran
> besarnya itu berasal dari uang nasabah. Bukan dari
> keuntungan Bank karena Bank itu akhirnya rugi dan
> harus dibantu pemerintah sampai puluhan trilyun
> rupiah.
>
> Menurut saya itu sudah merupakan perampokan uang
> rakyat secara halus.
>
> --- Lutfi Fadila <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>> INDOPOS/ 18-11-2008
>>
>> SAMPAI berlangsungnya pertemuan puncak 20 kepala
>> negara yang
>> menguasai 90 persen ekonomi dunia di Washington ini,
>> Kongres Amerika
>> Serikat masih belum berhasil mendatangkan Joseph
>> Cassano, pimpinan
>> unit usaha AIG di London, yang dianggap sebagai
>> orang yang paling
>> bersalah dalam krisis global ini. Tapi, pekan lalu
>> Kongres sudah
>> memanggil atasan Cassano, yakni mantan CEO
>> perusahaan asuransi
>> terbesar di dunia itu, Michael Sullivan.
>>
>> Dari pemanggilan Sullivan itu tergambar bahwa AIG
>> memang sudah
>> sangat bergantung pada unit usahanya yang dia beri
>> wewenang luas di
>> London itu. Bahkan, penghasilan Cassano sendiri
>> sudah lebih besar
>> daripada gaji CEO di kantor pusatnya di New York.
>> Begitu
>> bergantungnya kantor pusat pada unit usaha yang di
>> London itu sampai-
>> sampai, ketika pada akhirnya Sullivan harus
>> memberhentikan Cassano
>> dari jabatan kepala unit pada 29 Februari lalu (saat
>> AIG terbukti
>> menderita kerugian USD 11 miliar atau sama dengan Rp
>> 130-an
>> triliun), Cassano masih mendapat pesangon USD 34
>> juta atau sekitar
>> Rp 370 miliar! Tidak hanya itu, Sullivan masih
>> mengangkatnya sebagai
>> konsultan perusahaan dengan gaji sebulan USD 1 juta
>> atau sekitar Rp
>> 12 miliar!
>>
>> Bayangkan, orang yang paling bersalah sedunia,
>> ketika dipecat pun
>> masih punya gaji bulanan yang besarnya cukup untuk
>> menggaji presiden
>> Indonesia selama 12 tahun! Bandingkan dengan gaji
>> presiden Indonesia
>> yang hanya Rp 59 juta/bulan, atau gaji menteri kita
>> yang hanya Rp 19
>> juta sebulan (yang kalah dengan gaji pimpinan
>> redaksi Jawa Pos
>> sekalipun).
>>
>> Padahal, menjadi presiden Indonesia pusingnya bukan
>> main. Bukan saja
>> tidak bisa lagi korupsi, membela besan pun tidak
>> bisa lagi. Mau
>> menaikkan gaji para menteri Indonesia pun selalu
>> khawatir dianggap
>> tidak peka pada keadaan rakyat. Padahal, sejak
>> menjadi presiden
>> empat tahun lalu, SBY belum pernah menaikkan gaji
>> menteri-
>> menterinya. Apalagi, kalau harus membeli pesawat
>> khusus
>> kepresidenan. Dia tidak akan mau melakukannya saat
>> ini. Karena itu,
>> perjalanan ke summit ini pun harus dilakukan dengan
>> cara mampir-
>> mampir karena pesawatnya tidak mampu menempuh jarak
>> jauh. Bahkan,
>> untuk menghadiri pertemuan puncak APEC di Peru
>> minggu depan, masih
>> harus mampir-mampir ke Meksiko, transit di Lima,
>> mampir ke Brazil,
>> dan baru ke Peru.
>>
>> Tapi, mampir di Meksiko dan Brazil masih bisa
>> dimanfaatkan untuk
>> menggalang langkah kelanjutan dari hasil pertemuan
>> puncak di
>> Washington. Untuk benar-benar bisa merumuskan
>> kesepakatan yang
>> konkret, menurut Presiden SBY, masih diperlukan
>> tiga-empat kali
>> summit lagi. Presiden mengingatkan kenyataan untuk
>> mencapai
>> kesepakatan yang disebut Bretton Wood dulu, juga
>> diperlukan waktu
>> tiga tahun. Bahkan, untuk membentuk ASEAN,
>> diperlukan summit selama
>> 17 tahun! Itulah sebabnya, Presiden SBY selalu
>> menekankan perlunya
>> usaha mati-matian di dalam negeri sendiri.
>>
>> Bayangkan, orang sedunia harus pontang-panting
>> gara-gara penciptaan
>> sistem CDS. Yang pontang-panting orang miskin dengan
>> gaji kecil,
>> yang bikin pontang-panting tetap menikmati
>> kekayaannya yang
>> berlimpah.
>>
>> Jangan dibayangkan gaji Cassano ketika masih
>> menjabat kepala unit.
>> Saat itu, selama enam tahun, gaji Cassano Rp 300
>> miliar/tahun.
>> Dengan demikian, kalau gaji dan bonusnya selama
>> menjabat kepala unit
>> itu ditotal, sudah mencapai Rp 4 triliun dengan kurs
>> kemarin. Gaji
>> Cassano memang didasarkan pada kinerja usahanya yang
>> luar biasa.
>> Karena itu, dia terus menciptakan cara-cara baru
>> secara agresif agar
>> penghasilannya sendiri juga terus membesar.
>>
>> Rasanya orang seperti Cassano tidak akan terjerat
>> peraturan. Dalam
>> kaitan dengan CDS, dia tidak melanggar peraturan apa
>> pun. Credit
>> default swaps (CDS) yang dia lakukan selama enam
>> tahun itu,
>> sebenarnya cara Cassano untuk meraih semua itu
>> dengan sangat cerdik.
>> Tanpa menyangka kalau akibatnya sampai menyusahkan
>> orang seluruh
>> dunia. Betapa hebatnya orang yang saat diangkat
>> menjabat kepala unit
>> usianya baru 45 tahun itu.
>>
>> Transaksi CDS yang dilakukan di unit usaha pimpinan
>> Cassano mencapai
>> USD 562 miliar. Tiap tahun pertumbuhan omzet dan
>> laba AIG terus naik
>> drastis. Nama AIG menjadi amat hebatnya. CEO-nya
>> yang di New York
>> terus memuji kenaikan laba kantor pusat yang praktis
>> disumbangkan
>> oleh unit usahanya itu. Pendapatan AIG yang pada
>> 1999 masih USD 737
>> juta, lima tahun kemudian menjadi USD 3,6 miliar.
>> Tingkat labanya
>> akan membuat siapa saja mengaguminya: 85 persen dari
>> revenue. Inilah
>> perusahaan jasa dengan tingkat laba tertinggi di
>> dunia. Praktis inti
>> bisnis AIG sudah berada di unit usahanya yang di
>> London ini. Yakni,
>> unit usaha yang disebut "unit usaha produk-produk
>> keuangan" di bawah
>> pimpinan Cassano. Itulah sebabnya, mengapa gaji
>> Cassano terus
>> dilipatgandakan. AIG memang terkenal royal memberi
>> bonus kepada
>> jajaran pimpinannya. Bonus tahunannya bisa mencapai
>> 30 persen dari
>> laba. Padahal, yang disebut laba itu masih berupa
>> laba di buku. Yang
>> jadi laba beneran atau tidak baru diketahui di
>> tahun-tahun
>> berikutnya. Sedangkan bonus tahunan yang diberikan
>> adalah uang cash,
>> yang dikeluarkan saat itu juga.
>>
>> Saya juga biasa memberi bonus kepada pimpinan anak
>> perusahaan
>> berdasar kinerja. Baik di Jawa Pos Group maupun di
>> PWU Group
>> (perusahaan daerah Jatim). Tapi, saya selalu melihat
>> laba tidak
>> seperti itu. Khusus untuk pemberian bonus, saya
>> selalu mendasarkan
>> pada laba yang dikaitkan dengan piutang ragu-ragu
>> (meskipun
>> sebenarnya bisa tertagih), umur piutang, kas/setara
>> kas, dan
>> beberapa syarat lain lagi. Itu pun masih belum
>> cukup. Harus dilihat
>> juga tingkat persediaan bahan baku maupun bahan
>> jadi. Sebab, kadang-
>> kadang, pimpinan perusahaan yang dirangsang dengan
>> bonus
>> suka "memainkan" persediaan.
>>
>> Bisa jadi sebuah perusahaan labanya kelihatan besar,
>> tapi ternyata
>> karena persediaan bahan jadinya sangat besar.
>> Padahal, belum tentu
>> bahan jadi itu bisa terjual semua. Sikap seperti ini
>> mungkin dinilai
>> pelit. Tapi, pengendalian seperti itu bukan saja
>> bisa mengerem
>> kerakusan, melainkan juga membuat perusahaan
>> berjalan dengan keadaan
>> apa adanya.
>>
>> Cassano sendiri yang mulai bekerja di AIG pada 1987
>> dan mulai
>> menjabat pimpinan unit ini sejak 2003 sebenarnya
>> tidak terlalu
>> salah. Dia berani memberikan jaminan CDS karena
>> melihat yang
>> meminjam uang (yang dijamin) itu adalah
>> lembaga-lembaga keuangan
>> terbesar di dunia dengan rating tertinggi, AAA.
>> Logikanya: apalah
>> risiko memberi jaminan kepada orang kaya. Masak
>> orang kaya tidak
>> bisa bayar utang! Suatu kali, Cassano memang sangat
>> bangga
>> mengumumkan siapa saja klien-klien yang dia beri
>> jaminan itu. Tapi,
>> kalau mau jujur, Cassano pasti akan merasa bahwa
>> langkahnya itu
>> suatu saat akan meledak. Risikonya terlalu besar.
>>
>> Risiko itu akhirnya tiba juga. Akhir 2007, bank-bank
>> Eropa yang
>> meminjamkan uang ke lembaga keuangan AS dengan
>> jaminan CDS dari AIG,
>> mulai menagih ke AIG karena "gajah-gajah" di AS itu
>> ternyata mulai
>> tidak sanggup bayar utang. Total tagihan penjaminan
>> yang masuk pun
>> tidak kepalang tanggung: USD 11 miliar atau sama
>> dengan Rp 100
>> triliun lebih. Tentu AIG tidak siap dengan tagihan
>> mendadak sebegitu
>> besar. Akibatnya, rating AIG turun. Kepercayaan
>> runtuh. Kerugian
>> mulai menganga. Akhir 2007 unit usaha di bawah
>> Cassano itu saja rugi
>> USD 25 miliar.
>>
>> Cassano pun diberhentikan. Tapi, hebatnya dia masih
>> mendapat
>> pesangon Rp 300 miliar! Bahkan, tak lama kemudian
>> AIG masih
>> mengangkatnya menjadi konsultan dengan bayaran Rp 12
>> miliar sebulan!
>> Begini-beginilah yang membuat rakyat Amerika marah.
>> Lalu tidak
>> percaya lagi pada lembaga keuangan. Padahal, begitu
>> terjadi
>> ketidakpercayaan, di situlah bermula sebuah
>> kepanikan. Dan kepanikan
>> itulah yang memperparah krisis.
>>
>> Kepanikan itu mencapai puncaknya ketika Lehman
>> Brothers, perusahaan
>> keuangan terbesar di dunia menyatakan diri bangkrut
>> pertengahan
>> September lalu. Habislah harapan. Orang langsung
>> berpikiran begini:
>> Lehman Brothers saja bangkrut, pasti yang lain-lain
>> akan bangkrut.
>> Kita jadi ingat Indonesia 10 tahun lalu. Puncak
>> kepanikan kita waktu
>> itu adalah juga ketika 16 bank ditutup (atas
>> permintaan IMF). Orang-
>> orang waktu itu langsung berpikiran begini:
>> bank-bank yang mana lagi
>> yang akan ditutup berikutnya.
>>
>> Karena itu, para pembuat daftar penyebab krisis ini,
>> nama CEO Lehman
>> Brothers Richard Fuld juga dimasukkan sebagai
>> pendosa terbesar nomor
>> 2, di bawah Cassano. Sedangkan pendosa terbesar
>> nomor 3 adalah
>> Christopher Cox, chairman Komisi Securities and
>> Exchange di Amerika
>> yang seharusnya mengawasi semua kebobrokan itu.
>>
>> Dari berbagai media di dunia ini, daftar itu memang
>> panjang. Pendosa
>> terbesar nomor 10 adalah, ini dia: rakyat Amerika
>> Serikat. Yakni,
>> dosa karena keborosannya, kerakusannya, dan
>> kesenangannya
>> menggunakan kartu kredit!
>>
>> Cox, pendosa nomor 3 itu, selama ini juga dikenal
>> sebagai
>> orang "sakti". Waktu muda kecelakaan hebat di Hawaii
>> sampai punggung
>> dan kakinya patah. Dia harus enam bulan berjalan
>> dengan tongkat dan
>> dengan banyak baja di tubuhnya. Dia punya meja
>> khusus yang
>> memungkinkannya bisa bekerja sambil berdiri -karena
>> ada dua baja di
>> punggungnya.
>>
>> Dia juga diserang kanker aneh, tapi sembuh total.
>> Adiknya, ketika
>> kecil, meninggal tragis saat mau ke gereja. Waktu
>> itu si adik
>> berdiri di belakang mobil yang akan disetiri ayahnya
>> ke gereja. Si
>> ayah mengundurkan mobil tanpa tahu anaknya di
>> belakang mobil.
>> Terlindas.
>>
>> Cox kini diserang habis-habisan. "Kalau saya
>> presiden AS sekarang,
>> sudah saya pecat dia," kata McCain saat kampanye
>> dulu. Cox masih
>> bisa menghindar. Cox melihat serangan McCain itu
>> hanya bahan
>> kampanye. "Cara terbaik menghindari serangan berbau
>> politik seperti
>> itu tidak ada jalan lain kecuali menunduk," katanya
>> seperti
>> disiarkan pers. Kini Cox juga didengar keterangannya
>> oleh DPR AS.
>> Kita ingin melihat apakah dia masih sakti kali ini.
>> Setidaknya dia
>> masih selamat karena justru McCainlah yang gagal
>> jadi presiden.
>>
>> Yang jelas masih sakti adalah Cassano. Sampai saat
>> ini belum ada
>> media yang berhasil mewawancarai dia. Dia tinggal di
>> rumah tiga
>> lantai dekat department store terkenal di Harolds,
>> London, dengan
>> kebunnya yang tenang. Hidup Cassano!
>>
>>
>>
>
>
> ===
> Paket Umrah 2009 Mulai Rp 16,9 juta
> Informasi selengkapnya ada di:
> http://www.media-islam.or.id
>
> Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS
>
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
>
> Untuk berhenti: UNREG SI kirim ke 3252. hanya dari Telkomsel
> Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com
>
>
>
> ___________________________________________________________________________
> Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
> @rocketmail.
> Cepat sebelum diambil orang lain!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
>
>
> ------------------------------------
>
> ===========================
> SPONSOR Tahunan MES 2008 :
> 1. Pegadaian Syariah
> 2. Bank Muamalat Indonesia
> 3. Bank Syariah Mandiri
> 4. PT. JAMSOSTEK (Persero)
> 5. BNI Syariah
> 6. Batasa Capital
> 7. BTN Syariah
> 8. BAZNAS
> ====================================================
> TERIMA KASIH atas bantuan semua pihak sehingga terselenggaranya :
> Talkshow Ekonomi Syariah & The 1st MUNAS MES
>
> Dan selamat atas terpilihnya :
> Muliaman D. Hadad [deputi gub BI] sbg Ketua Umum
> M. Syakir Sula sbg Sekretaris Jenderal
> Iskandar Zulkarnaen [Presdir Internusa Hasta Buana] sbg Bendahara Umum
>
> Selamat bertemu kembali di MUNAS II MES, 2011 di BATAM.
> ------------------------------------
>
> PUSAT BUKU EKONOMI ISLAM - MASYARAKAT EKONOMI SYARIAH
>
> Perpustakaan Ekonomi Islam - http://buku.ekonomisyariah.net
> SENIN-JUM'AT
> 09.00 - 19.00 WIB
>
> Kantor BAZNAS
> Jl Kebon Sirih No. 57, Jakarta Pusat
> Info MUIS (021 924 724 53)Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke