Bung Johnny Anwar yang baik,

 

Terima kasih atas komentar anda tentang gajah mati tersebut. Kita tentu saja masing-masing mempunyai perspektif tersendiri dalam mulihat permasalahan tersebut.

 

Kalau teman-teman di envorum, saat ini, tidak membicarakan nasib �manusia�, ini tidak berarti mereka tidak perduli. Saat ini ada puluhan milis lain yang mengurusi masalah ini, dari kemiskinan, politik, konflik, wanita, anak, pembangunan, dll. Milis ini saya pikir lebih memfokuskan pada hal-hal yang terkait dengan lingkungan. Tentu saja lingkungan dalam pengertian luas. Saya percaya banyak anggota milis ini tugas sehari-harinya mengurusi masalah-masalah yang anda sebutkan,

 

Kalau kita bicara tentang kematian satwa, apakah itu gajah, orang utan, badak, harimau, dll (sering juga disebut sebagai indicator species) sebenarnya kita juga sedang membicarakan tentang nasib kebudayaan manusia. Punahnya satwa menunjukkan rusaknya habitat (hutan). Rusaknya hutan berarti hilangnya fungsi ekologi hutan tersebut. Kalau fungi ekologi hutan rusak, maka hilang pula jasa ekologis yang disediakannya. Siapakah yang menikmati jasa ekologis hutan? Salah satunya, yang utama,  adalah manusia. Sejarah memperlihatkan kepada kita bagaimana kebudayaan-kebudayaan besar musnah, karena mereka tidak bersahabat dengan alam (hutan) (baca Clift Ponting, The Green History of the World).

 

Dalam kasus gajah mati diatas, sebenarnya alur diskusi telah mulai mengarah kepada perspektif yang menarik, yaitu fungsi KB bagi sebuah kota. Saya percaya diskusi ini akan mengarah kepada peran masyarakat, pendidikan lingkungan, dan konservasi eks situ. Kalau berkembang, ini dapat menjadi sebuah topik yang menarik, menurut saya.

 

Mungkin anda benar, kita perlu diskusi yang berbobot tetapi dalam suasana rilek. Mungkinkah?

 

Salam,

jamal

 

Kirim email ke