Republika Online edisi: 23 Jan 1999 Pesut Ditemukan Mati di Sungai Mahakam SAMARINDA -- Seekor Pesut Mahakam (Orceala brevirostris) ditemukan mati terapung di Sungai Mahakam, sehingga cukup mengejutkan masyarakat sekitarnya, padahal bertahun-tahun satwa langka di dunia itu tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Satwa yang dilindungi UU itu ditemukan Anwar, warga Desa Rempanga, Desa Loa Kulu, Kutai, pada Kamis (21/1) sekitar pukul 08:00 Wita, kata Kepala Dinas Perikanan Kutai, Ameroedin BSc, di Tenggarong, Jumat. Warga yang bermukim di tepi Sungai Mahakam itu terkejut ketika menemukan ikan Pesut sepanjang 2,5 meter dengan berat diperkirakan mencapai 250 kg terapung didekatnya saat melintasi kawasan itu menggunakan ''perahu ketinting'' (perahu menggunakan mesin kapasitas kecil). Bersama warga yang lain, Anwar berhasil mengangkat satwa itu, namun ternyata Pesut Mahakam dewasa itu telah mati dengan luka melintang di kepalanya. Belum dapat dipastikan penyebab kematian satwa itu, namun diperkirakan karena luka di kepala terkena baling-baling kapal. Penemuan bangkai pesut Mahakam tersebut menarik perhatian warga di sekitarnya, mengingat sudah bertahun-tahun satwa tersebut tidak pernah lagi menampakkan dirinya, diduga populasinya kian menyusut akibat habitat hewan menyusui itu terganggu. Pihak Pemda Kutai berniat mengawetkan satwa itu untuk koleksi Museum Kayu di Waduk Panji Sukarame Tenggarong. Populasi Pesut Mahakam hasil penelitian sementara pihak Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kaltim kurang dari 100 ekor yang tersebar di Sungai Mahakam dan tiga danau besar di Kaltim yakni Danau Jempang (15.000 Ha), Danau Semayang (13.000 Ha) dan Danau Malintang (11.000 Ha). Populasi satwa langka yang hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Pedalaman Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady itu terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas air, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam. Padahal, sekitar awal tahun 1970-an, satwa itu sering menampakan dirinya berenang secara berkelompok di Sungai Mahakam depan Kantor Pemda Kaltim Jl Gajahmada Samarinda. ___________________________________________________________________ Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
