Assalaamu'alaikum

pak Risnandar,

saya coba jawab dari pertanyaan terakhir dulu.

Kalau mau beli emas untuk tujuan perhiasan,tentu tidak ada larangan.
Namun jika tujuannya adalah lindung nilai kekayaan (hedging), saya
khawatir bisa terkena ancaman Alloh pada orang-orang yang menyimpan
emas dan perak. Bukankah orang-orang tersebut menyimpan emas dan perak
dengan tujuan mengekalkan kekayaan (hedging) karena emas dan perak
bersifat awet dan nilainya terjaga? Mohon pak Yasni atau ulama lain di
milis ini bisa memberikan petunjuk.

Untuk poin 1, saya tidak bisa menjawab apakah harga bisa kembali
menyentuh titik  terendah tahun 2000. Begitu pula tentang timing
pecahnya bubble apakah sudah dekat atau masih jauh, analisis
fundamental saya tidak bisa memperkirakannya.

Saya hanya bisa cerita sederhana pembentukan bubble dan pecahnya.
Proses awal kenaikan harga komoditas yang mengalami bubble bisa
disebabkan faktor alamiah, yakni kenaikan permintaan bermotifkan
konsumsi, maupun faktor buatan, yakni manipulasi permintaan dengan
jual beli berulang antar investor besar. Apapun sebab awalnya, ketika
kenaikan harga ini berlangsung cukup lama, masyarakat luas menjadi
yakin bahwa harga komoditas tertentu akan terus naik pesat, sehingga
memberikan capital gain tinggi dalam waktu singkat. Mereka pun mulai
ikut membeli komoditas tersebut, bukan karena kebutuhan konsumtif,
tapi karena mengharapkan capital gain. Maka kenaikan harga berikutnya
bukan lagi didorong oleh faktor kenaikan permintaan atau kekurangan
pasokan yang alamiah, tapi didorong oleh banyaknya permintaan baru
dengan motif spekulasi.

Bubble akan pecah ketika kenaikan harga mulai melambat, karena
tambahan permintaan spekulatif melambat. Jumlah investor yang
irasional ada batasnya, irasionalitas investor ada batasnya, uang
investor irasional juga ada batasnya. Harga hanya akan naik selama ada
investor, baru maupun lama, yang mau membeli komoditas bubble dengan
harga lebih tinggi. Ketika tidak ada lagi investor baru, atau investor
sudah mulai berpikir harga terlalu tinggi, atau walau harga dianggap
wajar tapi uang investor sudah menipis, maka tambahan permintaan mulai
melambat dan harga komoditas pun enggan naik.

Klimaks terjadi ketika investor mulai resah melihat harga komoditas
yang tidak lagi naik secepat biasanya. Mereka mulai berhitung bahwa
capital gain dari komoditas tersebut sudah lagi tidak memberikan
tingkat imbal yang menarik. Maka investor mulai menjual komoditas
tersebut. Permintaan yang kurang memaksa investor menjual dengan harga
lebih rendah agar komoditas miliknya cepat laku. Penurunan harga yang
terjadi membuat panik investor lain untuk segera menjual komoditas
miliknya sebelum harga turun semakin jauh.

Saat itulah, kurva harga terus bergerak turun. Sampai kapan? Sampai
kepanikan mereda dan sampai harga kembali ke tingkat normal atau di
bawahnya. Di mana tingkat normal harga komoditas? Di tingkat di mana
terjadi keseimbangan antara pasokan dengan permintaan konsumtif, tanpa
distorsi dari permintaan spekulatif.

Dalam kasus emas, kita tidak akan bisa mengetahui timing pecahnya
bubble kecuali jika kita mengetahui dengan pasti berapa banyak
investor potensial yang saat ini belum ikut membeli emas, berapa
banyak sisa uang investor, dan berapa batas irasional mereka. Inilah
batas pengetahuan manusia yang sulit ditembus, paling tidak hingga
saat ini.

Bagaimanapun juga, kita tidak perlu mencoba peruntungan membeli emas
dengan harapan pecahnya bubble masih lama. Spekulasi harga emas ini
termasuk kriteria maysir yang disebutkan pak Bambang Himawan, yakni
bahwa spekulasi harga emas tidak memberi manfaat tambahan buat
masyarakat (tidak produktif).

Wallohu a'lam

Wassalaamu'alaikum

Muhamad Said Fathurrohman
Dept. Ekonomi Syariah FE Unair



On 5/10/10, risnandar <[email protected]> wrote:
>
> 1. Dengan harga emas yang bubble, akankah menyentuh titik harga pada saat
> tahun 2000 (hampir 300 USD per troy ounce) jika bubble tersebut pecah? Jujur
> saja, walau dengan perhitungan yang ada, saya masih ragu harga emas akan
> turun drastis dalam waktu dekat, terlebih dalam situasi saat ini dengan
> pelaku pasar yang tidak rasional. Bahkan orang yang awam sekalipun akan
> menghargai emas sampai ke titik yang irrasional sekalipun.
>
> 2. Jika memang harga emas akan turun tajam, tentulah emas akan menjadi
> mangsa empuk dari uang-uang/aset-aset yang jumlahnya triliunan dollar AS
> yang bergentayangan bebas di pasar keuangan sana. Salah tidak jika umat
> Islam untuk sementara ini "menimbun" emas untuk digunakan pada waktunya
> sampai datangnya suatu kebutuhan (jika tidak boleh sampai peran emas sebagai
> komoditas hilang)? Toh dijadikan alat pembayaran juga agak sulit.
>
> Salam hangat,
>
>
>
> --- Pada Ming, 9/5/10, M Said Fathurrohman <[email protected]> menulis:
>
> Dari: M Said Fathurrohman <[email protected]>
> Judul: [ekonomi-syariah] Bubble Emas
> Kepada: [email protected], "desfeua"
> <[email protected]>
> Tanggal: Minggu, 9 Mei, 2010, 1:03 AM
>
>
>
>
>
> Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Sejak 2001, harga emas dalam US$ mengalami kenaikan rata-rata 17% per tahun.
> Sementara inflasi di US$ pada periode yang sama rata-rata 2%. Bandingkan
> dengan data sejak 1968-2001 di mana kenaikan harga emas rata-rata hanya 6%
> per tahun dan inflasi rata-rata 5%.
>
> Inflasi emas yang jauh lebih tinggi dari inflasi barang dan jasa sejak tahun
> 2001 menunjukkan 2 kemungkinan:
> 1. Emas sedang mengalami bubble. Suatu saat ia akan kembali pada hubungan
> jangka panjang antara harga emas dengan harga barang dan jasa lainnya.
> 2. Jika yang terjadi adalah decoupling antara harga emas dengan harga barang
> dan jasa lain, di mana harga keduanya tidak lagi naik seiring, maka emas
> tidak lagi cocok dijadikan mata uang. Karena ekonomi yang menggunakan uang
> emas akan mengalami deflasi sebesar 15% per tahun (inflasi emas - inflasi
> barang dan jasa). Deflasi double digit ini justru lebih berbahaya daripada
> inflasi satu digit yang dialami uang kertas.
>
> Saya lebih cenderung pada kemungkinan pertama. Tanda-tanda satu komoditas
> yang bubble adalah ketika banyak orang percaya bahwa komoditas tersebut akan
> mengalami kenaikan harga secara permanen dengan tingkat yang jauh lebih
> tinggi daripada inflasi. Dengan kata lain, komoditas itu dapat memberikan
> capital gain terus-menerus.
>
> If it appears too good to be true, then it is usually not true.
>
> Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
>
> ------
> Muhamad Said Fathurrohman
> Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga
> id.linkedin. com/in/msaidf
>
>
> 2010/5/7 risnandar <risnand...@yahoo. com>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Sulit untuk membayangkan dengan kondisi saat ini, bahwa ke depan bubble
> emas akan pecah. Dengan ketidakpastian kondisi perekonomian konvensional dan
> keterkaitan emas dengan fiat money khususnya dollar AS, emas akan menjadi
> safe haven bagi para investor dengan dollar-nya yang melimpah di pasar,
> terlebih dengan denominasi emas menggunakan dollar AS. Spekulasi akan harga
> emas yang akan terus meroket juga kencang didengungkan di pasar. Dasar-dasar
> keistimewaan emas di atas lah yang menjadikan emas sebagai safe haven dan
> justru akan mendongkrak harga emas di tengah ketidakpastian ekonomi
> konvensional saat ini. Negara-negara di Asia Selatan (India, Sri Lanka dan
> Bangladesh) telah membeli emas IMF yang semakin membuat harga emas naik),
> bahkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT/Cina) juga memberikan sinyal untuk juga
> ikut membeli emas. Semakin perekonomian tidak pasti, maka emas semakin
> menjadi pasti (dikarenakan keamanan dan kenaikan harganya). Adalah normal
> saat uang kertas yang Anda pegang tergerus inflasi dan semakin menurun
> nilainya, Anda beralih memegang emas. Hanya celakanya emas digunakan sebagai
> komoditas, buka sebagai medium pertukaran.
> >
> >
> > Konsekuensi "sifat" emas sudah sebaiknya ditujukan pada tempatnya, yaitu
> medium pertukaran. Sebaiknya kaum muslim dan penggiat ekonomi syariah tidak
> pula menambahkan volatilitas yang sudah terjadi pada harga emas sebagai
> komoditi, dengan investasi yang sifatnya spekulatif dan margin trading.
> Kelak, inshaALLAH, emas akan menjadi parameter utama dalam perekonomian,
> bukan fiat money. Mengapa ancaman ALLAH yang begitu jelas masih juga
> ditantang oleh para penimbun emas?
> >
> >
> > Salam hangat,
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  Rab, 5/5/10, M Said Fathurrohman <muh.s...@gmail. com> menulis:
> >
> >
> > Dari: M Said Fathurrohman <muh.s...@gmail. com>
> > Judul: Re: [ekonomi-syariah] kaya melalui investasi emas secara syariah
> (Jurus cerdas berkebun emas)
> > Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
> > Tanggal: Rabu, 5 Mei, 2010, 11:14 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
> >
> >
> > Jangan campur adukkan wacana mata uang dinar sebagai alat transaksi dalam
> ekonomi Islam dengan spekulasi emas yang justru tidak Islami.
> >
> >
> > Kebun Emas hanya bisa membuat untung berlipat-lipat kalau harga emas naik
> terus. Kalau harga emas turun, investor Kebun Emas akan rugi berlipat-lipat
> pula.
> >
> >
> > Apakah kita sudah lupa dengan kerugian yang dialami investor saham pada
> akhir 2008 lalu? Sebelum itu, banyak orang mendadak jadi investor saham
> karena mereka melihat harga saham naik terus. Padahal kenaikan harga saham
> itu sudah tidak wajar (bubble) karena tidak didukung fundamental. Saat
> bubble saham pecah, banyak orang bangkrut.
> >
> >
> > Dilihat dari sejarah harga emas, kenaikan pesat harga emas sejak tahun
> 2000 menunjukkan tanda-tanda bubble. Saya kira pecahnya bubble emas tinggal
> menunggu waktu.
> >
> >
> > Wallohu a'lam.
> >
> > Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
> >
> > ------
> > Muhamad Said Fathurrohman
> > id.linkedin. com/in/msaidf
> >
> >
> >
> > 2010/5/5 abah sulthan <rusman1...@yahoo. com>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Assalamu'alaikum wr wb,
> > >
> > > Insya ALLAH BRISYariah akan memberikan persembahan SEMINAR GRATIS buat
> warga IBUKOTA, seminar mengenai "JURUS CERDAS BERKEBUN EMAS" akan dibawakan
> langsung oleh pakar dan pencetus idea nya yaitu Pak Rully Kustandar
> (www.kebunemas. com).
> > > Seminar ini akan diadakan di
> > > Tempat    : LOUNGE RUmah iB di REI EXPO JCC Hall A
> > > Tanggal   : Tanggal  7 Mei 2010
> > > Pukul        : 16.00-18.00 WIB.
> > >
> > > Anda akan dipandu, bagaimana caranya :
> > > 1. Membeli emas dengan modal hanya 1/3 dari harga emas
> > > 2. Memiliki emas hingga 1.5Kg dalam waktu tiga bulan
> > > 3. Mengamankan berapapun kekayaan anda hingga puluhan sampai ratusan
> tahun kedepan.
> > >
> > > Ingat SEMINAR ini Gratis dan terbuka untuk umum, daripada anda beli
> EBOOKNya or menghadiri seminar regularnya  biasanya harus merogoh kocek
> 200rb-an.
> > >
> > > MElalui jurus cerdas ini, anda akan dipandu bisa KAYA melalui investasi
> emas secara Syariah, akan dipandu secara personal oleh team2 dari
> BRISyariah.
> > >
> > > Silahkan sebarkan email ini ke teman-teman, saudara-saudara, kawan-kawan
> dll.
> > >
> > > Demikian informasinya, ingat TANGGAL 7 MAI JAM 4 SORE DI REI EXPO JCC
> Hall A.
> > > Kita ketemu disana, informasi lebih lanjut silahkan hubungi saya japri.
> > >
> > > wassalam
> > >
> > >
> > > Maman
> > > 0815-11200138
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>
> 


-- 
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.


Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

------
Muhamad Said Fathurrohman
Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga
id.linkedin.com/in/msaidf


------------------------------------

===========================
SPONSOR Tahunan MES 2009 :
1. Bank Muamalat Indonesia
2. Bank Syariah Mandiri
3. Bank BNI Syariah
4. Pegadaian Syariah
5. Bank BRI Syariah
6. Bank Bukopin Syariah
====================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke