Salam Pak Ali, Indah sih tulisan pak Ali... hehehe... masalahnya pertanyaan kami dulu soal biaya administrasi 1% untuk pembiayaan, belum anda jawab. Mohon fatwa yang melandasinya. Tolong ya...
Salam, Agung pendukung eksyar dan lks 2008/12/13 ali.hozi <[email protected]> > Salam kepada semua rekan - rekan milis MES, > > Terimakasih Mas Ade Fauzan atas komentarnya, memang saya akui bahwa > yang paling menghambat pertumbuhan bank syariah saat ini adalah pola > pikir sebagian besar masyarakat kita yang masih terjebak pada system > kapitalisme dengan azas materialismenya, yakni kalau menaruh dana di > perbankan (baik konvensional maupun bank syariah) selalu yang dilihat > adalah tingkat bunga yang tinggi atau tingkat bagi hasil yang tinggi. > > Padahal perbankan konvensional tidaklah selalu setiap saat bisa > memberikan tingkat suku bunga yang tinggi mereka juga tergantung > dengan kemampuan sektor riil membayar tingkat suku bunga pinjaman, > padahal sektor riil pun karena banyaknya faktor yang bisa > mempengaruhinya sehingga ada suatu saat sektor riil menemui titik > jenuh dalam kemampuan membayar tingkat suku bunga kepada perbankan > konvensional, contohnya seperti bencana alam, kebakaran (force > majeur), daya beli masyarakat yang turun dan lain sebagainya. Adalah > tidak adil pada saat sektor riil tidak sanggup lagi membayar suku > bunga kredit karena force majuer misalnya, masyarakat yang menaruh > dananya di bank masih menuntut suku bunga yang tinggi kepada bank > konvensional. > > Kita bisa lihat contohnya pada krisis keuangan th 1997-1998 ,dan > krisis keuangan th 2008 yang melanda eropa saat ini salah satu faktor > penyebabnya adalah karena adanya keharusan membayar tingkat suku bunga > ke deposan maka mereka (bank-bank eropa) berani membeli surat utang > yang beresiko tinggi (credit default swaps) kepada lembaga-lembaga > keuangan AS. > > Tulisan saya kali ini yang berjudul "Alangkah Indahnya Hidup Dengan > System Bagi Hasil " bukan bermaksud mengatakan bahwa dengan system > bagi hasil bank syariah pasti tidak di rush, saya pun setuju dengan > pendapat mas bahwa bank syariah harus menjaga kepercayaan masyarakat > agar tidak dirush. Oleh karena itu saya pun sebelum ini telah menulis > beberapa artikel di blog : http://alihozi77.blogspot.com yang mencoba > mengkritisi bank syariah dengan harapan bank syariah bisa menjaga > kepercayaan masyarakat kepada perbankan syariah di tanah air tercinta > ini yaitu " > 1."Menjaga Ikatan Emosional Nasabah Bank Syariah" > 2."Menjalankan Islam secara Kaffah di Bank Syariah" > 3."Pentingnya Pengawasan Bank Sentral terhadap Perbankan Syariah" > 4."Mencegah Kapitalisme di Bank Syariah" > > Maksud tulisan saya "Alangkah Indahnya Hidup dengan System Bagi Hasil" > adalah saya berusaha untuk menyadarkan sebagian besar masyarakat kita > yang sudah ratusan tahun terjebak pada sistem kapitalisme dengan > sistem bunganya untuk tidak selalu menaruh dana di bank itu karena > tingkat suku bunga yang tinggi, masyarakat harus sadar bahwa di dalam > hidup ini tidaklah suatu usaha baik di sektor keuangan maupun sektor > riil itu selalu menguntungkan pasti ada saatnya merugi. Pada saat > usaha merugi itulah masyarakat harus disadarkan untuk ikut menerima > bagian resiko kerugian minimal sekali adalah tidak menerima hasil dari > dana yang ditanamkan di perbankan nasional (mereka hanya menerima > pokok dananya saja). > > Disinilah letak keadilan yang diajarkan oleh Agama Islam mengapa > melarang riba (system bunga) dengan keras dan membolehkan yang namanys > system bagi hasil. > > Demikian Mas, mudah-mudahan bisa dimengerti > Wallahu'alam > > Salam > Al-Faqir > > Alihozi http://Alihozi77.blogspot.com > > --- In [email protected] <ekonomi-syariah%40yahoogroups.com>, > "Ade Fauzan" <ade.fau...@...> > wrote: > > > > > Assalamu'alaikum Mas Ali, > > > > Saya tertarik nih untuk mereply tulisan Mas, nanti saya copy paste > kan juga > > deh di blognya. > > Bagi saya bagi hasil itu memang indah Mas, tetapi indah nya di atas > > kertas,ketika masuk ke tataran praktek di lapangan rasanya ngga > seindah itu, > > apalagi dengan pasar yang masih banyak yang floating mass dan masih > head to > > head dengan bank konvensional. > > > > Kita semua sadar kalo perbankan syariah di Indonesia juga bertemu > bank-bank > > konvensional di pasar. Apa pun yang dilakukan perbankan konvensional di > > pasar pasti akan berdampak ke bank-bank syariah baik secara langsung > maupun > > tidak. > > Ketika krisis finansial global mulai berdampak di Indonesia plus BI rate > > yang juga memang sudah nangkring di angka yang cukup tinggi sampai di Q4 > > 2008, maka liquiditas menjadi sangat ketat di pasar. > > Ketika bank konvensional berlomba2x berburu dana dari market, senjata > > utamanya adalah interest rate yang tinggi. Di sinilah bank syariah itu > > terkena efeknya.Dana2x yang ada di bank syariah 'kabur' ke konvensional, > > tergiur bunga tingginya. Dana yang mana? Tentu saja dana yang > dimiliki oleh > > deposan yang 'non syariah loyalist alias floating mass' . Dan mostly > > korporasi, kalo menurut survey KBC beberapa tahun yang lalu segmen ini > > hampir 3/4 dari market. Dan lebih pusingnya lagi, dana mereka > besar-besar. > > Kondisi ini dilengkapi oleh kebijakan pemerintah untuk mem buy back > saham > > BUMN, makin hilang tuh deposit BUMN mereka dari market > > > > Kebijakan paling mudah untuk mempertahankan nasabah ini ya bank > syariah akan > > memberikan nisbah spesial...men top up nisbah dasar produk, Tapi ini pun > > maksimum cuma sampai 100, kalo kita berandai2x gross rata2x pendapatan > > pembiayaan bank syariah cuma 10% dan ngasi nisbah 100 pun deposan > cuma dapat > > 10% pak...Di pasar mungkin banyak bank konvensional yang jualan 13%, > tetap > > aja bagi hasil bank syariah ngga kompetitif. > > > > Akibatnya ke bank syariah?? FDR nya langsung meroket....pilihannya > dua..stop > > booking pembiayaan dengan konsekuensi return akan tergerus terus dan > bagi > > hasil deposit tetap kecil, atau tetap booking pembiayaan dengan harapan > > return meningkat (sesuai pasar) dan bagi hasil dapat ditingkatkan sesuai > > pasar. Jadi harus diterima bahwa bank syariah tetap saja akan menderita > > selama kondisi makro seperti ini. Idealnya bank syariah itu mempunyai > > struktur dana lebih banyak di tabungan dan giro, karena produk ini > > elastisitasnya terhadap return lebih kecil. Tapi menjualnya butuh effort > > yang besar terutama buat bank2x syariah yang masih muda. > > > > Mengenai rush.....mau bank syariah atau tidak kalo di rush mah tetap aja > > kolaps . Kepercayaan masyarakat lah yang harus dijaga dan menurut saya > > konsep negative spread bukan jadi parameter dari nasabah untuk nge > rush atau > > tidak. > > > > Sekian dulu, mohon maaf jika ada yang salah...soalnya masih belajar > > > > Wassalam > > > > Ade > > > > > > > > On Wed, Dec 10, 2008 at 1:04 PM, ali.hozi <ali.h...@...> wrote: > > > > > Oleh : Alihozi > > > Http://alihozi77.blogspot.com > > > > > > Kesulitan likuiditas di industri perbankan sekarang ini belum mereda, > > > mungkin sampai pada tahun 2009 nanti kondisinya masih akan seperti > > > itu. Tak sedikit bank yang masih terus mencari duit untuk > > > mempertahankan dan memperbesar posisi dana pihak ketiganya dengan > > > berbagai cara, dari memberikan hadiah, berbagai fasilitas dan juga > > > tentunya menaikkan tingkat suku bunga simpanan. Ada kemungkinan banyak > > > bank yang berani menawarkan bunga melebihi batas bunga penjaminan dari > > > Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang sekarang ini cuma 10% untuk > > > nasabah yang jumlah uangnya besar. Hal ini disebabkan karena derasnya > > > kucuran kredit industri perbankan dan kucuran kredit ini tidak > > > diimbangi dengan pasokan dana masyarakat yang masuk ke industri > > > perbankan. > > > > > > Perang suku bunga terjadi di kalangan perbankan nasional, kondisi ini > > > tentu tidak mengenakkan buat perbankan, karena harus mengeluarkan > > > biaya yang besar untuk mempertahankan atau menarik dana nasabah yang > > > akhirnya perbankan nasional menaikkan tingkat suku bunga untuk > > > pinjaman (kredit). Naiknya tingkat suku bunga kredit tsb tentu saja > > > bisa memberatkan sector riil atau anggota masyarakat dalam usahanya > > > membayar kewajibannya ke sector perbankan, yang juga ditambah dengan > > > daya beli masyarakat saat ini yang sedang mengalami penurunan. > > > > > > Bagusnya sekarang kondisi perbankan nasional sekarang lebih kuat > > > menghadapi krisis financial global daripada saat terjadinya krisis > > > ekonomi tahun 1997-1998 ini bisa dilihat dari tingkat kepercayaan > > > masyarakat saat ini yang masih tinggi kepada perbankan nasional. > > > Tetapi kalangan perbankan nasional harus tetap waspada karena > > > dikhawatirkan tingkat suku bunga yang tinggi akan menaikkan tingkat > > > kredit macet (NPL) karena sector riil atau anggota masyarakat bisa > > > sewaktu –waktu gagal (macet) membayar kewajibannya kepada perbankan. > > > > > > Contoh tingginya tingkat fluktuatif (volatilitas) sistem bunga yang > > > diterapkan perbankan konvensional tsb karena salah satu penyebabnya > > > adalah system bunga merupakan subsistem dari system ekonomi kapitalis > > > yang tidak berazaskan keadilan tetapi berazaskan materialisme yang > > > mana sangat memanjakan para deposan (pemilik dana). Para deposan > > > dibuat untuk tidak ikut menanggung resiko dari usaha bank konvensional > > > yang sewaktu-waktu bisa mengalami kerugian (kegagalan), mereka dibuat > > > tidur nyenyak dengan janji-janji pasti mendapatkan bunga dari uang > > > (dana) yang disimpan di bank konvensional. > > > > > > Padahal di dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui apa > > > yang akan terjadi dengan pasti pada hari esok, hanya Allah,SWT yang > > > mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita > > > bisa melihat contohnya dengan terjadinya krisis financial global saat > > > ini yaitu maksud dari bank-bank Eropa membeli surat utang lembaga > > > keuangan AS yang beresiko tinggi (Credit Default Swaps) untuk > > > mendapatkan bunga tinggi yang nantinya akan dibayarkan kepada nasabah > > > deposannya. Bukannya bunga tinggi yang didapat justru dana yang > > > ditanamkan di lembaga-lembaga keuangan AS tsb tidak bisa kembali. > > > > > > Kalau saya analogikan system bunga seperti meminum syrup yang sangat > > > manis, orang yang meminumnya terus menerus ketagihan manisnya sampai > > > akhirnya secara tiba-tiba bisa mendatangkan berbagai penyakit kepada > > > orang tsb seperti sakit gigi dan sakit diabetes yang parah.. Setelah > > > terkena berbagai penyakit tsb, kesadarannya sudah datang terlambat, > > > kondisi penyakitnya telah ikut merepotkan anggota keluarganya yang > lain. > > > > > > Mengapa saya analogikan seperti itu, karena system bunga menjadikan > > > para deposan tidak perduli apabila bank tempat ia menyimpan tidak > > > sanggup membayar tingkat suku bunga yang telah dijanjikan, seperti > > > pada krisis perbankan tahun 1997-1998 yang mana bank konvensional > > > banyak yang mengalami kondisi negative spread sehingga menimbulkan > > > kepanikan di kalangan para deposan (krisis kepercayaan) yang berujung > > > pada rush. > > > > > > Kondisi tsb berbeda dengan bank syariah yang memakai system ekonomi > > > syariah dengan subsistem bagi hasilnya, walaupun seperti meminum jamu > > > yang rasanya pahit tetapi untuk jangka panjang sangat menyehatkan > > > tubuh. Bagaimana tidak pahit rasanya di saat kalangan bank > > > konvensional memberikan suku bunga s/d 70%, tingkat bagi hasil yang > > > diberikan oleh bank syariah pada saat itu hanya sekitar 8%. Tetapi > > > pada akhirnya nasabah bank syariah tidak mengalami kepanikan seperti > > > yang dialami nasabah bank konvensional karena bank syariah tidak > > > mengalami kondisi negative spread dan juga karena keyakinan nasabah > > > bank syariah akan bahaya system bunga yang ribawi. > > > > > > Alangkah indahnya hidup ini andaikan seluruh perbankan nasional kita > > > memakai system ekonomi syariah dengan subsistem bagi hasilnya bukan > > > hanya sebagi alternative tetapi juga sebagai solusi dari krisis > > > financial global. Sayangnya kapan hidup saat ini menjadi indah bagi > > > semua orang dengan system ekonomi syariah, karena sebagian besar > > > anggota masyarakat kita secara sadar atau tidak sudah terjebak kepada > > > system ekonomi kapitalis dengan segala subsistemnya seperti uang > > > kertas (fiat money), cadangan giro wajib minimum (fractional reserve > > > requirement) dan system bunga (interest). > > > > > > Andaikan ingin keluar dari system ekonomi kapitalis tsb misalnya dari > > > subsystem bunganya saja, amatlah sukar dan payah sekali, ini bisa > > > dilihat dari banyaknya anggota masyarakat yang hanya menjadi penonton > > > dan pengkritik produk-produk dan kinerja bank syariah akan tetapi pada > > > dataran implementatifnya masih memakai system bunga yang ribawi bukan > > > sebagai pelaku ekonomi syariah seperti menjadi nasabah bank syariah. > > > > > > Wallahu'alam > > > Al-Faqir > > > > > > (c)Alihozi 01 Desember 2008 > > > Komentar dan saran atas tulisan artikel ini bisa disampaikan ke > > > http://alihozi77.blogspot.com atau sms ke 0813-882-364-05. > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > > Ade Fauzan > > > > >
