Salam kepada semua rekan - rekan milis MES, 

Terimakasih Mas Ade Fauzan atas komentarnya, memang saya akui bahwa
yang paling menghambat pertumbuhan bank syariah saat ini adalah pola
pikir sebagian besar masyarakat kita yang masih terjebak pada system
kapitalisme dengan azas materialismenya, yakni kalau menaruh dana di
perbankan (baik konvensional maupun bank syariah) selalu yang dilihat
adalah tingkat bunga yang tinggi atau tingkat bagi hasil yang tinggi.

Padahal perbankan konvensional tidaklah selalu setiap saat bisa
memberikan tingkat suku bunga yang tinggi mereka juga tergantung
dengan kemampuan sektor riil membayar tingkat suku bunga pinjaman,
padahal sektor riil pun karena banyaknya  faktor yang bisa
mempengaruhinya  sehingga ada suatu saat sektor riil menemui titik
jenuh dalam kemampuan membayar tingkat suku bunga kepada perbankan
konvensional, contohnya seperti bencana alam, kebakaran (force
majeur),  daya beli masyarakat yang turun dan lain sebagainya. Adalah
tidak adil pada saat sektor riil tidak sanggup lagi membayar suku
bunga kredit karena force majuer misalnya, masyarakat yang menaruh
dananya di bank masih menuntut suku bunga yang tinggi kepada bank
konvensional. 

Kita bisa lihat contohnya pada krisis keuangan th 1997-1998 ,dan
krisis keuangan th 2008 yang melanda eropa saat ini salah satu faktor
penyebabnya adalah karena adanya keharusan membayar tingkat suku bunga
ke deposan maka mereka (bank-bank eropa) berani membeli surat utang
yang beresiko tinggi (credit default swaps) kepada lembaga-lembaga
keuangan AS.

Tulisan saya kali ini yang berjudul "Alangkah Indahnya Hidup Dengan
System Bagi Hasil " bukan bermaksud mengatakan bahwa dengan system
bagi hasil bank syariah pasti tidak di rush, saya pun setuju dengan
pendapat mas bahwa bank syariah harus menjaga kepercayaan masyarakat
agar tidak dirush. Oleh karena itu saya pun sebelum ini telah menulis
beberapa artikel di blog : http://alihozi77.blogspot.com yang mencoba
mengkritisi bank syariah dengan harapan bank syariah bisa menjaga
kepercayaan masyarakat kepada perbankan syariah di tanah air tercinta
ini yaitu "
1."Menjaga Ikatan Emosional Nasabah Bank Syariah"
2."Menjalankan Islam secara Kaffah di Bank Syariah"
3."Pentingnya Pengawasan Bank Sentral terhadap Perbankan Syariah"
4."Mencegah Kapitalisme di Bank Syariah"

Maksud tulisan saya "Alangkah Indahnya Hidup dengan System Bagi Hasil"
adalah saya berusaha untuk menyadarkan sebagian besar masyarakat kita
yang sudah ratusan tahun terjebak pada sistem kapitalisme dengan
sistem bunganya untuk tidak selalu menaruh dana di bank itu karena
tingkat suku bunga yang tinggi, masyarakat harus sadar bahwa di dalam
hidup ini tidaklah suatu usaha baik di sektor keuangan maupun sektor
riil itu selalu menguntungkan pasti ada saatnya merugi. Pada saat
usaha merugi itulah masyarakat harus disadarkan untuk ikut menerima
bagian resiko kerugian minimal sekali adalah tidak menerima hasil dari
dana yang ditanamkan di perbankan nasional (mereka hanya menerima
pokok dananya saja).

Disinilah letak keadilan yang diajarkan oleh Agama Islam mengapa
melarang riba (system bunga) dengan keras dan membolehkan yang namanys
system bagi hasil. 

Demikian Mas, mudah-mudahan bisa dimengerti
Wallahu'alam

Salam 
Al-Faqir

Alihozi http://Alihozi77.blogspot.com

--- In [email protected], "Ade Fauzan" <ade.fau...@...>
wrote:
>
> Assalamu'alaikum Mas Ali,
> 
> Saya tertarik nih untuk mereply tulisan Mas, nanti saya copy paste
kan juga
> deh di blognya.
> Bagi saya bagi hasil itu memang indah Mas, tetapi indah nya di atas
> kertas,ketika masuk ke tataran praktek di lapangan rasanya ngga
seindah itu,
> apalagi dengan pasar yang masih banyak yang floating mass dan masih
head to
> head dengan bank konvensional.
> 
> Kita semua sadar kalo perbankan syariah di Indonesia juga bertemu
bank-bank
> konvensional di pasar. Apa pun yang dilakukan perbankan konvensional di
> pasar pasti akan berdampak ke bank-bank syariah baik secara langsung
maupun
> tidak.
> Ketika krisis finansial global mulai berdampak di Indonesia plus BI rate
> yang juga memang sudah nangkring di angka yang cukup tinggi sampai di Q4
> 2008, maka liquiditas menjadi sangat ketat di pasar.
> Ketika bank konvensional berlomba2x berburu dana dari market, senjata
> utamanya adalah interest rate yang tinggi. Di sinilah bank syariah itu
> terkena efeknya.Dana2x yang ada di bank syariah 'kabur' ke konvensional,
> tergiur bunga tingginya. Dana yang mana? Tentu saja dana yang
dimiliki oleh
> deposan yang 'non syariah loyalist alias floating mass' . Dan mostly
> korporasi, kalo menurut survey KBC beberapa tahun yang lalu segmen ini
> hampir 3/4 dari market. Dan lebih pusingnya lagi, dana mereka
besar-besar.
> Kondisi ini dilengkapi oleh kebijakan pemerintah untuk mem buy back
saham
> BUMN, makin hilang tuh deposit BUMN mereka dari market
> 
> Kebijakan paling mudah untuk mempertahankan nasabah ini ya bank
syariah akan
> memberikan nisbah spesial...men top up nisbah dasar produk, Tapi ini pun
> maksimum cuma sampai 100, kalo kita berandai2x gross rata2x pendapatan
> pembiayaan bank syariah cuma 10% dan ngasi nisbah 100 pun deposan
cuma dapat
> 10% pak...Di pasar mungkin banyak bank konvensional yang jualan 13%,
tetap
> aja bagi  hasil bank syariah ngga kompetitif.
> 
> Akibatnya ke bank syariah?? FDR nya langsung meroket....pilihannya
dua..stop
> booking pembiayaan dengan konsekuensi return akan tergerus terus dan
bagi
> hasil deposit tetap kecil, atau tetap booking pembiayaan dengan harapan
> return meningkat (sesuai pasar) dan bagi hasil dapat ditingkatkan sesuai
> pasar. Jadi harus diterima bahwa bank syariah tetap saja akan menderita
> selama kondisi makro seperti ini.  Idealnya bank syariah itu mempunyai
> struktur dana lebih banyak di tabungan dan giro, karena produk ini
> elastisitasnya terhadap return lebih kecil. Tapi menjualnya butuh effort
> yang besar terutama buat bank2x syariah yang masih muda.
> 
> Mengenai rush.....mau bank syariah atau tidak kalo di rush mah tetap aja
> kolaps . Kepercayaan masyarakat lah yang harus dijaga dan menurut saya
> konsep negative spread bukan jadi parameter dari nasabah untuk nge
rush atau
> tidak.
> 
> Sekian dulu, mohon maaf jika ada yang salah...soalnya masih belajar
> 
> Wassalam
> 
> Ade
> 
> 
> 
> On Wed, Dec 10, 2008 at 1:04 PM, ali.hozi <ali.h...@...> wrote:
> 
> >   Oleh : Alihozi
> > Http://alihozi77.blogspot.com
> >
> > Kesulitan likuiditas di industri perbankan sekarang ini belum mereda,
> > mungkin sampai pada tahun 2009 nanti kondisinya masih akan seperti
> > itu. Tak sedikit bank yang masih terus mencari duit untuk
> > mempertahankan dan memperbesar posisi dana pihak ketiganya dengan
> > berbagai cara, dari memberikan hadiah, berbagai fasilitas dan juga
> > tentunya menaikkan tingkat suku bunga simpanan. Ada kemungkinan banyak
> > bank yang berani menawarkan bunga melebihi batas bunga penjaminan dari
> > Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang sekarang ini cuma 10% untuk
> > nasabah yang jumlah uangnya besar. Hal ini disebabkan karena derasnya
> > kucuran kredit industri perbankan dan kucuran kredit ini tidak
> > diimbangi dengan pasokan dana masyarakat yang masuk ke industri
> > perbankan.
> >
> > Perang suku bunga terjadi di kalangan perbankan nasional, kondisi ini
> > tentu tidak mengenakkan buat perbankan, karena harus mengeluarkan
> > biaya yang besar untuk mempertahankan atau menarik dana nasabah yang
> > akhirnya perbankan nasional menaikkan tingkat suku bunga untuk
> > pinjaman (kredit). Naiknya tingkat suku bunga kredit tsb tentu saja
> > bisa memberatkan sector riil atau anggota masyarakat dalam usahanya
> > membayar kewajibannya ke sector perbankan, yang juga ditambah dengan
> > daya beli masyarakat saat ini yang sedang mengalami penurunan.
> >
> > Bagusnya sekarang kondisi perbankan nasional sekarang lebih kuat
> > menghadapi krisis financial global daripada saat terjadinya krisis
> > ekonomi tahun 1997-1998 ini bisa dilihat dari tingkat kepercayaan
> > masyarakat saat ini yang masih tinggi kepada perbankan nasional.
> > Tetapi kalangan perbankan nasional harus tetap waspada karena
> > dikhawatirkan tingkat suku bunga yang tinggi akan menaikkan tingkat
> > kredit macet (NPL) karena sector riil atau anggota masyarakat bisa
> > sewaktu –waktu gagal (macet) membayar kewajibannya kepada perbankan.
> >
> > Contoh tingginya tingkat fluktuatif (volatilitas) sistem bunga yang
> > diterapkan perbankan konvensional tsb karena salah satu penyebabnya
> > adalah system bunga merupakan subsistem dari system ekonomi kapitalis
> > yang tidak berazaskan keadilan tetapi berazaskan materialisme yang
> > mana sangat memanjakan para deposan (pemilik dana). Para deposan
> > dibuat untuk tidak ikut menanggung resiko dari usaha bank konvensional
> > yang sewaktu-waktu bisa mengalami kerugian (kegagalan), mereka dibuat
> > tidur nyenyak dengan janji-janji pasti mendapatkan bunga dari uang
> > (dana) yang disimpan di bank konvensional.
> >
> > Padahal di dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui apa
> > yang akan terjadi dengan pasti pada hari esok, hanya Allah,SWT yang
> > mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita
> > bisa melihat contohnya dengan terjadinya krisis financial global saat
> > ini yaitu maksud dari bank-bank Eropa membeli surat utang lembaga
> > keuangan AS yang beresiko tinggi (Credit Default Swaps) untuk
> > mendapatkan bunga tinggi yang nantinya akan dibayarkan kepada nasabah
> > deposannya. Bukannya bunga tinggi yang didapat justru dana yang
> > ditanamkan di lembaga-lembaga keuangan AS tsb tidak bisa kembali.
> >
> > Kalau saya analogikan system bunga seperti meminum syrup yang sangat
> > manis, orang yang meminumnya terus menerus ketagihan manisnya sampai
> > akhirnya secara tiba-tiba bisa mendatangkan berbagai penyakit kepada
> > orang tsb seperti sakit gigi dan sakit diabetes yang parah.. Setelah
> > terkena berbagai penyakit tsb, kesadarannya sudah datang terlambat,
> > kondisi penyakitnya telah ikut merepotkan anggota keluarganya yang
lain.
> >
> > Mengapa saya analogikan seperti itu, karena system bunga menjadikan
> > para deposan tidak perduli apabila bank tempat ia menyimpan tidak
> > sanggup membayar tingkat suku bunga yang telah dijanjikan, seperti
> > pada krisis perbankan tahun 1997-1998 yang mana bank konvensional
> > banyak yang mengalami kondisi negative spread sehingga menimbulkan
> > kepanikan di kalangan para deposan (krisis kepercayaan) yang berujung
> > pada rush.
> >
> > Kondisi tsb berbeda dengan bank syariah yang memakai system ekonomi
> > syariah dengan subsistem bagi hasilnya, walaupun seperti meminum jamu
> > yang rasanya pahit tetapi untuk jangka panjang sangat menyehatkan
> > tubuh. Bagaimana tidak pahit rasanya di saat kalangan bank
> > konvensional memberikan suku bunga s/d 70%, tingkat bagi hasil yang
> > diberikan oleh bank syariah pada saat itu hanya sekitar 8%. Tetapi
> > pada akhirnya nasabah bank syariah tidak mengalami kepanikan seperti
> > yang dialami nasabah bank konvensional karena bank syariah tidak
> > mengalami kondisi negative spread dan juga karena keyakinan nasabah
> > bank syariah akan bahaya system bunga yang ribawi.
> >
> > Alangkah indahnya hidup ini andaikan seluruh perbankan nasional kita
> > memakai system ekonomi syariah dengan subsistem bagi hasilnya bukan
> > hanya sebagi alternative tetapi juga sebagai solusi dari krisis
> > financial global. Sayangnya kapan hidup saat ini menjadi indah bagi
> > semua orang dengan system ekonomi syariah, karena sebagian besar
> > anggota masyarakat kita secara sadar atau tidak sudah terjebak kepada
> > system ekonomi kapitalis dengan segala subsistemnya seperti uang
> > kertas (fiat money), cadangan giro wajib minimum (fractional reserve
> > requirement) dan system bunga (interest).
> >
> > Andaikan ingin keluar dari system ekonomi kapitalis tsb misalnya dari
> > subsystem bunganya saja, amatlah sukar dan payah sekali, ini bisa
> > dilihat dari banyaknya anggota masyarakat yang hanya menjadi penonton
> > dan pengkritik produk-produk dan kinerja bank syariah akan tetapi pada
> > dataran implementatifnya masih memakai system bunga yang ribawi bukan
> > sebagai pelaku ekonomi syariah seperti menjadi nasabah bank syariah.
> >
> > Wallahu'alam
> > Al-Faqir
> >
> > (c)Alihozi 01 Desember 2008
> > Komentar dan saran atas tulisan artikel ini bisa disampaikan ke
> > http://alihozi77.blogspot.com atau sms ke 0813-882-364-05.
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> Ade Fauzan
>


Kirim email ke