Dear LEADers,
 
Dengan segala hormat dan maaf yang sebesar-besarnya, saya katakan bahwasanya naluri kebinatangan bangsa Indonesia lebih besar daripada naluri kemanusiaannya, apalagi bagi pembangunan berkelanjutan, yang menjadi misi forum ini.
Mengapa demikian?
Alasan saya mengatakan hal ini, Seekor Gajah yang mati di KBM, forum ini menjadi begitu ramai,sementara korban yang meninggal sebanyak 40 (baca EMPAT PULUH) orang lebih di kios "Karaoke Hepi" di Palembang yang sudah ramai di Media Cetak dan Elektronika, tidak ada sedikitpun komentar, dengan kata lain nyawa gajah lebih penting dari nyawa manusia. 
Dari sini dapat terbaca bahwa kepedulian terhadap sesama manusia sudah semakin hilang (sungguh menyedihkan!) atau barangkali sudah tidak memiliki kepedulian.
Bukti dan fakta tentang TIDAK ADANYA kepedulian terhadap sesama manusia sdh begitu banyak, tapi belum satupun yang memberikan saran atau konsep tentang menyiasati dan menyikapi permasalahan ini (Ironis sekali).
Padahal saya sangat yakin bahwa banyak members dari envorum ini adalah orang-orang yang peduli lingkungan, khususnya lingkungan binaan, tapi celakanya yang dibahas adalah GAJAH MATI.
Sementara, Banjir, Tanah longsor terakibat ulah manusia, kebakaran dst...dst yang begitu banyak, yang merupakan PRIME Factor bagi pembangunan berkelanjutan sama sekali tak tersentuh, Mengapa????
 
Salam,    
----- Original Message -----
Sent: Monday, July 08, 2002 3:21 PM
Subject: Re: [Envorum] GAJAH MATI DI KEBUN BINATANG MEDAN (KBM)

Neny Babo yang baik,

kami ucapkan terima kasih, dan saat ini kami masih terus mengadakan pendekatan kepada Pemko Medan. Untuk informasi bagi neny bahwa kami memperoleh data bahwa pendapatan dari retribusi yang diterima KBM sangat fantastis nilainya, namun sangat kami sayangkan mekanisme perjalanan keuangan di KBM juga panjang sekali (biasa birokrasi) sehingga kembali ke KBM yah pas-pas'an, itupun alakadarnya saja. Akibatnya makanan ke satwa sangat menyedihkan sekali. Bahan pihak pelaksana KBM (Unit KBM) yang terdiri dari para dokter hewan dan lainnya juga mengeluh akan mekanisme perjalanan keuangan di KBM yang membuat mereka terus disalahi masyarakat karena alasan ini itu dan sebagainya.

Terima kasih kami juga akan sarannya membuat angket pembaca, dan mudah-mudahan kami akan laksanakan secepatnya. Kami akan terus memberikan informasi perkembangan ke Neny bila tidak keberatan.

Terima kasih

Efrizal Adil Lubis

  Neny Babo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Salam Lestari,
 
Sedih mendengar cerita dari Medan atas matinya Rimba (bukan HUTAN tapi seekor gajah) salah satu penghuni Kebun Binatang Medan.
 
Kalau kita melihat Kebun Binatang sebagai sarana pendidikan dan informasi, sangatlah dibutuhkan bukan hanya masyarakat sekitar (Medan atau Sumatera Utara) juga wisatawan yang datang yang ingin melihat satwa di daerah tersebut.
 
Sebuah kota di Indonesia memiliki kebun binatang adalah anugrah bagi penduduknya, utamanya anak-anak yang dapat melihat langsung binatang hidup yang mungkin hanya pernah mendengar cerita dari nenek mereka sebagai cerita pengantar tidur.
Sangat ironis bagi kota-kota yang tidak punya KB, anak-anak hanya dapat melihat satwa dari gambar. Kadang saya menjadi sangat cemburu melihat anak-anak di Munchen sana bisa melihat langsung Babi rusa satwa endemik Sulawesi hidup lagi !!!Macaca maura monyet asli Sulawesi di Kebun binatang St. Petersburg, Rusia, dibandingkan dengan anak-anak kita di Sulawesi sendiri.
 
Memelihara kebun binatang sangatlah mahal, bagi PEMDA kota Medan memang ini suatu beban berat yang harus ditanggung, mungkin karena KBM ini sudah lama sehingga PEMDA tetap mau mempertahankan karena menganggap ini suatu sarana pendidikan yang penting. Saya kira bukan sebagai sarana eksploitasi satwa untuk kepentingan PEMDA, kalaupun terjadi seperti yang diceritakan itu mungkin karena untuk menutupi biaya KB yang mahal dan gaji karyawan, tapi ini sudah tidak dalam ketentuan yang ada.
 
Kita tidak usah terlalu gusar mengenai koleksi binatang yang ada di KB karena umumnya binatang tersebut lahir dari breeding ex-situ yang sudah beradaptasi dengan lingkungan yang ada.
Kebun binatang ditengah kota keramaian memang banyak meninbulkan masalah baik bagi satwa (stress) juga bagi masyarakat belum lagi macet dan juga merusak keindahan kota karena pedagang liar dan limbah dari Kb.
Tapi tidak semuanya begitu, banyak kebun binatang yang terletak ditengah kota di dunia, seperti di Beijing, Berlin, St.Petersburg,  Wina  menjadi satu penunjang keindahan kota.
 
Yang perlu kita lakukan mungkin perlunya masyarakat turut serta memikirkan apakah kota Medan masih butuh sebuah kebun binatang atau tidak.  Mungkin teman-teman dari LSM bekerjasama dengan PEMDA membuat survey semacam jajakpendapat (bukan masalah politik saja toh) untuk mengetahui apakah masyarakat masih butuh sarana itu.  Kalau memang masyarakat mengatakan tidak yah KB itu tutup saja, kalau mereka setuju masih harus ada, lalu kita misalnya menyertakan pertanyaan seharusnya Kb yang bagimana yang mereka butuhkan berapa masyarakat berani bayar untuk masuk dst.
Sehingga untuk perencanaan dan investasi PEMDA dapat merencanakan apakah sudah memadai untuk dipindahkan ketempat lain atau hanya perlu renovasi.
 
Mengenai binatang yang stress dan lainnya, memanglah kita butuh ahli kebun binatang untuk perencanaan KB yang manusiawi (binatawi)??? Misalnya kebun binatang Broxn di New York yang konsepnya dibalik dari bianatang yang dikandang menjadi manusia yang dikandang kalau mau melihat satwa liar, walaupun kandang-kandang tua tetap dipertahankan untuk memamerkan kepada anak-anak bahwa konsep dulu itu salah dan bukti bahwa mereka pernah buat salah dan sekarang mereka tidak lagi.
 
Walaupun salah satu LSM penyayang binatang di Jerman tahun 1994 gencar menyuarakan bahwa Kebun Binatang adalah sebagai penjara binatang dan sangat tidak adil bagi binatang.  Tapi saya pribadi tidak melihat seperti itu. Anak-anak kita harus mengetahui apa yang kita miliki sehingga dapat mempelajari, menghargai dan menjaganya.
 
Salam dari Makassar,
Nenny Babo
Pusat Informasi Pelestarian Sumber Daya Alam Sulawesi
 
 
----- Originpat al Message -----
Sent: Saturday, July 06, 2002 2:55 PM
Subject: [Envorum] GAJAH MATI DI KEBUN BINATANG MEDAN (KBM)

Salam Lestari,

"Turut berduka cita, atas matinya Rimba (gajah) di Kebun Binatang Medan" pada tanggal 4/7 yang lalu yang menurut penuturan staff KBM Rimba mengalami gangguan ginjal yang sudah kronis. Kawan-kawan LSM/Ornop di Medan sejak tahun 2000 sudah mengajukan tuntutan kepada Walikota Medan untuk mengadakan re-lokasi KBM yang sudah tidak layak untuk sebuah Taman Satwa, luas KBM saat ini lebih kurang 4,5 Ha, dan berlokasi ditengah-tengah pemukiman penduduk kota Medan (Jalan Brigjend Katamso) yang intensitas kerja masyarakat sekitar sangat tinggi dan sangat tidak nyaman untuk sebuah Taman Satwa. Disamping itu di dalam KBM tersebut juga setiap saat menampilkan pertunjukan berupa kyboard, rag molen, kuda pusing, dan penuhnya pedagang di zona inti KBM (bahkan sampai-sampai di depan kandang satwa, jelas mengganggu kenyamanan pengunjung dan satwa menjadi stress akibat teriakan pedagang dan bunyi dagangan (mainan anak-anak) yang memancing pengunjung untuk membeli dagangannya.

Kawan-kawan LSM/Ornop meminta kepada Pemko Medan untuk menyerahkan pengelolaan KBM kepada pihak swasta, yang memiliki keperdulian terhadap Taman Satwa dan Keanekaragaman Satwa di Sumatera, namun sayang usaha tersebut tidak mendapat tanggapan bahkan dengan arogannya Walikota Medan tetap mengharapkan PAD dari satwa yang ada di KBM. 

Walikota Medan tetap mempertahankan KBM dikelola oleh PD. Pembangungan Pemko Medan, inilah perjuangan pahit yang dirasakan kawan-kawan untuk menyelamatkan satwa-satwa di KBM. Bahkan kawan-kawan sering menyoroti PD. Pembangunan yang mengelola KBM untuk bermurah hati menambah biaya anggaran makan dan perawatan satwa, namun sampai saat permintaan tersebut tidak di indahkan baik oleh Walikota dan Direktur Pelaksana Harian PD. Pembangunan Pemko Medan. Akhirnya Rimba si Gajah Malang korban yang kesekian kalinya. Haruskah kita biarkan satwa yang saat ini berada di KBM mengalami ha yang sama?

PD. Pembangunan Pemko Medan selama ini juga mengelola Terminal Terpadu Amplas, Terminal Terpadu Pinang Baris, dan beberapa jenis tempat-tempat hiburan di Medan. Mungkin KBM juga dianggap seperti terminal-terminal lainnya, dan bukan sebagai program Konservasi In-Situ. 

Rimba si Gajah Malang, selama ini banyak memberikan rupiah kepada pengelola KBM, Rimba setiap hari harus bekerja keras memikul pengunjung di punggungnya tanpa henti-hentinya. Rimba yang malang bekerja dahulu baru diberi makan. Rimba juga sering dikontrak keluar dari KBM apabila ada pesanan. Herannya pengelola KBM yang sudah mengetahui penderitaan dan penyakit Rimba tetap dipaksa bekerja meraup rupiah untuk pengelola KBM. Dimana keadilan itu sebenarnya?

Akhir hayat Rimba ternyata menimbulkan dilema disatu sisi pengelola beralasan kematian Rimba karena "ginjal kronis" sementara kawan-kawan LSM/Ornop menilai kematian Rimba semata-mata karena kepentingan pengelola KBM untuk meraup rupiah sebanyak-banyaknya.

 

Salam,

Efrizal Adil Lubis

Yayasan Kibar

 



Do You Yahoo!?
New! SBC Yahoo! Dial - 1st Month Free & unlimited access



Do You Yahoo!?
New! SBC Yahoo! Dial - 1st Month Free & unlimited access

Kirim email ke