Assalaamualaikum wr wb

Mohon maaf bila kurang berkenan...sekedar analisa sederhana...

http://www.republika.co.id/koran/24/21884.html 

Wassalaam
ISB

Republika 22 Desember 2008
Pro Ekonomi Syariah Pro Rakyat                  
                 
                

                                        Irfan Syauqi Beik
Dosen FEM IPB, Kandidat Doktor IIUM dan Ketua PPI Malaysia

Krisis
berkepanjangan yang menimpa sejumlah negara besar masih meninggalkan
sejumlah persoalan yang sangat serius bagi bangsa Indonesia. Dalam
bahasa ekonom FEM IPB, Iman Sugema, ada tiga kiamat (trio doom) yang menimpa 
perekonomian dunia akibat krisis finansial yang bermula dari AS, yang boleh 
jadi menjadi penyebab turning pointatau titik balik perekonomian nasional pada 
2009. 

Kiamat pertama adalah property doom atau kiamat properti, yang ditandai dengan 
jatuhnya harga properti di AS. Kemudian, financial doom
atau kiamat finansial, yang ditandai dengan menurunnya indeks bursa
dunia pascakrisis dan belum menunjukkan tanda akan pulih sepenuhnya
dalam waktu dekat. Beberapa bursa mengalami penurunan indeks lebih dari
30 persen, seperti Cina (62,9%), Jepang (38,3%), dan Jerman (35,6%).
Kiamat yang ketiga adalah commodity doom, di mana harga
sejumlah komoditas mengalami penurunan, seperti turunnya harga CPO dan
kopi robusta sejak Juli 2008, masing-masing sebesar 61,9 persen dan 15
persen.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya dry up
pada likuiditas global, di mana banyak perusahaan keuangan besar dunia
menarik likuiditasnya demi mengatasi kerugian yang terjadi. Tidak hanya
itu, perusahaan-perusahaan di sektor riil pun terganggu. 

Hal
tersebut ditandai dengan semakin melemahnya permintaan di sejumlah
pasar tujuan ekspor, seperti Uni Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.
Memang jika dianalisis, kinerja perdagangan bilateral Indonesia dan AS
tidak terlalu memengaruhi kinerja ekspor nasional. Ini karena total
ekspor kita ke AS hanya 9-10 persen dalam dua tahun terakhir, di mana
angka ini kurang dari tiga persen PDB kita.

Namun, melemahnya
perekonomian AS membawa efek berantai pada sejumlah negara mitra dagang
Indonesia. Dengan lemahnya permintaan di negara-negara tersebut,
tidaklah mengherankan jika persentase tren ekspor Indonesia turun,
bahkan drop 11,6 persen per Oktober 2008. 

Diperkirakan
memasuki semester pertama 2009 akan terjadi gelombang PHK
besar-besaran, sebagaimana yang diprediksi Aviliani, akibat berakhirnya
kontrak ekspor sejumlah perusahaan Indonesia. Jika ini terjadi, angka
pengangguran diperkirakan akan naik. Sudah pasti keadaan ini akan
mengundang demonstrasi buruh dalam skala yang lebih besar. Dipastikan
kondisi sosial ekonomi bangsa ini akan semakin berat.

Sejumlah tantangan
Tantangan
lain yang juga berat adalah masih rendahnya daya saing produk bangsa
kita. Akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, akan terjadi
persaingan memperebutkan pasar ekspor. Sebagai negara yang besar, tentu
Indonesia berpotensi menjadi pasar potensial sejumlah produk impor. 

Diperkirakan
Cina akan tetap merajai produk impor ke Tanah Air. Selama beberapa
tahun terakhir ini dominasi Cina belum mampu dipatahkan. Ini menjadi
tantangan mengingat penguatan pasar domestik menjadi salah satu solusi
dalam menghadapi krisis global, di mana produk lokal yang mampu menjadi
substitusi barang impor sangat dibutuhkan. 

Hal lain yang juga
perlu mendapat perhatian adalah peningkatan daya saing UKM. Indeks skor
UKM kita terkecil bila dibandingkan dengan sejumlah negara anggota
APEC. Padahal,share UKM terhadap PDB Indonesia lebih dari 50
persen. Tanpa perbaikan daya saing ini, UKM kita akan menghadapi
sejumlah kesulitan dalam memasarkan produknya.

Meski demikian,
kondisi berat tersebut bukan berarti akhir dari segalanya. Masih banyak
jalan yang bisa ditempuh oleh bangsa ini untuk keluar dari situasi
krisis global. Banyak potensi bangsa yang masih dapat dioptimalkan.
Misalnya, tingginya tingkat saving yang mencapai 34 persen
dari rasio PDB. Ini menunjukkan dana-dana tersebut dapat dimanfaatkan
sebagai modal peningkatan investasi produktif.

Kemudian, Indonesia dapat pula memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada 
sebagai  underlying assetuntuk
menarik investasi Timur Tengah berbasis sukuk. Meski ada permasalahan
likuiditas global, kondisi Timteng relatif lebih baik. 

Tidaklah
mengherankan beberapa waktu lalu PM Inggris Gordon Brown sempat
melakukan 'safari' ke Timteng, meminta mereka secara aktif berinvestasi
di Inggris dan terlibat dalam upaya mengurangi tekanan resesi global.
Meski demikian, ada tiga kendala utama yang harus diperhatikan,
mengingat ketiga hal ini sering menjadi bahan pertimbangan investor
untuk menanamkan modalnya di Indonesia. 

Pertama, instabilitas
makro yang diindikasikan dengan tingginya laju inflasi dalam tiga tahun
terakhir. Kedua, problematika infrastruktur yang ditandai dengan
keterbatasan sejumlah sarana dan prasarana, seperti jalan, jalur kereta
api, dan pasokan listrik. Ketiga, persoalan korupsi yang sangat akut. 

Survei
Transparency International menunjukkan posisi Indonesia berada di
urutan 134 dari 163 negara yang disurvei. Khusus mengenai korupsi ini,
penulis berharap peran KPK dapat lebih dioptimalkan dan upaya pelemahan
fungsi KPK yang saat ini tampak harus segera diakhiri.

Kebijakan proekonomi syariah
Ada
beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan
kondisi perekonomian. Pertama, memperkuat industri keuangan syariah
secara umum yang lebih prosektor riil. Penguatan ini antara lain bisa
dilakukan dengan meningkatkan volume aset perbankan syariah, antara
lain melalui pendirian BUS baru (seperti Bank Bukopin Syariah),
memperbesar volume UUS, serta menempatkan dana pemerintah di perbankan
syariah. Kemudian, memperkuat posisi lembaga keuangan mikro syariah dan
BPRS dengan konsolidasi dan pembentukan jaringan LKMS dan BPRS di
tingkat nasional.

Selanjutnya, penguatan pasar modal syariah.
Ada kecenderungan pada jangka panjang peran pasar modal akan semakin
dominan. Namun, pelajaran yang dapat diambil dari krisis ini adalah
ketika transaksi di lantai bursa dilakukan dengan tanpa adanya
kejelasan underlying asset, yang terjadi adalah penggelembungan-penggelembungan 
nilai aset yang pada akhirnya justru merugikan. Bubble economy yang sangat 
rentan ini harus diatasi dengan penguatan pasar keuangan syariah.

Kedua,
sukuk dapat dijadikan sebagai alat investasi untuk pembangunan sarana
infrastruktur. Kita menyambut baik penerbitan perdana sukuk negara
beberapa waktu lalu. Namun, jika dana sukuk digunakan untuk menutup
defisit APBN pada pos-pos yang kurang produktif, dampaknya terhadap
perekonomian kurang terasa. 

Seharusnya pemerintah menerbitkan
sukuk yang digunakan untuk membangun pelabuhan, bandara, jalan raya,
pembangkit listrik, dan sarana infrastruktur lainnya. Ini akan
menciptakan multiplier effect yang sangat baik bagi perekonomian.

Ketiga,
optimalisasi potensi zakat dan wakaf. Zakat harus dijadikan instrumen
perlindungan hak-hak ekonomi kaum dhuafa, sekaligus sebagai alat
mempertahankan daya beli kelompok miskin. Beban kemiskinan pun dapat
dikurangi dengan memanfaatkan dana zakat melalui program-program
karitatif, seperti layanan kesehatan gratis dan beasiswa pendidikan. 

Peningkatan
produktivitas kelompok miskin dapat difasilitasi melalui program
pendayagunaan zakat produktif, seperti pembiayaan dan pendampingan
usaha kecil dan mikro. Secara makro, proses people to people transfer diyakini 
akan banyak membantu meningkatkan kondisi perekonomian. 

Selama ini kebijakan yang dilaksanakan berbasis pada konsep government to 
people transfer,
yang dananya bersumber dari pajak dan utang luar negeri. Yang menjadi
masalah, ketika utang luar negeri digunakan untuk pos bantuan sosial,
beban APBN yang notabene beban rakyat, akan bertambah. Karena itu,
zakat merupakan jalan keluar terbaik sehingga beban defisit APBN akan
dapat dikurangi secara signifikan.

Wakaf, baik wakaf barang maupun uang, dapat dimanfaatkan sebagai engine of 
growth.
Selama hampir empat abad sejarah mencatat wakaf uang mampu menjadi
mesin pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu pada zaman Khilafah Turki Usmani
yang menguasai sepertiga dunia. Penulis yakin insya Allah dengan
menerapkan kebijakan ekonomi syariah secara serius, kepentingan ekonomi
rakyat akan terangkat.

Irfan Syauqi Beik       Dept of Economics, Bogor Agricultural University, 
Indonesia   (www.ipb.ac.id)     PhD candidate in Islamic Economics,  Kulliyyah 
of Economics and Management Sciences,  International Islamic University Malaysia
 (www.enm.iiu.edu.my)  Mob. No. +6016 9784826




      


      

Kirim email ke