Assalamu'alaikum Mas Ali,

Saya tertarik nih untuk mereply tulisan Mas, nanti saya copy paste kan juga
deh di blognya.
Bagi saya bagi hasil itu memang indah Mas, tetapi indah nya di atas
kertas,ketika masuk ke tataran praktek di lapangan rasanya ngga seindah itu,
apalagi dengan pasar yang masih banyak yang floating mass dan masih head to
head dengan bank konvensional.

Kita semua sadar kalo perbankan syariah di Indonesia juga bertemu bank-bank
konvensional di pasar. Apa pun yang dilakukan perbankan konvensional di
pasar pasti akan berdampak ke bank-bank syariah baik secara langsung maupun
tidak.
Ketika krisis finansial global mulai berdampak di Indonesia plus BI rate
yang juga memang sudah nangkring di angka yang cukup tinggi sampai di Q4
2008, maka liquiditas menjadi sangat ketat di pasar.
Ketika bank konvensional berlomba2x berburu dana dari market, senjata
utamanya adalah interest rate yang tinggi. Di sinilah bank syariah itu
terkena efeknya.Dana2x yang ada di bank syariah 'kabur' ke konvensional,
tergiur bunga tingginya. Dana yang mana? Tentu saja dana yang dimiliki oleh
deposan yang 'non syariah loyalist alias floating mass' . Dan mostly
korporasi, kalo menurut survey KBC beberapa tahun yang lalu segmen ini
hampir 3/4 dari market. Dan lebih pusingnya lagi, dana mereka besar-besar.
Kondisi ini dilengkapi oleh kebijakan pemerintah untuk mem buy back saham
BUMN, makin hilang tuh deposit BUMN mereka dari market

Kebijakan paling mudah untuk mempertahankan nasabah ini ya bank syariah akan
memberikan nisbah spesial...men top up nisbah dasar produk, Tapi ini pun
maksimum cuma sampai 100, kalo kita berandai2x gross rata2x pendapatan
pembiayaan bank syariah cuma 10% dan ngasi nisbah 100 pun deposan cuma dapat
10% pak...Di pasar mungkin banyak bank konvensional yang jualan 13%, tetap
aja bagi  hasil bank syariah ngga kompetitif.

Akibatnya ke bank syariah?? FDR nya langsung meroket....pilihannya dua..stop
booking pembiayaan dengan konsekuensi return akan tergerus terus dan bagi
hasil deposit tetap kecil, atau tetap booking pembiayaan dengan harapan
return meningkat (sesuai pasar) dan bagi hasil dapat ditingkatkan sesuai
pasar. Jadi harus diterima bahwa bank syariah tetap saja akan menderita
selama kondisi makro seperti ini.  Idealnya bank syariah itu mempunyai
struktur dana lebih banyak di tabungan dan giro, karena produk ini
elastisitasnya terhadap return lebih kecil. Tapi menjualnya butuh effort
yang besar terutama buat bank2x syariah yang masih muda.

Mengenai rush.....mau bank syariah atau tidak kalo di rush mah tetap aja
kolaps . Kepercayaan masyarakat lah yang harus dijaga dan menurut saya
konsep negative spread bukan jadi parameter dari nasabah untuk nge rush atau
tidak.

Sekian dulu, mohon maaf jika ada yang salah...soalnya masih belajar

Wassalam

Ade



On Wed, Dec 10, 2008 at 1:04 PM, ali.hozi <[email protected]> wrote:

>   Oleh : Alihozi
> Http://alihozi77.blogspot.com
>
> Kesulitan likuiditas di industri perbankan sekarang ini belum mereda,
> mungkin sampai pada tahun 2009 nanti kondisinya masih akan seperti
> itu. Tak sedikit bank yang masih terus mencari duit untuk
> mempertahankan dan memperbesar posisi dana pihak ketiganya dengan
> berbagai cara, dari memberikan hadiah, berbagai fasilitas dan juga
> tentunya menaikkan tingkat suku bunga simpanan. Ada kemungkinan banyak
> bank yang berani menawarkan bunga melebihi batas bunga penjaminan dari
> Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang sekarang ini cuma 10% untuk
> nasabah yang jumlah uangnya besar. Hal ini disebabkan karena derasnya
> kucuran kredit industri perbankan dan kucuran kredit ini tidak
> diimbangi dengan pasokan dana masyarakat yang masuk ke industri
> perbankan.
>
> Perang suku bunga terjadi di kalangan perbankan nasional, kondisi ini
> tentu tidak mengenakkan buat perbankan, karena harus mengeluarkan
> biaya yang besar untuk mempertahankan atau menarik dana nasabah yang
> akhirnya perbankan nasional menaikkan tingkat suku bunga untuk
> pinjaman (kredit). Naiknya tingkat suku bunga kredit tsb tentu saja
> bisa memberatkan sector riil atau anggota masyarakat dalam usahanya
> membayar kewajibannya ke sector perbankan, yang juga ditambah dengan
> daya beli masyarakat saat ini yang sedang mengalami penurunan.
>
> Bagusnya sekarang kondisi perbankan nasional sekarang lebih kuat
> menghadapi krisis financial global daripada saat terjadinya krisis
> ekonomi tahun 1997-1998 ini bisa dilihat dari tingkat kepercayaan
> masyarakat saat ini yang masih tinggi kepada perbankan nasional.
> Tetapi kalangan perbankan nasional harus tetap waspada karena
> dikhawatirkan tingkat suku bunga yang tinggi akan menaikkan tingkat
> kredit macet (NPL) karena sector riil atau anggota masyarakat bisa
> sewaktu –waktu gagal (macet) membayar kewajibannya kepada perbankan.
>
> Contoh tingginya tingkat fluktuatif (volatilitas) sistem bunga yang
> diterapkan perbankan konvensional tsb karena salah satu penyebabnya
> adalah system bunga merupakan subsistem dari system ekonomi kapitalis
> yang tidak berazaskan keadilan tetapi berazaskan materialisme yang
> mana sangat memanjakan para deposan (pemilik dana). Para deposan
> dibuat untuk tidak ikut menanggung resiko dari usaha bank konvensional
> yang sewaktu-waktu bisa mengalami kerugian (kegagalan), mereka dibuat
> tidur nyenyak dengan janji-janji pasti mendapatkan bunga dari uang
> (dana) yang disimpan di bank konvensional.
>
> Padahal di dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui apa
> yang akan terjadi dengan pasti pada hari esok, hanya Allah,SWT yang
> mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita
> bisa melihat contohnya dengan terjadinya krisis financial global saat
> ini yaitu maksud dari bank-bank Eropa membeli surat utang lembaga
> keuangan AS yang beresiko tinggi (Credit Default Swaps) untuk
> mendapatkan bunga tinggi yang nantinya akan dibayarkan kepada nasabah
> deposannya. Bukannya bunga tinggi yang didapat justru dana yang
> ditanamkan di lembaga-lembaga keuangan AS tsb tidak bisa kembali.
>
> Kalau saya analogikan system bunga seperti meminum syrup yang sangat
> manis, orang yang meminumnya terus menerus ketagihan manisnya sampai
> akhirnya secara tiba-tiba bisa mendatangkan berbagai penyakit kepada
> orang tsb seperti sakit gigi dan sakit diabetes yang parah.. Setelah
> terkena berbagai penyakit tsb, kesadarannya sudah datang terlambat,
> kondisi penyakitnya telah ikut merepotkan anggota keluarganya yang lain.
>
> Mengapa saya analogikan seperti itu, karena system bunga menjadikan
> para deposan tidak perduli apabila bank tempat ia menyimpan tidak
> sanggup membayar tingkat suku bunga yang telah dijanjikan, seperti
> pada krisis perbankan tahun 1997-1998 yang mana bank konvensional
> banyak yang mengalami kondisi negative spread sehingga menimbulkan
> kepanikan di kalangan para deposan (krisis kepercayaan) yang berujung
> pada rush.
>
> Kondisi tsb berbeda dengan bank syariah yang memakai system ekonomi
> syariah dengan subsistem bagi hasilnya, walaupun seperti meminum jamu
> yang rasanya pahit tetapi untuk jangka panjang sangat menyehatkan
> tubuh. Bagaimana tidak pahit rasanya di saat kalangan bank
> konvensional memberikan suku bunga s/d 70%, tingkat bagi hasil yang
> diberikan oleh bank syariah pada saat itu hanya sekitar 8%. Tetapi
> pada akhirnya nasabah bank syariah tidak mengalami kepanikan seperti
> yang dialami nasabah bank konvensional karena bank syariah tidak
> mengalami kondisi negative spread dan juga karena keyakinan nasabah
> bank syariah akan bahaya system bunga yang ribawi.
>
> Alangkah indahnya hidup ini andaikan seluruh perbankan nasional kita
> memakai system ekonomi syariah dengan subsistem bagi hasilnya bukan
> hanya sebagi alternative tetapi juga sebagai solusi dari krisis
> financial global. Sayangnya kapan hidup saat ini menjadi indah bagi
> semua orang dengan system ekonomi syariah, karena sebagian besar
> anggota masyarakat kita secara sadar atau tidak sudah terjebak kepada
> system ekonomi kapitalis dengan segala subsistemnya seperti uang
> kertas (fiat money), cadangan giro wajib minimum (fractional reserve
> requirement) dan system bunga (interest).
>
> Andaikan ingin keluar dari system ekonomi kapitalis tsb misalnya dari
> subsystem bunganya saja, amatlah sukar dan payah sekali, ini bisa
> dilihat dari banyaknya anggota masyarakat yang hanya menjadi penonton
> dan pengkritik produk-produk dan kinerja bank syariah akan tetapi pada
> dataran implementatifnya masih memakai system bunga yang ribawi bukan
> sebagai pelaku ekonomi syariah seperti menjadi nasabah bank syariah.
>
> Wallahu'alam
> Al-Faqir
>
> (c)Alihozi 01 Desember 2008
> Komentar dan saran atas tulisan artikel ini bisa disampaikan ke
> http://alihozi77.blogspot.com atau sms ke 0813-882-364-05.
>
>  
>



-- 
Ade Fauzan

Kirim email ke