Sebuah tulisan Adiwarman sebagai penyeimbang wacana
Ma'kud Alaih Keuangan Global Republika, Senin, 03 November 2008
Oleh: Adiwarman A Karim
Kadang,
kita bersorak ketika negara-negara Barat yang dianggap mewakili sistem
kapitalisme terperosok ke dalam jurang krisis. Kita pun bersorak ketika
Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur terperosok ke dalam jurang
kehancuran.
Kadang, kita terlalu bersemangat mengatakan, inilah tanda zaman the end of
capitalism atau the end of socialism. Tak kurang semangat, kita pun mengatakan,
inilah tanda-tanda bangkitnya ekonomi syariah. Krisis subprime mortgage,
yang skalanya berlipat ganda karena transaksi derivatif, diperkirakan
akan memukul kurs mata uang berbagai negara terhadap dolar AS melalui
merosotnya cadangan dolar AS di masing-masing negara tersebut. Posisi
AS sebagai negara importir modal terbesar, yang menguasai lima puluh
persen dari total modal yang diimpor, membuat volatilitas dolar AS
menjadi volatilitas berbagai mata uang lainnya.
Keadaan ini
kadang mendorong kita kehabisan kesabaran dan menawarkan mata uang
dinar yang terbuat dari emas sebagai pengganti dolar AS, rupiah, bahkan
mata uang apa pun yang tidak terbuat dari emas. Wacana kembalinya
sistem Bretton Wood, yang mengaitkan nilai uang dengan emas, menambah
semangat untuk kembali ke mata uang dinar.
Sering kali semangat
untuk menawarkan ide-ide ekonomi syariah berhenti pada tataran ide
besar, tanpa upaya yang cukup untuk menjabarkan mekanisme perinci.
Padahal, tantangan besarnya justru terdapat pada bagaimana
menerjemahkan nilai-nilai syariah dalam rangkaian mekanisme kerja
perinci yang lazim diungkapkan sebagai the devil is in details.
Tidak
ada keraguan sedikit pun akan kebenaran ekonomi syariah yang pernah
mendominasi dunia selama delapan ratus tahun pada abad pertengahan.
Namun, berbagai pemikiran dan pengalaman ekonomi syariah yang dimulai
sejak tahun tujuh puluhan belum dapat memenuhi kebutuhan perincian
mekanisme kerja tersebut. Dengan kesadaran objektif ini, ada dua sikap
yang perlu dikembangkan. Pertama, mulailah menerapkan ekonomi syariah
sekecil apa pun yang kita ketahui karena Allah berjanji, "Amalkan yang
apa kalian ketahui. Maka, akan Aku beri tahu apa yang kalian tidak
ketahui'. Kedua, belajarlah dari mana pun tentang mekanisme kerja
perinci sistem ekonomi karena Rasulullah SAW mengingatkan, 'Tuntutlah
ilmu sampai ke negeri Cina.'"
Penurunan cadangan devisa
Indonesia sebesar 4,1 miliar dolar AS sejak 7 Oktober memerlukan
langkah konkret pemecahan masalah. Malaysia yang sering dijadikan
rujukan keberhasilan ekonomi syariah malah mengalami penurunan devisa
12,9 miliar dolar AS sepanjang September. Nilai teoretis kurs dolar AS
terhadap rupiah dengan data neraca sistem moneter, necara pembayaran,
dan APBN tidak lebih dari 9.500 rupiah. Secara teoretis, perbandingan
Net Foreign Asset (NFA) dan Net Domestic Asset (NDA) dalam neraca
sistem moneter akan menentukan kurs teoretis rupiah terhadap dolar AS.
Melepas
cadangan devisa untuk intervensi pasar dengan menjual dolar AS dan
memborong rupiah akan menguatkan nilai rupiah namun juga akan
mengeringkan likuiditas pasar. Pilihan sulit memang. Bila dibiarkan,
banyak likuiditas yang berada di luar BI akan membuka peluang
digunakannya rupiah untuk spekulasi. Bila disedot likuiditas ke BI,
pasar akan kekurangan dorongan untuk menaikkan suku bunga antarbank.
Dalam
pandangan ekonomi syariah, ada tiga nilai utama untuk mengatasi hal
ini. Pertama, transaksi valas dibatasi hanya dalam bentuk spot. Kedua, hedging
mata uang dianjurkan, namun dibatasi hanya untuk memenuhi kebutuhan transaksi
riil, misalnya ekspor impor. Ketiga, instrumen hedging tidak dapat
diperdagangkan karena tidak ada ma'kud alaih (ada uang ada barang)-nya.
Ketiga nilai utama tersebut berasal dari prinsip dasar ma'kud alaih. Prinsip
ini mencegah perdagangan uang yang akan memicu spekulasi. Transaksi forward dan
swap dalam valas, apalagi transaksi futures,
akan membuat setiap pelakunya membuat prediksi kurs sehingga kurs tidak
lagi ditentukan pada nilai tukar objektifnya. Tidak adanya pembatasan hedging
untuk kebutuhan transaksi riil mendorong volume hedging jauh lebih besar dari
kebutuhan sebenarnya. Perdagangan instrumen hedging telah mengubah tujuan
awalnya untuk berlindung dari gejolak kurs menjadi tujuan mengambil keuntungan
dari gejolak kurs.
Melayani
permainan spekulan valas dengan melakukan intervensi pasar hanya akan
menambah semangat spekulan. Bila saja necara otoritas moneter masih
demikian dominannya terhadap neraca sistem moneter, intervensi pasar
memang efektif menjaga stabilitas rupiah. Namun, dalam era globalisasi
sekarang ini, kekuatan pasar jauh lebih besar sehingga efektivitasnya
jauh berkurang.
Bukan saatnya kita menyoraki atau mendoakan
kehancuran sistem kapitalisme karena Rasulullah SAW tidak mencontohkan
hal itu. Tugas kita menebarkan rahmat dan kasih sayang Allah di muka
bumi ini dengan menjalankan nilai-nilai ekonomi syariah. Cahaya
kebenaran akan memancar dan memberi inspirasi bagi dunia. Kapitalisme
yang asli telah lama mati, sosialisme yang asli juga telah mati.
Kemampuan kapitalisme dan sosialisme belajar, termasuk dari Islam, lalu
mengubah wajahnya berulang kali membuat mereka tetap hidup. Juga, kali
ini.
Betapa sedihnya dunia ketika Bani Abbasiyah di Baghdad
dihancurkan oleh pasukan Mongol. Bukan saja mayat-mayat ditumpuk dan
dijadikan menara, bahkan khazanah keilmuan Islam habis dibakar sampai
sungai pun berubah hitam karena tinta buku-buku. Bencana kemanusiaan
yang dahsyat, terlebih lagi bencana peradaban yang membuat dunia
keilmuan mundur ratusan tahun. Namun, Allah Yang Mahakuasa telah
menyiapkan rencana besar. Conquer was conquered by the land,
sang penaluk ditaklukkan oleh tanah yang ditaklukkan. Tidak lebih dari
sepuluh tahun, pasukan Mongol yang gagah berani terperangah oleh
indahnya cahaya Islam dan menjadi penerus generasi kejayaan Islam.
Biarlah
kapitalisme dan sosialisme belajar dari keindahan ekonomi syariah,
terinspirasi darinya, dan mengubah wajahnya menjadi sistem ekonomi yang
lebih mendekati nilai-nilai syariah.
--- On Tue, 18/11/08, ali sakti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ali sakti <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-syariah] Pasca G-20 Summit: Krisis Semakin Memburuk
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, 18 November, 2008, 8:56 AM
Pasca G-20 Summit: Krisis Semakin Memburuk
Eurozone dengan beberapa negara di dalamnya seperti Belanda, Jerman dan Spanyol
telah secara resmi masuk dalam situasi resesi, dimana kondisi resesi antara
pertumbuhan stagnan (0%) seperti yang terjadi di Spanyol hingga penurunan
kinerja ekonomi seperti yang dialami Jerman (-0,5%). Amerika Serikat lebih dulu
dipastikan akan mengalami kondisi yang sama. Di Asia, Singapura menjadi negara
yang cukup menonjol mengalami resesi. Dan yang terbaru adalah raksasa ekonomi
Jepang secara resmi juga masuk dalam kelompok ekonomi resesi.
Berita paling akhir (17 November 2008) juga menyebutkan, Citigroup yang kini
sebagai bank terbesar kedua di Amerika setelah Bank of America, mengumumkan
akan memangkas staff-nya sebanyak 53.000 orang, industri otomotif Amerika sudah
menjerit kesulitan likuiditas untuk produksi, situasi ini semakin menghantui
angka pengangguran Amerika yang telah mencapai 7,7% saat ini (survey Fedres
Bank of Philadelphia) .
Kondisi ini menjadi fakta yang kontradiktif (jika tak mau dikatakan lucu),
karena baru saja sehari pertemuan G-20 selesai dengan kesepakatan yang begitu
ketat, ternyata banyak anggotanya "menjerit" setelah itu. Lihat saja
kesepakatan yang disebut-sebut sebagai the bretton woods II, ternyata tidak
meningkatkan kepercayaan diri pasar, bahkan membuat pasar dow jones kembali
terjun 200-an basis poin.
Kita sekarang seperti sedang terjun bebas tanpa parasut, yang bisa kita lakukan
cuma mengira-ngira seperti apa posisi jatuh yang paling "enak"; tengkurap,
berdiri, duduk atau apa. Atau mungkin sedikit berdoa, kalau-kalau landasan
mendarat kita terbuat dari matras yang paling empuk. tapi tetap saja pertanyaan
kita saat terjun ini adalah, dimana dasar-nya dan kapan kita sampai di dasar?
Saya jadi ingat kalimat berbau syair-nya Emha Ainun Najib: kalo pohon sakit itu
ada tiga kemungkinan penyikapannya; pertama, obati pohon itu jika masih
memungkinkan untuk sembuh. Kedua, jika tidak bisa cabut saja pohon itu ganti
dengan pohon baru, tapi mencabut pohon lama pasti menyakitkan. Ketiga, jika
menyakitkan mencabut pohon, ya biarkan saja pohon itu mati dan membusuk, toh
dari kebusukan pohon itu pasti akan ada organisme pohon baru yang tumbuh.
Nah, kita mau apakan krisis ekonomi ini, kita obati? Sudah beberapa bulan ini
obatnya tidak membuat kondisi semakin baik; bailout, penjaminan, suku bunga
sampai dengan komitmen, semuanya mentah! Bagaimana kalau kita cabut sistem yang
ada, revolusi! Pasti banyak kapitalis yang pasang badan dan siap "perang". So,
kita tunggu aja kebusukannya, kehancurannya, kemusnahannya. ..
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/