Afwan, di Jogja sendiri saya gak melihat aktifitas MES berjalan. Saya
gak tau apa kendalanya. Mungkin justru karena tokoh-tokoh besar yang
ada disana. Semoga di 2009 akan semakin keliatan aktifitasnya, minimal
program khutbah keliling masjid mensosialisasikan ekonomi syariah bisa
berjalan saja sudah bagus.He3x..

Salam,
Edo Segara
http://edosegara.blogspot.com 

--- In [email protected], ali sakti <a_sa...@...> wrote:
>
> Masyarakat Ekonomi Syariah 
> Teringat saya dengan komentar seorang kawan yang melihat pengurus
MES begitu banyak. Apa tidak membuat organisasi sulit untuk efisien?
Atau organisasi hanya sekedar mengakomodasi sebanyak mungkin
kepentingan termasuk tokoh-tokohnya? Kalau begitu bagaimana organisasi
ini mampu mencapai tujuan dan menjalankan fungsinya, kalau untuk
koordinasi saja sulitnya mempertemukan mereka semua?
> 
> Akhir-akhir ini saya pun banyak merenung tentang hal ini. Saya
mengenal organisasi ini awal tahun 2000 lalu melalui milis. Karena
memang milislah yang menjadi jantung sekaligus nafas organisasi ini.
Banyak sudah yang didapatkan oleh anggotanya, terutama forum-forum
diskusi virtual yang melibatkan banyak anggota. Saya sendiri tidak
tahu persis berapa anggota MES, angkanya kalau tidak salah telah
mencapai ratusan.
> 
> Terus mencermati dan juga bersemangat memberikan kontribusi, saya
berfikir, mungkin ada perspektif lain dalam memandang MES ini. Saya
kini lebih tertarik melihat MES bukan sebagai organisasi konvensional
(lazimnya lembaga nirlaba), tetapi sebagai komunitas tertentu yang
bertujuan mengaplikasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah dalam
aktifitas sehari-hari. Melihat MES sebagai sebuah komunitas tentu
berbeda dengan menyikapi MES sebagai organisasi.
> 
> Berlandaskan perspektif ini (MES sebagai Komunitas), maka sudah
selayaknya anggota MES semakin banyak dan membesar. Tetapi membesar
untuk apa? Pertanyaan ini sangat krusial jawabannya karena ia akan
membedakan proses interaksi dan aktifitasnya dengan perspektif
sebelumnya (MES sebagai organisasi). Secara sederhana komunitas
ekonomi syariah membesar maka sepatutnya aplikasi ekonomi syariah
semakin memasyarakat.
> 
> Artinya aplikasi ekonomi syariah bukan hanya untuk disosialisasikan
pada masyarakat diluar MES tetapi sepatutnya dipastikan terlebih
dahulu secara detil aplikasi ekonomi syariah diaplikasikan secara
konsisten oleh anggota komunitas MES. Dengan begitu, MES pertama kali
harus menjadi wadah eksperimen atau pilot project dari
aplikasi-aplikasi ekonomi syariah.
> 
> Misalnya. di dalam komunitas MES sebaiknya secara mapan mekanisme
zakat telah teraplikasikan, jejaring aplikasi sosial, ta'awun hingga
takaful (bukan bermakna asuransi) antara anggota telah terwujud. MES
jangan terkesan hanya kumpulan anggota yang relatif tergolong muzakki
tapi tidak jelas apakah mereka menunaikan kewajiban membayar zakatnya.
MES sepatutnya komunitas lengkap dimana mekanisme tolong menolong
(ta'awun) dan saling menanggung (takaful) terwujud. Maknanya komunitas
MES tidak eksklusif berisi para eksekutif muda dan akademisi tetapi
juga masyarakat marginal yang juga semangat beraktifitas sesuai dengan
syariah.
> 
> Pada aspek konsumsi, komunitas ini mampu menjaga prilaku konsumsinya
pada barang-barang yang halal, sehingga informasi barang dan jasa yang
halal haruslah terus ter-update dalam komunitas ini. Bahkan dalam
kondisi krisis seperti sekarang ini komunitas MES mampu menggerakkan
kampanye penggunaan barang lokal/domestik dengan nilai tambah berupa
pertimbangan kehalalan.
> 
> Aspek konsumsi bahkan dapat dilengkapi dengan interaksi syariah di
sisi produksi, dimana anggota komunitas bisa saling tukar menukar
informasi tentang usaha, kerjasama investasi dan lain sebagainya.
Bukankah aktifitas utama ekonomi syariah yang berbasis bagi hasil
membutuhkan pre-requisite utama seperti understanding business &
partners? dan bukankah komunitas MES sepatutnya mampu menjadi
komunitas yang menjalankan itu, mencontohkan dan menularkan pengalaman
ini.
> 
> Dengan begitu komunitas MES betul-betul menjadi komunitas panutan
dalam berinteraksi ekonomi. Menggunakan perspektif dan pendekatan
komunitas ini, tentu aktifitas MES sepatutnya konsentrasi pada
pemberdayaan anggotanya yang memang telah ratusan ini. Di milis lebih
banyak anggota yang silent daripada yang aktif berdiskusi, padahal
menggunakan pendekatan komunitas ini semua anggota akan terberdayakan
dan diharapkan perannya dalam mem-pilot projeck-kan ekonomi syariah
dalam MES.
> 
> Dengan demikian, MES tidak terkesan hanya menjadi wadah para
akademisi dan praktisi yang komunitasnya hidup hanya oleh diskusi dan
diskusi. MES harus juga berubah tidak hanya sekedar forum diskusi
(majelis ilmu) tetapi menjadi forum (komunitas) amal. MES harus mampu
menunjukkan seperti apa masyarakat yang mengaplikasikan nilai-nilai
ekonomi syariah itu sebenarnya, yaitu masyarakat yang berekonomi
secara syariah. Sehingga pada gilirannya sosialisasi akan mudah
dilakukan (it goes without saying).
> 
> Dibutuhkan komitmen menjalankan ini, dibutuhkan rasa saling percaya
dan itu tentu harus dimulai dengan ta'aruf (berkenalan), sampai
sekarang pun saya masih belum kenal siapa saja anggota MES atau bahkan
pengurus MES. Tetapi bukan tidak mungkin suatu saat masyarakat itu
bisa terwujud. Masyarakat yang aktif secara ekonomi, muzakki yang
selalu membantu mustahiknya, masyarakat yang menjunjung tinggi
nilai-nilai moral islam dalam prilaku ekonominya, mengaplikasikan
secara konsisten ketentuan-ketentuan syariah dalam aktifitas ekonomi
(produksi, konsumsi dan distribusi). Mari kita wujudkan di komunitas
kita ini dulu, di MES.
> 
> Wallahu a'lam bishawab
> 
> ali sakti
> anggota Departemen Kajian dan
> Pemikiran Ekonomi Islam
> Masyarakat Ekonomi Syariah
> 
> PS. setidaknya saya mulai mencicil menjalankan amanah yang
dipercayakan pada saya menjadi anggota departemen kajian dan pemikiran
ekonomi Islam :-) memberikan sumbang pikir, mengkaji secara sederhana,
maaf kalau tidak berkenan.
>


Kirim email ke