hehehe....kadang-kadang orang yang pandai cenderung memanggap dirinya dan 
lingkungannya sudah mewakili dunia. Sebaiknya Kita menanggapi hal ini dengan 
bijaksana, mengambil hikmah yang bisa Kita ambil.
 
Kalau ada yang bilang kemasan ekonomi syariah kurang menarik, ya harus Kita 
akui memang kurang menarik terutama sektor perbankan. Tetapi kalau dibilang 
tidak menarik, karena sektarian, wah....hal ini perlu diluruskan terlebih 
dahulu. Ekonomi syariah ini masih banyak yang belum memahaminya (mungkin 
termasuk dekan ini juga...:)), dan untuk mensosialisasikan memerlukan tenaga 
dan waktu yang tidak sedikit. Dalam artikel ini saja sudah disebutkan tenaga 
ekonomi syariah itu sangat kurang sekali. Coba sekarang kita pakai hitungan 
kasar berapa banyak sih lulusan universitas jurusan ekonomi syariah ??? kalau 
ekonomi kapitalis sih banyak......
 
Jadi untuk menutupi kekurangan itu, tidak ada salahnya kalau mau membuat 
ekonomi syariah agar lebih menarik, Kita mensharing sedikit ilmu Kita ke 
orang-orang sekitar Kita....Semoga hal ini bisa menjadi bola salju....dan 
memajukan ekonomi syariah.....HIDUP EKONOMI SYARIAH !!!

--- Pada Sen, 25/5/09, Faozan Amar <[email protected]> menulis:


Dari: Faozan Amar <[email protected]>
Topik: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 25 Mei, 2009, 8:22 PM
















Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.JAKARTA - Dekan 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum 
bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di
Kemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.

JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, 
masih belum bangkitnya ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di 
Indonesia karena para pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk 
syariah dengan menarik. 
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia 
menyarankan agar pelaku bisnis syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah 
menjadi lebih keren, bersahabat, dan tidak angker. 
Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat terhadap bisnis syariah masih 
lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan celana menggantung. Akhirnya 
pikiran yang muncul adalah bisnis yang seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang 
ke bank syariah? Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi 
dan Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini. 
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih banyak kendala 
lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah bank konvensional, 
termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata masyarakat agak alergi 
dengan produk-produk yang berbau sektarian seperti Islam," ucapnya. 
Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan aturan main sendiri, benak 
konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank konvensional dalam membuat 
analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa hal, mekanisme bagi hasil juga 
mengacu pada suku bunga. 
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini sulit meningkatkan 
persentase asetnya dari total aset perbankan nasional. Persoalannya adalah 
kurangnya tenaga profesional di bidang syariah. Saat ini aset bank syariah 
masih sebesar 2,2 persen dari total aset perbankan nasional. 
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5 persen," kata 
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat lalu. Dia menjelaskan, 
pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun terakhir sangat pesat. Namun, 
perbankan syariah masih kekurangan sumber daya manusia sekitar 15 ribu orang. 
EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI
















      Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke