salam...
saya setuju dengan anda pak reza...... dan sebagaimana saya amati, dan saya 
akui memang para pegiat ekonomi syariah lebih fokus pada finance saja...baik di 
indonesia maupun di dunia pada umumnya... kajian dan pembahasan philosophy 
dasar ekonomi islam pada dasawarsa terakhir kurang diminati. padahal itu adalah 
dasar berpikir kita dalam menyelasikan masalah ekonomi ummat islam..

untuk merubah frame work memang tidak mudah dan segampang membalikan telapak 
tangan..perlu kerja keras. baik dari pemerintah maupun dari civitas akademi...
tapi yang jelas pola berpiir itu sangat dipengaruhi bacaan yang dibacanya....
so salah satu tantangan para pegiat ekonomi syariah saat ini adalah bagaimana 
memproduksi buku buku ekonomi islam tidak hanya di bidang keuangan tetapi juga 
bidang lainnya...

Tetap semangat......

Luqman Hakim Handoko
Muride Gombak Hill
http://luqmannomic.wordpress.com  +60103654325
Putune Warok Suromenggolo



--- Pada Sel, 11/5/10, Reza Ikhwanul Muslim <[email protected]> menulis:

Dari: Reza Ikhwanul Muslim <[email protected]>
Judul: [ekonomi-syariah] Wajib Baca;Seharusnya ini menjadi concern PEGIAT 
EKSYA,masalah  pengangguran
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 11 Mei, 2010, 2:36 PM







 



  


    
      
      
            10 Mei 2010

      Gustav Papanek:

      Rupiah Kuat, Pengangguran Meningkat



KETERTARIKAN pada kon-disi ekonomi negara berkembang membawanya

mengelilingi Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Buat Indonesia, Gustav

Fritz Pa-panek bukanlah sosok asing. Dia telah melawat, meneliti, dan

menulis persoalan ekonomi negeri ini sejak Orde Lama hingga sekarang.



Datang pertama kali ke Indonesia pada 1962, Papanek menjadi

saksi jatuh-bangunnya ekonomi dan pemerintahan Indonesia. Dia melihat

ekonomi Orde Lama yang hancur dan diperbaiki Orde Baru. Tapi dia juga

melihat rezim Soeharto tumbang karena krisis ekonomi.



Kendati berasal dari Amerika, pandangan Papanek berbeda dengan

tim ekonomi Orde Baru yang mengecap pendidikan di Berkeley. Setidaknya

dua kali dia memper-ingatkan kelompok teknokrat itu untuk berhati-hati

terhadap gelembung ekonomi dan impor yang terlalu besar. Riset dan

pendapat yang kritis membuatnya sempat dipersona-non- gratakan pada

1988-1998.



Kini Papanek, yang tetap tekun mengamati ekonomi Indonesia,

menemukan masalah yang menurut dia juga terjadi pada 1974 dan

1998-tahun terjadinya krisis politik besar. "Sekitar dua setengah

tahun lalu, saya menemukan masalah tersembunyi di sini: pengangguran. "

Beberapa waktu lalu, Gus, panggilan akrab Papanek, menyampaikan

pandangannya kepada Sapto Pra-dityo, Yophiandi, dan Puti Noviyanda

dari Tempo.



Apa sisi positif dan negatif ekonomi Indonesia sekarang?



Semua orang senang dengan ke-suksesan makroekonomi

Indo-ne-sia. Pertumbuhan -meningkat, sementara di semua negara Asia

Tenggara lainnya malah turun. Cadangan devisa meningkat, defisit

kecil, penerimaan pajak dan ekspor meningkat. Pemerintah bekerja baik

sekali, nilai tukar rupiah me-nguat. Yang terakhir ini dianggap semua

orang sebagai hal bagus. Tapi tak ada yang mengantisipasi angka

pengangguran yang meningkat. Ini sisi buruk dari kenaikan nilai tukar.

Orang suka dengan berita baik. Padahal kenyataannya sejak krisis

moneter 1997, dengan semua data ini, artinya 22 juta manusia Indonesia

menjadi pencari kerja baru. Cuma 5,5 juta dari mereka yang mendapat

pekerjaan yang betul-betul pekerjaan.



Angka itu mengkhawatirkan, ya?



Ya, karena 17 juta orang lainnya adalah tanda tanya.

Sebanyak 3,5 juta dari mereka dianggap ke luar negeri oleh statistik.

Mereka menjadi TKI, sebagian besar tak punya keahlian, menjadi

pembantu. Dari 14 juta orang itu yang betul-betul penganggur adalah 4

juta. Sisanya saya pikir yang mereka kerjakan bukanlah pekerjaan.



Maksud Anda, mereka tergolong -penganggur tertutup?



Sebagian dari mereka menjadi pe-tani penggarap. Padahal

pekerjaan ini sudah tenggelam, karena lahan pertanian semakin sempit.

Di Cina dan India, jumlah orang yang bekerja di pertanian sudah

menurun. Sebelum krisis di Indonesia, pekerja di sektor ini juga

semakin sedikit. Mereka miskin dan tak berpendidikan, jadi tak bisa

punya pekerjaan bagus, tapi juga tak mungkin menganggur karena tak

bisa mendapat makanan. Mereka mengeroyok sepetak tanah yang bukan

milik mereka untuk ditanami. Perhatikan jumlahnya, dulu mereka bertiga

untuk sepetak tanah, sekarang berempat. Mereka dibayar oleh pemilik

tanah.



Ada contoh lain?



Ada yang menjadi pengemis atau tukang semir sepatu di

perkotaan. Dulu, kalau kita lihat dalam satu wilayah kecil, ada tiga

tukang semir, sekarang empat. Jumlah sepatu tetap, tapi pekerja

semirnya bertambah. Ini membagi pendapatan namanya. Ini bukan

pekerjaan, lebih mirip gotong-royong karena orang tak mungkin tak

bekerja.



Ini yang disebut antropolog Clifford Geertz sebagai involusi dan

membagi kemiskinan.. ..



Ya, sama. Dulu mereka memang hanya bekerja di sektor

pertanian, tapi sekarang mereka memiliki berbagai pilihan kerja sektor

informal. Orang yang melihat statistik akan bilang, oh ya, mereka

sudah dapat pekerjaan. Tapi prinsip pekerjaan tak ada di sana.

Produktivitas sangat rendah atau malah nol, tak ada nilai tambah.

Mereka cuma konsumsi, tak ada produksi yang sebenarnya. Mereka juga

tak gembira, tapi tak bisa apa-apa.



Sektor industri Indonesia telah gagal?



Ya, terutama bila dibandingkan dengan kondisi sebelum krisis

moneter. Saat itu ada pertumbuhan 5,5 juta pekerjaan baru setiap

tahun. Setelah itu, cuma 1 juta di sektor manufaktur saja.



Apa penyebab kegagalan itu?



Indonesia adalah negara dengan ekonomi berbiaya tinggi.

Infrastruktur yang payah, itu baru satu yang membuat ekonomi biaya

tinggi. Industrialis butuh sehari penuh untuk satu kali pengiriman dan

kembali dari pabrik ke pelabuhan karena jalanan dan jembatan yang

buruk. Mestinya, kalau jalan bagus dan pengiriman sesuai dengan

kapasitas, paling tidak bisa empat kali bolak-balik. Belum lagi aliran

listrik di pabrik sering mati, sehingga butuh diesel. Ini sangat tidak

efisien. Ada pelajaran yang bagus dari Cina. Mereka menanam modalnya

sangat banyak di bidang infrastruktur. Sekarang infrastruktur di Cina

daratan sangat bagus. Setiap dua setengah tahun ada pelipatgandaan

hasil ekspor mereka. Di Indonesia, tak cuma ekspor yang menderita,

tapi juga produk manufaktur yang bersaing dengan produk asing.



Belum lagi kalau bicara korupsi....



Bukan cuma korupsi, juga kebijakan buruh yang berbiaya

tinggi, dan iklim investasi yang payah. Ada satu cerita pada saat

Wakil Presiden Jusuf Kalla ingin menaikkan nilai ekspor 20 persen per

tahun. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjawab, "Pak, enggak

bisa, karena banyak yang mesti dibenahi di luar wewenang saya:

infrastruktur, korupsi, kebijakan perburuhan." Kalla bilang, "Jangan

kasih saya alasan itu. Dari dulu juga begitu, tapi kita bisa

meningkatkan ekspor 30 persen per tahun." Mari menjawab lagi, "Tapi

dulu tak ada serikat pekerja, dan perlakuan terhadap buruh sangat tak

manusiawi."



Mengapa Anda menyebut kenaikan nilai tukar rupiah tidak bagus?



Selama ini orang menganggap rupiah yang menguat adalah tanda

yang bagus. Tapi, mari bandingkan dengan 1980-an, saat industri

Indonesia booming. Saat itu gaji buruh naik setiap tahun 4-5 persen.

Tapi rupiah juga melemah 4-5 persen, sehingga gaji buruh masih

dianggap murah untuk ukuran ekspor dan manufaktur yang bersaing dengan

impor. Tapi sekarang? Rupiah menguat setiap waktu.



Bukankah nilai tukar rupiah stabil?



Tahun lalu 1 dolar Rp 11.500, sekarang Rp 9.000. Artinya

menguat 25 persen dalam setahun ini. Konsekuensinya, harga buruh lebih

mahal buat eksportir dan orang yang berkompetisi dengan impor. Kalau

ekspor, pendapatan Anda dalam dolar, sementara pengeluaran untuk gaji,

listrik, dan sebagainya dalam rupiah. Kalau rupiah menguat setiap

waktu, artinya kan uang yang Anda terima semakin rendah nilainya.

Semakin rupiah menguat, nilai kompetisi produksi Anda semakin rendah.

Apa yang terjadi di Indonesia sekarang disebut Dutch disease. Saat

Belanda menemukan gas alam, mereka mengekspornya besar-besaran

sehingga nilai tukar mereka meningkat tajam.



Maksudnya?



Saat itu produk manufaktur dan pertanian Belanda tak lagi

bisa berkompetisi di luar negeri. Jadi, mereka kaya karena gas, tapi

jumlah penganggur- membengkak. Pada saat gas habis, miskinlah mereka.

Tapi kenapa rupiah menanjak terus nilainya? Karena ada aliran dana

jangka pendek yang besarnya sekitar US$ 30 miliar per bulan. Para

pelakunya terutama orang asing, tapi juga ada orang Indonesia,

meminjam yen kepada bank di Jepang, dengan bunga 2 persen. Kemudian

membeli saham BUMN atau surat utang dari pemerintah dengan rupiah,

mendapat bunga sampai 9 persen. Artinya, mereka untung 7 persen dan

tak ada risiko, karena ini duit pemerintah Indonesia. Dari sinilah

kemudian mereka membayar utangnya dalam bentuk yen.



Dalam jangka panjang situasi ini bisa menjadi masalah besar?



Tidak, dalam jangka pendek seperti 1998. Ini tetap jadi

masalah, karena lebih murah meminjam di luar daripada di Indonesia.

Jadi, kalau mau ekspansi, mereka akan meminjam ke luar, pemerintah

atau swasta. Tapi, kalau nanti rupiah terdepresiasi seperti 1998,

masalah mungkin muncul.



Apakah situasi ini bisa memicu krisis politik baru?



Tidak sekarang karena pada bulan mendatang ada panen raya.

Harga beras akan turun. Buat orang miskin, tidak soal berapa duit yang

mereka punya, tapi berapa liter beras atau makanan lain yang bisa

mereka beli. Oke, tahun ini selamat, tapi tahun depan? Setiap tahun

akan semakin parah, karena ada dua juta angkatan kerja yang

menganggur. Berulang terus, sementara tak ada lapangan pekerjaan baru.

Di lain pihak, rupiah terus menguat dengan alasan tadi, sehingga

eksportir tak mendapat nilai lebih setiap tahun. Ini sangat salah.

Akhirnya pabrik akan tutup karena harga buruh dan opera-sional

meningkat setiap tahunnya.



Bukankah ekonomi Indonesia lebih digerakkan oleh konsumsi

domestik ketimbang ekspor?



Ini yang namanya fashion ekonomi, mirip fashion pakaian.

Rok, -misalnya, kadang pendek, kadang panjang. Pada suatu masa,

pertumbuhan ekonomi terjadi karena konsumsi, masa yang lain karena

ekspor. Indonesia mirip Cina, yang menumbuhkan kemampuan beli

domestiknya. Tapi mereka juga mengembangkan ekspor untuk mengimbangi.

Di Indonesia, kemampuan ekonomi tak dipakai untuk membeli produk

Indonesia, tapi impor. Sehingga impor meningkat. Duit orang miskin

bukan untuk membeli produk, tapi nasi. Artinya, ekspor padi lebih

rendah, di lain pihak impor kedelai meningkat, karena orang Indonesia

makan tempe.



Bukankah dengan cadangan devisa yang meningkat, gejala ini masih aman?



Tapi akan bertahan berapa lama? Cina punya cadangan devisa

sampai US$ 2,5 triliun. Artinya, kalau konsumsi saja yang mereka

lakukan tanpa ekspor, bisa bertahan sampai 20 tahun. Tapi kan mereka

mengimbangi- nya dengan peningkatan ekspor. Indonesia bisa begitu?

Bagaimana kalau duit US$ 30 miliar itu tiba-tiba ditanam di luar

negeri, tak kembali ke Indonesia? Cina malah menargetkan pertumbuh-an

sampai 8 persen, India 6 persen.



Di sini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen....



Kenapa cuma segitu? Semestinya lebih. Dulu pertumbuhan

ekonomi Indonesia tinggi, padahal cuma bergantung pada minyak.

Sekarang ekonomi Indonesia lebih bervariasi, semestinya bisa lebih

berkompetisi dengan negeri lain. Apalagi negeri lain sudah menyediakan

market, misalnya Cina. Kenapa Cina bisa tumbuh sebelas, sepuluh

persen, dan itu biasa buat mereka. Padahal Indonesia lebih punya

sumber daya alam, dan kualitas sumber daya manusianya bagus.

Semestinya target pemerintah 8 persen, itu lumrahnya.



Menurut Anda, elite Indonesia bisa mengubah perspektif ekonominya?



Saya tak ahli politik. Tapi mari lihat Cina. Dulu tingkat

korupsi di Cina tergolong parah, sekarang mereka maju dengan menekan

korupsi. Kota dekat tempat saya tinggal, Boston, dulunya korup. Tiga

wali kotanya masuk penjara karena korupsi. Sekarang Indonesia sedang

bersih-bersih, dan masyarakat Indonesia lebih dewasa ketimbang

Amerika. Tandanya, sewaktu Susilo Bambang Yudhoyono dipilih pertama

kali, Amerika malah memilih Bush untuk kedua kalinya (tersenyum).



Anda sudah membicarakan masalah ini dengan para ahli ekonomi Indonesia?



Saya sudah bicara dengan Chatib- Basri, Raden Pardede, Mari

Pangestu, Sri Mulyani. Saya juga bicara dengan bekas wakil presiden

Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie. Saya katakan kepada Jusuf Kalla,

"Tolong, Pak, gandakan pe-ngeluaran buat Program Nasional Pemberdayaan

Masyarakat. Ini akan menghasilkan pekerjaan buat 25 juta orang."



Anda mestinya berbicara juga dengan Boediono. Dia ahli ekonomi....



Boediono memang ahli ekonomi, tapi soal mengubah cara

pandang, apa dia punya power itu? Saya kira tidak... (tersenyum). Ada

yang lebih punya power selain dia.



Anda sudah berbicara dengan Presiden Yudhoyono?



Saya belum sempat berbicara dengan-nya. Tapi yang lebih

penting yang saya lakukan adalah mempengaruhi opini- publik, termasuk

media. Saya berbica-ra dengan yang mau mendengar. Sela-ma publik masih

berpikir rupiah yang kuat tanda ekonomi kuat, akan sulit mengubah

perspektif Indonesia.



Bagaimana pendapat Anda tentang bailout, seperti Bank Century?



Saya tak paham tentang kebijakan perbankan dan aturan main

di Indonesia. Soal bailout membuat dua orang yang mestinya mengurus

ekonomi jadi tak bisa berbuat banyak. Saya tak yakin mereka punya

waktu dan energi untuk pusing soal Century ini. Jangan setiap kali ada

kebijakan yang salah dianggap kriminal. Bila demikian, tak ada yang

mau membuat kebijakan. Ini juga akar masalah infrastruktur yang payah

di Indonesia. Tak ada yang mau membuat keputusan, takut salah, takut

dituduh korupsi.



GUSTAV FRITZ PAPANEK



Tempat dan tanggal lahir: Wina, Austria, 12 Juli 1926



Karier:

    * Presiden Boston Institute for Developing Economics

    * Profesor Emeritus Bidang Keuangan di Universitas Boston

    * Presiden Lembaga Penelitian Harvard University Development

Advisory Service, Peneliti untuk Bank Dunia.



http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2010/05/10/ WAW/mbm.20100510 
.WAW133483. id.html



    
     

    
    


 



  





Kirim email ke