bismillah .....

mencoba menjawab yah ...kalau saya lihat dari koteksnya dan situasi bagaimana 
beliau berbicara saya rasa maksudnya bukan untuk memojokkan perbankan Syariah. 
Memang benar di tengah-tengah penggiat ekonomi islam saat ini pun memang 
memilih dua cara dalam mengembangkan bisnis dan perbankan syariah. Ada yang 
memilih langusng ke jantung poit pelarangan Bunga Bank sebagai Riba yang 
diharamkan oleh nash Qura'an di tambah ijma ulama tentang keharaman bunga bank 
dan juga di saat ang sama mereka tetap berbuat mderat dalam artian memberikan 
alternatif kepada masyarakat akan lembaga Keuangan yang lain dan memenuhi 
prinsip-prinsip Syariah. Namun di saat yang sama mereka juga tak sekedar 
mengkritik produk-produk Perbankan Konvensional dengan aspek keharamannya 
tetapi juga kerap melakukan otokritik pada produk-produk perbankan Syariah itu 
sendiri yang hanya "puas " dengan produk yang memang secara hukum Fiqh "Halal" 
akan tetapi ada "panggilan Moral " untuk mengkritisi
 keberadaanya yang dikhawatirkan menambah atau memperkuat kedudukan hegemoni 
kapitalisme di dunia muslim dengan pelbagai pembenaran2 syara atas produk 
perbankan syariah. Pandangan Inilah yang dianut oleh Madzhab Mainstream Idealis.

 Adapun tentang kritik yang diberikan oleh Dekan FEUI tadi memang kalau dilihat 
secara realita di masayarakat sudah tak masanya lagi bersikpa rigid dan kaku. 
my means kritiknya masih jauh dari kenyataan karena Zaman pun sudah berubah. 
lagi pula Bank Syariah mana yang berpenampilan seperti itu sekarang ???? di 
sisi lain ada pandangan lain yang memberikan idea pengembangan perbankan 
Syariah adalah mengedepankan nilai-nilai etika universal dalam Islam seperti 
transparansi, realibility, Good Corporate culture, dsb lakin saya melihat 
dengan pengembangan model saat ini kurang atau bahkan memarginalkan poin utama 
kemunculan Bank Syariah tadi atau hadirnya geliat usaha Ekonomi Syariah  di 
masyarakat sebagai solusi total atas Krisis yang lebih banyak Bunga berperan 
secara positif di dalamnya. Akhirnya, .... memang benar kurang tepat juga kita 
bersikap terlalu over dalam menyikapi fenomena keuangan syariah di dunia bahkan 
di Indonesia sikap yang baik adalah yang
 dewasa dan lebih banyak mengedepankan dialog. kalau gagasann teman2 di FoSSEI 
mungkin cukup menarik, strategik, dan taktis. yang lainnya tinggal edukasinya 
gencar kita lakukan dan juga persepsi orang bank dengan menaruh uangnya di 
deposito selalu berharap untung dari bunga yang dibayarkan oleh bank tetapi 
bukankah Allah SWT memandang untung dan rugi bukan semata hitungan spekulatif 
saja ?? walaupun Rugi, tetap dianggap beruntung oleh Allah SWT kerana telah 
memenuhi nilai-nilai syariah dala pelaksanaanya dan keikhlasan hanya mencari 
RidhaNya semata. 

--- Pada Sen, 25/5/09, Faozan Amar <[email protected]> menulis:

Dari: Faozan Amar <[email protected]>
Topik: [ekonomi-syariah] PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH BERBAU SARA
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 25 Mei, 2009, 8:22 PM











    
            
            


      
      Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok kalau 
pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk suka, ya 
sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw yasmut : 
berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda sdh jadi 
dekan? Mohon komentar anggota milis



Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--diKemasan Syariah Kurang Menarik
Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para
pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan
menarik.
"Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
dalam perbincangan dengan Tempo
di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis
syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren,
bersahabat, dan tidak angker. Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi masyarakat 
terhadap
bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan
celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang
seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah?
Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan
Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini.
Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih
banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah
bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata
masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian
seperti Islam," ucapnya. Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan 
aturan main
sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank
konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa
hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga.
Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini
sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan
nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang
syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total
aset perbankan nasional.
"Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5
persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat
lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun
terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber
daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI

         
        
        


      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke