Salam hijau mas Djuni,

Pada 21:12 14/01/99 +0700, Mas Djuni menuliskan:
>Kawan-kawan,
>Saya mau tanya dikit : Hama belalang semakin mengganas apa karena pestisida
>habis atau memang alam lingkungannya yang rusak ?

Peristiwa ini pernah terjadi pada tahun lalu kalo nggak salah di Lampung. Pada dasarnya alam/setiap makhluk hidup  mempunyai apa yang disebut sistem homeostatis atau kemampuan untuk mampu bertahan (melakukan penyeimbangan) pada suatu perubahan lingkungan dari kondisi normal sehingga pergeserannya masih di dalam range aman bagi kehidupan. Sistem ini akan terganggu bila salah satu rantai kehidupannya terganggu atau terputus.

Dalam kasus ini menurut saya ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan wabah belalang :
1. Terjadinya peningkatan imunitas atau sistim kekebalan dari insect/belalang terhadap bahan kimia (pestisida). Setelah terpapar oleh pestisida dosis tinggi selama bertahun-tahun (tidak semua insect mati) akan terjadi peningkatan sistim kekebalan dari insect tersebut yang menurun terhadap keturunan berikutnya. Hal ini menyebabkan ketika para petani menggunakan pestisida lain yang mungkin daya toksisitas (peracunannya) lebih kecil tidak akan mampu membunuh hama serangga ini.
2. Terputusnya rantai makanan dari belalang, pada pemberian pestisida sering kali menyebabkan kematian pada produsen makanan bagi belalang, karena pada dasarnya belalang adalah dari jenis polifaga maka ia kemudian menyerang tanaman pertanian sebagai gantinya.
3. Tidak adanya predator belalang akibat kematian oleh paparan pestisida. Hal ini menyebabkan tidak terkontrolnya pertumbuhan populasi serangga yang menyebabkan terjadinya blooming serangga.

Jadi pada dasarnya kita tidak bisa langsung menentukan penyebab dari wabah serangga ini akibat tidak tersedianya pestisida di pasaran namun kita harus kembali meninjau perilaku kita pada waktu sebelumnya saat melakukan pengendalian hama ini.

Sebagai tambahan sebenarnya kita telah memiliki teknologi pengendalian hama terpadu kalo nggak salah urutannya secara skala prioritas adalah secara fisik atau mekanik terus ,,,, ,,,,  (maaf sedikit lupa), setelah itu pengendalian secara biologis baru yang terakhir dengan pengendalian kimiawi (penggunaan pestisida)...tetapi mengapa ya kita selalu memilih yang terakhir untuk diletakkan sebagai prioritas utama pengendalian hama???.

Salam lestari
Avian W

>Salam
>Djuni Lethek
>__________________
>SUARA PEMBARUAN DAILY, Kamis, 14 Januari 1999
>
>Serangan Hama Belalang Mengganas
>Di Sumba Karena Pestisida Habis
>
>Kupang, Pembaruan
>
>Dinas Pertanian Nusa Tenggara Timur kehabisan persediaan pestisida sehingga
>tidak dapat mengatasi serangan hama belalang
>yang mengganas di Kabupaten Sumba Timur. Populasi hama ini sangat tinggi
>sehingga hampir semua tanaman rakyat habis
>dimakan.
>
>Kepala Dinas Pertanian NTT, Felix TB Morghen kepada wartawan di Kupang,
>Kamis (14/1) pagi mengatakan, pihaknya
>telah menerima laporan tertulis dari Bupati Sumba Timur, Drs Lukas Mbadi
>Kaborang dan Kepala Dinas Pertanian setempat
>mengenai serangan hama belalang serta permintaan bantuan pestisida.
>Sayangnya, saat ini tidak ada persediaan bahan kimia
>untuk penanggulangan hama tersebut karena masih dalam proses tender
>pengadaannya.''Tender pengadaan baru dilaksanakan
>kemarin dulu (Selasa, 12/1 -red), sehingga belum diketahui siapa pemenangnya.
>
>Dikatakan, apabila proses tender selesai dan diketahui pemenangnya, tentu
>pengadaan dapat dipercepat dan Sumba Timur
>mendapat prioritas utama dalam penanggulangan hama.Mengingat pengadaan
>pestisida masih membutuhkan waktu, Morghen
>mengimbau masyarakat agar berupaya melakukan penangkapan belalang kemudian
>dimusnahkan. Meskipun cara ini dinilai
>tidak efektif, tetapi merupakan satu-satunya jalan terbaik.
>
>Menurut Morghen, pihaknya sudah mengadakan pengecekan persediaan pestisida
>ke Dinas Pertanian di beberapa Kabupaten.
>Namun ternyata persediaan mereka juga sudah habis, termasuk persediaan
>pestisida di tingkat kecamatan sehingga permintaan
>bantuan pestisida dari Sumba Timur tidak dapat dipenuhi.
>
>Saat ini, serangan hama belalang mengganas di enam desa yang tersebar di
>kecamatan Rindi Umalulu serta dua desa lainnya di
>Kecamatan Pahungalodu. Serangan hama belalang yang kian mengganas tersebut
>sangat meresahkan masyarakat petani,
>mengingat tingkat populasi hama belalang yang sangat tinggi dikhawatirkan
>segera meluas ke desa-desa lainnya.
>
>Dibakar
>
>Menurut laporan Bupati Drs Lukas Mbadi Kaborang, enam desa yang terserang
>hama belalang di Kecamatan Rindi Umalulu
>terparah di Desa Umalulu, menyusul Desa Tamburi, Pindi, Kayuri, Watuhadang
>dan Lailoru. Sedangkan dua desa terparah di
>Kecamatan Pahungalodu masing-masing Desa Lulundilu dan Pamulu.
>
>Dilaporkan, serangan hama yang mengganas pada awal musim tanam, menyebabkan
>tanaman pangan yang baru tumbuh
>langsung disikat hama belalang. Masyarakat di beberapa desa berupaya
>melakukan penanaman ulang, namun upaya tersebut
>gagal karena tanaman baru langsung menjadi santapan hama yang mengganas. (120)
>
>Last modified: 1/14/99
>
>
>___________________________________________________________________
>Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
>
>BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>

Avian Wicaksono
BIOLOGI/FMIPA UNIBRAW MALANG
Residence:
Jl. Raya Candi III/65, Malang 65146
Phone: +62 0341-580334
Mailto: [EMAIL PROTECTED]

___________________________________________________________________ Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke