*Tuesday, November 18, 2008*

Saatnya Membeli Kambing...?

<http://i244.photobucket.com/albums/gg5/geraidinar/kambing.png>Tiga pekan
lagi kita akan merayakan Idul Adha sekaligus kesempatan untuk menambah
pahala dengan menyembelih hewan Qurban.

Sudah lama saya tidak mengurusi harga kambing, terakhir ngurusi ketika
menjadi ketua DKM di Masjid komplek dan ikut memantau harga-harga kambing
yang ditawarkan supplier. Saat itu (2002-2003) harga kambing masih dikisaran
Rp 500 ribu-an.

Hari-hari ini pedagang kambing mulai ramai menjajakan kambingnya di
pinggir-pinggir jalan; saya perhatikan kambing-kambing yang sedang harganya
sudah diatas Rp 1 juta-an.

Kok cepat amat ya naiknya ?. Inilah realita daya beli uang kita.

Harga kambing-kambing tersebut sesungguhnya tidak berubah selama 1400 tahun
lebih. Di zaman Rasulullah SAW harga kambing pada kisaran 1 Dinar; maka satu
Dinar sekarang (Rp 1,215,000 pada saat artikel ini saya tulis) tetap dapat
untuk membeli kambing dengan ukuran sedang.

Tidak demikian halnya dengan uang kertas baik itu Rupiah, US$ maupun uang
kertas dari negeri manapun – belum ada yang terbukti *survive *dalam jangka
panjang.

Apabila trend kenaikan harga kambing (sama dengan kenaikan harga Dinar)
tetap seperti rata-rata trend 40 tahun terakhir yaitu naik 23.30 %/tahun;
maka kambing Qurban yang sekarang harganya Rp 1.2 juta; 5 tahun lagi akan
menjadi Rp 3.4 juta dan 40 tahun lagi akan menjadi Rp 5.22 Milyar ! Wow
nggak masuk akal kah ?.

Lagi-lagi inilah realita uang kita. Gunakan rumus finansial dasar
FV=PV*(1+i)^t maka Anda akan ketemu angka-angka tersebut.

Tetap tidak masuk akal membeli seekor kambing seharga Rp 5.22 Milyar ?;
Waktu saya berusia 5 tahun tahun harga kambing cuma Rp 1,600 perak. Saat itu
(kalau toh saya sudah bisa berpikir) tentu nggak kebayang kalau 40 tahun
kemudian harga kambing menjadi Rp 1.2 juta !, tetapi ini sekarang terjadi.

Sebelum harga kambing menjadi Rp 5.22 milyar; sangat banyak yang bisa
terjadi terhadap uang fiat kita. Oleh karenanya pemahaman dampak inflasi
terhadap daya beli uang kita dalam rentang waktu yang panjang ini perlu kita
kuasai agar kita tidak menjadi korban inflasi.

Bapak-bapak kita, kakak-kakak kita yang lebih dahulu memasuki usia pensiun
banyak sekali yang sekarang menderita secara finansial – karena mereka
menjadi korban inflasi yang tidak pernah mereka sadari – apalagi lagi
meng-antisipasi-nya.

Coba perhatikan grafik diatas contohnya. Kalau Anda memiliki saudara tua
yang mulai bekerja tahun 60-an; kemudian pensiun tahun 90-an; apa yang
terjadi sekarang ?.

Uang pensiun yang dikumpulkan dari jerih payah mereka selama 30-an tahun
bekerja; nilainya menjadi sangat tidak berarti karena harga kambingpun sudah
naik 720 kali dibandingkan dengan harga kambing pada saat mereka mulai
bekerja.

Lantas apakah kita harus rame-rame memindahkan dana pensiun kita pada
kambing ? *Why not ? *.

Tetapi kambing hanyalah representasi asset riil yang memiliki nilai terjaga;
selain ke kambing tentu bisa ke asset riil lainnya berupa Dinar Emas,
perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan berjibun pilihan investasi
benda riil lainnya. Produktif dan insyaallah tidak tergerus inflasi. Wallahu
A'lam.

posted by M. Iqbal at 5:15
PM<http://geraidinar.com/2008/11/saatnya-membeli-kambing.php>

Sumber : www.geraidinar.com

Kirim email ke